
Sore itu, Ajeng ditemani Ferdian pergi menuju klinik Dokter Sita, yang letaknya agak cukup jauh dari kediaman
mereka. Kendaraan merayap cukup padat di titik-titik tertentu. Tentu saja, kebanyakan orang baru selesai menjalani aktivitas kerjanya di sore hari.
Di dalam mobil, Ajeng mengemut pemen lolipop rasa yoghurt strawberry yang baru saja dibelinya di sebuah warung
pinggir jalan. Sambil memandangi apa yang dilewatinya, ia tampak menikmati permen itu. Ferdian menatapnya gemas sesekali ketika mobilnya berhenti karena macet. Ia tahu kebiasaan baru istrinya itu tampak menggemaskan untuknya, terlepas perasaannya tetap saja gelisah.
Halaman parkir klinik kandungan Dokter Sita cukup ramai sore itu. Terpaksa Ferdian memarkirkan kendaraannya di pinggir jalan raya. Ajeng memberikan kartu rawat dan mengambil nomor antrian. Ia harus menunggu sepuluh nomor lagi untuk mendapat panggilan. Ajeng dan Ferdian memilih sebuah deretan kursi di depan sebuah tangga.
"Kamu gak lapar?" tanya Ajeng yang baru mendudukan dirinya di sebuah kursi.
"Enggak, belum sih! Tadi siang kamu bawain bekal banyak kan, dan aku habisin semuanya," jawab Ferdian.
"Enak masakan aku?" tanya Ajeng menatap suaminya.
"Enak dong, kalau gak enak mungkin gak aku habisin," ucap Ferdian membuat wanita di sampingnya itu menempelkan kepalanya di bahunya seraya tersenyum.
Keduanya menatap ponsel mereka masing-masing sambil menunggu panggilan.
"Andre baru punya akun instagram kayanya ya?" tanya Ajeng memperhatikan akun yang baru saja dibukanya.
"Entah, mungkin!"
"Dia baru follow aku juga soalnya," ujar Ajeng.
"Iya mungkin, aku belum cek sih!"
"Kalian itu mirip deh! Posting cuma foto-foto pemandangan atau sudut-sudut tertentu aja," ujar Ajeng,
Ferdian melihat foto-foto milik akun sepupunya itu.
"Biasa sih, orang populer! Takut dikomen sama fans sekalinya foto sendiri," ucap Ferdian santai.
"Iya ya, aku juga gitu sih! Tapi sejak nikah sama kamu dan posting foto kita lagi berdua, jarang lagi tuh ada yang komen aneh-aneh," terang Ajeng menutup ponselnya.
"Bagus dong!"
Tak lama kemudian, seorang perawat berhijab memanggil nama Ajeng untuk dipersilakan masuk ke dalam ruangan.
"Hai, Jeng, Fer! Apa kabar?" sapa Dokter Sita ramah.
__ADS_1
"Alhamdulillah baik, Ta!" jawab Ajeng. Ferdian dan Ajeng duduk di kursi di hadapan dokter.
"Jadi gimana perkembangan kamu? Keluhan apa aja yang dirasakan selama ini?" tanya Dokter Sita.
"Itu masih sama kaya yang aku jelasin kemarin di telepon Ta! Pegel di sekitaran pinggang, mual dikit sih, cepet capek, dan aku doyan banget sama yang manis-manis,"
"Yang manis, termasuk aku ya?" celetuk Ferdian, membuat wanita di sampingnya itu memukul pahanya. Dokter Sita tertawa geli.
"Oh ya, tadi pagi juga aku cek pakai testpack, tapi hasilnya samar-samar gitu dua garis," terang Ajeng lagi.
"Oke, kita langsung periksa aja pakai USG ya?" tawar Sita.
Dokter Sita mempersilakan Ajeng berbaring di atas matras. Ia membuka baju Ajeng sampai perut lalu mengoleskan
gel di atas perut bagian bawah. Kemudian diletakan dan digeser-geserkannya sebuah alat di atas perut Ajeng. Ferdian memperhatikan dengan seksama.
Dokter Sita memperhatikan layar, ada sebuah lingkaran kecil terpampang di layar. Kemudian ia tersenyum.
"Congratulation, kamu hamil, Jeng!" ucap Dokter Sita.
