
Zaara tengah membaca sebuah naskah yang masuk ke dalam emailnya. Pekerjaannya di akhir pekan itu tinggal beberapa halaman lagi sebenarnya. Hanya saja, matanya sudah terasa pegal dan tidak kuat lagi untuk menatap layar kotak persegi panjang itu. Akhirnya gadis itu memutuskan untuk menunda pekerjaannya pagi itu. Ia tidak mematikan laptopnya, hanya sekedar merubah modenya menjadi ‘sleep’.
Gadis yang masih mengenakan piyama itu turun ke lantai bawah untuk melihat anggota keluarga lainnya. Umi Karin masih sibuk membersihkan dapur. Zayyan terlihat asyik menonton film action di layar kaca. Sementara Abi Reza, tidak ada di rumah.
“Abi kemana Mi?” tanya Zaara mendudukan dirinya di kursi meja makan dan mengambil sebuah pisang di atas meja.
“Abi lagi ke rumah sakit!” jawab Karin masih mengelap perabotan dapurnya.
“Ke rumah sakit?! Siapa yang sakit?” Zaara cukup terkejut.
“Tante Jingga!”
“Sakit apa Mi?”
“Baru praduga sih, katanya kanker rahim,” terang Karin.
“Innalillahi…,” Zaara tidak menyangka, mudah-mudahan tantenya itu tidak apa-apa. Tante Jingga memang belum dikaruniai anak satupun setelah pernikahannya dengan Om Kevin. Padahal usia pernikahannya sudah lebih dari 15 tahun. Tetapi itulah kuasa Allah, meskipun Jingga adalah seorang yang terlihat alim dan kuat agamanya, tetap saja Allah timpakan ujian bagi siapa saja hamba-Nya yang beriman.
Karin mencuci tangannya, pekerjaannya telah selesai. Ia duduk di hadapan anaknya yang sedang melahap buah pisang sambil merenung.
“Kamu gak ada rencana tunda punya anak kan sama Arsene?” tanya Karin.
“Enggak, Mi! Emang kenapa?”
“Alhamdulillah. Anak itu rezeki dari Allah. Allah akan menitipkannya ketika kita dirasa siap. Kalaupun kita berencana menunda, kembalikan lagi, karena Allah yang lebih berhak membuat rencana.”
Zaara menatap wajah ibunya yang cantik.
“Dulu Umi pun begitu. Umi pernah keguguran sebelum punya kamu. Umi sangat sedih dan kehilangan, padahal saat itu usia Umi masih 23 tahun. Tapi itu kehendak Allah. Rasanya ada yang kosong saat-saat itu, tapi Abi terus menguatkan kalau anak akan datang di waktu yang tepat. Alhamdulillah, kesabaran Umi dan Abi membuahkan hasil. Umi hamil lagi setelah usia 26 tahun.”
Zaara menyimak dengan baik. Jika saja uminya tidak keguguran mungkin ia sudah memiliki kakak sekarang.
“Beda lagi sama mertua kamu. Mommy Ajeng sempat menunda punya momongan, karena karirnya dan suaminya yang masih sangat muda. Tapi kehendak Allah lagi, Mommy Ajeng justru hamil di waktu yang tidak disangka-sangka, karena dia lupa minum pil KB-nya. Kalau gak salah, dia hamil satu tahun setelah pernikahannya. Saat itulah kita bertemu lagi, sama-sama sedang hamil tua. Kamu ngerti kan?”
Zaara mengangguk.
“Umi berharap kamu dan Arsene sama-sama mempersiapkan diri. Apalagi kalian masih aktif dengan kegiatan masing-masing. Bekali diri dengan ilmu parenting Nabawi, karena jujur, praktek itu jauh lebih sulit daripada teori. Seenggaknya kalian udah punya ilmunya meski nanti pas praktek menemukan kesulitan. Kalian masih muda, pasti masih ada sisi egois, berarti kalian harus cari tahu gimana caranya nundukin ego itu. Karena kalau udah ada anak, kita gak bisa ngikut ego sendiri lagi.”
“Iya Mi!”
“Arsene udah pulang ya?!” tanya Karin, hanya saja tiba-tiba ia jadi salah tingkah.
“Pulang?!”
“Eh maksudnya, pulang kapan?” Karin mengoreksi pertanyaannya.
“Minggu depan kayanya. Aku belum tanya lagi.”
“Ooh….”
Zaara menatap wajah ibunya yang terlihat mencurigakan. Hanya saja mungkin perasaannya saja. Ia kembali lagi ke dalam kamarnya untuk melanjutkan pekerjaannya tadi. Tetapi sebelum melanjutkan, Zaara terlebih dahulu mengambil ponselnya. Ia jadi ingin menanyakan terkait kapan suaminya itu pulang.
Nomor yang Anda tuju berada di luar jangkauan. Silakan menghubungi beberapa saat lagi.
__ADS_1
Zaara mengernyitkan alisnya. Mengapa sambungannya tidak terhubung? Memangnya Arsene pergi kemana? Bahkan pria itu sama sekali tidak memberitahukan apapun padanya.
Apakah sedang mengikuti tour berkeliling Sydney? Arsene pernah bercerita kalau ia memiliki rencana seperti itu sebelum pulang ke Indonesia. Mungkin saja.
