
Andre menutup sambungan teleponnya. Kemudian menatap Ajeng yang sedang mengelap tangannya dengan selembar tisu basah.
“Jeng, kamu pulang bareng aku ya?”
“Hah?”
“Barusan Ferdian tanya aku udah pulang apa belum. Kalau belum pulang katanya minta tolong anter kamu pulang, soalnya dia masih ada diskusi lanjutan sampai maghrib, gimana?” tanya Andre.
Ajeng bergumam sebentar, lalu mengecek ponselnya. Ternyata memang ada pesan singkat dari suaminya itu yang menyuruhnya untuk pulang duluan bersama Andre. Kegiatan belajar Ferdian memang cukup sibuk akhir-akhir ini,
seharusnya ia membawa motor saja setiap hari. Jadi ia tidak akan bergantung pada suaminya atau merepotkan orang lain ketika akan pulang.
“Oke deh! Aku gak berani kalau nunggu di sini sampai maghrib!” ucap Ajeng.
“Kenapa, takut hantu ya?” canda Andre.
“Ya bukan itu juga kali, manusia sekarang lebih menakutkan daripada hantu!” cebik Ajeng.
“Haha! Yuk ah kita pulang sekarang!” ajak Andre.
Ajeng memastikan barang bawaannya lalu mengikuti Andre yang berjalan menuju parkiran. Para staf pekerja yang hendak pulang juga menyapa keduanya ramah. Andre berjalan menuju mobil jenis MVP (minivan) miliknya yang berwarna merah. Ia menaruh tas kerjanya di jok belakang. Beberapa pasang mata menatap keduanya menaiki mobil itu. Beberapa lagi tampak berbisik-bisik tentang keduanya.
Jalanan menuju keluar gerbang kampus dipadati kendaraan yang mengantri akan keluar. Bukan hanya dipadati kendaraan melainkan juga para mahasiswa dan staf pekerja yang berjalan kaki. Para pedagang kaki lima di
trotoar jalan ikut memenuhi lingkungan luar kampus, mencoba peruntungan mengais rezeki di sana.
“Butuh diantar ke suatu tempat dulu gak?” tawar Andre selagi mobilnya mengantri keluar gerbang.
“Hmm… gak ada sih kayanya!” jawab Ajeng.
“Oke deh, langsung ke apartemen kamu ya!”
Ajeng mengiyakan.
“Oh iya, waktu kamu dijodohin sama Ferdian perasaannya gimana sih? Aku penasaran sama yang suka dijodohin gitu deh,” tanya Andre setelah mobilnya berhasil keluar gerbang kampus dan melenggang ke jalan raya yang ternyata sedang macet.
“Ya kagetlah, sempet pingsan malah!” jawab Ajeng.
“Oh ya?”
“Habisnya papaku gak ada angin, gak ada badai, tiba-tiba suruh pulang ke rumah. Eh taunya langsung dijodohin gitu aja. Apalagi pas tau ternyata mahasiswa aku yang jadi jodohnya!”
“Hahaha shock abis ya?”
“Banget!”
“Terus kok bisa akhirnya jadi nikah sama Ferdian?”
“Ya aku percaya aja sama Papa, soalnya kakak aku juga gitu dan dia bilang gak akan menyesali jodoh pilihan papa. Lagipula Ferdian cukup dewasa dan bertanggung jawab,” terang Ajeng.
“Masalah perasaan gimana?”
“Awalnya aku ragu, tapi day by day (hari demi hari), perasaan itu tumbuh. Aku juga gak pernah menyadari kok bisa cinta itu tumbuh seiring berjalannya waktu. Padahal kita cuma kenal di kampus ya sebagai mahasiswa-dosen aja, gak lebih. Perjodohan itu juga cuma sebulan lho!”
“Sebulan?!” tanya Andre terkaget-kaget.
Ajeng mengangguk.
“Amazing! Aku salut lah sama kalian! Moga langgeng lah sampai maut memisahkan, sampai akhirat nanti!” ucap Andre tulus.
“Aaamiiin! Kamu kapan nih? Bang Nicky juga belum ya?”
“Iya, apalagi Nicky, dia lebih sibuk dari aku!”
“Mudah-mudahan cepet ketemu jodohnya lah ya!”
“Aaamiiin!” kali ini Andre yang mengaminkan.
Tak butuh waktu lama, meski di jalan kendaraan melaju padat, akhirnya mereka tiba di halaman apartemen milik Ferdian dan Ajeng.
__ADS_1
“Makasih banyak ya, Dre! Maaf jadi ngerepotin nih!” ucap Ajeng sebelum turun dari mobil.
“No problem, kita kan keluarga!”
Ajeng tersenyum, lalu turun keluar dari mobil milik Andre.
“Aku pulang ya?!” pamit Andre dari samping jendela.
“Iya, hati-hati, Dre!”
Andre mengemudikan mobilnya kembali ke jalanan yang padat. Sementara itu, Ajeng berjalan menuju kamar
apartemennya.
