Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 69


__ADS_3

Hati Ajeng terkejut dengan sosok seorang pria yang menatapnya. Ia kenal dengan pria itu. Bahkan bukan kenal lagi, ia cukup dekat denganya dahulu saat kuliah.


Ajeng duduk di sebuah meja barisan ke dua, jauh dari pria yang sebenarnya cukup tampan itu.


Pembina ekstrakulikuler Taman Belajar Anak masih melakukan sambutan di depan kelas. Ferdian dengan sopan dan tubuh agak merunduk memasuki kelas dan menghampiri istrinya. Ia mengajak Ajeng untuk duduk di kursi paling belakang seperti kebiasaannya. Ajeng mengikuti suaminya masih dengan hati yang berdebaran.


"Itu Pak Burhan pembina ekskul ini?" tanya Ajeng memperhatikan salah satu rekan atasannya yang ternyata adalah pembina mahasiswa yang mengikuti kegiatan ini.


"Iya! Udah lama juga kok! Sejak aku gabung di sini beliau masih tetap jadi pembina," terang Ferdian.


Ajeng mengangguk-angguk.


Pak Burhan selesai memberikan sambutan, kemudian seorang mahasiswa yang menjadi MC acara mempersilakan kepada donatur untuk memberikan sambutannya juga. Pria berkemeja maroon itu pun berdiri. Ajeng tampak tegang memandanginya.


"Wow, siapa nih donatur kita? Aku udah lama gak pernah ikut rapat jadi gak tau!" ujar Ferdian menoleh pada teman di sampingnya.


"Itu Kevin Nataprawira, pemilik perusahaan buku terbesar di Pulau Jawa," ujar seorang mahasiswa di samping Ferdian.


"Wow, Nataprawira Group ya?" gumam Ferdian.


"Kenapa emangnya dengan Nataprawira?" tanya Ajeng penasaran.


"Saingan bisnis ayah dan papa kamu!" ujar Ferdian.


"Iya khususnya di bidang properti. Ternyata, anaknya pemilik perusahaan buku toh!" ucap Ferdian lagi sambil memperhatikan pria yang ada di depan.


"Kalian dapat darimana donatur kaya dia?" tanya Ferdian pada temannya lagi.


"Itu Kak Sandy kirim proposal aja ke perusahaan-perusahaan buku. Perusahaan Natabooks tertarik, katanya sih itu Pak Kevinnya pun alumni kampus kita!" ujar mahasiswa tadi.


"Oh pantesan!" ujar Ferdian mengangguk-angguk.


Ajeng tentu saja sangat mengenal pria itu. Kevin adalah salah satu teman dekatnya di kampus dulu. Bahkan dulu tersebar gosip kedekatan ia dengan pria itu, yang juga menjabat sebagai presiden mahasiswa di tahun-tahun ia berkuliah.


Sungguh pertemuan itu tidak diduga sama sekali.


Ajeng memang sempat menaruh perhatian pada pria itu dulu. Kevin adalah sosok yang rendah hati, ramah, dan juga dewasa. Wajar jika dulu banyak wanita menaruh ketertarikannya pada sosok seperti itu, tidak terkecuali Ajeng. Tampaknya pria itu juga menaruh perhatian yang sama pada Ajeng. Hanya saja, mereka tidak sampai berpacaran, karena sama-sama sibuk dan fokus pada kuliah mereka. Setelah lulus, Kevin memilih melanjutkan studinya di Amerika.


"Saya sungguh berterima kasih pada Taman Belajar Anak, karena ini adalah kesempatan saya untuk berbakti pada kampus saya sendiri. Buku-buku yang kami cetak sendiri kami harapkan bisa bermanfaat untuk anak-anak di sini. Selain buku-buku pendidikan dan cerita, kami juga akan memberi bantuan berupa perbaikan sarana dan fasilitas untuk kegiatan ini," terang Kevin disambut gemuruh tepuk tangan dari para hadirin.


"Semoga kegiatan yang ada di sini bisa memajukan pendidikan anak-anak yang memang kurang mampu. Saya juga berterima kasih kepada para mahasiswa yang sudah menjadi relawan aktif. Semoga kita semakin maju! Terima kasih!" ucapnya lagi.


\=\=\=\=\=


Para mahasiswa, anak-anak didik, dan para hadirin berpindah ke ruangan kelas yang sudah disulap menjadi sebuah perpustakaan. Banyak rak-rak berisi buku-buku pendidikan dan juga cerita-cerita anak di sana. Suasana perpustakaan itu didekorasi senyaman mungkin agar anak-anak yang datang menjadi betah serta menarik minat baca mereka.

__ADS_1


Kevin, donatur utama perpustakaan ini, berbangga hati melihat semua yang dipersiapkan oleh para mahasiswa. Rencananya bulan depan, ia juga akan merenovasi bangunan sekolah ini sehingga menjadi lebih layak, dan semakin banyak anak-anak yang kurang mampu berdatangan.


