
Petir dan gemuruh menggelegar membelah langit yang kini semakin gelap karena ditinggalkan oleh matahari. Zaara masih harap-harap cemas, meskipun ia berada di dalam masjid, tetap saja ia teringat pada peristiwa beberapa minggu yang lalu jika harus pulang malam. Apalagi teman-teman keputriannya kini sudah pulang karena letak kosan mereka yang tidak jauh dari masjid. Zaara membuka mushaf Al-Qurannya, sembari menunggu langit reda menuangkan amarahnya. Gadis itu melantunkan ayat suci Al-Quran dengan memelankan suaranya di dalam masjid.
Teras selasar basah karena amukan angin yang membawa hujan kemana pun ia tuju. Adzan maghrib sudah berkumandang, gadis bergamis abu itu kini mengambil air wudhunya. Hatinya cukup merasa lega karena hujan telah surut meski masih meninggalkan rintik-rintiknya. Ia mengikuti shalat berjamaah di masjid dengan para jamaah wanita yang berdatangan.
Zaara menengok ponselnya, waktu sudah menunjukkan pukul 18.30, Zayyan belum juga datang menjemputnya seperti permintaannya tadi pagi. Apa mungkin karena jalanan macet, sehingga adiknya itu terjebak? Ia tidak merasa nyaman jika harus tetap sendiri di dalam masjid meski di area jamaah wanita. Semoga saja Zayyan cepat tiba, harapnya dalam hati.
Gadis itu membuka ponselnya, karena muncul beberapa notifikasi chat whatsapp. Jantungnya berdegup kencang ketika membaca pesan dari Arsene di grup taarufnya. Ia sadar Arsene pasti mengkhawatirkannya karena kejadian beberapa waktu lalu. Untung saja, ibunya itu cepat membalas pesan Arsene. Ia tidak ingin jika harus berboncengan dengan lelaki itu, terlalu gugup dan terlalu rentan bagi perasaannya. Apalagi kini mereka tengah menjalani sebuah hubungan, meski masih terlalu dini.
Zaara mengklik nama ibunya di dalam grup itu, lalu mengirim pesan padanya.
[Mi, Zayyan mana? Zaara sendirian di masjid :’(]
Hatinya tiba-tiba terperanjat karena tersadar kalau ia mengirimkan pesan itu bukan pada chat pribadi dengan ibunya, melainkan di grup itu. Lekas-lekas saja ia menghapus pesannya yang baru terkirim beberapa detik yang lalu. Ia tidak bermaksud mencari perhatian Arsene, semoga saja Arsene tidak membacanya. Jantungnya semakin tak karuan saja. Zaara mendudukan dirinya di teras yang kering di samping pintu masjid.
Beberapa mahasiswi yang baru selesai melakukan kegiatan sore masih terlihat di sana untuk menunaikan shalat maghrib. Hanya sedikit saja jumlah mereka. Sedangkan jamaah pria cukup banyak melewati pintu yang cukup jauh dari tempat dimana Zaara duduk. Zaara sudah mengirimkan pesan yang benar pada ibunya. Ibunya sudah memberitahu kalau Zayyan sudah di dalam perjalanan untuk menjemputnya.
“Zaara!” panggil sebuah suara dari suatu tempat. Zaara kenal betul suara itu milik siapa yang membuat jantungnya melompat.
Zaara menoleh ke sudut selasar. Ada Arsene di sana sedang berdiri di balik pilar masjid.
“Belum pulang?” tanya pria itu memastikan kalau Zaara baik-baik saja.
Zaara menggeleng. “Bentar lagi kayanya Zayyan datang!” jawabnya.
Arsene mengangguk-angguk, pria itu kemudian duduk di salah satu sisi tembok yang membatasi antara area ikhwan dan akhwat.
Zaara menunduk. Hatinya ingin sekali berteriak. Mengapa dia bisa datang kesini? padahal mungkin saja Arsene sudah berada di tempat lain sebelum ini. Zaara bertanya-tanya dalam hatinya. Apa karena pesannya tadi sempat terbacanya? Zaara menggeleng-geleng frustrasi dan salah tingkah. Satu pertanyaan lagi dalam benaknya, apa yang Arsene lakukan di sana? Dengan hanya duduk sambil memperhatikan ponselnya. Apakah pria berkulit putih itu menunggunya sampai Zaara benar-benar dijemput oleh Zayyan?
Zaara menangkup pipinya yang terasa panas. Mungkin saja kalau ia sedang bercermin, pipinya itu akan terlihat merah merona.
Zaara jadi merasa bersalah, Arsene pasti tengah menunggu juga CV ta’aruf miliknya. Ia sebenarnya sudah membuatnya, hanya saja ia ingin memeriksanya kembali. Tetapi tugas kuliahnya membuatnya terlupa sejenak. Ia berjanji akan mengirimnya malam ini juga.
Zaara menoleh pada Arsene yang masih memperhatikan ponsel. Posisi pria itu terlihat karena ia duduk di depan sebuah jendela yang terbuka tirainya. Meski hanya punggungnya saja yang bisa terlihat oleh Zaara, tetapi tetap saja keberadaan pria itu di sana membuatnya canggung. Tiba-tiba Arsene berdiri dan berjalan ke arah pintu masuk jamaah ikhwan. Suaranya cukup terdengar dari tempat Zaara duduk.
__ADS_1
“Udah sholat?” tanya Arsene.
