
Wanita ramping dengan rambut tergerai itu segera duduk di hadapan Ferdian. Ia menusuk sosis pendek berwarna merah kecokelatan itu dengan garpu di tangan kirinya. Sesekali ia menyelipkan rambut pirangnya di balik telinga. Sorot matanya mencuri-curi pandang pria hidung mancung yang ada di depannya.
"Aku Patricia Bocchi, dari Italia," ujarnya memperkenalkan diri tanpa diminta.
Ferdian mengangkat alisnya, lalu tersenyum tipis.
"Aku Ferdian dari Indonesia, dan ini sahabatku, Ridho."
"Oh, aku kira kalian dari Korea."
Ferdian dan Ridho sama-sama terkekeh.
"Kalian berdua memiliki mata sipit, meskipun kau tampak lebih seperti artis Korea, Cha Eunwoo," ujarnya lagi mengarah pada Ferdian.
"Ah, terima kasih, kau menyanjungku ya," ucap Ferdian. Ia menahan tawa sebenarnya.
"Lalu bagaimana denganku?" tanya Ridho, "apakah aku juga seperti artis Korea, Lee Minho?" tanyanya dengan Bahasa Inggris beraksen Sunda. Ferdian tersedak.
Patricia tertawa lebar bahkan lidahnya itu sampai terlihat.
"Ah, maaf."
Sekilas wanita itu menatap dan memperhatikan wajah Ridho dengan matanya yang kecil dan lebar.
"Ah, kau juga, kau sekilas mirip dengan Do Kyungsoo."
"Saha eta teh(siapa itu)?" tanya Ridho pada Ferdian. Namun, pria di sebelahnya itu mengangkat bahunya.
"Dia member salah satu boyband KPOP yang terkenal juga, kalau kau belum tahu," ujar Patricia, seolah-olah ia mengerti dengan pertanyaan Ridho.
Ridho meng-ooh-kan saja. Ferdian menggeleng-geleng saja masih menahan tawanya.
Menu sarapan telah mereka habiskan, malah sempat beberapa kali menambah. Memang perut orang Indonesia, makan tanpa nasi dianggap tidak makan dan tidak kenyang. Jadinya mereka banyak mengambil menu karbo dan protein agak rasa lapar tidak mengganggu pelatihan hari ini.
"Senang bertemu kalian, Ferdian dan Ridho," ucap Patricia ketika piringnya telah kosong. "Kita berteman mulai sekarang ya?" tanyanya.
"Oke!" jawab Ferdian singkat.
Ia pun berlalu dengan senyuman lebarnya.
"Cantik ya Fer!" ucap Ridho ketika Patricia meninggalkan meja mereka.
"Cantikan Ajeng!"
"Beuh, iya dah nyerah aku mah kalau sama pesona Miss Ajeng."
Seorang lelaki tegap, berbahu lebar dan bertubuh tinggi mendatangi para peserta pelatihan. Ia berdiri di dekat meja prasmanan yang terletak di tengah, dikelilingi oleh meja-meja makan.
"Pelatihan akan dimulai lima belas menit lagi di ruangan 37A, lebih baik kalian semua bersiap-siap!"
__ADS_1
"Buruan habisin, Dho!" seru Ferdian pada Ridho yang masih bersusah payah menghabiskan pancake tambahannya.
"Begah perut aku, Fer!"
"Lah kamu nambah banyak sih! Awas aja balik ke Indonesia kamu gemuk lagi."
"Duh jangan doain gitu dong Fer, nanti aku susah dapet jodoh. Padahal tadi udah dibilang mirip Do, siapa itu," meskipun ia tidak tahu siapa tetapi ia yakin kalau Do Kyungsoo pun tampan seperti Lee Minho.
Akhirnya piring milik Ridho licin dan bersih. Ferdian menunggu sahabatnya itu, lalu pergi ke lantai atas bersiap untuk pelatihan perdana mereka, yang dimulai dari materi leadership alias kepemimpinan.
Ruangan belajar dan pelatihan bisa dibilang tidak terlalu luas, dengan kursi dan meja lebar yang berjejer rapi mengelilingi tiap sisi ruangan. Sudah banyak peserta pelatihan di sana. Ferdian dan Ridho masuk ke dalam kelas, membuat perhatian para peserta menoleh ke arah mereka, terutama Ferdian yang berjalan tegap di depan Ridho. Keduanya duduk di kursi di sisi kiri ruangan. Mereka tersenyum ke arah peserta yang lain yang masih memandangi mereka. Hati Ferdian sedikit gugup, ini pertama kalinya dia mengikuti pelatihan semacam ini. Dia harus bersungguh-sungguh agar tidak mengecewakan ayahnya.
Seorang pria berbadan tegap dengan bahu lebar dan brewok cokelat di sekitar wajahnya, masuk ke dalam kelas. Pria itu tampak berwibawa, mengenakan setelan jas berwarna abu gelap dan sepatu mengkilapnya, ia memandangi ke arah semua peserta.
"Selamat pagi, semua!" sapa pria itu. Nampaknya kelas akan segera dimulai. Sudah tidak ada peserta yang mendatangi kelas. Ia menutup pintu yang memiliki sedikit kaca buram di tengahnya.
"Selamat pagi!" jawab semua peserta.
