
Zaara terkantuk-kantuk mengetikkan analisis novel untuk skripsinya. Padahal ia sudah mandi di malam itu, sengaja agar mata dan tubuhnya terasa segar. Untung saja bimbingan masih akan dilaksanakan dua hari lagi.
“Uma Sayang, udah tidur aja sana! Jangan maksain, nanti tulisan akademi kamu gak bagus, kamunya juga gak fit!” Arsene menepuk lembut bahu istrinya itu.
Zaara menoleh pada suaminya.
“Iya, kayaknya aku mau bobo aja.”
Zaara memutuskan untuk mematikan laptop miliknya. Arsene sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur. Sementara Zaara menyusulnya kemudian. Perempuan itu merangkul tubuh suaminya dan meletakkan kepalanya di dada Arsene.
“Kangeeen!” ucap Zaara manja.
“Aku juga kangen kamu tiap hari. Besok kuliah jam berapa?”
“Pagi, bareng gak?” Zaara melihat wajah suaminya yang letih.
“Oke, aku juga ada kuliah pagi. Oh ya Sayang, nanti Sabtu kita lihat pembangunan rumah ya?” pinta Arsene.
“Ah iya! Udah sampai mana sekarang?”
“Interior udah dan tinggal finishing, outdoor dan taman mungkin masih banyak pengerjaannya,” terang Arsene.
“Emang target selesainya kapan sih?”
“Tiga bulan lagi. Mudah-mudahan skripsi kita udah selesai. Jadi pas habis wisuda kita bisa pindah!”
“Aamiin.”
“Hari ini Ryu gimana?” tanya Arsene.
Ryu kecil sudah berusia dua tahun lebih saat ini. Wajahnya percampuran antara Arsene dan Zaara. Rambut lurus dan mata sipit menyembulnya milik Arsene, sementara pipi, bibir, dan hidung mendominasi dari Zaara. Badannya gemuk, meski balita itu lincah dan sering membuat neneknya kerepotan ketika menjaganya.
“Dia lari-lari terus lho, Bang! Kata umi dari pagi dia lari-lari kecil di halaman belakang. Beberapa kali dia jatuh tapi gak kapok-kapok. Pas aku pulang tadi dia lagi ambil sesuatu di lemari depan. Padahal kan meja lemari depan itu lumayan tinggi dari badannya.”
Arsene tertawa kecil mendengar perkembangan putra kecilnya. Sesekali ia melirik Ryu kecil yang tertidur pulas di samping tubuh ibunya.
“Anak ayah ini pasti mirip ayah kalau udah besar!” Arsene menerka-nerka.
“Tapi dia kalau di depan orang jaim gitu ya? Mirip uma berarti.”
“Iya ya, biasanya anak kecil kalau ada orang lain tuh suka cari perhatian. Ini malah jaga image. Haha. Lucu banget!”
Zaara ikut tertawa kecil bersama suaminya.
“Ah bobo yuk, ngantuk!” ajak Zaara.
“Besok pagi aku minta jatah ya?! Wkwk!”
“Hmm… gimana besok! Kalau Ryu bangun subuh, dadah babay!”
Arsene mendesah kesal. Tetapi Zaara sangat lelah hari itu. Tidak ada pilihan bagi Arsene kecuali membiarkan istrinya beristirahat.
“Ayah… ayah!” sebuah tepukan keras terasa di pipi kekar milik Arsene. Perlahan kelopak mata itu terbuka. Sebuah senyuman kecil ditambah tepukan lainnya di dada menyambutnya di subuh hari.
“Ryu… udah bangun?” ucap Arsene parau berusaha membuka matanya lebar.
“Ya Allah! Kenapa kamu udah bangun aja sih, Nak?!” Arsene mengeluh. Ia menggendong anak itu dan menaruhnya di atas dadanya dengan posisi tengkurap. Balita itu menggeliat, berusaha melepaskan dirinya dari pelukan ayahnya yang kuat.
Pukulan keras diterima tepat di dada Arsene, membuat Arsene sontak melepaskan pelukan itu. “Waduuuuh, anak ayah kuat banget sih!” Mata Arsene kini benar-benar terbuka. Ryu tertawa-tawa melihat ekspresi ayahnya yang terkejut. Ia mencoba memukul lagi dengan tangannya yang gemuk. Arsene menangkap tangan mungil itu dengan tangannya yang kekar.
__ADS_1
“Mana uma, sayang?” tanya Arsene.
