Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 58


__ADS_3

"Ajeng?!" panggil Ferdian, yang tiba-tiba saja terbangun,


Wanita yang berada di sampingnya itu menoleh kepadanya. "Kenapa?"


"Kok aku bisa tidur di kasur? Perasaan aku tidur di sofa deh!" ujar Ferdian dengan tatapan bingung.


"Gak tau, kamu sendiri yang tidur!" ucap Ajeng pura-pura tidak tahu.


"Iya gitu?" Ferdian menggaruk-garuk kepalanya, rambutnya berantakan sekali.


"Emang kenapa kamu tidur di sofa segala?" tanya Ajeng ingin mengetahui alasan suaminya itu.


"Aku khawatir aku nyakitin kamu lagi kaya kemarin malam," jawab Ferdian cemas.


"Emangnya kemarin malam kamu yang nyakitin aku?"


"Iya, aku yakin! Pasti aku mimpi aneh dan entah bagaimana akhirnya nyakitin perut kamu!" jawab Ferdian tatapannya masih sayu.


"Ya ampun! Fer, berhenti menyalahkan diri kamu sendiri! Kemarin aku itu tersandung waktu keluar dari kamar mandi tengah malam, karena aku gak nyalain lampu. Terus gak sengaja perut aku terbentur tembok. Aku udah berusaha nahan perut aku, tapi ternyata tetep sakit. Aku coba berjalan menghampiri kamu waktu kesakitan itu, karena sakitnya malah makin menjadi. Jadi please Fer, kamu harus berhenti menyalahkan diri sendiri. Kami butuh kamu! Dan aku gak mau kamu kaya gitu lagi! Okay?" terang Ajeng.


Mata Ferdian membelalak, antara tidak percaya, khawatir, dan senang bercampur menjadi satu. Pria itu langsung menghamburkan diri memeluk istrinya dan menciumi pipi serta perut istrinya itu.


"Maafin aku!! Aku janji, aku gak akan bersikap gitu lagi! Aku yakin trauma itu tidak akan mempengaruhi aku mulai sekarang," ucapnya penuh optimis.


Ajeng tersenyum melihat suaminya.


"Come here (kemarilah)!" ajak Ajeng meminta pelukan hangat.


Seketika Ferdian memeluk istrinya erat dan hangat di pagi hari sebelum fajar terbit.


\=====


Serena tampak melihat-lihat album galerinya. Gadis itu kadang tersenyum tetapi lebih sering meringis karena kecewa. Ia hapus satu persatu foto-foto yang ada di albumnya.


Serena punya kebiasaan yang aneh sebenarnya. Apalagi semenjak bertemu Ferdian di kampus, diam-diam ia sering mengambil foto pria itu dengan kamera ponselnya seperti paparazi. Apa karena ia terobsesi atau hanya menyukainya saja, tindakannya cukup gila. Beruntung hobi anehnya itu tidak diketahui oleh teman atau keluarganya. Ia memang sangat tertutup.


"Cukup sudah aku gila seperti ini!" ucapnya pada dirinya sendiri.


"Aku memang seharusnya fokus saja untuk belajar, membaca, dan menulis!" ucapnya lagi.


"Bye, Ferdian! Kalau saja istrimu itu bukan Miss Ajeng, mungkin aku bisa bertindak makin gila lagi!" ucapnya menaruh ponselnya di balik bantal tidurnya.


Gadis itu membuka kacamatanya dan memperhatikannya. "Syaiful juga lumayan, tapi otaknya gak secerdas Ferdian! Ah, apa sih aku ini?! Sudah aku harus fokus belajar!" ucapnya melempar kacamatanya ke sudut kasur lalu memejamkan matanya.


\=====


Ujian akhir semester telah selesai dan mahasiswa sudah kembali berlibur tahun ini. Dengan bantuan Ferdian, Ajeng berhasil memeriksa hasil-hasil ujian para mahasiswanya meski dengan banyak drama. Untung saja Ferdian bisa diandalkan. Apalagi ia tak lagi mengalami kecemasan berlebih akibat trauma di masa lalunya. Ia benar-benar fokus untuk merawat istrinya dan juga ujian akhir semesternya.


"Sayang, kita jadi kan pergi ke rumah kamu siang ini?" tanya Ferdian selepas mencuci piring bekas sarapan ia dan istrinya.


"Iya, ayo buruan kamu cepetan mandi! Aku siapin baju kamu dulu!" ucap Ajeng yang baru selesai membersihkan tubuhnya.


"Iya sebentar,"


"Lumayan kan rumah aku bisa disewa sama orang lain, jadi kita ada penghasilan tambahan!" ujar wanita itu mengeringkan rambutnya.


Ferdian mengangkat jempol kanannya lalu bergegas ke kamar mandi.