Zaara tidak terlalu mencemaskannya. Apalagi semalaman mereka juga baru berkomunikasi lewat panggilan video. Wajah Arsene terlihat sumringah tadi malam. Mungkin karena sekolahnya sudah akan berakhir minggu depan. Zaara kembali menyalakan laptopnya dan mengerjakan pekerjaannya.
\=\=\=\=\=
Ujian akhir semester telah berakhir tepat di hari Selasa. Zaara merasa lega sekaligus tenang karena ia tidak harus berlomba lagi antara belajar dan menyelesaikan pekerjaannya seperti kemarin-kemarin. Ia sedang menunggu kelulusan suaminya, yang rencananya akan pulang kembali ke Indonesia pekan ini. Ia benar-benar tidak sabar.
Zaara, Terry, dan Hana pergi ke masjid untuk menunaikan shalat dzuhur sekaligus melepas penat setelah dua minggu ini berkutat dengan ujian. Masjid memang selalu menjadi tempat favorit bagi ketiganya. Bahkan Terry pun sudah mulai aktif mengikuti kajian intensif yang diadakan oleh keputrian LDK. Mereka kini menjadi aktivis masjid kampus yang selalu menginjakkan kaki mereka setiap hari di sana.
Angin siang menyapa lembut ketiganya yang sedang berselonjoran kaki di atas teras selasar masjid. Mata mereka memandang rerumputan halaman yang hijau segar. Pemandangan dan suasana itu cukup membuat hati mereka nyaman.
“Arsene kapan pulang, Ra?!” tanya Terry.
“Hari Minggu!”
“Minggu ini?!”
“Iya!”
“Ciyeee yang mau pecahin celengan rindu lagi nih! Bulan madu lagi dong di sini!”
“Hihi, pengennya, tapi gimana nanti deh!” jawab Zaara tersipu-sipu.
"Dia bakal lanjut kuliah di sini?" tanya Hana.
"Kayanya, cuma toko lagi bermasalah. Entah dia mau fokus bisnis atau sambil kuliah lagi." Zaara memainkan ujung hijabnya.
Ketiganya menoleh bersamaan, “wa’alaikumsalam!”
Seorang lelaki tinggi kurus berkacamata dan berjaket LDK menghampiri. Ketiga gadis itu merapikan posisi duduk mereka.
“Ada yang namanya Teh Zaara?” tanyanya kemudian.
“I-iya, saya Zaara!” jawab Zaara ragu-ragu dan bertanya-tanya, “kenapa ya?”
“Ada yang titip ini buat Teteh!” ujar mahasiswa itu memberikan sebuah amplop kecil.
Zaara berdiri dan mengambil amplop berwarna putih dari tangan mahasiswa berkacamata yang tampaknya seorang mahasiswa baru dan anggota baru LDK.
“Dari siapa ya?” tanya Zaara.
“Dari seorang ikhwan teh.”
“Siapa namanya?”
“Saya gak kenal, Teh! Dan beliau juga gak kasih tau. Dia cuma titip ini aja ke saya. Terus nunjukin kalau Teteh ada di sini. Tapi kayaknya dia aktivis sini, soalnya tadi pakai jaket LDK!”
Zaara tertegun sebentar. Ada yang memperhatikannya sejak tadi.
“Oh ya?! Kemana orangnya?” Zaara terus bertanya-tanya pada mahasiswa itu karena penasaran.
__ADS_1
“Tadi setelah kasih ini, beliau langsung pergi Teh!”
“Ooh gitu, ya udah. Makasih ya!”
“Sama-sama!” mahasiswa baru itu pamit dari hadapan Zaara.
Zaara mengernyitkan keningnya ketika kembali pada sahabatnya. Ia mengendus aroma amplop, tetapi hanya bau kertas yang tercium.
“Ciyee ada secret admirer kayaknya!” goda Terry tertawa-tawa.
“Nanti ada yang cemburu atuh!” timpal Hana.
“Dari siapa sih?!” Zaara bertanya-tanya.
“Udah cepetan buka!” ucap Terry tidak sabar.
Perlahan dan ragu, Zaara membuka amplop itu. Sebuah kertas polos terlipat terisi di dalamnya. Gadis itu mengambilnya.
“Bacain dong!” perintah Terry.
Zaara membuka kertas terlipat, ada sebuah tulisan dengan huruf tegak bersambung di atasnya. Zaara membacakan isinya, hatinya terasa bergetar.
Aku mengagumi dalam diamku
Melihat senyummu kurasa getaran hatiku
Wajahmu selalu ada dalam bayangku
Namun aku hanya bisa merindu
Saat aku tak bisa meraihmu
Dalam pekat dan hitamnya langit semu
Kuharap kita bertemu, wahai bungaku
Di ujung batas penantian waktu
*note: mau tau siapa aku? cari aku di depan perpus sastra
"Romantis bangeeeeet!" seru Terry, sepertinya ia sudah meleleh dengan kata-kata itu jika dirinya yang mendapatkan surat.
Sedangkan Hana menatap heran pada Zaara yang terlihat kaget.
Zaara memeluk tubuhnya sendiri yang gemetaran. Ia memang tersentuh dengan puisi itu, tetapi di sisi lain ia merasa takut. Apa benar ada secret admirer nya?
\=\=\=\=\=
Duuuh siapa lagi tuh?
Bersambung dulu yaa
Jangan lupa tinggalkan komentar kamu untuk episode ini
__ADS_1
klik LIKE dan VOTE juga ya
makasiiiih ^_^