Ryu menunjuk pintu kamarnya untuk menjawab pertanyaan ayahnya.
“Ryu bobo lagi lah! Ayah butuh uma!” Arsene kembali menggendong anaknya dan menaruhnya di atas bantal. Ditepuk-tepuk pantatnya agar anak itu kembali tertidur. Tetapi lagi-lagi Ryu membangunkan dirinya dan berdiri di papan kasur sambil berpegangan. Ia melompat-lompat di atas kasur yang empuk dengan wajah sumringahnya.
“Duh kamu bahaya ini kalau berdiri di sini. Kita ke bawah aja ya?”
Arsene membawa anaknya ke lantai bawah di tempat yang memang diperuntukkan bagi anak itu untuk bermain. Tidak aman Ryu bermain di atas kasur yang tinggi, karena anak itu belum stabil untuk turun dari sana.
Arsene menggendong anaknya dan segera turun ke lantai satu. Ia mengecup lekat pipi anaknya yang gembul itu dan menaruhnya.
“Lho, Ryu udah bangun?!” Zaara yang sedang memasak, melihat suaminya membawa anaknya itu ke sana dan menaruhnya di sebuah papan karet. Anak itu mulai merangkak menuju kotak mainannya dan mengeluarkan mainan dari sana.
“Kamu main di sini ya?! Nenek udah bangun kan?” tanya Arsene pada Zaara.
“Udah, tapi masih sholat tahajud. Ada abi tuh di ruang tamu.”
Arsene segera berjalan menuju ruang tamu.
“Abi, maaf, titip Ryu sebentar ya?!” pinta Arsene pada mertuanya yang sedang berdzikir tanpa sungkan.
“Ya sana!” ucap Reza, ia tahu betul menantunya itu sedang membutuhkan sesuatu.
“Alhamdulillah. Syukron, Bi!”
“Hmm…”
Arsene dengan cepat menarik lengan istrinya untuk menaiki tangga.
“Eh aku lagi masak!” ucap Zaara.
Zaara menghela nafas. Ia menuruti suaminya dan segera menaiki tangga setelah melihat anaknya sudah tenang dengan mainannya.
Arsene segera menarik tangan istrinya dan lekas menutup pintu, tidak lupa juga untuk menguncinya.
“I need you right now!” ucap Arsene langsung merengkuh tubuh istrinya Zaara pasrah saja dengan perlakuan suaminya.
“Hah lega, tapi capek!” seru Arsene merebahkan tubuhnya di sisi Zaara setelah kebutuhan biologisnya terpenuhi. Ia mengecup kening istrinya lekat-lekat.
“Aku balik lagi ke dapur ya? Tuh Ryu mulai merengek. Cepet mandi sana, biar gak telat sholat subuh di masjid!”
“Hehe iya, makasih banyak Sayang! I love you!” Arsene membulatkan bibir merahnya.
Zaara hanya mencebik. Arsene tertawa gemas melihat istrinya yang semakin berisi itu.
Arsene memandang langit-langit kamarnya. Dilema memiliki anak seperti ini, ketika membutuhkan sesuatu dari istrinya, mereka harus bisa mengkondisikan anak mereka. Untung saja, mertuanya itu sangat pengertian. Arsene selalu merasa bersyukur memiliki keluarga besar yang sangat memperhatikan mereka.
\======
Hari Sabtu, mentari pagi cerah bersinar, menebarkan hangat yang terasa indah. Keluarga kecil Arsene sedang pergi keluar, menaiki motor matic besar barunya. Zaara menggendong Ryu di depan dadanya dengan gendongan khusus. Balita itu sedang tertidur lelap karena terbuai oleh belaian angin sepoi dan selimut yang menutup badannya yang kecil.
Arsene memberhentikan motornya di sebuah tanah yang kini sudah terbangun dengan kokoh sebuah rumah kecil miliknya yang memang belum sepenuhnya selesai. Mereka semua turun dari motor dan berjalan menuju rumah masa depan. Bangunan itu belum lengkap pengerjaannya, terlihat dari belum dipasangnya jendela dan pintu. Cat tembok masih berupa cat dasar saja. Halaman juga masih berantakan dengan bahan-bahan bangunan. Seharusnya pengerjaan rumah bisa selesai dalam satu bulan lagi. Hanya saja, Arsene meminta pada kontraktor yang mengerjakan pembangunan rumahnya untuk menyelesaikannya dalam tiga bulan lagi.