Sudah hampir satu tahun, rumah pribadi milik Ajeng tidak ditempati. Rumah type 60 bergaya modern tropis itu untungnya tetap ada yang merawat. Ia selalu meminta asisten rumah tangga Papa dan Mamanya untuk membersihkan rumah itu. Hari ini kebetulan ada kerabat papanya yang ingin menyewa rumah itu selama tinggal di Bandung.


Ferdian dan Ajeng tiba di rumah berlantai satu itu. Mang Engkus menyambut kedatangan mereka berdua.


"Neng Ajeng, mangga dicek aja dulu rumahnya. Kalau ada yang kurang kasih tau Mang aja!" ucap Mang Engkus, pria berusia 50-an yang biasanya bertugas membereskan rumah papanya.


"Iya, Mang! Makasih ya," ucap Ajeng yang langsung memasuki rumahnya.


Ajeng memperhatikan kebersihan dan kerapihan rumahnya yang sudah kosong dari furniturnya. Setelah pindah ke apartemen yang diberikan oleh orangtua Ferdian, Ajeng memberikan furnitur-furnitur rumahnya itu pada orang yang sekiranya membutuhkan.


"Rumah kamu bagus!" ucap Ferdian ketika memasuki rumah itu.

__ADS_1


"Iya meskipun ukurannya mini," jawab Ajeng berjalan ke arah dapur.


"Kapan kamu beli rumah ini?" tanya Ferdian.


"Setelah aku lulus S2 dan mulai mengajar di kampus," jawab Ajeng membuka keran wastafel, memastikan airnya mengalir lancar.


"Ini kamu beli sendiri?"


"Dulu aku punya tabungan, tapi tabungan aku belum cukup untuk beli rumah. Jadi Papa kasih subsidi buat aku untuk beli rumah ini, biar lebih deket sama tempat kerja," terang Ajeng.


Ferdian mengangguk saja. Istrinya itu memang jago sekali mengatur uang. Ia bahkan tidak bisa membayangkan pengelolaan keuangan kalau tidak ada istrinya itu. Meskipun ia sendiri selalu menerima uang dari hasil bisnis yang dikelola oleh kakak-kakaknya, Saat ini mereka memiliki banyak budget tabungan, mulai dari keperluan rumah tangga, kebutuhan anak, kesehatan, pendidikan, hiburan, dan tentu saja investasi.


"Uang sewa dari rumah nanti aku alokasikan buat anak gimana?" tanya Ajeng.


"Jangan! Kebutuhan anak biar aku yang tanggung semua. Itu kan udah jadi kewajiban aku nafkahin anak dan istri. Kalau ini kan harta punya kamu, jadi masukan aja ke rekening pribadi kamu!" jawab Ferdian.


Ajeng tersenyum mendengar jawaban suaminya itu. Ferdian mengerti betul kalau harta istri memang hanya untuk istri pribadi. Istri boleh saja memberikannya kepada suami atau anak-anaknya, dan terhitung sebagai amal sedekah yang mengantarkan pahala. Tetapi selama suami mampu menafkahi, tentunya tetap kewajiban utama berada di tangannya.


Tidak lama kemudian datang sepasang suami istri dengan motor besarnya. Keduanya terlihat seperti pasangan yang alim. Seorang lelaki bertubuh tinggi dengan janggut tipis di dagunya. Istrinya mengenakan hijab panjang dan pakaian syari. Mereka adalah pasangan yang berniat menyewa rumah milik Ajeng ini. Pria itu berjalan masuk ke dalam pagar rumah yang sudah terbuka, sementara istrinya tengah sibuk melepas helmnya.


"Assalamu'alaikum..." ucap pria bertubuh tinggi yang sepertinya sepantar dengan Ferdian tubuhnya itu.


"Wa'alaikumsalam..." ucap Ajeng dan Ferdian berbarengan kemudian melangkah keluar.


"Ini benar dengan rumah punya Bu Ajeng?" tanya pria itu.


"Iya saya sendiri," ucap Ajeng ramah.


"Ajeng?!" tiba-tiba seseorang mengenali wajahnya. Istri dari pria itu yang kali ini menghampiri Ajeng.


Ajeng mencoba mengenali wajah pemilik hijab panjang berwarna maroon itu.


"Karin?" tanya Ajeng memastikan.


"Alhamdulillah kamu masih kenal wajah aku!" ucap wanita berhijab syari yang bernama Karin itu. Mereka saling berpelukan dan ber-cipika-cipiki.


"Ya ampun, ini beneran Karin? Karin sahabat aku waktu SMA?"


"Kamu udah berubah ya?" ujar Ajeng memperhatikan sahabatnya itu dari atas sampai bawah, karena pada saat SMA, Karin belumlah berhijab apalagi tampil sempurna dengan balutan syari seperti ini.


"Ya alhamdulillah! Oh iya kenalin ini suami aku, Mas Reza!"


Reza menangkupkan tangannya dan menyalaminya tanpa bersentuhan. Ajeng tampak canggung melihat hal yang cukup asing baginya. Namun ketika berhadapan dengan Ferdian, ia dengan mudahnya menyalami dengan tangannya yang kekar.


