
Perkuliahan berjalan normal seperti biasanya. Udara dingin menyapa pagi itu karena matahari yang malu-malu muncul terhalang oleh awan bekas hujan semalam. Meski sempat semalam tidak bisa tidur karena memikirkan keberadaan Raffa yang mengganggu hari bahagia dirinya, Arsene berangkat ke kampusnya dengan semangat.
Arsene menyapa teman-teman dekatnya, Adit dan Angga, di dalam kelas perkuliahannya. Mereka menanyakan perihal tugas grammar di hari itu. Untung saja Arsene ingat meski ia mengerjakan tugas itu sepulangnya dari acara lamarannya.
“Eh, lu udah buka CV ta’aruf yang dikasih panitia kemarin?” tanya Angga penasaran.
“Udah,” jawab Arsene membereskan buku-bukunya setelah perkuliahan pagi selesai.
“Terus gimana? Cantik gak ceweknya?” tanya Angga lagi.
“Cantik, sholeha, tapi maaf gue gak bisa terima.”
“Lha kenapa?” tanya Adit.
“Karena gue udah punya calon!” jawab Arsene jujur.
“Eh seriusan?!” tanya Adit dan Angga berbarengan.
Arsene tersenyum lebar sambil mengangguk.
“Waduh, kalau si Arsene udah senyum kaya gini tuh, emang gak boong jawabannya.” Angga meninju lemah pipi Arsene yang belum menyelesaikan senyuman lebarnya itu.
“Iya euy! Siapa nih calonnya?” tanya Adit.
“Ada deh! Jangan ribut-ribut ya, nanti juga ada undangannya,” ucap Arsene.
“Siaplah!”
Mereka tertawa-tawa. Adit dan Angga sangat salut dengan kawannya yang satu ini. Bahkan setelah mengikuti seminar pra nikah kemarin pun, keduanya justru semakin merasa rendah diri karena tidak memiliki apa-apa. Jadi mereka berkomitmen untuk tidak terjerumus pada pergaulan yang salah.
Siang itu seperti biasa Arsene mengunjungi masjid kampus untuk menunaikan shalat dzuhur. Angga dan Adit mengikutinya ke sana. Mereka bertiga duduk di teras selasar sambil menikmati angin yang berembus lembut terasa sejuk di siang hari yang terasa panas dan lembap.
Melihat Ema sedang berjalan dari ujung jalan menuju masjid, mengingatkan Arsene pada jawaban yang belum ia berikan pada gadis mungil itu. Ia harus segera memberitahukannya sebelum perempuan itu berharap lebih padanya. Hanya saja CV itu tidak dibawanya, sehingga ia tidak tahu harus kemana menghubunginya. Baiknya mungkin langsung berbicara padanya di sini, sehingga jawaban itu tidak tertunda lagi.
Ema sudah mengambil air wudhunya dan bersiap-siap akan melaksanakan sholat. Ia menjejakkan kakinya di teras selasar. Seketika seseorang memanggil namanya dari area ikhwan. Gadis mungil itu menoleh mencari sumber suara berasal.
“Eh!” ucapnya refleks terkejut ketika mendapati Arsene muncul dari samping teras selasar.
“Ada waktu?” tanya Arsene.
“Oh, eh, ada!” jawabnya tidak berani menatap lawan bicaranya itu, meski keberadaan Arsene cukup jauh.
“Oke, setelah ini saya mau bicara!” ucap Arsene.
__ADS_1
“Baik!” Ema mengangguk.
“Saya tunggu di sini!”
Ema melangkahkan kakinya ke dalam masjid dengan jantung yang berdebar. Hatinya penasaran apakah proposal ta’arufnya itu akan diterima atau ditolak. Gadis itu berusaha memfokuskan pikirannya pada Yang Maha Kuasa karena akan menghadap-Nya siang itu.
“Assalamu’alaikum. Sehat Ukh?” sapa Zaara yang ternyata berada di sana, setelah mereka sama-sama melaksanakan shalat berjamaah. Mereka saling bersalaman.
“Wa’alaikumsalam. Alhamdulillah Ukhti Zaara!” jawab Ema.
Keduanya berdiri dari sajadah setelah bermunajat.
“Tebakan aku kemarin bener kan? Proposal dari siapa itu?” tanya Ema mengajak Zaara berbicara sambil melangkah keluar. Ia berusaha menjaga percakapan itu karena sepertinya bakal terlalu menarik perhatian, mengingat mereka masih sebatas mahasiswa semester satu.
“Aku gak kenal, Ukh! Dosen FISIP!” jawab Zaara.
“Wah keren banget, mantap tuh, Ra! Kamu terima ta’arufnya?” tanya Ema.
