Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 114


__ADS_3

Udara di luar cukup sejuk terasa, meskipun matahari sudah merangkak naik ke singgasananya. Berbagai kendaraan melintas di jalan. Ferdian dan Ridho berjalan di atas trotoar, sambil memperhatikan pemandangan di sekitar lingkungan tempat mereka baru saja menyelesaikan kajian siang ini  Kawasan ini sangat berbeda sekali dengan tempat dimana mereka tinggal. South State Street adalah kawasan pertokoan dan perbelanjaan. Gedung-gedung yang tidak terlalu tinggi berjejer di setiap sisi jalan. Jalan raya pun tidak terlalu lebar. Ada banyak pertokoan dan juga restoran serta kafe


Ferdian menoleh ke kiri dan ke kanan sambil memperhatikan toko-toko yang ada di sana. Ia melihat ada sebuah toko buku dengan gaya dekorasi yang cukup antik di ujung jalan. Tokonya tidak terlalu luas dan tidak sempit juga, serta ada beberapa lantai di sana. Ia mengajak Ridho untuk masuk ke dalamnya.


"Mau cari buku apa, Fer?"


"Novel, pengen ngumpulin oleh-oleh buat istri," ucap Ferdian tersenyum.


"Oohh..."


Ferdian tentu sangat tahu hobi membaca istrinya itu. Ajeng sangat senang membaca novel klasik meski hanya meminjamnya dari perpustakaan kampusnya. Kali ini ia ingin membelinya untuk istrinya, meski ia sendiri kurang tahu selera buku istrinya itu seperti apa. Mudah-mudahan saja Ajeng suka.


"Dimana koleksi novel sastra?" tanya Ferdian pada petugas yang berjaga di kasir.


"Di lantai dua, sebelah kiri, Tuan!"


"Baik, terima kasih!"


"Aku ke atas, mau ikut?"


"Oke deh!" Ridho mengikuti Ferdian menaiki tangga menuju lantai dua. Mereka langsung menuju tempat yang diarahkan oleh petugas toko.


Rak-rak buku berdempetan, lebar koridor sempit, sehingga jika berpas-pasan dengan orang lain, mereka harus menepi dan menempelkan diri ke rak buku. Ada juga buku-buku yang bertumpuk di sebuah meja rendah yang memiliki harga lebih murah.


Ferdian memperhatikan satu demi satu rak yang berjejeran koleksi novel klasik hingga populer. Ajeng pernah bilang jika dirinya sangat senang dengan cerita Charles Dickens, seorang novelis pada zaman Victorian. Tetapi apakah dirinya sudah membaca semua karya Dickens itu atau belum, Ferdian tidak terlalu mengetahuinya. Namun ia menemukan sebuah buku berjudul A Christmas Carol dengan ilustrasi menarik di dalamnya. Mungkin saja Ajeng bisa menceritakannya lagi pada Arsene nanti. Ferdian pun mengambilkan buku itu. Lalu mengambil buku kumpulan dongeng anak terbaik sepanjang masa dengan ilustrasi berwarna setiap halamannya.


"Aku udah selesai, Dho! Kamu mau beli sesuatu juga?"


"Enggak ah, sayang duit dollarnya!"


Ferdian menggeleng-geleng saja.


"Buat modal kawin ya?" goda Ferdian tertawa.


"Tau aja, meski jodohnya belum ada, haha!"


"Yuk!"


Keduanya hendak menuruni tangga, tetapi sesuatu menghentikan langkah mereka.


"Hey, kok bisa kita bertemu di sini!" ucap seorang wanita berambut pirang lurus. Itu Patricia Bocchi, rekan mereka di pelatihan.


"Hai!" keduanya menyapa.


"Aku baru saja membeli buku, kau beli buku apa Ferdian?" ucap Patricia menunjukkan sebuah novel populer karya J.K. Rowling di tangannya. Lalu ia mendekati Ferdian, hendak mengintip buku yang pria itu bawa.


"Aku hanya membeli ini," jawab Ferdian menunjukkan bukunya.


Patricia tertawa, matanya sedikit terkejut.


"Sebuah novel klasik dan buku dongeng anak? Apa kamu yakin membaca itu, Ferdian?" tanyanya ragu-ragu.