Tabungan rumahnya tentu sudah mencukupi, hanya saja ia khawatir akan ada pengeluaran tambahan. Jadi ia akan menunggu pemasukan bersih dari bisnis tokonya dalam tiga bulan ini. Meskipun begitu, Arsene merasa sangat lega karena rumah impian bersama istrinya akan segera selesai. Jika dihitung dari awal pertama mereka menikah, maka proses menuju impian pertama mereka itu membutuhkan waktu empat tahun. Masih sesuai dengan rencana dalam proposal hidup mereka.
“Kamu mau bikin kitchen set?” tanya Arsene pada istrinya ketika mereka memasuki bangunan rumah mereka.
“Hmm… emang ada budget-nya?”
__ADS_1
“Belum sih, hehe!” ucap Arsene.
“Ya udah kapan-kapan aja. Kita masih bisa nabung kan. Lagian Ryu masih kecil, kita masih bisa susun ulang proposal masa depan kita.”
“Iya betul! Yang penting biaya masa depan Ryu udah kita pisahkan.”
Zaara tersenyum.
Mereka memperhatikan detail-detail bangunan rumah yang sudah rapi di dalam. Plafon sudah terpasang rapi dengan ukiran minimalis di langit atap mereka. Lantai sudah terpasang oleh keramik granit yang berkilauan meski masih penuh dengan pasir dan debu yang berserakan. Begitu pula dengan bagian dalam kamar mandi yang sudah tampak lebih rapi dan lengkap dengan aksesoris dan perlengkapannya.
Para pekerja bangunan sedang libur hari itu, makanya mereka hanya bisa memperhatikan bangunan rumah mereka tanpa bisa bertanya-tanya lebih lanjut.
Tanah di sebelah rumah Arsene masih kosong, karena Alice belum menentukan. Meskipun begitu, Alice memiliki rencana yang sama dengan sepupunya yaitu untuk membangun rumah impiannya nanti.
Zaara terduduk di sebuah bangku kayu yang biasa digunakan oleh para pekerja bangunan untuk beristirahat. Sambil terus menggendong anaknya, ia melihat fisik bangunan rumahnya yang sudah 80%. Hatinya berharap agar kehidupan rumah tangga bersama suaminya akan selalu dilimpahkan keberkahan sampai nanti, bahkan ketika dunia ini sudah tidak ada.
Tiba-tiba Ryu menggeliat. Zaara membuka penutup selimutnya.
“Uma!” ucapnya menggemaskan.
“Ryu udah bangun? Mau minum gak?”
Bocah itu mengangguk kecil. Zaara memanggil suaminya yang menggendong tas perlengkapan anak mereka.
“Kenapa?” tanya Arsene.
“Ini Ryu mau minum, Yah!” jawab Zaara.
“Eh, anak ayah udah bangun. Yuk sini ayah gendong!”
Arsene mengambil alih Ryu dari Zaara. Sementara Zaara mengambil botol minum air putih milik Ryu dan meminumkannya pada bocah menggemaskan itu.
Zaara sedang menyapihnya bulan itu. Sehingga Ryu harus terbiasa dengan air selain dari air susu ibunya. Bocah itu meneguk air minumnya yang dipegangi Arsene.
“Nanti kamu bisa lari-lari di sini, Ryu!” ucap Arsene.
“Halaman kita cukup luas, jadi kamu bisa main sepeda juga di sini!” lanjut Arsene.
“Main bola?” tanya Ryu menatap wajah ayahnya.
“Ya, main bola juga!” Arsene tersenyum.
Ryu tersenyum lebar dengan gigi-gigi kecilnya yang berderet rapi.
“Mudah-mudahan Kak Alice bisa cepet bangun rumah juga di sini. Jadi kita punya tetangga deket,” ucap Arsene mendudukkan dirinya di samping istrinya.
“Udah selesai?” tanya Zaara pada suaminya yang baru saja kembali. Ia mengajak Ryu jalan-jalan sebentar mengelilingi rumah mereka.
“Udah yuk! Kita pulang ke rumah Momma dan Dadda!” ucap Arsene.
Ryu melompat-lompat kegirangan di atas tanah merah. Arsene menggendongnya kembali untuk ditaruh ke dalam gendongan Zaara. Mereka kembali menaiki motor matic dan menuju kediaman Ajeng dan Ferdian.
\======
Bersambung...
Duh detik detik menuju END
Ayo LIKE, comment, dab vote yaa
__ADS_1
Makasih banget yang terus ngikutin Abang Acen sampai punya anak >.<