Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 34. Pertanyaan


__ADS_3

Reza menatap pria muda yang duduk di sampingnya. Wajah pemilik hidung mancung berkulit putih itu terlihat gugup, meski belum bersuara.


"Tanya apa, Om?" Arsene membalas tatapan pria dewasa di sebelahnya.


Reza tersenyum kecil.


“Apa yang membuat kamu memutuskan untuk bergabung di organisasi ini? Asal kamu tahu, meskipun LDK adalah organisasi resmi kampus, perekrutan kami setiap tahunnya sangat sedikit. Tidak banyak yang bertahan di sini, meskipun pada masa awal-awal masjid akan ramai dipenuhi oleh mahasiswa baru.” Reza memberi pertanyaan sekaligus pernyataan yang membuat Arsene terheran-heran.


“Kenapa sedikit, Om? Saya lihat mereka antusias mengikuti kajian tadi.” Arsene tidak mengerti mengapa hal itu bisa terjadi.


“Itu karena pilihan mereka. Menyibukkan diri dengan kuliah saja memang bagus, tetapi sayang kalau mereka tidak mencari pengalaman lewat organisasi. Sering, orang menyepelekan organisasi, karena terlihat sibuk tetapi tidak mendapat apa-apa. Padahal banyak hal yang bisa dipelajari, ilmu keorganisasian tidak akan bisa didapatkan dalam perkuliahan umum. LDK adalah organisasi yang unik, selain membentuk kaderisasi anggota untuk mengenal struktur keorganisasian, tetapi kaderisasi di sini juga membentuk kepribadian para anggotanya untuk lebih dekat dengan Allah dan Islam. Mahasiswa yang tidak merasa nyaman dalam kaderisasi di sini, akan gugur jika niatnya tidak ikhlas. Om ingin pastikan itu sama kamu, apa tujuan kamu bergabung dengan LDK?”


Arsene tersenyum kecil.


"Saya ingin … berubah, Om!"


"Berubah?"


"Dengan masuk organisasi LDK di sini, saya berharap bisa menjadi pribadi yang lebih baik, dan semakin dekat dengan agama. Saya masih harus banyak berbenah diri untuk masa depan, bukan hanya untuk dunia tetapi juga akhirat." Arsene mengatakan itu tulus dari hatinya. Ia memang sudah membulatkan tekadnya, serta meluruskan segala niatnya. Kajian tadi membuatnya berpikir semakin dalam..


Reze tersenyum pada pria muda itu yang tulus menjawab pertanyaan itu, terlihat dari sorot matanya.


“Bagus Arsene! Om harap kamu bisa pertahankan itu. Dunia ini sudah semakin sekuler, semakin banyak orang menjauhi agama karena mungkin terkesan udik dan aneh. Tetapi jika niatmu lurus untuk mencari bekal, insya Allah, Allah akan memberikan sesuai apa yang kamu inginkan. Makanya tetaplah pertahankan tujuan dan niatmu. Semoga kamu istiqomah dalam kebaikan.”


Arsene mengangguk dan mengaminkan. Ia sudah memikirkan itu semua sejak membaca buku yang dibelinya beberapa bulan lalu, yang mengubah sudut pandangnya.


"Apa rencana masa depan kamu? Om penasaran dengan pertanyaan kamu tadi. Sepertinya kamu sudah menyusun dengan baik target hidup kamu," tanya Reza lagi.

__ADS_1


"Di masa depan, saya ingin sekali menjadi chef profesional. Itu keinginan terbesar saya setidaknya sampai hari ini, Om. Rencananya Sabtu ini, saya akan mulai membuka kedai patisserie, yang nantinya akan saya kelola sendiri. Setidaknya itu usaha yang akan saya lakukan untuk menuju impian saya nanti." Arsene hanya menerangkan satu rencana dari sekian rencana yang sudah ia tulis. Tentu saja ia tidak akan membongkar semuanya.


"Bagus. Lalu setelah itu?" ternyata pertanyaan Reza belum selesai.


"Jika memungkinkan, tahun depan saya akan mendaftar di Le Cordon Bleu, akademi memasak terbaik di dunia."


"Oh jadi kamu gak bakal teruskan kuliah kamu di sini?" tanya Reza.


"Untuk saat ini rencana saya masih seperti itu, Om! Saya gak tau kedepannya gimana, kalau memungkinkan untuk berubah itu masih bisa jadi."


Reza mengangguk-angguk. Ia melihat pemuda di sampingnya yang tampak visioner dengan masa depannya. Reza berdeham.


"Oh ya, satu pertanyaan lagi. Sebenarnya ini sudah lama ingin saya tanyakan, hanya saja sepertinya belum ada waktu yang pas sebelum ini ...." ucap Reza terpotong.


