Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 35. Promosi


__ADS_3

Beberapa mahasiswa Sastra Inggris kelas A telah saja keluar dari ruang perkuliahan umum di gedung B lantai 3. Mereka baru saja mengikuti kelas bersama untuk mata kuliah Bahasa Indonesia yang digabung dengan kelas A jurusan Sastra Indonesia. Sebanyak 60-an mahasiswa baru telah berada di kelas semi aula itu selama kurang lebih satu jam.


Arsene menutup tas ranselnya setelah ia memasukan buku catatannya. Ia teringat pada tumpukan kertas brosur untuk promosi soft launching tokonya Hari Sabtu ini. Pria muda yang mengenakan kaos merah berkerah itu membuka tasnya kembali. Ia harus membagikan kertas-kertas itu pada teman-teman sekelasnya sebelum mereka bubar semua. Ini kesempatannya untuk berpromosi.


"Sen, gue duluan ya?" ucap Angga, teman SMA-nya yang kini juga sekelas dengannya di jurusan ini.


"Mau langsung balik?" tanya Arsene.


"Gue mau ke kosan Adit, ikut tidur siang dulu, sorenya mau ada kumpulan perdana anak baru BEM soalnya. Daripada balik mending numpang ya, Dit?!" ucap Angga pada kawan baru di sebelahnya.


"Mau ikut, Sen? Kita udah gak ada kuliah lagi kan?"


"Gue harus sebar brosur, toko kue gue Sabtu ini buka!" Arsene mengeluarkan tumpukan kertas art paper tipis berwarna soft peach dan hijau pastel.


"Hebat euy, koki kue mau jualan!" puji Angga. Arsene memberikan brosur itu kepada dua temannya.


"Datang ya, ada muffin gratis untuk 50 orang pengunjung pertama."


"Asiiik kalau urusan makanan mah pasti dateng lah!" seru Angga.


"Siplah! Kita duluan ya? Good luck Mas Bro!" ucap Adit berpamitan.


Arsene lekas-lekas berdiri, sambil membawa brosur-brosur miliknya, kemudian membagikannya pada mahasiswa-mahasiswa yang masih berada di kelas.


“Datang ya …,” ucap pria muda itu tersenyum, terdengar kikuk. Ini pertama kalinya bagi Arsene untuk melakukan promosi. Ia belum handal masalah ini, hanya saja modal nekat membuatnya berani melakukan ini.


Mahasiswa-mahasiswa itu terlihat antusias memperhatikan brosur cantik yang diberikan Arsene. Memang, toko kue yang akan diluncurkannya mengambil tema shabby chic, mengingat toko kuenya yang dinamakan "Sweet Recipes", jadi ia meminta kepada desain grafis membuat desain promosi yang sesuai dengan tema tokonya itu. Menggunakan warna pastel serta aksen-aksen klasik untuk dekorasi di publikasinya, sudah pasti akan banyak yang tertarik.


Arsene masih terus membagikan brosur yang mungkin jumlahnya ratusan itu. Ia sudah mencoba menghitung peluang dari calon konsumen yang akan datang. Jika ia menargetkan 50 orang saja yang datang berkunjung ke tokonya, maka setidaknya ia harus menyebar promosi langsung pada 200 orang, minimal. Arsene sudah belajar pada ayahnya mengenai strategi pertama promosi untuk toko kue ini. Jadi ia harus menghitung peluang datangnya para konsumen.


"Datang ya Ra!" ucapnya sembari tersenyum tipis ketika ia memberi brosur itu pada Zaara yang kebetulan sekelas di mata kuliah ini, meski berbeda jurusan.


“Wah, toko kamu buka Sabtu ini?!” tanya Zaara tidak percaya.


“Iya, perdana nih!”


“Insya Allah ya,” jawab Zaara.


Ada teman-teman Zaara juga di sana. Tampaknya gadis itu kini lebih terbuka dalam masalah pertemanan, ada sekitar lima orang yang berkumpul dengannya dan terlihat cukup akrab. Ia tidak lagi menjadi gadis penyendiri yang mengasingkan dirinya ke masjid. Teman-teman Zaara tampak sangat antusias, bahkan mereka langsung membuat janji untuk pergi ke toko Arsene.


“Arsene!” panggil Zaara, ketika Arsene masih sibuk membagikan flyer promosinya ke mahasiswa-mahasiswa lain.


“Ya?” tanyanya menoleh.


“Butuh bantuan?”


“Bantuan apa?” tanya Arsene tidak mengerti.


“Bantu sebar leaflet promosi toko kamu. Kebetulan kita gak ada kuliah lagi hari ini. Sekalian nanti sambil jalan ke gerbang.” Ucapan Zaara tentu saja membuat Arsene sumringah. Leafletnya memang banyak sekali dicetak, karena Arsene akan mengoptimalkan penyebaran promosi hari ini.


“Ah, beneran nih?”


“Iya, kita bantu. Aku, Terry, sama Hana.”


“Alhamdulillah, makasih ya Ra. Wajib datang lho, nanti aku siapin yang spesial buat kalian bertiga.”

__ADS_1


“Insya Allah.”


Arsene memberikan beberapa lembar leaflet promosi pada ketiga gadis yang ada di hadapannya. Mereka terlihat gembira menerima leaflet itu dari Arsene.


“Sini gue minta agak banyakan!” ucap Terry.


“Gak apa-apa nih?”


“Gue udah sering kaya gini karena sering bantuin kakak gue promosi.”


“Ooh ya?”