"Tentu saja. Ini untuk seseorang."


"Kau memiliki adik kecil pastinya ya?" tebak Patricia.


"Tidak juga. Aku tidak punya adik," jawab Ferdian datar.


"Lalu untuk siapa?" tanya Patricia penasaran.


"Ini untuk anak dan istriku!"


Jantung Patricia melompat seketika, seperti seorang pengemudi pesawat tempur yang melontarkan diri mereka dari tempat duduknya karena akan diserang oleh pesawat lain.


"Apa kamu yakin?" tanyanya tidak percaya.


"Tentu saja!" jawab Ferdian tersenyum lebar.


"Kau sudah menikah? Berapa usiamu sekarang?" tampaknya wanita itu benar-benar tidak percaya kalau pria tampan di depannya itu sudah menikah dan memiliki anak.


"Usiaku 23 tahun bulan depan. Sedangkan anakku berusia dua tahun."


"Oh Tuhan! Aku benar-benar tidak menyangka! Untung saja aku belum menaruh perasaan padamu," ucapnya jujur sekali.


Ferdian tertawa kecil melihat ekspresi terkejut wanita kebangsaan Italia itu.


"Jangan-jangan kau juga sudah menikah?" tanya wanita itu pada Ridho.

__ADS_1


"Eh, aku belum menikah, tenang saja!" pungkas Ridho percaya diri.


Patricia tertawa lebar mendengar jawaban Ridho yang terdengar konyol di telinganya.


"Baguslah!" responnya mengangkat jempol.


"Kalian mau kemana sekarang?" tanya Patricia melirik pada dua pria di depannya.


"Setelah ini kami mungkin langsung saja pulang," jawab Ferdian, kakinya melangkah menuruni anak tangga.


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar di sekitar sini, apakah kalian tidak ingin melihat pemandangan di sini?"


Ferdian memandangi Ridho meminta pendapatnya. Ridho menggerakkan rahangnya, menyetujui usulan Patricia.


"Oke."


"Aku akan traktir kalian minum bubble tea di kedai dekat sini!" ucap Patricia bersemangat.


Mereka pun berjalan menuju kasir dan membayar semua buku yang mereka beli hari itu. Angin langsung bertiup ketika mereka membuka pintu toko buku itu untuk keluar. Kaki-kaki mereka melangkah santai di atas trotoar jalan yang terasa panas, karena pohon-pohon kecil tidak menaungi mereka. Ternyata kedai bubble tea yang dimaksud oleh Patricia tidak berada jauh dari toko buku itu. Sebuah kedai kecil namun masih ada tempat duduk di sana jika hendak menikmati hidangan di tempat. Seorang pelayan berwajah Asia Timur dengan mata sipitnya menyapa mereka.


"Silakan, ini buku menu kami!" ujarnya memberikan sebuah buku lebar berisi menu-menu hidangan yang tersedia di sana.


Patricia mengambilnya, lalu ia menuju sebuah meja berisi empat kursi dan duduk di sana. Dua pria di belakangnya hanya mengikutinya.


"Aku mau pesan ini. Kalian mau yang mana?" tanyanya pada dua pria yang kini sudah duduk di sampingnya. Ia menunjuk sebuah menu Taro Creme Brulee.


"Aku ini saja," ujar Ferdian menunjuk menu Red Bean Matcha Milk Tea.


"Aku ini deh, Flaming Brown Sugar!" ucap Ridho.


"Oke, aku pesankan dulu!" ucap Patricia, ia pun pergi menuju kasir dan memesankan semua minuman untuk dirinya dan kawan-kawannya itu. Tidak lama ia kembali duduk.


"Jadi sejak kapan kau menikah, Ferdian?" tanya Patricia, sepertinya rasa penasaran wanita itu belum juga surut.


"Sejak aku kuliah semester lima."


"Kau kuliah dan kau menikah, bagaimana bisa?"


"Bisa saja, karena aku mencintai istriku."


"Ya Tuhan, jujur sekali makhluk yang satu ini. Aku jadi merasa iri."