"Perkenalkan, saya Sir Jason Smith, kalian bisa memanggil saya Tuan Smith. Di kelas pertama kita kali in, saya ingin kalian memperkenalkan diri dahulu kepada saya dan teman-teman kalian yang lain," ujar pria itu dengan lantang, ia berjalan-jalan di tengah meja yang mengelilinginya.
"Perkenalan, silakan mulai dari sebelah kiri dahulu!" serunya sambil mengulurkan tangannya kepada seorang peserta berkulit gelap dan berambut ikal. Pria itu pun berdiri.
"Sebutkan nama, asal, dan apa pekerjaanmu saat ini!"
Pria itu menyebutkan namanya, Eduardo Mocco, yang berasal dari Afrika Selatan, berprofesi sebagai manajer sebuah perusahaan penerbit di Inggris. Ia pun kembali duduk setelah memperkenalkan diri. Sang dosen menunjuk ke pria selanjutnya, yang tidak lain adalah Ridho. Ridho pun berdiri, terlihat percaya diri, ia merapikan jasnya.
"Hai semua! Nama saya Ridho Effendi, dan berasal dari Indonesia. Pekerjaan saya adalah manajer marketing di sebuah perusahaan properti. Terima kasih."
Ferdian berdiri, rahangnya terlihat mengeras karena gugup. Ia menghela nafas.
"Selamat pagi semua. Perkenalkan, saya Ferdian Winata, asal dari Indonesia. Saya berprofesi sebagai pemilik dan pengembang bisnis sebuah cafe dan rumah makan."
Para peserta pelatihan terlihat berbisik-bisik dengan teman di samping mereka. Entah apa yang mereka bisikan saat itu. Entah karena ia yang hanya memperkenalkan diri sebagai pemilik sebuah cafe atau hal lainnya. Namun Ferdian tidak peduli, ia kembali duduk di atas kursinya dan melipat tangannya di atas meja.
Perkenalan itu pun berlanjut hingga tidak tersisa satu di antara mereka semua. Tuan Smith memulai materi pagi itu dengan semangat. Wajah-wajah peserta terlihat antusias dengan cara penyampaian pria yang berasal dari New York itu. Begitu pula dengan Ridho dan Ferdian, mereka mencatat setiap poin-poin yang dianggap penting. Hingga tidak terasa, waktu pun sudah berlari begitu cepat.
\=====
Sementara itu di belahan dunia lain. Ajeng terlihat gelisah dalam tidurnya. Ia sudah berusaha memejamkan matanya, merubah posisi tidurnya. Namun upayanya itu belum membuahkan hasil. Padahal biasanya ketika lampu kamar sudah mulai dimatikan, matanya itu akan cepat ikut terpejam. Tentu dengan pelukan hangat dari suami yang ada di sampingnya. Itulah yang ia rasakan, malam kedua tanpa Ferdian, membuat dirinya kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Pikirannya terus terbang menyeberangi benua dan samudera, berharap suaminya bisa menghubunginya saat ini, di pukul 23.30 malam. Ia hanya bisa memandangi wajah Arsene yang damai.
Sebuah dering telepon terdengar nyaring dari samping kirinya. Dengan segera, tangannya itu meraihnya, melihat nama yang terpampang di layar. Ia tersenyum lebar.
"Sayang...."
"Kamu belum tidur?" tanya Ferdian di seberang sana.
"Aku gak bisa tidur," ujar Ajeng terdengar manja.
"Kenapa? Di sana kan udah hampir tengah malam?"
__ADS_1
"Iya, aku juga gak tau! Mungkin karena aku kepikiran kamu terus."
Tawa kecil Ferdian terdengar renyah.
"Aku kangen kamu...." ucap Ajeng yang tidak bisa lagi menyembunyikan kerinduan dan rasa kehilangannya.
"Aku juga, sabar ya Sayang, dan kamu gak usah menghitung hari biar gak kerasa lama. Kamu harus lebih sibuk dan lebih perhatian sama Arsene, biar rasa rindu itu bisa sedikit tertutupi."
"Gimana pelatihan kamu di sana?"
"Ini baru selesai kelas pertama. Materinya luar biasa. Aku jadi bisa lebih menyadari potensi dan kelebihan diri sendiri."
"Baguslah. Kok kamu telepon aku jam segini?"
"Enggak tahu, kaya ada panggilan hati."
Sudut bibir Ajeng melebar, ia tersadar sinyal yang dikirimkannya bisa diterima dengan sangat baik oleh suaminya. Baik sekali Allah mau menyampaikan sinyal itu pada Ferdian.
"Sayang," panggil Ferdian.
"Cepet tidur, besok kerja kan?"
"Iya. Tapi aku masih pengen denger suara kamu."
"Aku juga tapi aku harus masuk kelas lagi."
"Gitu ya?"
"Besok aku telepon lagi ya, salam sayang dan kecup dari daddy buat Arsene."
"Oke."
"I love you!"
"Love you more!" balas Ajeng.
"Bye Sayang!"
"Bye."
Hati yang sejak tadi gelisah, kini berganti dengan selimut ketenangan yang membuatnya nyaman. Ia terus berdoa di dalam hatinya agar Allah selalu melindungi suaminya dimana pun berada. Matanya pun terpejam, dan jiwanya terpanggil oleh alam bawah sadar yang mengajaknya tertidur malam itu.
\=====
Bersambung dulu yaa
Follow instagram Author @aeriichoi
Jangan lupa LIKE, COMMENT, & VOTE
__ADS_1
Thank youuuu