“Ya, udah gak usah sungkan!” Terry mengambil paksa tumpukan leaflet itu dari tangan Arsene. Ketiga gadis itu merapikan leaflet yang ada di tangan mereka.


“Kita pergi dulu ya Sen. Kita ke arah gerbang utama, jadi kamu bisa sebar di tempat lain,” ucap Zaara.


“Makasih banyak ya,” ucap Arsene. Mereka pun berpisah di sana.


Mood Arsene semakin baik saja. Dengan senyumannya yang lebar dan mata sipitnya, ia berhasil menghipnotis para penerima leafletnya, sehingga membuatnya terkesima dengan pemuda tampan itu.


\=====


Angin bertiup sepoi-sepoi, matahari bersinar hangat siang itu. Pria muda itu berjalan di sepanjang lorong yang mengantarkannya ke gerbang timur komplek universitasnya. Sambil menyebarkan brosurnya, hatinya terus berharap bahwa pembukaan toko kuenya akan berjalan lancar.


Ia berjalan melewati fakultas lain, lalu beristirahat sebentar di bawah pohon rindang yang memberikan kesejukan. Sambil berdiri, ia tetap menyebar brosur itu pada mahasiswa yang lewat di depannya. Dari kejauhan, terlihat ketiga gadis itu, teman-temannya yang bersedia membantunya secara sukarela. Apalagi gadis berkerudung kuning kunyit itu, yang bahkan dari jauh pun senyumnya tetap terlihat berseri. Arsene tersenyum pada dirinya sendiri, kenapa baru kali ini perasaannya terus membesar, ia juga tidak mengerti.


“Lho ada di sini?”


Seseorang menepuk pundak Arsene dari samping, membuat pemuda itu terkejut dan menoleh.


“Lagi apa, Sen?” tanya pemuda tinggi yang mengenakan jas putih, kemeja salur biru dan celana jeansnya.


“Saya lagi sebar ini, Mas!” Arsene menyerahkan brosur itu pada Raffa yang langsung memperhatikan isinya.


“Ooh toko kamu mau buka ya?” tanyanya.


“Iya, Mas! Datang ya?”


“Oke, nanti saya lihat jadwal dulu,” jawab Raffa tersenyum kecil.


“Kamu akhirnya kuliah di sini juga? Jurusan apa?” tanya Raffa.


“Iya, Mas. Sastra Inggris.”


“Hmm … satu fakultas sama Zaara ya?”


“Iya.” Arsene tersenyum kecil.


Beberapa mahasiswa yang memakai jas putih seperti Raffa terlihat datang menghampiri. Mereka sepertinya kawan-kawan Raffa.


“Fa, lagi apa? Ayo ke kantin!” ucap seorang wanita dengan rambut sebahu.


“Tunggu bentar,” ucapnya yang masih memperhatikan leaflet dari Arsene.


“Hey, punya temen ganteng gak dikenalin nih!” ucap wanita itu lagi.

__ADS_1


“Ah, ini Arsene, mahasiswa baru di sini. Kebetulan dia anak sahabat mamaku,” jawab Raffa memperkenalkan mereka berdua.


“Hai, aku Jane!” ucap wanita itu mengulurkan tangannya.


“Arsene!” balas Arsene sambil menjabat tangannya.


Arsene memberikan leaflet itu padanya, juga pada beberapa kawannya yang lain.


"Datang ya Kak!"


"Siap!" jawab Jane.


“Saya keliling lagi ya, Mas!”


“Oh ya, silakan!” ucap Raffa menatap ke arahnya.


“Good luck, Arsene!” ucap Jane ramah.


“Terima kasih.”


Arsene kembali menyusuri trotoar sambil memberikan leaflet di tangannya. Raffa menatap tajam pada punggung Arsene yang kini sudah jauh dari pandangan matanya.


“Saingan lo ya?” tanya Jane menyenggol tubuh Raffa.


“Apa?”


“Iya, cowok itu saingan lo buat cewek yang lo incer kan?”


Raffa terkekeh.


“Yeh, malah ketawa. Ganteng banget, kayanya lo bakal kalah deh!” ucap Jane.


“Kenapa lo mikir gitu?”


“Lihat aja. Dia bisa kerja meski masih kuliah. Nah lo?!”


“Hey, gue calon dokter sukses ya!” seru Raffa percaya diri.


“Tapi, cewek lebih suka sama cowok yang kerjanya real, apalagi sambil kuliah gitu. Nikah muda pun gak masalah kalau cowoknya kerja keras. Gue juga mau tuh!”


“Emang lo gak gengsi, gimana kalau usahanya gak sukses? Masa depan gue udah terjamin, nah dia, belum tentu kan? Meski orangtuanya kaya.”


“Kayanya lo mesti telusuri cewek gebetan lo deh! Kalau anak-anak di kampus kita, lo emang idaman. Coba tanya apa kriteria cowok idaman dia. Buruan ah, laper gue!” ucap Jane sambil melenggang pergi menjauh dari Raffa.


Raffa tertegun pada ucapan sahabatnya tadi. Ia memang percaya diri, karena ia pun berambisi dengan karirnya setelah ini sebagai dokter gigi. Apalagi ia memiliki akses mudah karena kedua orangtuanya bekerja di instansi kesehatan yang bergengsi. Masa depannya bisa jadi sudah terjamin, tetapi apakah hal itu menjaminnya untuk bisa mendapatkan gadis incarannya? Sepertinya pria itu harus melakukan promosi diri di depan gadis incarannya.


\=====


Bersambung dulu


jangan lupa like, comment dan vote


ditunggu masukannya juga ^_^


terima kasih

__ADS_1


__ADS_2