Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 64


__ADS_3

Nava berjalan di koridor menuju perkuliahan berikutnya. Ia merasa sangat konyol karena terlambat di hari pertama. Untung saja dosennya itu tidak bersikap keras padanya. Ia benar-benar merasa beruntung hari ini.


Tiba-tiba langkahnya berhenti, hatinya tidak karuan. Wajah dosennya itu mengapa sangat familiar di matanya? Dengan segera ia mengambil ponselnya. Ia membuka jadwal perkuliahan S2 untuk semester ini. Matanya terbelalak, jantungnya melompat seketika. Ia melihat nama Andre Geraldy adalah dosen yang mengajarnya tadi. Wanita itu menjadi panik dan sulit berpikir. Tangannya bergetar, dan langkahnya berjalan entah kemana. Ia memutuskan untuk mempercepat langkahnya menuju toilet terlebih dahulu, sebelum ia bertemu lagi dengannya.


Dengan nafas terengah-engah, ia berhasil mencapai toilet wanita. Beberapa orang mahasiswa menatapnya penuh heran.


Kok bisa aku gak sadar kalau itu Andre? Gimana ini, setiap hari Senin aku bakal ketemu sama dia?


Bukannya bagus ya? Bukannya aku selalu menantikan dia?


Tetapi apakah dia juga gak sadar kalau aku ini teman SMA-nya dulu?


Atau jangan-jangan dia sadar dan memutuskan untuk diam saja?


Aduh, kenapa aku jadi was-was gini?


Nava berusaha mengatur nafas. Ia harus berpikir jernih mau kemana kakinya melangkah? Ah, ia harus melanjutkan kuliahnya hari ini di lantai tiga. Dengan bergegas ia menuju kelasnya siang ini.


\=\=\=\=\=


Suasana kantin terasa sesak dan penuh di jam makan siang. Ferdian dan kawan-kawan, seperti biasa memutuskan untuk makan siang di kantin. Ajeng pun ikut makan di sana, meski seperti biasanya ia sudah membawa bekal makan dari rumah. Ferdian membuatkan bekalnya hari ini, karena wanita itu merengek untuk dimasakan sesuatu oleh suaminya. Terpaksa Ferdian harus bersiap lebih pagi untuk memasakan istrinya menu nasi kare sayur dengan potongan ayam katsu khas Jepang. Ia juga membawa bekalnya sendiri.


Sebuah meja panjang berisi delapan kursi diisi oleh Ferdian cs. dan juga Ajeng. Andre yang baru selesai mengajar dan langsung ke kantin menyapa mereka.


"Bang Dre! Di sini aja!" ajak Ferdian pada sepupunya itu, karena ada satu kursi kosong tersisa di meja mereka, di hadapan Ajeng.


Andre mengacungkan jempolnya dan berjalan menuju meja prasmanan untuk mengambil menu makan siang. Tak lama berselang, ia menghampiri meja Ferdian.


"Gak apa-apa nih ikut disini?" tanya Andre menaruh piring dan gelasnya.


"Santai aja kali, Bang!" ucap Ferdian.


Mahasiswa kawan-kawan Ferdian tersenyum menyapa Andre yang duduk di sebelah mereka.


"Bumil sehat?" tanya Andre pada Ajeng.


"Alhamdulillah, sehat, Dre!" jawab Ajeng.


"Jadi kapan katanya lahiran? Aku kira istri kamu udah cuti, Fer?" tanya Andre.


"Belum, Ajengnya nih belum mau cuti. Masih pengen ngajar, ya kan Sayang?" jawab Ferdian menoleh pada istrinya.


"Iya, perkiraan masih 2 bulan lagi lahirannya. Sayang, kalau cuma diem di rumah doang, mending kerja aja biar produktif!" jawab Ajeng sambil menyuapkan nasi karenya ke dalam mulut,


"Ooh...lumayan lah ya, meski gak full ngajar satu semester!" ujar Andre.


"Iya betul. Aku gak betah lama-lama di rumah!" ucap Ajeng lagi.


"Jiwa kamu mah gentayangan di kampus, ya Say?" celetuk Ferdian.


"Ya kali aku ini hantu!" ucap Ajeng memotong ayam katsunya.

__ADS_1


Kedua pria itu terkekeh-kekeh.


"Aku ke toilet dulu, ya?" ucap Ferdian beranjak dari tempat duduknya.


"Kenapa? Mules?" tanya Ajeng.


"Iya mau lahiran dulu, tunggu ya?" seru Ferdian kemudian berlari menuju toilet.


Andre tertawa melihat tingkah konyol sepupunya.