Zaara menyengir menggeleng.
“Kenapa? Kamu kan udah siap nikah!”
“Aku pakai pita itu polos aja, padahal udah ada calon, tapi jangan kasih tau siapa-siapa ya?!” ucap Zaara.
“Wah ternyata kamu udah punya calon?!” tanya Ema tidak percaya.
Ema menatapnya dengan mata berbinar. Ia kira hanya dirinya sendiri saja yang sudah siap menikah muda dengan status mahasiswanya, ternyata ada temannya yang lain juga.
“Ra, kamu ada kuliah gak sekarang?” tanya Ema.
“Lagi kosong, nanti masuk lagi jam dua. Kenapa?” tanya Zaara, gadis itu baru saja akan duduk di teras.
“Temenin aku bentar yuk! Tapi please jangan kasih tau siapa-siapa setelah ini.” Ema menarik lengannya.
“Emang kenapa?”
“Aku ngajuin proposal ta’aruf sama Arsene!”
DEG.
Zaara tentu saja terkejut dengan pernyataan Ema. Ternyata map yang diberikan pada Arsene waktu itu adalah milik Ema. Zaara tidak menanggapi pernyataan Ema, dan membiarkan temannya itu menarik lengannya ke ujung selasar dimana menjadi pembatas antara area ikhwan dan akhwat.
“Assalamu’alaikum!” ucap Ema menghampiri setelah melihat Arsene yang masih duduk di sana bersama Adit dan Angga.
__ADS_1
“Wa’alaikumsalam!” jawabnya. Arsene terkejut mendapati Ema tengah menuntun lengan Zaara di sana. Mereka bahkan saling berkontak mata.
Arsene tersenyum kecil. Ia mungkin merasa gugup, tetapi ia tidak akan berbuat yang aneh-aneh. Begitu pula dengan jantung Zaara yang bergetar, sama-sama cemas.
Ema dan Zaara duduk berdampingan. Sementara Arsene berada di sudut lain. Pria yang mengenakan kaos kemeja berwarna merahnya itu berdeham.
“Maaf, saya ingin membicarakan terkait proposal yang Ukhti ajukan kepada saya!” ucap Arsene, suaranya tidak terlalu besar tetapi masih tetap terdengar.
“Silakan,” ucap Ema mengangguk. Hatinya tidak karuan akan mendapat jawaban dari ikhwan yang telah mencuri hatinya itu.
“Mohon maaf yang sebesar-besarnya. Saya tidak bisa menerima proposal Ukhti. Semoga Ukhti bisa mendapatkan yang jauh lebih baik dari saya.” Arsene menjelaskan hal itu di depan calon istrinya sendiri. Ia berharap hati Zaara akan tenang mendengar jawabannya.
“Apa saya boleh tahu apa alasannya, mengingat kamu memakai pita merah pada acara kemaren?”
Arsene memandangi Zaara yang terus tertunduk. Sedangkan Ema menatapnya berharap jawaban pria itu bisa diterima akal dan hatinya.
Arsene bergumam.
“Itu karena … saya sudah melamar seseorang,” jawab Arsene, membuat Ema menahan nafasnya sebentar, lalu mengembuskannya perlahan.
“Oooh ….”
“Maaf CV ta’arufnya tertinggal. Mungkin akan saya kembalikan besok!” ucap Arsene.
“Tidak apa. Saya menghargai jawaban kamu, mungkin kita belum berjodoh,” ucap Ema pelan, yang kini terlihat tenang dari raut wajahnya. Meskipun tetap saja hatinya sedikit kecewa, tetapi ia percaya Allah akan memberinya jodoh yang terbaik.
“Kalau begitu saya permisi dulu!” ucap Arsene pamit.
“Baik!”
Arsene mengucap salam lalu pergi dari sana bersama dua kawannya. Ema menghela nafas beratnya, lalu beristighfar karena hatinya telah kecewa dengan makhluk Allah.
“Sabar ya, Ukh!” hanya itu yang bisa diucapkan Zaara pada teman seangkatannya itu.
Ema tersenyum.
“Gak apa-apa, Ra! Masih banyak kok ikhwan lain, santai aja!” jawabnya menenangkan diri.
Zaara memeluk temannya itu berusaha menguatkannya. Ia tidak tega jika harus memberitahukannya, kalau ternyata gadis yang dilamar Arsene adalah dirinya sendiri di depan temannya itu. Ia takut hal itu akan semakin membuat temannya itu lebih sakit, meski suatu hari nanti tetap saja undangan pernikahannya akan tersebar ke seluruh anggota LDK dan Keputrian.
\======
Bersambung lagi
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan komennya yaa
makasiiiih ^_^