
Zaara berjalan masuk menuju kelasnya. Ia memasang wajah riang, berharap moodnya bagus hari ini, sehingga akan mudah meresapi pelajaran yang disampaikan oleh gurunya.
Suasana kelas masih sepi, hanya ada beberapa murid saja yang memiliki tugas piket untuk membersihkan kelas. Ia menaruh beberapa buku catatan di kolong mejanya. Namun seperti biasa, ia akan membersihkan terlebih dahulu sebelum menyimpan buku-bukunya itu.
Tangannya menggapai kolong meja yang cukup berdebu. Ia bersihkan dengan tisu yang dibawanya. Akan tetapi, ia terheran-heran ketika tangannya mendapati sebuah kotak kecil di sana. Ia mengambilnya, lalu memperhatikannya, terasa hangat.
Kotaknya terbuat dari karton art paper, berwarna hijau toska, dengan sebuah mika plastik yang memperlihatkan isi di dalamnya. Ada sebuah kue muffin di dalamnya. Zaara jadi ragu-ragu untuk membukanya. Di bagian bawah kotak itu tertempel sebuah kertas kecil terlipat, bertuliskan For Zaara. Hatinya terkejut, siapa yang mengirim kotak berisi kue ini untuknya? Ia mengambil kertas itu berharap ada petunjuk di sana.
“The meeting of two personalities is like the contact of two chemical substances: if there is any reaction, both are transformed.”
― Carl Gustav Jung
("Pertemuan dua kepribadian itu seperti kontaknya dua zat kimia: jika ada reaksi, keduanya berubah.")
Just Smile, please :)
Gadis berhijab itu mengedarkan pandangannya ke seisi kelas, melihat kawan-kawan sekelasnya yang sudah datang, sambil bertanya dalam hati. Kira-kira siapa yang telah mengirimkan kue untuknya? Itu adalah pertama kalinya ia mendapat sebuah kado dari pengirim yang tidak dikenal. Ia teringat, biasanya hanya cewek-cewek populer dan cantik saja yang mendapatkan hadiah seperti itu. Itu pun hanya pada saat hari Valentine. Hari ini bukan tanggal 14 Februari, dan semua kawannya tahu kalau ia sangat anti merayakan perayaan yang tidak jelas itu.
Zaara keluar dari bangkunya dan menghampiri kawannya yang sedang membersihkan meja guru.
“Lidya, mau tanya boleh?” tanya berdiri di samping meja guru.
“Kenapa Zaara?” tanya siswi berkacamata itu.
“Kamu tau gak siapa yang duluan datang ke kelas pagi ini?” tanya Zaara, berharap kawannya itu memberi jawaban yang memuaskannya.
“Umm… siapa ya? Kayanya aku deh! Soalnya, pas aku datang kesini kelas masih sepi, belum ada siapa-siapa, setelah itu baru deh datang Riska dan Arie, terus kamu,” jawabnya sambil membetulkan posisi kacamatanya.
“Oh ya, kamu yakin?”
Lidya mengangguk-angguk.
“Ya udah, makasih ya Lid!” seru Zaara dan kembali lagi ke mejanya, lalu duduk di kursinya sambil kembali memperhatikan kembali tulisan yang ditulis dengan tegak bersambung seperti tulisan-tulisan kuno.
Ini beneran buat aku kan? tanyanya dalam hati. Ia membuka kotak itu, seketika aroma vanilla dan kismis tercium menusuk hidungnya. Kue itu masih terasa hangat, sepertinya baru saja diangkat dari oven kemudian langsung dimasukan ke dalam kotak ini. Itu kue muffin vanilla dengan topping kismis di atasnya. Lidah Zaara terangsang untuk mencicipinya karena aromanya sangat menggoda.
Bismillah. Digigitnya kue itu dengan giginya, sambil berharap tidak ada pelet di dalamnya. Indera perasanya masih normal, ia mengunyah sambil merasakan betapa nikmat dan lezat kue ini. Jarang-jarang ia mendapat kue muffin yang memiliki tekstur lembut dan legit. Rasanya manisnya pas dengan gurihnya butter di bagian atasnya. Saking menikmatinya, ia tak sadar kue di tangannya itu sudah ludes, menyisakan remah-remah di atas rok seragamnya. Moodnya semakin membaik saja.
Tiba-tiba, Arsene datang dan duduk di sebelahnya, sambil memperhatikan wajah Zaara yang terlihat bahagia.
“Good morning!” ucap Arsene datar ketika dirinya duduk di sebelah gadis yang sedang membersihkan mulutnya itu.
