Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 48. Pertanyaan


__ADS_3

Raffa terlihat gusar ketika mengikuti perkuliahan di gedung fakultasnya siang itu. Pria itu tidak fokus dan terus memainkan pulpen di jarinya. Pikirannya melayang kemana-mana, teringat penolakan gadis yang diincarnya selama ini. Apalagi teringat pada sosok Arsene yang juga mengincar Zaara, hal itu membuat emosinya muncul tiba-tiba.


Pria muda itu memutuskan langsung keluar kelas setelah perkuliahan berakhir. Beberapa kawan dekat memanggil namanya, tetapi pria itu tidak menggubrisnya dan tetap berjalan menuju gerbang fakultas. Ia berjalan di atas trotoar sambil membuka jas putihnya, lalu menaiki tangga yang menghubungkan trotoar itu dengan masjid kampus. Pria itu bernafas terengah-engah setibanya di halaman masjid. Beberapa mahasiswa berkerudung terlihat berjalan ke arahnya. Mereka berbincang akrab sambil sesekali tertawa.


Raffa tersenyum, melihat seorang gadis yang mengenakan gamis hitam berkerudung kuning. Kebetulan sekali, jodoh memang tidak kemana, ujarnya demikian dalam benaknya.


Ia mendudukan dirinya di sebuah kursi di bawah pohon dekat dengan kantin masjid, sambil menunggu kedatangan gadis berpipi agak chubby itu.


“Zaara!” panggilnya lembut ketika sang gadis berjalan lewat di depannya. Gadis itu memang tidak sadar, karena terlalu asyik berbincang dengan kawan sekelasnya. Zaara menoleh ke arah sumber suara.


“Mas Raffa?” ujarnya terkejut. Kawan lainnya tetap berjalan menuju masjid bersiap untuk shalat dzuhur, Zaara menarik lengan satu kawannya, Terry, untuk menemaninya di sana.


“Bisa bicara sebentar? Ada yang mau aku tanyakan, tapi bisa berdua aja?” pintanya penuh harap.


Zaara menoleh pada Terry dengan seringaian kaku.


“Gue tunggu di sini, Ra!” ucap Terry.


Raffa mengajak Zaara berbicara menjauhi Terry yang masih mengawasinya. Mereka berdua berdiri di bawah sebuah pohon yang tidak jauh dari sana, dengan begitu Terry masih bisa melihatnya meski percakapan mereka tidak terdengar. Terry termasuk kawan yang setia, ia tahu persis Zaara orang seperti apa. Oleh karena itu, ia akan mencoba mengawasinya jika saja ada sesuatu terjadi di antara mereka berdua. Apalagi, Terry juga tahu terkait apa yang terjadi antara Raffa dan Zaara.


“Ada apa ya, Mas?” tanya Zaara ragu-ragu, ia membuat jarak yang cukup dengan pria tinggi di depannya itu. Gadis itu menundukkan wajahnya.


“Hmm…, apa aku masih punya kesempatan lagi?” tanyanya cemas. Ia sadar dirinya telah diperdaya cinta, sehingga ingin memiliki gadis di depannya itu segera mungkin.


“Maksudnya?” tanya Zaara tidak mengerti.


“Apa aku masih punya kesempatan untuk bisa menjalin hubungan serius dengan kamu? Apa kamu gak mau coba dulu, setelah itu baru memutuskan apakah akan lanjut ke pernikahan atau tidak?” tanya Raffa penuh harap.


Zaara semakin menundukkan pandangannya. Hati dan pikirannya berkecamuk. Ia harus menjawab pertanyaan itu dengan hati-hati agar tidak menjerumuskannya pada kemunafikan.


“Please, jawab Ra!”

__ADS_1


“Mmh… Mas Raffa masih punya kesempatan itu. Tapi…,” jawaban Zaara terputus, membuat Raffa semakin gemas, padahal ia sudah senang karena jawaban pertama Zaara. Hanya saja mendengar kata ‘tapi’ membuat dia kesal.


“Tapi apa Ra?” tanyanya tidak sabar.


“Tapi saya sedang menunggu seseorang,” jawab Zaara terdengar gugup dan ragu-ragu.


Emosi Raffa mulai naik ke kepalanya. Wajahnya merah padam. Gadis itu tengah jatuh cinta pada pria lain, ini membuatnya sangat kesal karena cintanya tidak berbalas.


“Bukannya dulu kamu suka sama aku?! Apa sih kurangnya aku di mata kamu? Bisakah kamu jawab itu, biar aku melengkapi segala kekurangan yang aku punya!” ujarnya menekankan.