Tak terasa, acara peluncuran perpustakaan Taman Belajar Anak hari ini pun usai. Ada acara ramah tamah setelah ini hanya untuk para mahasiswa, pengurus, pembina, dan tentu saja donatur, berupa acara makan malam lesehan yang ternyata sudah dipersiapkan para orang tua anak-anak didik.


Mereka semua duduk di atas tikar yang sudah dihamparkan. Sebuah dus berisi hidangan makanan dibagikan kepada seluruh pengurus dan tamu yang hadir. Mereka tampak akrab dan asyik menikmati sajian makan malam (yang sebenarnya hari belum malam).


"Kamu nyaman gak duduk gitu?" tanya Ferdian pada Ajeng yang terlihat kurang nyaman duduk di atas tikar dengan kondisi dua kakinya terlipat ke luar.


"Kayanya gak bisa lama-lama!" jawab Ajeng menyengir.


"Ya udah cepet aja makannya," ujar Ferdian.


Tampaknya matahari masih menunggu malam, meski sudah pukul 18 lewat, langit masih terlihat cerah. Acara makan malam sudah selesai. Ajeng mengenakan jaketnya bersiap-siap untuk pulang.


"Ferdian!" panggil Pak Burhan.


"Iya Pak?" Ferdian menghampiri dosennya itu dan meninggalkan Ajeng yang duduk di sebuah kursi taman.


Kedua pria itu berbincang lama. Ajeng hanya memperhatikannya dari jauh.


"Hei!" sapa sebuah suara.


Ajeng menoleh ke samping. Kevin sudah berdiri di sampingnya sambil tersenyum. Hati Ajeng berdebar.


Ajeng menyambut tangannya, tersenyum kaku. "Aku baik, kamu?"


"Aku juga baik! Sudah lama sekali ya kita tidak berjumpa?" ujar pria itu memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya.


"Iya. Jadi kamu sudah pulang dari Amerika?" tanya Ajeng.


"Ya, sudah satu tahun lalu! Tampaknya aku telat datang ke Indonesia!" ucapnya memperhatikan perut Ajeng yang besar sambil terkekeh.


Ajeng ikut terkekeh juga sambil menunduk. Ferdian yang telah selesai berbincang dengan Pak Burhan berjalan menghampiri istrinya yang terlihat sedang mengobrol dengan pria donatur itu. Ia menatap dengan curiga.


"Aku sudah menikah, Kev! Satu tahun lalu!" ujar Ajeng.


"Sayang sekali. Padahal tadinya aku pulang ingin langsung menghadapi orang tuamu," jawab pria bermata kecil dan tajam.


Ferdian datang dan berdehem. Ia tidak mendengar percakapan keduanya. Hanya saja ia tetap curiga.


"Ini suamiku, Ferdian!" ucap Ajeng memperkenalkan pada Kevin.


"Ferdian, ini teman kuliahku, Kevin!" ucap Ajeng lagi.


Ferdian dan Kevin saling berjabat tangan. Tatapan mata mereka sama-sama tajam dan dingin. Otot leher dan rahang Ferdian terlihat mengeras.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, saya pamit dulu. Senang bertemu lagi denganmu, Ajeng!" ucap Kevin menatap Ajeng dan Ferdian bergantian dengan senyum menyungging di salah satu sudut bibirnya.


Ajeng membalasnya dengan senyuman tipis. Sementara Ferdian hanya mengangkat salah satu pipinya, sambil terus menatap pria itu yang sudah masuk ke dalam mobil MVP hitamnya.


"Hmm...ternyata kenal ya sama pria keren itu?" ucap Ferdian menyindir istrinya sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.


"Selama empat tahun kami pernah sekelas Fer!" jawab Ajeng merangkul lengan suaminya.


"Sekelas aja?" delik Ferdian.


"Ya sekelas aja di kampus."


Ferdian menghela nafas. Ia tidak ingin berlarut-larut membahas hal itu sebenarnya, tetapi entah kenapa hatinya merasa kesal. Apalagi melihat tatapan pria tadi pada istrinya.


"Yuk pulang, sebentar lagi gelap!" ajak Ajeng menarik lengan suaminya menuju motornya.


Ajeng sadar, Ferdian pasti mencurigainya tadi. Tetapi ia tidak ambil pusing, pasalnya, ia sendiri sudah terlihat sedang berbadan dua, dan tentu saja pertemuan dengan Kevin pasti tidak akan berlanjut. Jadi tidak ada yang perlu dipermasalahkan bukan?!


Ajeng merengkuh erat tubuh suaminya meski terhalang oleh perutnya sendiri. Angin terasa semakin dingin, ia menyandarkan kepalanya di punggung belakang Ferdian.


\=\=\=\=\=


[BONUS VISUAL]


Kevin Nataprawira



Mari kita berikan sedikit aja ujian keimanan untuk Ajeng 😏


Author yang gemes deh sama babang Changwook😝


Like, vote, dan komen yaa


Tipsnya yaa seikhlasnya 😁


[bonus]



ajeng yang galak dan aa Ferdian yang curigaan



__ADS_1


__ADS_2