Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 73. Kesepakatan


__ADS_3

Malam sudah semakin larut. Akan tetapi dua pengantin baru itu belum tertidur meski rasa lelah menyapanya. Zaara mengenakan piyama panjangnya. Ia serba kebingungan untuk mengenakan pakaian apa di malam pertamanya.


Kado-kado dari para tamu yang hadir telah berada di kamar itu sejak Ajeng memerintahkan Arsene untuk membawa semuanya ke dalam kamarnya. Kado-kado itu berjumlah banyak dan tertumpuk di ujung kamar. Mereka belum membukanya.


Arsene dan Zaara sudah berada di atas kasur sambil duduk bersandar di dipan kasur yang empuk. Televisi kecil di sana menyala menampilkan acara hiburan dari stasiun TV internasional.


“Zaara Sayang, boleh aku bicarakan sesuatu?” tanya Arsene menoleh pada istrinya yang mengikat rambutnya.


“Ada apa, Abang Sayang?”


“Mengingat 3 hari lagi adalah kepergian aku ke Sydney, bisakah kita membicarakan hal-hal yang mungkin harus kita lakukan atau tidak lakukan?”


“Apa itu?” tanya Zaara terlihat tegang.


Arsene juga tidak kalah tegang. Pria itu mengusap-usap leher bagian belakangnya, gugup. Lalu mengambil kedua tangan istrinya dan menggenggamnya.


“Aku mau tanya dulu!”


Zaara mengangguk.


“Apa kamu udah siap untuk malam pertama?” tanya Arsene menembak langsung dengan pertanyaan itu.


DEG. Jantung Zaara melompat.


“A-aku … si-siap aja kalau k-kamu mau!” ucap Zaara mengernyitkan matanya.


“Kalau aku minta hal ini ditunda, perasaan kamu gimana?” tanya Arsene serius.


“Maksud kamu?”


Arsene menghela nafas. Sulit memang untuk tidak tergoda dengan istrinya yang cantik ini. Tetapi ia masih bisa menahan diri. Ia sudah membaca beberapa artikel terkait hubungan s*ksual, bahkan dalam buku Kado Pernikahan pun ada. Jika saja mereka sudah menikmati indahnya menyatu dalam cinta, maka sulit baginya untuk tidak menahan diri. Sedangkan mereka akan berpisah selama kurang lebih satu tahun.


“Apa kamu keberatan kalau aku gak menyentuh kamu dalam waktu yang tidak bisa aku tentukan?” tanya Arsene lagi.


“Ini udah nyentuh!” ucap Zaara polos melihat genggaman tangan Arsene.


“Zaara Sayaaaaang!” Arsene mengeluh.


“Coba jelasin blak-blakan.” Zaara menyuruh Arsene untuk menjelaskan secara detail.


“Maaf, sepertinya malam pertama kita bakal ditunda! Bukannya kamu gak menarik, kamu itu cantik banget! Tapi aku bakal gak sanggup kalau aku udah mencicipi kamu!” terang Arsene sambil mengernyitkan matanya, terlihat lucu sekali.


Zaara menundukkan wajahnya, pria di depannya itu terlihat lucu sekali.


“Aku akan menghargai permintaan kamu, Abang Sayang! Tapi apa kamu yakin?” tanya Zaara ragu-ragu.


Arsene mengangguk-angguk masih dengan matanya yang terpejam. Zaara melepaskan tangannya, dan langsung mencubit pipi suaminya yang ekspresinya menggemaskan itu.


“Oh, ternyata berani nyubit ya?!” Arsene membesarkan matanya dan menantang istrinya yang tengah mengejeknya.


“Sini kalau berani!” Zaara bangkit dari kasurnya tapi kalah cepat dengan tangan Arsene yang menangkap pinggang rampingnya itu sehingga membuat gadis itu terjatuh dan terbaring di atas kasur. Sementara Arsene menindihnya tepat di atas tubuh gadis itu.