\=\=\=\=\=
Hari Sabtu telah tiba. Sudah tak sabar Andre menunggu waktu ini. Ia berencana akan bertemu dengan kawan-kawan SMA-nya di sebuah café yang cukup nyaman di sekitar kawasan Dago. Dengan perasaan gugup ia mengemudikan mobilnya menuju café yang bergaya tropis itu.
Andre berjalan masuk melalui pintu utama café. Lagu-lagu jazz mengalun menyambut kedatangannya. Seorang pramusaji menyapanya.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang pramusaji perempuan.
“Apa ada reservasi meja atas nama Irvan pagi ini?” tanya Andre.
“Oh ada, saya antar ya!” ujar pramusaji, kemudian mengantarkan Andre ke lantai tiga.
“Meja atas nama Irvan ada di pojok sebelah kanan ya, Pak! terang pramusaji setibanya mereka di lantai tiga.
Andre melihat ke arah kanan, di meja pojokan ternyata sudah ada orang di sana. Seorang laki-laki berjambang tipis, bermata besar dan mengenakan topi baseball terlihat sedang tertawa-tawa. Di depannya ada dua orang wanita. Satu wanita agak berisi dengan rambut panjang cokelat tergerai. Di sebelahnya ada seorang wanita bertubuh kecil dan kurus dengan rambut panjang yang terikat. Ah, itu mereka.
Irvan berdiri dari tempat duduknya setelah menyadari kedatangan Andre yang hendak berjalan menghampirinya.
“Oy, ini masbro Englishman, what’s up buddy?” sapa Irvan memeluk sahabatnya itu dengan sumringah.
“Great! I’m feeling great!” jawab Andre membalas pelukan sahabatnya.
“Hai, Sher! Apa kabar?” sapa Andre.
“Alhamdulillah Dre!”
“Andre kamu gak berubah ya?! Heran deh!” kali ini Diandra yang menyapanya dengan jabat tangan hangat.
“Hahaha bisa aja!” ucap Andre.
Keempatnya lalu duduk di sofa.
“Kapan kamu ke Indonesia, Dre?” tanya Shera antusias.
“Udah sekitar dua bulan lah, cuma masih sibuk ngurusin berkas kepindahan aku, jadinya baru sempet ngehubungi kalian sekarang!” terang Andre.
“Wah jadi beneran menetap lagi di Bandung sekarang?” tanya Diandra.
“Iya setidaknya untuk 5 tahun ke depan aku bakal tinggal di sini. Lagian aku juga udah dapet kerjaan di sini.” Jawab Andre.
“Oh ya? Bagus dong! Lo kerja dimana gitu?” kali ini Irvan yang bertanya.
“Aku kerja di Universitas Mentari, ya jadi dosen aja lah, emang ahlinya di sana,”
“Wow, universitas yang elit itu ya?” respon Irvan.
Andre mengangguk. Kemudian Irvan menyuruh ketiga sahabatnya untuk memesan menu hidangan yang tersedia.
“Yang lain gak datang ya?” tanya Andre setelah memberikan semua pesanan kepada pramusaji.
“Gue udah coba hubungin Gerry, tapi ternyata dia masih di Singapura, kerjaannya belum beres katanya. Jadi belum bisa balik ke Bandung,” terang Irvan.
“Terus Cindy sibuk juga di Jakarta, maklum kerjaan model agak susah diganggu gitu!” lanjut Irvan.
“Nava?” akhirnya Andre bisa menyebut nama itu.
__ADS_1
“Nava gak ada respon, Dre! Aku juga gak tau kabar dia. Terakhir ketemu 6 bulan lalu, pas dia pindah rumah. Setelah itu kita loss contact deh. Sedihnya!” jelas Shera, yang merupakan teman terdekat Nava.
“Emang Nava pindah kemana?” tampaknya Andre lebih antusias ingin mengetahui kabar sahabatnya yang satu ini.
“Setau aku sih cuma pindah rumah aja. Dia masih di Bandung, kok! Mungkin agak sibuk jadi belum bisa kontak-kontak sama kita,” ujar Shera lesu. “Akun medsosnya juga gak aktif nih, jadi susah ngehubungi deh,” lanjut Shera lagi.
“Ooh gitu ya?”
“Masih suka sama Nava?” tanya Irvan menyikut lengan Andre.
“Ah, aku kira dia udah jadi sama Gerry!”
“Haha… Nava emang sempet deket sama Gerry! Awalnya aku juga ngira dia pacaran sama Gerry, tapi ternyata enggak!” jelas Shera.
“Andre, Andre! Ternyata lo lelaki yang setia ya. Tapi gimana kalau ternyata si Nava pindah ke Singapura dan kawin sama Gerry?” gurau Irvan, membuat teman laki-laki di sampingnya itu terhentak.
Terlihat sekali Andre masih menyimpan perasaan itu pada Nava, seorang perempuan cantik yang ceria dan menyenangkan. Irvan hanya bisa menepuk-nepuk bahu Andre, sebelum akhirnya menu pesanan mereka tersaji di atas meja.
Andre tampak sedang merenung, bagaimana caranya agar ia mendapatkan kontak Nava.