Hati Ajeng berdebar, antara senang, tidak percaya, gugup dan ragu bercampur menjadi satu. Begitu juga dengan
Ferdian yang tampak lebih tegang wajahnya. Ia berusaha memaksakan tersenyum di hadapan Dokter Sita dan istrinya. Ajeng turun dari matras dan kembali duduk di kursi.
makan yang mengandung asam folat, protein dan vitamin juga ya. Nanti aku kasih resep vitamin dan juga asam folatnya, agar janin kamu kuat," jelas Dokter Sita sambil mencatat semuanya.
"Aku agak sensitif sama daging-dagingan, gimana Ta?" tanya Ajeng ragu.
"Kamu boleh ganti dengan menu kedelai atau telur, masih bisa kan?"
"Iya masih bisa makan sih!"
"Jangan terlalu banyak pikiran apalagi stress ya, enjoy your pregnancy (nikmati waktu kehamilan kamu), okay?"
Ajeng mengangguk.
"Ciptakan suasana positif di lingkungan kamu, ibu hamil harus selalu dapat dukungan dari orang yang dikasihinya!" ucap Dokter Sita memandang pada Ferdian.
Ferdian menahan nafasnya, meski ia tetap mencatat segala hal yang dikatakan dokter terkait dengan kehamilan Ajeng di dalam pikirannya.
"Ini resep untuk vitamin dan asam folatnya. Semoga kamu sehat terus ya, Jeng!" ujar Sita sambil menyerahkan selembar kertas kecil berisi tulisan tangannya.
__ADS_1
"Makasih banyak ya, Ta!"
"Makasih banyak Bu Dokter!" ucap Ferdian.
Keduanya menuju meja resepsionis untuk membayar biaya konsultasi, juga menebus resep yang sudah diberikan Dokter Sita.
Hari sudah malam. Ajeng dan Ferdian kembali pulang setelah mereka menunaikan sholat maghrib di mushola klinik. Lalu keduanya mampir di sebuah rumah makan khas Sunda untuk makan malam.
Ferdian memilih menu ayam goreng kampung, perkedel jagung dan lalapan sambal juga nasi. Sementara Ajeng hanya memesan menu sayur asam dan perkedel jagung saja tanpa nasi. Keduanya memilih untuk duduk lesehan di sebuah saung kecil dengan lampu penerangan yang redup.
Ferdian tampak lahap memakan menu masakan yang ia pilih sendiri dari meja prasmanan. Begitu juga dengan Ajeng yang memesan dua mangkuk berisi sayur asam, benar-benar segar. Sudah lama sekali keduanya tidak menyantap masakan khas Sunda yang menurut mereka benar-benar sedap. Setelah habis, keduanya langsung pulang ke apartemen.
“Kamu udah minum vitamin dari dokternya?” tanya Ferdian sebelum tidur.
“Udah barusan,” jawab Ajeng membaringkan tubuhnya, tangannya mengelus-elus perutnya yang masih rata. Ia
tersenyum, tak menyangka ternyata secepat ini Allah beri amanah padanya.
“What do you feel (apa yang kamu rasakan), Fer? ”tanya Ajeng melihat suaminya masih sibuk memakai kaos tidurnya.
“Feel what (ngerasain apa)?”
“Feel that in few months more you will become a father (merasakan kalau beberapa bulan lagi kamu akan menjadi
seorang ayah),” ucap Ajeng.
“I don’t know. I mean, it goes too fast. I think I’m not ready yet, but honestly I have to be ready! (aku tidak tahu, maksudnya, hal ini berjalan terlalu cepat. Aku pikir aku belum siap, tapi sayangnya, aku harus selalu siap)!” ucap Ferdian membaringkan tubuhnya di samping Ajeng.
Ajeng mengambil satu tangan milik Ferdian dan meletakannya di atas perutnya. Ajeng membuat gerakan mengelus-elus perutnya. Jantung Ferdian berdetak kencang, tangannya terasa kaku. Ia memejamkan matanya sebentar.
“Please be safe, we love you, a little cute darling! (Tetaplah sehat, kami sayang kamu, sayang kecilku yang
lucu).” ucap Ajeng tersenyum.
Hati Ferdian tegang tetapi melihat senyuman dan mendengar ucapan Ajeng membuat hatinya terenyuh. Ajeng mematikan lampu kamar, lalu keduanya tertidur untuk menyiapkan hari esok yang lebih besar.
\=\=\=\=\=
Gimana, seneng gak Ajeng akhirnya hamil?
Yes...
__ADS_1
Like dan Votenya yaa
Makasiiih ^^