Wangi aroma greentea yang menguar dari tubuh Zaara benar-benar menggoda iman pria itu. Wajah mereka begitu berdekatan dengan nafas yang saling tertahan. Mereka bisa mendengar detak jantung masing-masing. Arsene mendekatkan wajahnya pada Zaara perlahan, sementara gadis itu mengernyitkan matanya.

__ADS_1


Arsene menempelkan bibirnya tepat di bibir milik Zaara. Namun hanya sekejap, pria itu kembali terbangun dan membuang nafasnya. Arsene tertunduk galau. Lalu merebahkan kembali tubuhnya di samping istrinya yang belum bangun dari sana.


“Kita tidur ya?” pintanya.


Zaara mengangguk saja. Arsene mematikan televisi dan semua lampu kamarnya, sehingga benar-benar gelap. Secercah cahaya masuk melewati celah-celah ventilasi yang berasal dari lampu di koridor luar.


Arsene menarik selimut dan menutupi tubuh istrinya dengan selimut itu, begitu juga dengan tubuhnya. Entah kenapa suasana kembali canggung dengan debaran jantung yang belum berakhir. Keduanya sama-sama belum terpejam dan kompak menaruh tangan mereka di atas dada masing-masing.


Arsene melirik istrinya yang sedang menautkan jarinya di atas dadanya. Sejurus kemudian, Arsene mengambil salah satu tangan istrinya dan menautkan dengan jari miliknya. Zaara menengok ke arah suaminya.


“Tidur sambil pegangan gini aja gak apa-apa kan?” tanya Arsene.


Zaara terkekeh. “Iya gak apa-apa kok!” jawabnya tersenyum.


Hangat yang menjalar dari dekapan itu berhasil membuat jantung keduanya reda. Apalagi rasa lelah telah mengalahkan mereka malam itu, hingga berhasil membuat keduanya tertidur lelap.


\=\=\=\=\=\=


Bunyi alarm dari ponsel terdengar nyaring dan kuat. Zaara kenal betul nada dering itu milik ponselnya. Ia mencari-cari keberadaan ponselnya yang entah berada di mana seperti berada di suatu tempat yang tertutup, entah di dalam tasnya atau laci meja belajar Arsene Ia benar-benar lupa. Gadis itu baru saja akan bangun dari tidurnya, tetapi ia baru sadar ada sesuatu yang berat menahan tubuhnya. Karena suasana kamar begitu gelap ia tidak bisa melihat benda apa yang menahan di atas tubuhnya itu. Tubuhnya terasa berat, terutama di bagian dada dan pinggangnya sehingga terasa sesak. Sehingga terpaksa ia membuka matanya untuk mencari tahu ada apa sebenarnya.


Gesekan lembut terasa di lehernya, seperti sekumpulan rambut yang menyangkut di sana. Zaara terkejut mendapati seorang lelaki memeluk tubuhnya. Ia tersadar kalau itu adalah suaminya. Arsene tertidur sambil memeluknya, kepalanya berada tepat di atas dadanya, sedangkan lengan pria itu memeluk pinggangnya erat.


Zaara kebingungan apakah harus membangunkannya atau membiarkannya tetap dengan posisi seperti ini. Zaara sendiri benar-benar tidak bisa bergerak. Sementara alarm ponselnya terus saja berbunyi.


“Abang Arsene!” ucap Zaara pelan, berusaha membangunkannya tanpa membuatnya kaget.


Pria itu bergeming, belum tersadar.


“Abang Sayaaaang,” ucap Zaara lagi.


“Arsene!” seru Zaara yang tampak terkejut karena aktivitas tak sadar Arsene pada bagian tubuhnya yang sensitif, akhirnya membuat pria itu terbangun dengan kaget.


“Kenapa?!” serunya terkejut. Ia menyalakan lampu di atas nakas sampingnya. Matanya mengernyit menatap Zaara yang sedang memeluk tubuhnya menutupi dadanya.


“Kamu kenapa?” tanyanya heran.


“Enggak!” Zaara meninggalkan kasur itu dan mengambil ponselnya di dalam tas lalu mematikannya. Gadis itu pergi ke kamar mandi.


