
Ajeng sedang meselonjorkan kaki dan tangannya yang terasa pegal. Hari ini ia baru saja sibuk mengepel lantai menggunakan tangannya. Sita, dokternya, menganjurkan agar melakukan aktivitas semacam itu agar posisi janinnya bagus untuk menemui jalan lahirnya yang diperkirakan dua bulan lagi.
Sementara Ferdian, ia membantu istrinya itu untuk membersihkan perkakas rumah lainnya. Ia juga bertugas sebagai koki penuh hari ini. Pria bertubuh tinggi itu sudah menyiapkan menu spesial untuk istrinya di siang hari.
Tiba-tiba ponsel Ajeng berdering. Sebuah panggilan dari Karin.
"Halo?"
"Assalamu'alaikum..." salam dari suara perempuan berhijab itu.
"Wa'alaikumsalam. Kenapa, Rin?" tanya Ajeng.
"Aku udah pindah nih ke rumah kamu," ungkap Karin.
"Oh ya? Bagus dong!" jawab Ajeng.
Karin dan suaminya sudah menyetujui untuk menyewa rumah milik Ajeng selama setahun kedepan, sejak Ajeng mulai mengajar lagi. Sengaja Ajeng memberi harga spesial untuk sahabatnya itu. Ternyata Karin sudah menempati rumahnya itu sekarang.
"Kamu tinggal dimana Jeng?" tanya Karin.
"Aku tinggal deket Universitas Mentari, di Grand Suite Kenanga!" jawabnya.
"Waaah, apartemen yang mewah itu ya?"
Ajeng terkekeh saja.
"Ayo kapan kita ngobrol, Rin? Main sini, ada kafe di atas kok, jadi bisa santai!" ujar Ajeng.
"Iya insyaAllah ya, Jeng! Aku masih beres-beres rumah dulu, luar biasa ternyata capeknya kalau pindahan pas lagi hamil gini. Kasian suamiku jadi sibuk sendiri," cerita Karin.
"Iya nih, aku juga baru selesai ngepel, kaki sama tangan langsung pegel gini!"
"Haha...tapi ya nikmatin aja ya!"
"Iya betul!"
"Ya udah, nanti aku hubungi lagi ya Jeng! Makasih banyak lho, rumah kamu cakep banget kaya yang punyanya, hihi!"
"Hihi, yang nempatin sekarang juga gak kalah cantik!"
"Ah, kamu mah! Yuk Jeng, assalamu'alaikum...!"
"Wa'alaikumsalam..."
"Siapa, Sayang?" tanya Ferdian menaruh sepiring potongan buah-buahan segar untuk istrinya itu.
"Karin!"
"Ooh...udah pindah?"
"Iya, lagi beres-beres katanya," jawab Ajeng menusuk buah semangka dan menyuapkannya ke dalam mulutnya.
"Suaminya itu kerja di kantor Papa ya?"
"Iya, makanya mereka bisa nyewa rumah aku juga karena rekomendasi Papa," ujar Ajeng.
Ferdian mengangguk-angguk saja.
"Kenapa kamu tiba-tiba nanya?" tanya Ajeng.
"Enggak kok! Aku jadi mikir tawaran Papa kamu aja, yang bilang mau ajarin aku di dunia properti," jawab Ferdian.
"Emang kamu minat sama bisnis properti?"
"Belum sih. Cuma prospek bidang properti itu lebih stabil dibanding kuliner atau fashion. Apa aku tanya-tanya sama Kak Damian dulu ya?"
"Saran aku sih, kamu fokus aja selesaikan kuliah kamu dulu. Target kamu tahun ini lulus kan? Makanya fokus kejar itu. Bisnis kamu masih aman, kamu bisa pikir belakangan," ujar Ajeng melahap potongan buah melon.
"Iya sih! Tapi aku khawatir, bentar lagi anak kita lahir. Kebutuhan kita bakal semakin banyak, jadi aku mesti persiapkan semua dengan baik!"
"Ferdian Sayang! Jangan terlalu khawatir, aku juga kerja jadi seenggaknya keuangan kita masih aman kan?"
"Kamu yakin setelah melahirkan nanti masih mau kerja? Terus siapa yang jaga anak kita?" tanya Ferdian mengelus rambut istrinya.
Ajeng mengangguk, meski ia sendiri belum tahu siapa yang akan menjaga anaknya nanti.
"Aku ingin kamu di rumah aja," ucap Ferdian lembut.
DEG.
__ADS_1
Ferdian menatap serius istrinya sambil terus mengelus rambutnya.
Kedua alis milik Ajeng naik. Apa ia tidak salah dengar dari mulut suaminya itu?
"Apa?" tanya Ajeng menaikan intonasinya.
"Iya, aku ingin kamu fokus buat rawat anak kita di rumah," ucap Ferdian yang kali ini terdengar gugup.
Ajeng terkekeh sambil mendelik suaminya.
