
Nafas yang menyesakan dada Patricia beranjak naik ke atas, kepalanya terasa berdenyut nyeri. Ia memejamkan matanya, lalu mulai memegangi kepalanya. Rasa sakit migrain terasa menyakitkan, hingga dengan cepat membuat tubuhnya menggigil gemetaran.
Ridho yang duduk di hadapannya, melihatnya. Bibir wanita itu pucat dan wajahnya pias.
"Pat, kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir.
Patricia mengangguk, "aku baik-baik aja!" jawabnya meski sambil memejamkan matanya.
Namira yang duduk di sampingnya menjadi ikut panik.
"Kau kenapa?" tanyanya.
"Aku hanya pusing sedikit, migrainku kambuh!" jawab Patricia jujur.
"Apa Ustadz punya obat?" tanya Ridho cemas. Ekspresinya tergambar jelas di wajahnya. Membuat Namira sedikit bertanya-tanya dalam hatinya.
"Saya tidak punya, Dho! Lebih baik kita bawa Patricia ke klinik terdekat." jawab ustadznya.
Dengan langkah cepat, Ridho berjalan keluar, mencari taksi yang lewat jalan itu lalu menghentikannya.
"Pat, ayo kita ke klinik. Akan kuantar!" seru Ridho dari luar pintu rumah.
"Tidak usah! Nanti juga hilang sendiri," jawab Patricia masih memegangi sisi kanan kepalanya.
"Ayo cepat, supir taksinya menunggu!" pungkas Ridho lagi.
Namira, Ustadz Ahmed, dan Ustadzah Aisyah saling berpandangan. Namira beranjak dari tempat duduknya, dan meraih tangan Patricia.
"Kami akan antar Patricia dulu. Mohon maaf dan terima kasih, Tadz!" pamit Namira, yang kemudian langsung menarik dan membawa Patricia ke dalam taksi.
Ridho mengikuti kedua wanita itu saja, dan duduk di samping supir taksi.
"Ke klinik terdekat, Sir!" ujar Ridho pada supir taksi itu.
Klinik terdekat dari Evergreen Avenue berjarak kurang lebih satu mil, atau sepuluh menit dari kediaman Ustadz Ahmed. Namira dan Patricia turun, diikuti oleh Ridho yang berjalan di belakang keduanya. Suasana klinik kecil itu sedang sepi, sehingga Patricia bisa langsung dipanggil oleh perawat untuk diperiksa.
Sementara itu, Ridho dan Namira duduk di kursi ruang tunggu.
"Apa Kak Ridho benar-benar serius mau menyunting aku?" tanya Namira dalam bahasa Indonesia.
"Kenapa masih bertanya seperti itu? Apa aku dianggap kurang serius dengan memberikan kalung itu sebagai cinderamata?" tanya Ridho heran.
"Maaf bukan begitu, hanya saja...." kalimat Namira terhenti. Ia merasa ragu-ragu mengutarakannya.
"Kenapa?" tanya Ridho.
"Aku lihat, sepertinya Kak Ridho menyimpan perhatian lebih pada Patricia."
DEG.
Apakah memang sejelas itu rasa cemas dan khawatir ketika Patricia mengeluh sakit? tanya Ridho dalam hatinya.
“Bukankah itu hal yang wajar, mengingat dia adalah salah satu temanku di pelatihan? Kami memang sering berbicara, hanya saja tidak lebih. Apalagi akhir-akhir ini, aku lebih menjaga jarak dari perempuan manapun demi menjaga hubungan ini,” terang Ridho.
Namira terdiam. Insting perempuannya berjalan, ada perasaannya yang berkata bahwa Ridho adalah lelaki yang membuat Patricia tertarik dengan Islam. Ia tertunduk, lalu melirik ke arah Ridho yang duduk berjarak darinya.
“Kak…” panggill Namira.
“Kenapa?”
“Apa kita bisa mempercepat tanggal pernikahan?” tanya Namira.
DEG. Ridho tertegun dengan jantung yang melompat.
“Apakah waktu dua bulan cukup untuk mempersiapkan pernikahan kita?” tanya wanita itu lagi.
“Aku akan coba membicarakannya dengan orang tua. Jika memang diadakan sederhana, sepertinya bisa saja. Kamu yakin?”