"Ini suami aku, Ferdian!" ucap Ajeng.


Kali ini giliran Karin yang menangkupkan tangannya di depan Ferdian, Ferdian tersenyum saja sambil menangkupkan tangannya juga.


"Jadi kalian yang mau nyewa rumah aku? Emang kamu tinggal dimana Rin?" tanya Ajeng.


"Iya, rencananya kita mau nyewa selama kita tinggal di Bandung. Kita baru pindah dari Jakarta, kebetulan Mas Reza sekarang kerja di deket sini," terang Karin.


"Ooh...ya udah yuk kita masuk dulu!" ajak Ajeng.


"Aku gak nyangka ternyata pemilik rumah ini adalah Ajeng sahabatku di SMA," ujar Karin sumringah.


"Hihi kaya jodoh gitu ya, setelah sekian lama akhirnya kita dipertemukan lagi," ucap Ajeng tak kalah sumringah.


"Kamu lagi hamil, Jeng?" tanya Karin memandangi ke arah perutnya.


"Iya, udah 6 bulan!"


"Wahh....sama dong, aku juga nih jalan 6 bulan!" seru Karin riang.


"Serius?"


"Gak keliatan ya? Karena aku pakai gamis gini jadi gak keliatan!"


Keduanya tertawa-tawa riang karena sedang sama-sama hamil dengan usia kandungan yang tidak jauh beda.

__ADS_1


"Kamu kapan nikah?" tanya Karin karena sudah lama dia tidak mendengar kabar tentang Ajeng.


"Kurang lebih setahun yang lalu, kamu?"


"Aku udah tiga tahunan kayanya, waktu aku nikah kamu lagi susah dihubungi, Makanya pasti gak tau kan?"


"Haha iya, maaf ya karena aku sibuk ngurusin S2 aku," jawab Ajeng. "Ini kehamilan pertama kamu, Rin?" tanya Ajeng penasaran.


Wanita berhijab itu mengangguk, membuat Ajeng terkejut.


 


"Eh malah kita jadi ngobrol gini? Maaf ya!" ucap Karin memandangi suaminya dan Ferdian.


Ajeng dan Ferdian mengajak mereka dari ruangan satu ke ruangan lainnya. Karin sangat antusias untuk tinggal di rumah sahabatnya itu. Ajeng sendiri yang menjelaskan apa saja kelebihan dan kekurangan dari rumahnya. Sementara Ferdian hanya mendampingi saja.


"Terima kasih ya, mungkin kami akan mempertimbangkan dan kami akan segera menghubungi kalian kalau kami jadi menyewa rumah ini," ucap Reza.


"Iya, santai aja kok, kita akan prioritaskan kalian dulu!" ucap Ajeng menatap Karin yang tersenyum.


"Makasih ya Jeng! Aku harap aku bisa tinggal di rumah ini, hehe!"


Ajeng memberi Karin jempolnya.


"Kalau begitu kami permisi dulu, karena kami harus kembali ke Jakarta untuk membereskan barang," pamit Reza.


"Iya, hati-hati di jalan!" ucap Ferdian ramah.


"Nanti kita chat-chat aja ya Rin?" ajak Ajeng.


"Siap!" ucap Karin memeluk sahabatnya itu.


\=====


"Itu temen SMA kamu?" tanya Ferdian di dalam mobil ketika dalam perjalanan pulang.


"Iya, Karin itu salah satu temen deket aku. Dulunya dia tomboy, penyuka sepak bola gitu, beda sama aku atau Sita yang lebih girly. Makanya aku kaget banget pas lihat dia berhijab kaya gitu!"


"Bagus dong ya, berubahnya jadi makin baik!" ucap Ferdian.


Ajeng menatap pemandangan di luar.


"Kalau suatu hari misalnya aku tiba-tiba berubah kaya gitu, menurut kamu gimana?"


"Berubah penampilan jadi berhijab?" tanya Ferdian memastikan.


"Iya atau aku jadi makin alim, kamu bakal gimana?" tanya Ajeng ragu.


"Aku sih oke-oke aja, malah bagus dong kalau kamu berubah jadi makin lebih baik!"


"Gitu ya?"


Ferdian melirik istrinya sesekali, lalu tersenyum. Entah apa yang dipikirkan Ajeng saat itu, yang wajahnya terlihat tanpa ekspresi.


"Mau jalan-jalan?" tawar Ferdian ketika melihat istrinya itu sedang memikirkan sesuatu.


"Kemana?"


"Terserah kamu!"


"Ke rumah Mama, boleh?" tanya Ajeng.


"Ayo!"


Ferdian membelokan kemudinya, membawa mobilnya menuju arah yang berlawanan. Lalu masuk ke ruas jalan tol untuk menuju rumah mertuanya.


\=====


Bersambung...

__ADS_1


LIKE, COMMENT, VOTE jangan lupa


Makasih udah baca terus ^^


__ADS_2