“Wa’alaikumsalam….” jawabnya, membuat Arsene menoleh kecil.
“Assalamu’alaikum,” koreksi Arsene.
“Wa’alaikumsalam….” Zaara mengulang salamnya.
Arsene sedikit melirik ke wajah Zaara. Gadis itu tidak memasang wajah juteknya seperti kemarin. Ia sedikit merasa lega. Lalu mengeluarkan buku catatannya ke atas meja untuk pelajaran pertama.
Sementara itu, Zaara menyimpan kertas kecil berisi kutipan kata bijak di dalam dompetnya. Berharap ia bisa bertemu dengan orang yang memberikan kue itu padanya, dan mengucapkan terima kasih.
\=====
Jam istirahat telah tiba. Zaara mengambil kotak bekalnya, ia akan berkumpul dengan sahabat lainnya dari kelas lain. Zaara memang tidak memiliki banyak teman dekat di kelas. Hal itu karena Zaara dianggap terlalu kolot dalam memegang prinsip agamanya, terutama kepada laki-laki. Makanya ia selalu dijuluki dengan Anti-Man. Nasibnya kali ini bisa dikatakan sial untuknya, karena harus sebangku dengan Arsene. Mau tidak mau, ia harus bisa semakin memasang pagar tinggi untuk kawan sebangkunya itu.
“Aku mau keluar, tolong minggir ya?” pintanya pada Arsene berusaha senormal mungkin dan tidak galak seperti kemarin.
__ADS_1
“Oke!” jawab Arsene yang kemudian berdiri dan menyingkir dari hadapan gadis itu.
“Makasih….” jawab Zaara, lalu melangkah pergi keluar kelas.
Arsene memandanginya sampai sosok gadis itu hilang, lalu ia mengambil kotak bekal dari dalam tasnya. Ini hari keduanya, tetapi ia belum mendapat teman yang kira-kira cocok dengannya. Apa orang-orang terlalu segan kepadanya? Atau ia terlihat membatasi diri? Ah, ia harus segera berbaur.
Tiba-tiba datang dua orang siswa menghampirinya. Wajah kedua siswa itu cukup tampan dan bersih, meski kulit mereka sedikit gelap. Tinggi tubuh mereka tidak jauh dari Arsene, hanya saja keduanya itu lebih pendek.
“Hai nama gue Fahri,” ucap siswa yang memiliki hidung agak bulat di ujungnya
“Gue Abdul,” ucap siswa yang lebih tinggi dengan hidung mancung dan alis tebalnya.
“Hai, gue Arsene!” jawabnya ramah.
“Lo mau makan bareng kita?” tanya Fahri.
“Boleh!” jawab Arsene singkat.
Ketiga pria muda itu pun berjalan menuju kantin yang terletak tidak jauh dari kelas mereka. Siswa-siswa yang berseliweran di koridor sesekali melirik dan menoleh ke arah Arsene, wajah asing yang tampak mempesona. Ketiganya duduk di salah satu kursi meja di pojok kantin. Beberapa siswa-siswi berbisik-bisik ke arah mereka.
“Kayanya lo jadi pusat perhatian deh. Udah biasa ya?” tanya Fahri setelah membawa satu gelas air mineral dan cemilannya.
Arsene tertawa kecil. “Ya gitu lah. Kalau kalian gak nyaman, gue bisa pergi!” ujar Arsene.
“Enggak sih! Kita mah nyantei aja ya, Dul?” ucap Fahri menyenggol kawan sebangkunya.
“Iya, cuma lo mesti waspada aja, Sen! Biasanya kalau ada anak populer di sekolah kita, bakal jadi incaran anak Blackdot dari kelas sebelah,” terang Abdul mengaduk bakso di mangkuk.
“Blackdot, apa tuh?” tanya Arsene mengernyit.
“Ibaratnya preman sekolah gitu lah. Dia suka malak anak-anak sini, apalagi yang populer. Lo pasti udah ditandain sama mereka,” ucap Fahri.
“Hati-hati aja! Yang penting sih, lo gak usah cari masalah sama mereka. Kalau mereka minta duit, kasih aja. Kalau enggak, bisa-bisa lo jadi korban bogem mentah si Ricky, ketua geng itu!” terang Abdul.
Arsene mengangguk-angguk.
“Masih ada ya kelompok begitu di sekolah? Padahal zaman udah modern banget,” sahut Arsene.