Namira mengangguk tanpa memandangi Ridho.
"Aku tidak perlu walimah yang mewah atau besar. Hanya saja aku ingin acara nanti sakral dan khidmat, jadi sepertinya mengundang keluarga dan kerabat terdekat juga sudah cukup," terang Namira.
__ADS_1
"Baiklah, akan aku pertimbangkan lagi. Lalu bagaimana dengan skripsi dan ujian sidangmu?" tanya Ridho.
"Aku akan maju sidang bulan depan, jadi aku bisa pulang cepat ke Indonesia."
"Wisudamu bagaimana?"
"Akan aku pikirkan lagi," jawab Namira.
"Baiklah!"
Ridho tersenyum kecil. Hatinya bertanya-tanya, apakah yang membuat wanita itu menjadi seperti itu. Apakah karena ia sudah memiliki rasa cemburu pada Patricia? Ah, sepertinya tidak.
Tidak lama kemudian, Patricia keluar sambil menunduk. Kemudian berjalan menuju bagian farmasi untuk menebus resep dokter dan mengambil obatnya.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Ridho selepas Patricia berjalan ke arah mereka berdua.
“Aku hanya keletihan, migrainku kambuh. Seharusnya kalian kembali ke kediaman Ustadz dan jangan pedulikan aku. Maaf aku telah mengganggu acara kalian berdua,” ucapnya lemas.
“Tidak apa, Patricia. Kau pucat sekali tadi, kami jadi mengkhawatirkanmu. Lebih baik kau pulang dan beristirahat,” ucap Namira yang kini telah berada di samping Patricia.
Patricia tersenyum ke arah Namira. Wanita itu sungguh baik hati, bisa-bisanya ikut mengantarkannya di acara penting. Hatinya bertekad untuk tidak lagi menyimpan perasaan pada Ridho, karena pria itu kini menjadi calon suami wanita berhijab itu.
“Kak Ridho pulanglah, dan antar Patricia. Aku akan kembali ke kediaman ustadz untuk membicarakan semuanya.”
“Baiklah! Kamu tidak apa pergi sendiri?” tanya Ridho.
“Tidak apa-apa. Rumah ustadz tidak jauh dari sini, jadi aku akan baik-baik saja.”
Sebuah taksi berhenti di hadapan ketiganya. Ridho dan Patricia menaikinya terlebih dahulu, Namira melambaikan tangan ke arah mereka. Seketika hatinya merasa bergetar.
Bunyi decit rem dari sebuah taksi yang berhenti di depan Winston Tower begitu mengejutkan. Taksi tua itu menurunkan dua orang penumpangnya, setelah Ridho membayarnya.
Angin menerbangkan rambut Patricia yang tipis, sehingga melambai-lambai ke udara. Sementara Ridho memasukan tangannya ke dalam saku jasnya.
“Pat, sepertinya kita butuh bicara!” ujar pria itu dari belakang, karena langkah Patricia lebih cepat daripada miliknya.
Wanita itu menoleh, membuat beberapa anak rambutnya menempel di wajahnya.
“Ada apa?” tanyanya berharap tidak mengerti.
“Dua minggu yang lalu,” jawabnya singkat dan belum tuntas. Keduanya masih terdiam berdiri di halaman Winston Tower yang luas. Matahari menyorot keduanya. Ridho masih menunggu jawaban dari pertanyaan yang kedua.
Patricia tampak salah tingkah untuk menjawab pertanyaan kedua, karena ia tidak ingin pria di hadapannya itu mengetahuinya.
“Kami…, bertemu di Islamic Center….” jawabnya ragu.
Pria bermata sipit itu makin menyipitkan matanya. “Kau, di Islamic Center, untuk apa?”
Patricia memutar bola matanya ke atas.
“Bukan urusanmu! Aku akan pergi ke kamar. By the way, selamat atas pertunanganmu, semoga hubunganmu lancar dengan Namira,” ujarnya lalu melangkah pergi meninggalkan Ridho yang masih bertanya-tanya mengenai maksud Patricia ke Islamic Center. Apakah Patricia ingin mengenal Islam?