"Kamu masih inget perkataan kamu Fer? Kamu bilang, kamu gak ada masalah dengan karir aku, jadi kamu akan selalu dukung aku," ucap Ajeng mengingatkan perbincangan mereka sewaktu kencan dulu.
"Tapi waktu itu pembicaraan kita belum selesai, Sayang! Aku ingat betul waktu itu kita memang sama-sama memiliki keinginan untuk tunda momongan. Dan ternyata, Allah kasih kita momongan lebih cepat. Kita belum membicarakan hal ini sampai ke sana. Terus siapa yang mau jaga dan rawat anak kita nanti kalau bukan ibunya?" tanya Ferdian.
Entah kenapa nafas Ajeng terasa sesak. Ia ingin terus mempertahankan karir yang dibangunnya selama ini dengan perjuangan yang tidak mudah. Menjadi dosen adalah impiannya sejak SMP. Ia akan mencari tahu nanti terkait perawatan anaknya setelah ia selesai cuti.
"Aku akan pikirkan itu, Fer! Tapi tolong jangan suruh aku tinggalkan karir aku!" pinta Ajeng dengan intonasi tinggi.
"Aku cuma ingin yang terbaik buat anak-anak kita nanti," ucap Ferdian.
"Iya, aku juga tahu! Siapa juga yang mau anak-anaknya terlantar. Aku akan cari cara, Fer!"
"Tapi...."
"Fer! Please, I need to think about it (Aku perlu memikirkan hal ini)!" ujar Ajeng yang beranjak dari sofa kemudian pergi ke dalam kamarnya, menutup pintu.
"Ajeng!"
Ferdian menghela nafasnya melihat istrinya yang meninggalkan diskusi itu sebelum selesai. Ia sebenarnya ingin Ajeng seperti bundanya yang selalu ada di rumah, merawat anak-anaknya dengan penuh, menyambut kepulangan suami dengan senyuman, meski ia sadar istrinya itu memang keras kemauannya apalagi berkaitan dengan karirnya. Ia harus sabar, apalagi memang istrinya itu sedang sensitif.
Ferdian menyalakan televisinya. Ia tidak ingin mengganggu istrinya yang kemungkinan sedang memikirkan percakapan mereka tadi, meski sedikit dengan amarah. Ia menekan tombol-tombol di remotenya, mencari acara yang kira-kira bisa menghiburnya. Ia memilih acara komedi dari stasiun TV luar. Sambil menghabiskan potongan buah yang tadi disiapkan untuk istrinya, pria itu tampak tertawa-tawa cekikan karena humor receh acara komedi tersebut.
Ajeng yang mendengar suara gelak tawa suaminya keluar dari kamarnya. Ia memperhatikan betapa suaminya itu sedang asyik menikmati acara di televisi tersebut. Seketika ia merasa kesal, dan kembali ke kamarnya sambil membanting pintu dengan keras.
Ferdian terkaget. Ia menoleh ke belakang sambil berpikir, haruskah ia menemui istrinya sekarang? Ah, pria itu lagi-lagi salah tingkah karena ulah istrinya yang sedang sensitif. Ia mematikan televisi dan membaringkan tubuhnya di atas sofa, pikirannya melayang, dan tak lama berselang ia malah tertidur.
Ajeng membuka buku terkait parenting. Ia mencoba mencari tahu terkait pengasuhan anak yang baik menurut para pakar. Ia tahu ada banyak resiko ketika memutuskan mengasuh anak sambil bekerja. Salah satunya, siapakah orang yang bisa diandalkan untuk merawat anaknya selama ia bekerja? Apalagi ia bekerja tidak sebentar, kadang full sejak pagi sampai sore. Kalau sedang lengang, ia bisa pulang di siang hari, tetapi itu pun hanya sehari dalam seminggu. Belum lagi kalau nanti anaknya akan full ASI, ia pasti harus menyiapkan stok ASI di rumah.
Di saat ia pusing memikirkan hal itu, bisa-bisanya suaminya tertawa-tawa menonton komedi. Siapa yang tidak kesal? Dan sekarang entah apa yang dilakukan pria itu di luar. Ajeng mencoba untuk tidur siang saja setelah tidak fokus untuk membaca buku. Namun hatinya penasaran, kenapa tidak ada suara Ferdian di luar padahal ia masih asyik menonton televisi tadi. Ajeng kembali berjalan keluar dari kamarnya, ingin melihat apa yang dilakukan suaminya itu.
Ajeng menggeleng-geleng saja ketika mengetahui suaminya malah tertidur pulas di atas sofa. Ia merebahkan tubuhnya di samping suaminya itu, ia juga merasa lelah sekali. Ia pun ikut tertidur dengan posisi terduduk sambil memegang perutnya.
"Mmh...." desah Ajeng mengelak tangan Ferdian.
Ferdian tidak berhenti mengelus dan menepuk pipi istrinya agar terbangun.
"Fer...!" ucap Ajeng.