“Itu dulu, Mas. Saya sudah berubah, dan maaf sepertinya pembicaraan ini sudah tidak penting lagi. Saya pamit dulu!” ucap Zaara lalu meninggalkan pria yang terlihat kerutan di keningnya, tanpa menjawab pertanyaan yang terlontar dari mulut Raffa.


“Zaara!” teriak pria itu.


Raffa melihat kepergian Zaara dengan nafas menderu. Lelaki berdagu lancip itu menendang batang pohon yang tebal di sampingnya dengan telapak kakinya, lalu melempar jas putihnya ke atas semen bertanah membuatnya menjadi ternoda. Beberapa orang yang tengah lewat memperhatikannya, tetapi ia tidak peduli. Ia benar-benar tidak menyangka Zaara meninggalkannya tanpa menjawab pertanyaan besar yang selama ini membuat pikirannya berputar. Apalagi mengetahui bahwa Zaara tengah menunggu seseorang, semakin membuatnya emosi saja.


Zaara berlari kecil sambil menarik lengan Terry ke sebuah tempat yang sepi. Hatinya tidak mengerti mengapa Raffa bertanya itu dengan ekspresi yang memasang wajah kesal. Apakah pria itu benar-benar mencintainya sampai membuatnya sedikit terlihat mengerikan? Ia tidak ingin menemui pria itu, cukuplah pertemuan tadi menjadi yang terakhir. Ia merasa ketakutan. Jantung Zaara berdebar, lalu ia mendudukan tubuhnya di atas rerumputan di bawah pohon palem. Terry memandangnya tidak mengerti.


Zaara masih memandangi rerumputan yang ada di ujung sepatunya, lalu tertunduk.


Terry mengelus kepala kawannya itu.


“Aku takut Ry! Aku gak suka lelaki yang temperamen!” jawabnya.


Terry memandang kawannya sambil merangkul bahunya.


“Dia cinta lu sampai segitunya?! Udah ditolak marah-marah, astaga! Biar gue tendang ke laut aja tuh, biar kena makan ikan hiu! Harusnya mikir dong, bukan malah marah-marah gak jelas gitu!” omel perempuan berambut sebahu itu, kesal.


“Emang tadi lu bilang apa sampai dia marah-marah gitu?” tanya Terry penasaran.


“Aku cuma bilang, dia masih punya kesempatan buat lamar aku, tapi aku lagi nunggu seseorang.”

__ADS_1


“Hahaha! ******! Harusnya lu gak usah basa-basi, bilang aja langsung ‘Aku jatuh cinta sama seseorang’, sebut aja namanya sekalian!” ucap Terry bersemangat.


“Iya sih, tapi maksud aku, dia emang masih punya kesempatan karena aku gak pernah tau siapa jodoh aku kedepannya. Makanya aku jawab itu. Tapi ngelihat dia yang kaya gitu kok jadi serem ya?” ujar Zaara, matanya berkaca-kaca.


Terry jadi gemas melihat temannya itu. Ia menarik kepala Zaara untuk bersandar di bahunya sambil mengelus-elus kepalanya yang tertutup kerudung berbahan voal.


“Lucu deh! Elu itu masih muda, udah ada aja yang ngebet pengen jadiin lu istri. Emang ya, wanita shaleha itu terpancar auranya. Kok jadi gue yang iri? Mana cowok-cowok yang ngejar lu itu ganteng-ganteng, tajir, dan keren abis.”


Zaara tertegun. Padahal ia hanya bercerita masalah Raffa saja pada kawan di sampingnya itu. Zaara menarik tubuhnya, lalu menatap kawannya dengan perasaan heran.


“Emang siapa yang kejar aku lagi?”


“Ya Arsene lah, siapa lagi?! Cowok itu kan yang lu tunggu?!” ujar Terry tersenyum genit menebak hati Zaara.


Kepala Zaara langsung menunduk bertumpu pada lututnya yang tertekuk. Terry menyenggol tubuhnya sambil tertawa-tawa, menggoda kawan di sampingnya.


“Biar gue suruh si Arsene maju, siap gak?!”


Mata Zaara membesar, gadis itu beranjak dan berlari kembali menuju masjid meninggalkan Terry yang masih duduk di sana.


“Woy, malah kabur tuh anak!” ucapnya sambil mengejar kawannya yang sudah berada jauh darinya.


\=====


Duh kapan Arsene maju nih?


Raffa ngegas terus >.<


Yuk ah komen dulu, biar idenya lancar nih


jangan lupa like & vote

__ADS_1


makasiiiih ^_^


__ADS_2