"Aku pikir mencintai seseorang itu tidak butuh komitmen. Jalani saja yang ada. Itu menurutku. Karena aku lihat orang tuaku seperti itu. Ibuku pergi meninggalkan ayahku begitu saja ketika ia tidak mencintainya lagi. Ia pergi dengan laki-laki yang dicintainya saat itu," cerita Patricia.


"Lalu?"


"Ayahku pun bercinta dengan wanita lain yang dicintainya. Aku tidak terlalu pusing memikirkannya, karena memang banyak orang di negaraku melakukan hal itu. Mereka hanya ingin menyalurkan kebutuhan s*ksnya saja. Entah cinta itu benar ada atau tidak, aku tidak terlalu yakin. Bagaimana bisa kau yang masih muda memikirkan hal berat seperti menikah?"


"Sepertinya kebudayaan dan tradisi kita yang akhirnya menentukan pola pikir terkait pernikahan ini, Patricia. Apalagi aku seorang Muslim. Melakukan hubungan seksual di luar pernikahan adalah hal yang dilarang dalam agamaku. Hal ini juga menjadi sesuatu yang tabu dalam kebudayaan kami. Meskipun tetap saja ada yang melakukannya. Akan tetapi mereka harus menerima sanksi moral dan sosial dari perbuatannya itu. Bagiku, pernikahan adalah sesuatu yang sakral, dan aku berharap hanya menikahi satu orang perempuan seumur hidupku. Jadi sebelum menikah aku banyak berdiskusi dengan istriku terkait masa depan rumah tangga kami," terang Ferdian.


"Kau benar-benar laki-laki yang hebat. Aku akui itu. Orang yang memiliki komitmen seperti kau di negaraku sangatlah sedikit. Mereka akan menikah ketika usia mereka tua, maksudku kebanyakan di rentang usia 33 tahun ke atas."


"Dan apakah kau tidak berniat untuk menikah muda seperti Ferdian?" tanya Patricia pada Ridho.


Seorang pelayan tiba-tiba datang membawakan minuman bubble tea pesanan mereka, memotong lisan Ridho yang akan menjawab pertanyaan Patricia. Akhirnya ketiga orang itu sejenak menikmati minuman dingin khas Asia itu. Manis dan menyegarkan.


"Ayo jawab pertanyaanku!" seru Patricia lagi, ketika Ridho masih menyedot minuman miliknya.


"Naha rasana siga cendol kieu?" ucap Ridho refleks ketika ia selesai menyesap satu sedot minuman miliknya.


Ferdian sontak tertawa-tawa mendengar Ridho berujar dengan Bahasa Sunda, sedangkan Patricia tampak mengerucutkan alisnya tidak mengerti.


"Apa katanya? Aku tidak mengerti," tanya Patricia pada Ferdian yang masih tertawa-tawa.


"Dia bilang minuman ini mirip seperti minuman khas asal daerah kami di Bandung, Indonesia."


Patricia mengangguk-angguk.


"Aku belum pernah ke Indonesia, sepertinya aku harus mencatatnya di buku impianku, tempat mana saja yang harus aku kunjungi."


"Ya, sekali-kali harus mengunjungi negara kami. Karena negara kami punya pemandangan alam yang sangat indah," ujar Ferdian meneguk matcha milk tea-nya.


"Hey, cepat jawab pertanyaanku!" seru Patricia memukul ringan lengan Ridho.


"Eh, eh iya maaf! Kalau ada seorang wanita yang mau menikah denganku, tentu akan aku pertimbangkan," jawab Ridho pada akhirnya. Ia kembali menyeruput minumannya. Meski rasanya agak sedikit lebih manis dari cendol yang pernah ia minum, ia tetap menyukainya.


"Hmm...jadi usia bukan masalah berarti ya?" tanya Patricia.

__ADS_1


"Tidak terlalu menjadi masalah. Yang penting kesiapan diri, ilmu, iman, dan materi." jawab Ridho.


"Lalu apa saja pertimbanganmu ketika mencari calon istri?"


"Pertama agamanya, kedua sifatnya, ketiga kecerdasannya."


"Wow, berarti syarat pertama kau ingin istrimu seagama denganmu, begitu?"


"Ya betul sekali!" jawab Ridho mantap.


Patricia tampak memandangi Ridho dengan lekat, membuat pria itu jadi grogi seketika. Entah apa maksud tatapannya itu, Ridho tidak mengerti. Hanya saja ada sedikit yang menggelitik di benak Ferdian ketika melihat hal itu di depan matanya.