Arsene memandanginya dengan keheranan. Apa jangan-jangan ia melakukan hal aneh ketika tidur? Pria itu menggaruk kepalanya, rambutnya terlihat berantakan sekali.


Zaara telah kembali dari kamar mandi dan bersiap-siap untuk shalat tahajud. Pria itu hanya terdiam melihat istrinya shalat. Sambil berpikir kira-kira apa yang dilakukannya.


“Kamu marah?” tanya Arsene setelah Zaara mengucap salam setelah shalatnya selesai beberapa rakaat. Arsene hanya khawatir.


“Enggak. Maaf aku bikin kamu kaget!”


“Apa aku melakukan sesuatu yang aneh sama kamu?”


“Enggak, udah lupain aja. Aku cuma kaget karena belum terbiasa.” Zaara menjawab itu sambil mendudukan tubuhnya di samping kasur.


“Emang aku ngapain?” Arsene masih terus penasaran.


“Bukan apa-apa."

__ADS_1


Arsene hanya menggeleng-geleng saja, lalu bergabung dengan Zaara untuk menunaikan shalat tahajud dilanjut shalat subuh.


Setelah subuh, keduanya berdiskusi kembali. Ini terkait dengan rencana apa yang akan mereka lakukan ketika jarak memisahkan mereka.


“Aku di sana kemungkinan 2 semester. Pas winter mungkin libur jadi aku bisa pulang ke sini. Jadi kita bisa ketemu lagi setelah lima bulan. Atau kita mau honeymoon?” ucap Arsene dengan mata yang berbinar.


“Desember lagi UAS. Aku libur Januari sampai Februari. Apa sekolah kamu udah masuk?” tanya Zaara.


“Aku libur akhir Desember sampai pertengahan Januari. Ya udah kalau gitu, Desember aku pulang, Januari kamu ikut aku ya?”


Zaara terkejut.


“Ikut ke Sydney?” tanya Zaara tidak percaya.


“Iya, nanti kamu bikin paspor dan visa berlibur. Jadi bisa temenin aku di sana, seenggaknya sebelum kamu kuliah di tahun ajaran baru.”


“Hmm... oke deh!”


Arsene mencatat itu di buku agendanya. Agar semua terjadwal dengan baik.


“Terus, untuk komunikasi kita, aku ingin kita punya catatan harian,” terang Arsene.


“Apa itu?”


“Aku ingin kita menuliskan catatan apa yang terjadi setiap hari atau minimal seminggu sekali selama kita terpisah. Terus kita kirim ke email bersama milik kita, jadi aku bisa baca punya kamu dan sebaliknya.”


“Hmm… menarik! Jadi kaya kita bikin diary gitu ya?” tanya Zaara antusias.


“Nah iya betul! Aku bisa tahu kegiatan kamu dan apa yang kamu rasain saat itu. Jadi aku bisa merasa dekat meski kita terpisah jarak."


“Kenapa gak via videocall?” tanya Zaara.


“Aku ingin kita punya proyek bersama, mungkin bisa dibuat buku suatu hari nanti. Siapa tau anak-anak kita bisa baca.”


“Oke, aku sepakat!” jawab Zaara riang dan antusias.


Arsene tersenyum melihat istrinya yang antusias. Ia memang sudah merencanakan ini sejak lama, bahkan sebelum lamarannya pada gadis itu. Ajeng memanggil semua anaknya agar turun untuk sarapan bersama di meja makan.


“Yuk sarapan dulu. Jangan lupa tutup aurat kamu, ada Rainer di sini!”


“Ah iya!”


Zaara mengenakan gamis dan hijabnya lalu berjalan keluar kamar bersama Arsene. Ajeng menyambut keduanya dengan senang.


“How was your night, sweethearts (Bagaimana dengan malam kalian)?!”


\=\=\=\=\=\=\=


Hihiihi


Vote poin dan koinnya ditunggu yaa, hihi


LIKE & KOMENTAR wajib tinggalin

__ADS_1


makasiiiih ^_^


__ADS_2