"Itu si Ferdian perutnya bermasalah ya?" tanya Andre.


"Dia emang gitu, udah tau perutnya bermasalah, masih bandel aja cemilin cabe rawit mentah!" ucap Ajeng polos.


"Serius?"


"Itu kalau dia makan gorengan suka gigit cabe rawit, sedap katanya! Udah berapa kali dimarahi pun tetep aja ngeyel!" terang Ajeng yang kadang kesal dengan Ferdian yang tidak menuruti nasihatnya.


"Hahaha. Ada-ada aja anak itu! Tapi emang dulu waktu kecil pun dia begitu kalau lagi ngumpul. Paling banyak ngeyelnya, beda sama kakaknya, Damian!" ujar Andre mengingat masa-masa kecilnya.


"Haha, iya kah?"


Andre mengangguk mantap.


"Hah, lega!" ucap Ferdian mengelus-elus perutnya.


"Udah lahirannya?"  tanya Andre tertawa.


"Jorok ihhhh!" sergah Ajeng memukul lengan suaminya itu.


Ferdian tertawa terbahak-bahak. Diikuti juga dengan Andre.


"Yuk ah aku duluan, harus ngajar lagi nih!" ujar Andre yang sudah tak tahan untuk menahan tawanya lebih lama.


"Iya, Bang!"


"Antar aku ke kelas juga!" ucap Ajeng menggelayuti lengan suaminya.


"Iya, nanti aku antar, kan aku juga kuliah di gedung B!" ucap Ferdian mengacak-acak rambut istrinya.


Ajeng tersenyum lebar.


Kemudian keduanya beranjak dari kursi, diikuti oleh kelima kawan Ferdian di belakang, Bak putri di istana, Ajeng berjalan diiringi oleh para mahasiswa-mahasiswa heboh di belakangnya dan pangeran tampan di sampingnya.


Kelima kawan Ferdian berjalan menaiki tangga karena mereka akan kuliah di lantai empat, sementara Ferdian mengantarkan istrinya dulu ke lantai dua.


"Sayang, nanti kamu pulang sama Andre dulu ya?" ucap Ferdian lembut.


"Lha kok gitu?" mata Ajeng mengkerut.


"Aku ada rapat dulu sama anak-anak BEM, mereka butuh wejangan aku katanya!"

__ADS_1


Ajeng terlihat cemberut.


"Sebentar kok, maghrib juga udah selesai!"


"Aku kira kamu udah gak aktif di BEM!" ucap Ajeng menoleh ke arah lain dan tidak mau memandangi suaminya.


"Emang udah gak aktif. Cuma mereka butuh saran aja dari senior BEM untuk acara puncak ospek, biar seenggaknya acara itu jadi ada gunanya, gak kaya kemarin-kemarin yang gak jelas!" jelas Ferdian mencoba membujuk istrinya.


Ajeng berdecak saja. Istrinya itu memang jadi lebih galak, cemburu, dan cepat naik darah setelah hamil. Namun tetap saja hal itu membuat Ferdian makin mencintainya.


"Jadi gimana? Boleh ya?" bujuk Ferdian.


"Hmm..."


"Kamu mau aku bawain apa? Es krim? Permen? Marshmellow?"


"Hmm...ngerayu ya?"


Ferdian menyengir saja.


"Ya udah boleh, tapi kamu harus pulang maghrib gak boleh lebih dari itu! Terus sekalian bawain aku es krim dua box!" pinta Ajeng dengan syarat yang membuat Ferdian tersenyum lebar.


"Siap Ibu Dosenku Sayang!"


Ajeng berdecak lagi.


"Ya udah aku kuliah dulu ya, aku udah bilang Andre kok! Soalnya kalian sama-sama pulang sebelum ashar kan ya?"


Ajeng tidak menjawab.


"Mau aku cium?" goda Ferdian agar wanitanya itu tersenyum.


"Enggak makasih!" ucap Ajeng membalikan tubuhnya menuju kelas yang akan diajarnya.


Ferdian menarik lengan tangan istrinya dan berhasil mendaratkan sebuah kecupan singkat di pipinya itu, yang seketika membuat wajah istrinya merona.


"Daahhhh!" ucap Ferdian setengah berlari menuju tangga.


Ajeng terkekeh geli sambil mengusap-usap pipinya yang baru saja dikecup. Untung saja tidak ada mahasiswa yang lewat saat itu.


"Jangan mesra-mesraan di kampus dong!" ucap seseorang, membuat Ajeng menoleh.


\=\=\=\=\=\=


Siapa ya?


Like dan votenya yukk


Makasiiiiih ^^


__ADS_1



__ADS_2