“Masih, namanya premanisme pasti akan selalu ada tiap zaman!” ucap Fahri menimpali.
“Oke, thanks infonya!”
Tak terasa jam istirahat telah berakhir, membuat para siswa kembali menuju kelas masing-masing. Arsene terlihat tertawa-tawa bersama Fahri dan Abdul, ketika memasuki kelas. Hal itu tertangkap oleh Zaara yang baru menghabiskan minumnya. Mata sipit Arsene terlihat melengkung ketika ia tertawa lepas memperlihatkan gigi yang tersusun rapi. Bibir merahnya merekah sempurna dengan lesung pipit kecil di sebelah pipinya. Tatapan keduanya bertemu ketika Fahri dan Abdul terpisah dari Arsene. Zaara langsung berdehem, dan pura-pura membetulkan posisi duduknya. Arsene tersenyum ramah pada gadis itu yang dibalas dengan delikan.
“Zaara!” panggil Arsene, membuat Zaara melirik sebentar ke arah pria itu.
“Kenapa?” tanyanya datar.
“Emang ada ya preman di sekolah ini?” tanya pria itu.
Zaara berpikir sebentar, ia tidak tahu secara pasti. Tetapi banyak yang bercerita soal itu.
“Kayaknya, aku gak tau sih!” jawabnya singkat.
“Nama gengnya Blackdot, nama ketuanya Ricky. Pernah denger?”
“Nama gengnya aku gak tau. Tapi kalau Ricky aku tahu, karena pernah sekelas. Dia emang agak sangar gitu wajahnya. Tapi kalau katanya dia preman, aku gak bisa jawab, karena gak tahu,” terang Zaara dengan jawaban yang agak panjang.
__ADS_1
“Ah kamu anak rohis ya?” tebak Arsene.
“Iya, aku aktivis masjid. Tapi udah gak terlalu aktif, karena udah kelas XII.”
“Oke!”
\=====
Zaara tengah membereskan barang-barang miliknya sebelum pulang sekolah sore itu. Sesaat ia memperhatikan kolong mejanya sekedar untuk memastikan bahwa barangnya tidak ada yang tertinggal. Ada benda berwarna toska di sana. Hatinya terkejut dan langsung meraih benda itu.
Kotak berisi kue lagi, kali ini masih berisi muffin tapi dengan rasa cokelat. Suhunya dingin, dan tidak hangat sama sekali. Sejak kapan ada di sana? Tanyanya dalam hati.
Di bawah kotak itu ada tulisan lagi, For Zaara. Lekas-lekas ia mengambil kertas itu dan membukanya.
“Kamu suka kue muffin pagi ini? Kalau suka, beri salam pada orang terdekatmu ya ^_^”
Begitulah yang tertulis di kertas itu.
Hatinya senang, tetapi was-was dan penasaran juga. Apakah ada secret admirer-nya selama ini?
Arsene yang masih duduk di sebelahnya, sekilas memperhatikannya. Wajah gadis itu terlihat kebingungan sambil memegang sebuah kotak.
“Apa tuh?” tanyanya ingin tahu.
“Bukan urusan kamu!” jawab Zaara ketus.
“Galak lagi!” omel Arsene.
“Apa kamu bilang?!” tanya Zaara menaikan intonasinya.
“Enggak!” sergah Arsene.
Zaara memberengutkan wajahnya kesal.
“Arsene pinjam buku catatan dong!” seru Zaara, membuat alis Arsene terangkat.
“Buat apa?”
“Pinjem sebentar!” desaknya.
Arsene mengeluarkan satu buku catatan miliknya, dan menyerahkannya pada gadis itu sambil memperhatikannya. Zaara memperhatikan tulisan milik Arsene dengan teliti sampai detail. Namun tulisan tangan yang terlihat rapi itu bukan seperti tulisan yang tertulis di kotak kue kecil itu. Ia memberikannya lagi pada Arsene.
“Makasih!”
“Sama-sama!” jawab Arsene keheranan sambil memasukan buku itu ke dalam tasnya.
Arsene pun mulai melangkahkan kakinya menuju luar kelas, meninggalkan Zaara yang masih diliputi rasa penasaran yang tinggi. Namun tiba-tiba….
“Assalamu’alaikum….” ucap Zaara ketika gadis itu berjalan mendahului Arsene.
Arsene tertegun sambil menjawab salam gadis itu. Ia tersenyum kecil.
\=====
Hmm...kue dari siapa ya?
LIKE, COMMENT, & VOTE YAA
__ADS_1
MAKASIIIIIH ^_^