“Sher, akun medsos Nava apa sih?” tanya Andre blak-blakan, membuat Irvan tersedak.
“Napa lo yang jadi kaget cuy?!” ucap Diandra yang melihat Irvan sibuk mengelap tumpahan minuman dari gelasnya.
“Si Andre bisa juga to the point gitu! Kaget gue! Soalnya dulu aja masih bisa lah ngerelain Nava buat Gerry duluan,” ucap Irvan.
“Andre udah berubah, Van! Bagus dong!” seru Shera semangat.
“Jadi apa nama akunnya? Aku coba cari namanya, gak ketemu-ketemu!” tanya Andre lagi, tidak sabar.
“Miss Dreamer, apa ya, bentar aku cek!” Shera membuka ponselnya dan mengecek akun instagram miliknya. Ia mengetikan kata ‘miss dreamer’ di kolom pencarian. Ketemulah dengan akun milik Nava dengan username @missdreamer95_.
Shera memberikan ponselnya kepada Andre agar pria itu bisa melihat akun wanita yang disukainya. Postingan terakhir muncul 3 bulan yang lalu, perempuan itu sedang berada di sebuah galeri seni yang sepertinya bukan di Indonesia.
“Oke thanks!” ucap Andre yang langsung mengetikkan username itu pada akun instagram miliknya untuk diikutinya.. Ia ingat, Miss Dreamer adalah julukan untuk Nava dari dirinya yang selalu membuat cerita khayalan pada saat sekolah dulu.
“Kalau Nava beneran udah married gimana Dre?” tanya Irvan.
“Ya udah gapapa, aku ingin tau kabar dia aja sih! Aku merasa bersalah waktu terakhir kita kirim-kirim email itu, aku gak sempat balas email dia. Bukan gak sempat sih, aku balas emailnya terlalu lama, dan ternyata tidak terkirim,” jelas Andre kecewa.
“Uuh, that was so disappointed (pasti sangat mengecewakan) ya?” respon Irvan bersimpati pada Andre.
“Ya gitu lah! Aku nyesel jadinya! Ya udahlah, yang penting sekarang aku seneng banget ketemu kalian di sini, masih gak nyangka aku bisa balik ke Bandung!”
“Haha iya nih, aku kira kita ga bisa kumpul-kumpul lagi. Ya meskipun sekarang pun gak lengkap,” ujar Shera meminum vanilla lattenya.
\=\=\=\=\=
Matahari telah naik ke singgasananya. Tak terasa keempat kawan semasa SMA itu mesti berpisah kembali meski untuk sementara. Mungkin cukup untuk melepas rindu keempatnya. Cerita-cerita selama masa SMA yang
menyenangkan, mengesalkan dan membosankan mereka ungkit kembali sebagai cerita manis yang tak akan bisa dilupakan. Meski hanya empat dari tujuh orang di antara mereka, namun cukuplah bagi mereka membangun lagi kenangan yang tertinggal selama kurang lebih 7 tahun.
Irvan pamit untuk langsung menuju Jakarta, karena dia sudah bekerja di kantor Kemenlu (Kementrian Hubungan Luar Negeri) dan menetap di sana. Sementara Shera dijemput oleh suami dan anak-anaknya untuk kembali pulang, ia masih tinggal di Bandung. Diandra, wanita itu, juga telah dijemput oleh tunangannya. Ah, waktu memang berjalan begitu cepat sehingga keadaan pun ikut berubah mengikuti dinamika hidup. Andre berjalan menuju parkiran setelah ketiga sahabatnya pulang terlebih dahulu. Ia duduk di belakang kemudinya.
Sebuah mobil sedan berwarna putih terlihat memasuki halaman parkir cafe dimana Andre memarkirkan mobilnya.
Andre membiarkan mobil itu parkir terlebih dahulu sebelum ia keluar. Mobil itu tepat parkir di samping mobilnya. Seorang perempuan mengenakan kemeja blouse warna putih dengan celana jeans keluar dari mobilnya. Andre sempat memperhatikan wanita itu dari balik kaca kemudinya. Rambut sebahunya yang tertiup angin cukup mengingatkan ia pada sosok Nava. Ia sadar hari ini terlalu banyak membicarakandan memikirkan wanita itu sehingga orang lain yang lewat saja bisa dianggapnya mirip.
Sebuah simpul senyum merekah sekaligus terkejut dari wajah perempuan itu, tatkala ia menatap layar ponselnya. Sebuah akun berhasil membuat pikirannya melayang ke tujuh tahun yang lalu dimana ia merasa bahwa masa terbaiknya adalah pada masa itu.
Andre melajukan kembali mobilnya menuju apartemennya, menembus panjangnya jalan yang sempit. Meski pandangannya fokus ke jalanan, namun tetap saja pikirannya telah dibayang-bayangi oleh kenangan yang tersimpan baik dalam memorinya.
\=\=\=\=\=
Just keep reading
Nanti kita bongkar sama-sama cerita Andre dan gadis masa lalunya
Like dan Vote yaa
__ADS_1