“Ini mau Bang! Kejebak macet tadi!” itu suara Zayyan.
Zaara bisa bernafas lega, akhirnya adiknya itu sudah datang.
Zayyan telah selesai menunaikan shalat maghrib, Arsene memberitahunya kalau kakaknya itu sedang menunggunya di teras samping.
“Teh, hayu pulang!” seru Zayyan mengintip dari balik tembok pembatas masjid.
“Hayuuu!” ujar Zaara beranjak dari tempat duduknya dan langsung mengambil sepatu miliknya.
Zaara bergegas menuju halaman parkir masjid. Udara malam semakin dingin saja, meski ia selalu mengenakan gamis dan baju inner-nya, suhu malam ini benar-benar membuatnya bergetar. Ia menahan rasa dingin itu dengan mengusap-usap tangannya sambil terus berjalan ke parkiran motor. Ia melihat Arsene tengah berjalan dengan adiknya itu sambil merangkul bahunya. Sepertinya sudah akrab sekali keduanya.
Zaara memeluk tubuhnya sendiri yang kedinginan. Hujan badai tadi menyisakan dingin yang menusuk, entah berapa suhu udara malam ini. Zayyan memberikannya sebuah helm.
“Nih, Teh!”
Zaara memakai helm itu. Tak disangka ternyata Arsene memarkirkan motornya tepat di samping motor adiknya itu. Pria itu berjalan ke motornya setelah berbincang sebentar dengan salah satu pengurus LDK yang tinggal di kesekretariatan masjid.
“Sedikit!” ucap Zaara yang memang sejak tadi memeluk tubuhnya.
Riwayat hipotermia Zaara membuat Arsene khawatir dan terus memperhatikan Zaara yang akan menaiki motor bersama adiknya. Arsene membuka jaket denimnya, meskipun bukan jaket tebal, setidaknya jaket ini bisa membantu mengurangi rasa dingin.
“Kalau gak keberatan, pake aja jaket aku!” ucap Arsene, sambil menyodorkan jaketnya.
“Gak apa-apa, Sen!” sergah Zaara.
Zayyan yang sudah menaiki motornya, memberi kode pada kakaknya itu.
“Ambil aja, Teh! Bisi kumat hipotermianya!”
Zaara jadi merutuki dirinya sendiri yang pelupa karena hari ini pulang sore dan tidak membawa jaketnya. Zaara menghela nafas dan Arsene belum menarik uluran tangannya itu.
__ADS_1
“Ya udah deh, aku pinjem bentar!” ucap Zaara pada akhirnya.
Arsene tersenyum kecil.
“Eh Abang bukannya mau ke rumah kita juga ya? Kata umi mau titip sesuatu buat Tante Ajeng,” tanya Zayyan memastikan.
“Iya, mampir bentar aja!” jawab Arsene.
Jantung Zaara makin tidak karuan saja, ini artinya mungkin saja motor mereka akan berangkat beriringan sepanjang perjalanan pulang.
“Hayu, Teh! Naik!” seru Zayyan.
Zaara menaiki motor adiknya sambil memperhatikan Arsene yang tengah mengenakan helm, ia khawatir aurat kakinya akan tersingkap ketika menaiki motor adiknya itu karena posisinya yang duduk mengangkang. Zaara menarik ujung roknya sampai benar-benar menutupi kakinya. Ia juga sempat menarik kaos kakinya ke atas.
Gadis itu mengenakan jaket milik Arsene, mencium aroma parfum maskulin yang muncul di sudut-sudut tertentu. Baru pertama kalinya ia mencium aroma ini, dan entah mengapa ia suka. Padahal ia tidak pernah menyukai parfum milik abi atau adiknya itu yang terlalu menyengat menusuk hidungnya. Rasa dingin yang tadi menyapa tubuhnya, kini perlahan hilang berganti kehangatan dari jaket denim hitam milik Arsene. Zayyan pun melajukan motornya di bawah gelapnya malam.
Kemacetan di jalan telah terurai seiring para pengemudi yang berkurang. Meskipun begitu, di beberapa titik persimpangan dan area dekat pasar banyak terdapat genangan-genangan air yang cukup dalam. Zayyan mengemudikan motornya dengan hati-hati dan melesatkan gasnya ketika telah melewati genangan itu. Sementara Arsene berada di belakang mereka, meski terhalang oleh beberapa motor dan mobil yang berada di depannya.
Zayyan memberhentikan motornya ketika telah sampai di depan pagar rumahnya. Zaara membukakan pintu pagar rumahnya dan membiarkan adiknya masuk dan memarkirkan motornya di dalam. Sementara itu Arsene baru saja tiba di sana, ia berhenti di depan pagar dan mematikan motornya.
“Masuk aja, Bang!” ujar Zayyan sebelum menutup pintu pagarnya. Zaara sudah lebih dulu masuk ke dalam.
“Assalamu’alaikum,” Zaara mengucapkan salam ketika masuk ke dalam rumahnya.
“Wa’alaikumsalam,” ucap Karin menyambut kedatangan anak-anaknya.
“Eh itu kamu pakai jaket siapa? Perasaan gak pernah punya jaket besar gitu?” tanya Karin memperhatikan putri sulungnya.
DEG.
\=\=\=\=\=\=
Bersambung dulu
__ADS_1
Rajin vote, like, comment dan tipsnya yaa, hihi
Makasiiiih ^_^