\=====


Patricia membawa satu bungkus kotak berisi macaroon untuk dibawanya pulang. Kedua pria itu berterima kasih padanya setelah ditraktir minuman bubble tea tadi, lalu mereka berpisah di sana. Ferdian dan Ridho memutuskan untuk kembali mengikuti sholat Ashar berjamaah di Islamic Center karena adzan ashar sudah berkumandang. Patricia hanya tersenyum ketika ia berpisah dengan dua kawannya itu. Ada wawasan yang baru saja ia dapatkan dari kedua pria yang unik menurutnya itu. Ia jadi semakin ingin mengenal keduanya lebih dekat lagi. Wanita itu pun menaiki sebuah taksi untuk pulang ke Winston Tower. Sementara Ferdian dan Ridho kembali ke Islamic Center.


Ustadz Ahmed Rasheed, yang tadi mengisi kajian, menyapa kedua pria asal Indonesia itu.


"Sepertinya saya baru melihat wajah kalian hari ini ya?" sapanya ketika melihat kedua pria itu masih berbincang-bincang di dalam ruangan, sementara jama'ah lainnya sudah bubar.


"Betul Ustadz, kami baru datang kesini untuk pelatihan," jawab Ridho.


"Darimana asal kalian? Sepertinya kalian datang dari Asia Timur atau Tenggara."


"Kami dari Indonesia, Tadz!" jawab Ridho lagi.


"Alhamdulillah, akhirnya bertemu dengan saudara dari tanah air," ujarnya kali ini menggunakan Bahasa Indonesia.


"Masya Allah, Ustadz orang Indonesia juga?" tanya Ferdian.


"Na'am. Saya lahir di Padang, karena ibu saya orang Bukittinggi. Sementara ayah saya orang Pakistan."


"Alhamdulillah."


"Kapan kalian tiba di Chicago?" tanyanya lebih akrab dengan Bahasa Indonesia, meskipun dialek antara bahasa Arab dan Inggris bercampur di lisannya.


"Minggu kemarin, Tadz!" jawab Ridho.


"Ooh baru ya, kalian tinggal dimana sekarang?"


"Kami tinggal di Winston Tower di Madison Street."


"Oh iya, saya tahu. Itu gedung yang punya 50 lantai bukan?"


"Betul Tadz!"


"Sekarang kalian hendak kemana?"


"Kami langsung kembali pulang, Tadz! Besok kami harus belajar lagi!" jawab Ferdian.


"Oh begitu, baik! Saya dan istri juga masih ada kajian sore ini dengan muslimah-muslimah Chicago."


Ferdian dan Ridho mengangguk-angguk.


"Kalau begitu kami permisi dulu, Tadz! Semoga lain kali kita bisa berbincang-bincang lagi," jawab Ridho.


"Baiklah!"


"Assalamu'alaikum..." ucap Ridho dan Ferdian bersamaan.


"Wa'alaikumsalam."


Kedua pria itu pun keluar dari ruangan sholat kemudian menuruni tangga untuk keluar dari gedung. Ada beberapa muslimah yang baru saja tiba sedang menyimpan alas kaki mereka di rak sepatu. Wajah-wajah mereka beragam, ada yang memiliki wajah bule, Asia Timur, Asia Selatan, dan juga yang berkulit hitam. Ferdian dan Ridho memperhatikan para muslimah  yang jumlahnya kurang lebih ada delapan orang.


Ferdian dan Ridho menundukan pandangannya ketika muslimah-muslimah itu melewati mereka untuk menuju tangga. Ada satu wajah yang mencuri perhatian Ridho di sana, seorang muslimah berkulit putih dan bermata sipit yang cantik parasnya. Ia melihatnya tadi ketika wanita itu menyimpan alas kakinya.


Siapakah wanita itu? tanyanya dalam hati.


\=====


Bersambung dulu yaa ^_^


Jangan lupa LIKE, COMMENT & VOTE


Gabung grup chat juga yuk tinggal klik di halaman utama novel ini


Follow juga instagram author @aeriichoi

__ADS_1


Makasiiiih


__ADS_2