"Udah adzan ashar, yuk sholat bareng!" ucap Ferdian lembut.
Ajeng berusaha membuka kelopak matanya.
"Aku masih ngantuk!" ucapnya.
"Kenapa kamu ikut tidur di sini?" tanya Ferdian membetulkan rambut wanitanya yang menutupi wajah cantiknya..
"Kesel tau gak!"
"Kesel kenapa?"
"Kamu bisa tidur di sini, dan aku gak bisa tidur di kamar, ya udah ikutan aja tidur di sofa!"
Ferdian terkekeh, ia kira istrinya kesal karena percakapan tadi. Mungkin memang Ajeng membutuhkan waktu bagaimana mencari solusi terkait hal ini. Ia tak ingin berdebat dengan istrinya dulu saat ini.
"Ayo bangun, kan mau kontrol ya?" ucap Ferdian mengingatkan lagi karena jadwal kontrol rutin.
"Oh iya! Ayo!" ucap Ajeng beranjak dari sofanya, kemudian langsung menuju kamar mandi.
\=\=\=\=\=
Dokter Sita tampak serius memeriksa kandungan Ajeng yang sudah memasuki 29 minggu. Posisi janin milik Ajeng sudah bagus, kepalanya sudah di bawah. Meskipun masih memungkinkan tetap berubah.
Sita menggerakan alat USG di atas perut Ajeng.
"Tuh, dedeknya lagi gerak!" ucap Sita menunjuk tangan janin yang memang terlihat sedang bergerak.
Ajeng dan Ferdian tersenyum bersamaan, rasanya bahagia sekali melihat janin mereka yang aktif dan sehat.
"Dedeknya aktif ya?"
__ADS_1
"Iya Ta, dia seneng banget nendang-nendang!" ucap Ajeng antusias.
"Bagus, tandanya dia sehat!"
"Alhamdulillah..."
Sita meminta Ajeng rutin melakukan olahraga ala bumil, seperti berjalan-jalan santai, squat (jongkok berdiri), atau meregangkan otot bagian panggul, pinggang, dan paha. Juga sering-sering untuk mencondongkan tubuh.
Perkiraan berat badan janin dan detak jantung janin pun terhitung normal. Dokter Sita memeriksa tekanan darah Ajeng yang normal namun condong agak tinggi. Ia meminta untuk tidak stress menghadapi situasi apapun.
"Jangan terlalu banyak pikiran ya, Jeng!" ujar Dokter Sita.
"Oke!" jawab Ajeng yang sudah duduk di hadapan Sita, melirik Ferdian yang duduk di sebelahnya.
"Jadi udah siap nih ya lahiran normal 2 bulan lagi?"
"Aku siap banget Ta!" jawab Ajeng yakin.
"Sipp! Sehat terus ya Ajeng Sayang!"
"Makasih banyak ya, Ta!"
"Sering ajak ngobrol aja dedeknya, dia butuh stimulasi dari ayah dan bundanya bahkan sebelum lahir!"
"Iya aku juga sering kok, kadang minta ayahnya juga. Dia sering respon kalau ayahnya udah ngobrol," ucap Ajeng.
"Wah ini bakalan jadi anak kesayangan Daddy ya?" ucap Sita menoleh pada Ferdian.
Ferdian menyengir saja, ia tersipu bahagia.
"Jadi benaran laki-laki ya?" tanya Ferdian.
"Ya, kalau dilihat dari USG beberapa kali, jenis kelaminnya memang laki-laki," jawab Dokter Sita optimis.
"Wah belum siapin nama nih," ujar Ajeng.
"Kamu siapin ya?" ucap Ferdian menoleh pada istrinya.
"Bantuin dong!"
"Iya!"
"Ya udah kita pamit dulu ya, Ta!"
"Iya silakan, sehat terus ya!"
"Makasih!" ucap Ferdian dan Ajeng bersamaan. Keduanya pun keluar dari ruangan Dokter Sita, dan kembali menuju apartemen mereka.
"Kita belum beli perlengkapan bayi lho, Fer!" seru Ajeng dalam perjalanan pulang.
"Mau beli kapan?" tanya Ferdian santai.
"Besok, mau?" tawar Ajeng.
"Ayo aja, tapi sorenya aku ada acara di Taman Belajar Anak!"
"Acara apa?"
"Acara peluncuran perpustakaan. Kebetulan ada donatur baru yang bikin perpustakaan untuk anak-anak," jawab Ferdian.
"Aku boleh ikut?" tanya Ajeng antusias.
"Boleh!"
"Ya udah, sehabis belanja perlengkapan bayi, kita bisa langsung ke acara kamu ya?"
Ferdian tersenyum mengangguk.
\=\=\=\=\=
Bersambung dulu....
Support Author untuk tetap menulis dengan LIKE, VOTE dan COMMENT
Terima kasih sudah setia membaca
^_^
Kalian bisa follow instagram author juga ya @aeriichoi
__ADS_1