\=====
Dua Bulan Kemudian
Menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti bulan. Musim hujan kembali datang di Indonesia lebih cepat. Wanita pemilik iris mata berwarna cokelat itu mengambil nafas panjang. Pikiran dan hati wanita itu telah banyak berubah akhir-akhir ini. Rintik-rintik hujan menemani sosoknya yang berdiri di depan gedung dekanat kampus tercintanya.
Tempat ini adalah tempat bersejarah baginya. Menimba ilmu, menggantungkan cita-cita, dan tentu saja menjadi tempat pertemuannya dengan suami yang dicintainya. Aura perjuangan, cinta, dan segala keluh kesah menjadi saksi hidupnya di tempat ini. Kini, tekadnya sudah bulat, sebulat rembulan yang senantiasa menemani bumi berputar setiap hari. Asanya sudah mencapai puncak, ia merasa cukup untuk bertahan di sana setidaknya sampai beberapa detik tadi. Kini, wanita cantik populer dan cerdas di kampusnya tengah menggantungkan harapannya di tempat lain. Tempat paling indah yang pernah ia temukan dalam hidupnya, yaitu pada suami dan keluarganya.
Ketiadaan kekasih di sampingnya membuat ia berpikir beribu-ribu kali. Beratus kali juga ia melawan gejolak nafsu dirinya yang membara. Namun, hati nuraninya sudah memanggil, kembali pada fitrah seorang perempuan. Meskipun ia yakin, hasrat dirinya dalam dunia pendidikan akan terus membara. Maka ia yakin, Arsene akan menjadi murid pertamanya di dalam kehidupan yang baru ini.
Ajeng Chandra Diningrat, seorang dosen cantik populer nan cerdas dan enerjik, kini melangkah keluar meninggalkan gedung yang menjadi akhir puncak karirnya. Ia sudah mengundurkan diri menjadi dosen di kampus elite itu, tepat setelah masa perkuliahan berakhir di tahun ajaran ini. Banyak pihak menyayangkan keputusannya untuk keluar, karena kinerja dan kecerdasan wanita itu masih dibutuhkan oleh kampus dan mahasiswanya.
Rumor dan berita mengenai keluarnya Ajeng di kampus itu santer menjadi perbincangan para mahasiswa dan pihak kampus. Namanya sering menjadi buah bibir akhir-akhir ini yang selalu menjadi beban bagi angin yang menyapa di sana. Maka jika ada beberapa kumpulan mahasiswa berdiam diri di bawah pohon, angin selalu mencuri dengar pembicaraan itu dan membawa namanya yang harum.
Rambutnya tidak lagi tergerai indah, karena ia telah menutupinya dengan sehelai kain voal motif dedaunan yang tidak kalah cantik. Wanita itu kini telah berhijab, menutup auratnya yang dulu sempat menjadi pesona bagi mata-mata yang mengaguminya. Pakaiannya menjadi lebih longgar meski tetap saja ia selalu tampil modis. Namun itu lebih baik, dan dirinya merasa lebih nyaman berkali-kali lipat. Kecantikan alami wanita itu tidak pudar, bahkan semakin berkilau meski hanya suami, malaikat, dan Tuhannya saja yang bisa melihat itu semua. Ajeng menaiki mobil suaminya yang ia parkirkan di halaman fakultasnya.
Wanita itu kembali menghela nafas sambil memejamkan matanya di dalam mobil. Lalu sejenak ia memperhatikan sekelilingnya. Sudah hampir dua jam ia berjalan-jalan di sekitar kampusnya. Pikirannya menelusuri memori dan histori yang pernah terjadi selama lima tahun belakang ini. Sepertinya hari ini akan menjadi hari terakhirnya di sini. Urusan pengunduran dirinya telah beres, jadi hatinya benar-benar sudah lega meski menyisakan rasa haru dan kesedihan yang sangat mendalam.
Matanya berkaca-kaca, beberapa butir kristal cair terjatuh dari sana. Selamat tinggal, kampus tersayang.
__ADS_1
Roda mobil sedan hitam terlihat memutar ke arah belakang, selanjutnya maju dan berbelok. Mobil itu melesat menuju jalanan padat yang lancar, menuju kediaman orang tuanya.
