
Jumat malam, Arsene, Ardan, dan Satrio sengaja menginap di toko agar mereka bisa menyelesaikan pesanan mereka di pagi hari, sekaligus tetap bisa membuka toko. Arsene sudah berbelanja sehari sebelumnya, ia beruntung karena Jumat adalah hari yang benar-benar kosong dari mata kuliah. Ia begitu senang kuliah di Sastra Inggris. Apalagi materi-materinya pernah ia lahap dari cerita-cerita yang disampaikan oleh ibunya sendiri. Bahkan Ajeng selalu bertanya padanya jika anak sulungnya itu mengalami kesulitan. Arsene hanya mengalami kesulitan untuk mata kuliah linguistik dan yang berhubungan dengannya. Sementara untuk kajian sastra dan mata kuliah lainnya, selalu dinikmatinya. Ia jadi ragu-ragu jika harus berhenti kuliah dari sana, meski ia tetap ingin menjajal akademi memasak untuk skill terasahnya.
Sabtu setelah subuh, ketiga pria itu sudah ribut di dapur. Mereka mempersiapkan alat dan bahan untuk membuat muffin dan eclairs. Arsene bekerja di pos muffin secara keseluruhan, sementara Ardan bekerja untuk pengolahan bahan choux, dan Satrio seperti biasa akan sibuk membuat filling dan topping. Ketiganya tampak fokus mengerjakan tugasnya masing-masing agar pesanan itu bisa diantar sesuai permintaan pelanggan.
\=====
Seorang gadis cantik tengah mengenakan hijab berwarna peach yang dipadukan dengan gamis bermodel layer dengan warna yang senada. Ia mengenakan hijab pemberian lelaki itu untuk menghormatinya. Dipoles bibirnya dengan lipbalm berwarna pink yang sewarna dengan bibir alaminya. Ia tidak memoles apapun di wajahnya, kecuali lipbalm untuk melembabkan bibirnya saja. Gadis itu menarik nafasnya, lalu mengembuskannya perlahan.
“Mi, Arsene mau datang jam berapa?” tanya Reza pada istrinya yang tengah sibuk di dapur mempersiapkan jamuan tamunya yang akan datang hari ini.
“Arsene?!” tanya Karin heran.
“Iya,” jawab Reza menaruh sapu yang baru dipakainya.
“Ooh mungkin bentar lagi kali ya, kan tamunya datang jam 10-an,” jawab Karin mengingat pesanan kuenya pada pemuda itu. “Tapi gak tau juga, siapa tau yang antar kesini itu pegawainya.”
“Eh? Jadi tamunya bukan keluarga Ferdian?!” tanya Reza terkejut.
“Astagfirullah, Abi! Udah Umi kasih tau berapa kali, masya Allah, udah mau nimang cucu ya Bi jadi pelupa gitu?!” ucap Karin gemas.
“Ya Allah, Abi keinget Arsene terus. Astagfirullah!”
Karin menggeleng-geleng kepalanya melihat tingkah suaminya itu. Sepertinya, Reza memang sedikit mengharapkan kedatangan Arsene hari ini.
“Kenapa Abi keingetan Arsene terus?” tanya Karin curiga, ia mengecilkan volume suaranya. “Jangan sampai kedengaran Zaara lho, Bi!” imbuh Karin.
“Gak tau, Mi! Hati Abi kok sregnya sama Arsene ya? Tapi kayanya Arsene masih sibuk dengan usaha barunya. Menurut Umi, perasaan Zaara gimana?” tanya Reza.
Karin menghela nafas.
“Zaara gak terbuka terkait perasaannya, Bi! Dia selalu jawab, biarlah Allah yang mengatur masalah cintanya,” jawab Karin. "Lagian hari ini juga kan belum tentu Zaara terima dia, kita lihat aja nanti jawaban Zaara apa."
“Iya sih. Abi pun dulu gitu, mana ada perasaan cinta sama Umi waktu pertama kali ta’aruf, hehe! Tapi Umi kan yang pertama kali pendam rasa?” ucap Reza mengingat masa lalunya.
“Ih, malah cerita masa lalu kita. Udah siap-siap dulu, Umi masih sibuk nyiapin ini!”
__ADS_1
Reza berjalan menuju kamarnya untuk mempersiapkan diri. Hatinya memang tidak bisa berbohong, ia mengagumi Arsene. Bahkan ketika ia berkunjung ke masjid kampus, anak muda itu masih menyempatkan diri untuk mengikuti kajian sore yang diadakan oleh kakak-kakak seniornya, meski sibuk mengurus tokonya. Reza hanya berharap Allah memberikan yang terbaik untuk anaknya.
Sebuah klakson motor terdengar menyahut di depan kediaman Reza. Zaara yang baru saja turun dari lantai atas, terburu-buru keluar. Ia ingat pesan uminya untuk menerima kue pesanan yang akan diantarkan, meski gadis itu tidak tahu kalau uminya memesan kue dari toko Arsene. Zaara memakai sandalnya dan membukakan pagar rumahnya.
Seorang pria dengan helm full face yang mengenakan jaket hoodie berwarna merah berdiri di depan pagar putih yang sedang terbuka itu. Hatinya tiba-tiba berdebar melihat gadis yang membukakan pintu pagar itu untuknya. Apalagi gadis itu terlihat cantik dengan gamis layernya, seperti akan pergi ke acara formal saja. Ia jadi ragu-ragu untuk membuka helmnya. Ia kira Tante Karin yang akan menyambutnya. Arsene melepas helm dan memasang senyumnya pada Zaara.
“Hai!” sapanya seperti biasa yang disambut dengan wajah kaget Zaara.
“Arsene? Ngapain kamu ke sini?” tanyanya terkejut.