"Hmm ... Apa kamu yang mengirimkan buku Nikah Muda untuk Zaara?" tanyanya menatap tajam Arsene yang balik menatapnya.


Bagai terkena tembakan sebuah senapan, jantung Arsene terasa bocor. Kini jantungnya itu berdebar dengan cepat, memompa darah ke seluruh tubuhnya, hingga membuatnya kaku dan tidak berkutik. Arsene mengalihkan pandangannya.


Pemuda itu terdiam. Jawaban apa yang harus diberikan? Mengingat memang dirinyalah yang mengirimkan buku itu pada Zaara beberapa bulan lalu. Arsene memainkan jarinya di atas pahanya, lalu mengernyitkan matanya.


“Saya mohon maaf atas kelancangan saya, Om!” ucapnya meraih tangan pria yang ada di depannya lalu membungkuk. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi, apalagi membuat alasan-alasan yang aneh dan tidak masuk akal.


Reza cukup terkejut dengan perlakuan Arsene padanya. Ia tersenyum kecil, lalu menepuk bahu anak muda di depannya itu.


“Apa maksud kamu mengirim buku itu pada anak saya?” Pertanyaan Reza lainnya, berhasil membuat jantungnya bocor dan membuat lidahnya kaku. Ia sudah menyerah, ia tidak akan bisa menjawab pertanyaan itu. Apalagi memberitahukan ayah gadis pujaan hatinya, bahwa ternyata anaknya itu masuk ke dalam rencana masa depannya.


“Maafkan saya, Om!” hanya itu yang bisa diucapkannya, karena dipaksa pun ia tak akan berani mengutarakannya sekarang. Beberapa jamaah yang akan menunaikan shalat isya di masjid jadi memperhatikan mereka, ketika melewati pintu masuk masjid. Seorang muadzin bersiap-siap untuk melantunkan adzan Isya.

__ADS_1


Reza menghela nafasnya. Kelakuan anak muda memang selalu aneh.


“Apa kamu hendak melamar anak saya?” Sepertinya Arsene harus berpura-pura mati kali ini, agar ia tidak bisa menjawab pertanyaan mematikan itu. Pria muda itu semakin salah tingkah dibuatnya, dengan wajah tegang dan mata yang terbelalak.


Adzan isya benar-benar menyelamatkan Arsene malam itu. Meski Reza masih menunggu jawabannya, Arsene tidak akan menjawab dulu pertanyaan yang menohok itu. Karena ia sadar, ia mesti berbenah diri dan meluruskan niatnya.


“Kalau kamu serius sama Zaara, luruskan niat kamu. Pantaskan diri kamu untuk jodoh terbaik yang sudah ditetapkan Allah, dan bukan untuk Zaara. Karena sebelum itu, manusia tidak akan pernah tau jodoh mana yang terbaik untuknya.” Reza meninggalkan pemuda yang masih terlihat kikuk itu dan berjalan menuju tempat wudhu.


Angin malam berhembus lembut, dinginnya udara menyapa di kulit. Begitu pula dengan air yang mengaliri anggota tubuh, begitu terasa dingin. Akan tetapi hal itu tidak menjadi masalah bagi orang-orang yang taat untuk memenuhi panggilan-Nya.


\====


Pertanyaan dan pernyataan dari Reza, terus menggerayangi benak Arsene ketika pemuda itu melajukan motornya di jalanan yang lengang menuju rumah tinggalnya.


Ia teringat pada sebuah pesan di buku yang sudah dibelinya itu. Tantangan menikah muda memang besar. Seseorang harus bisa membedakan mana nekat dan mana berani. Mana butuh dan mana kebelet. Oleh karena itu, hukum nikah berbeda-beda bagi setiap orang, bisa jadi sunnah, wajib, mubah, makruh, bahkan haram. Bagi seorang pemuda seperti Arsene, nikah muda mungkin pilihan yang masih dangkal untuknya. Oleh karena itu, tepat keputusannya untuk tidak menjawab pertanyaan Reza tadi, karena ia pun masih butuh untuk menyelami dirinya sendiri. Ia tidak akan bertindak gegabah pada keputusan ini, meski nama Zaara sudah ada dalam buku catatannya untuk menjadi bagian di masa depannya.


Ia tidak akan menyerahkan hidupnya seperti air yang mengalir mengikuti arus sungai yang membawanya. Ia akan menjadi kemudi kapalnya yang akan membawanya kemana pun berlayar, meski ia tahu akan selalu ada badai dan karang terjal yang akan menjadi sandungannya. Ia berharap Allah akan membimbingnya selalu, membawanya pada jalan yang benar.


\=====


Hehe banyak perenungan untuk Arsene kali ini


Bersambung...


Jangan lupa like, vote, dan commentnya


Terima kasih ^_^

__ADS_1


__ADS_2