“Selamat datang, Sayang!” sapa papanya yang menyambutnya di ruang tamu.
Ajeng memeluknya erat. Lalu keduanya duduk di atas sofa.
“Cantik sekali anak Papa!”
Ajeng tersenyum lebar.
“Kamu baru menangis ya?” tebak papanya itu.
Ajeng menghela nafas. Matanya kembali berkilauan.
“Keputusanmu sudah tepat. Cita-citamu sudah tercapai. Jangan sia-siakan pilihan kamu saat ini. Kapan kalian berangkat?” tanya Papa mengelus kepala putrinya itu.
“Aku berangkat minggu depan, Pa!” jawab Ajeng.
“Papa dan mama pasti akan sangat merindukan kalian. Sering-seringlah pulang!”
“Insya Allah, Pa! Doakan saja Arsene bisa cepat pulih dan lancar melakukan fisioterapinya,” pinta Ajeng.
“Papa dan mama akan selalu mendoakan kebahagiaan kalian. Papa bangga dengan kamu, Sayang! Anak Papa sudah menjadi ibu yang hebat.”
Ajeng tersenyum, ia akan selalu berusaha untuk menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya. Harapan besar berada di atas pundaknya sekarang, untuk kehidupan barunya nanti di tempat yang baru juga.
\=====
Ferdian membawa anaknya berjalan-jalan mengelilingi taman apartemen sore itu mengenakan kursi roda. Kaki kiri Arsene yang patah masih belum pulih benar, meski kondisi tulang betisnya kini sudah mendekati normal. Dokter ortopedi yang menanganinya berkata bahwa tulang itu akan kembali pulih dalam dua bulan lagi. Namun agar kondisi Arsene normal kembali, maka balita itu harus melakukan fisioterapi.
Ayah Ferdian, Tuan Gunawan, telah memberikan bantuan pada cucunya itu fisioterapi terbaik se-Asia di Singapura, berharap Arsene bisa menjadi anak-anak pada umumnya. Ferdian telah menyetujui tawaran ayahnya itu, meski ia sendiri harus membangun sebuah usaha baru di negara tetangga itu. Namun itu tidak masalah, karena pengalamannya sudah memberikan ia banyak pelajaran ditambah pelatihan bisnis yang didapatinya kemarin. Apalagi kini istrinya menjadi penyokong terbesarnya.
“Daddy, itu mommy!” ucap Arsene melihat sosok perempuan berhijab hijau muda yang berjalan ke arah mereka.
“Iya, betul!” ucap Ferdian tersenyum.
Ajeng memasang wajahnya yang ceria. Senyuman lebar muncul dari sudut bibirnya. Ia membawa sekantung plastik putih buram berisi kotak besar.
“Assalamu’alaikum….” ucapnya seraya memeluk Arsene.
“Wa’alaikumsalam….”
“Mommy bawain donat kesukaan kamu!” ucapnya memberikan kantung itu pada anaknya. Mata Arsene berkilauan.
“Thank you, Mom!” jawabnya riang sambil memegangi kotak yang tidak berbeda jauh ukurannya dengan tubuh ia.
Ajeng menghampiri suaminya yang memegang kursi roda. Ia mengecup punggung tangan suaminya itu.
“Gimana urusan kamu?” tanya Ferdian, setelah mengecup pipi istrinya.
“Alhamdulillah, udah beres. SK Rektor udah keluar.”
“That’s good news. Jadi kita harus siap-siap dari sekarang ya?”
“Ya, kita harus mulai beresin barang-barang. Pernikahan Ridho Minggu ini kan?”
“Iya, sekalian berangkat ke bandara, kita hadir ke akad nikahnya. Eh, kamu mau jalan-jalan dulu gak?” tawar Ferdian.
Ajeng terkekeh. “Emang mau kemana?”
“Seperti janji aku dulu, kita jalan-jalan naik motor setelah lahiran. Mau?” ucap Ferdian.
“Terus Arsene?”
“Titip ayah dan bunda, hehe… Gak apa-apa kan?”
Ajeng memutar bola matanya ke atas, “boleh deh!” jawabnya.
“Yess!”
\=====
__ADS_1
Bersambung dulu
Like, comment, dan votenya ya