“Aku antar pesanan umi kamu,” jawab Arsene mengambil dua box besar yang ia taruh di footstep bagian depan motor matic temannya.
“Masuk dulu, aku panggilkan umi!”
Jantung Zaara berdebar tidak karuan melihat Arsene ada di rumahnya hari ini. Ia benar-benar tidak menyangka uminya itu memesan kue-kue Arsene untuk dijadikan jamuan hari ini. Arsene mengikuti langkah Zaara dan masuk ke dalam rumahnya.
“Assalamu’alaikum,” Arsene mengucapkan salam.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Karin yang datang dari belakang rumahnya. Wanita berhijab lebar itu juga terlihat anggun dan rapi dengan gamisnya, membuat Arsene berpikir sepertinya akan ada acara di rumah ini.
Arsene memberikan kotak pesanan kue itu pada sahabat ibunya itu, yang kemudian langsung Karin bayarkan secara tunai pada pemuda di depannya.
“Waiyyaki. Saya langsung permisi aja, Tante!” pamit Arsene tersenyum dan sedikit membungkuk pada wanita itu.
Zaara mengantarnya sampai ke depan. Hatinya terasa kalut karena kedatangan Arsene, ia tidak mengerti sama sekali.
“Mau ada acara ya di rumah kamu?” tanya Arsene sejenak sebelum ia mencapai motornya.
“Iya,” jawab Zaara singkat saja sambil tertunduk.
Belum sampai ia pada motornya, sebuah mobil MPV putih terparkir di depan pintu pagar, di bagian depan motor matic yang Arsene bawa. Mereka berdua berdiri tertegun. Zaara semakin kalut saja hatinya. Dari mobil itu keluar, Tante Sita yang terlihat cantik dengan kaftannya, sambil membawa barang hantaran yang entah apa isinya. Arsene tertegun. Dilihatnya lagi, Raffa yang kini keluar turun dari mobilnya, pria itu terlihat tampan dan gagah dengan gaya casual semi formal yang selalu menjadi ciri khasnya. Ia juga terlihat membawa bingkisan cantik di tangannya. Keluar juga ayah dan adik Raffa, yang sama rapinya.
Arsene memandangi Zaara yang wajahnya tampak bergetar.
“Kalian … “ Arsene tidak sanggup melanjutkan kata-katanya, nafasnya terlalu sesak sehingga kalimat itu terganjal di lidahnya. Pikirannya berasumsi dengan apa yang telah dilihatnya.
__ADS_1
Zaara berlari masuk ke dalam rumahnya. Gadis itu tidak sanggup lagi bertahan di luar.
“Arsene lagi apa di sini?” tanya Tante Sita yang terkejut mendapatinya.
“Saya kirim pesanan punya Tante Karin,” jawabnya jujur sambil tersenyum, lalu memandangi Raffa yang tersenyum lebar padanya. Tidak pernah selebar itu senyuman Raffa sebelumnya.
“Ooh, mau pulang lagi?” tanya Sita.
“Iya Tante, saya masih banyak kerjaan. Saya permisi dulu!” ucapnya mengangguk pada semua anggota keluarga Sita.
Sita tersenyum getir melihat keberadaan pemuda itu di sana. Ia tahu, keluarganya memang datang terlalu pagi dari jam yang sudah ditentukan. Ia tidak bermaksud sama sekali menggores hati pemuda itu. Ia menjadi merasa bersalah.
Arsene mengenakan helmnya, menyalakan motornya dan melesat menuju jalan raya. Jantungnya dengan cepat berpacu, seiring dengan laju motornya. Pikirannya terasa kalang kabut dengan nafas yang menyesakan dada. Kenapa hatinya terasa sakit sekali? Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Sesakit inikah ketika patah hati? Akal sehatnya tidak berjalan, padahal apa yang dikatakan pikirannya masih sebatas asumsi.
Arsene memberhentikan motornya di depan sebuah taman di pinggir jalan. Ia membeli beberapa kaleng minuman soda untuk menyadarkannya, harapnya seperti itu. Padahal anak muda itu belum menyantap sarapannya, asam lambungnya bisa kambuh setelah itu. Tetapi ia tidak peduli, dibukanya minuman soda itu dan diminumnya. Akal sehatnya harus sadar. Ia tidak boleh terbawa oleh asumsinya meski itu fakta sekalipun. Arsene berasumsi kalau Zaara dan Raffa akan bertunangan hari ini, terlihat dari beberapa hantaran yang dibawa oleh keluarga Raffa tadi. Arsene mengambil ponselnya, ia langsung menghubungi ibunya.
“Mom?” panggilnya.
“Abang? Kenapa, Sayang?” tanya Ajeng, mendengar suara anaknya ia jadi cemas.
“Apa Zaara bertunangan sama Raffa hari ini?”
Hati Ajeng terkejut mendengar pertanyaan Arsene.
“Kenapa kamu tanya itu? Mommy gak tau apapun.”
“Mommy jangan bohong!” sergahnya.
“Mommy gak pernah bohong sama kamu, Sayang! Ayo pulang, ceritakan apa yang terjadi!” seru Ajeng semakin cemas.
Arsene menutup sambungannya, pemuda itu kembali meneguk minuman soda yang terasa menyakitkan mengaliri kerongkongannya yang kering. Ia tidak tahu ternyata seperih ini ketika merasakan patah hati, padahal perasaannya belum tersampaikan sama sekali. Salahkah ia menunda-nunda demi kesiapan hati dan komitmennya? Ia harus segera pulang dan mengistirahatkan pikirannya.
\=====
Bersambung dulu
__ADS_1
like, comment, dan votenya yaa
terima kasiiiih