
Jantung Arsene berdegup kencang ketika ia telah menerima telepon dari daddy-nya. Mommy Ajeng akan melahirkan. Karena kondisi bayi yang sungsang, wanita itu kini harus berbaring di meja operasi untuk mengeluarkan anaknya yang ke-4. Arsene memasang raut wajah paniknya. Ia khawatir akan keselamatan mommy dan adiknya, apalagi daddy-nya pun bergetar ketika ia berbicara di telepon.
Arsene kembali masuk ke dalam ruangan inap Zaara sambil memasukan ponselnya ke dalam saku celananya.
“Kenapa, Sen?” tanya Reza yang menangkap raut wajah cemas pria remaja itu.
“Mommy, mau lahiran!” ucapnya singkat.
“Masya Allah, semoga lancar ya Allah, semoga Ajeng dan bayinya juga sehat.” ucap Karin.
“Aamiiin…”
“Sepertinya saya harus pulang, Tante & Om!” pamit Arsene.
“Ah iya, apa kamu mau kembali ke Singapura?” tanya Reza.
“Sepertinya iya, Om! Saya harus temani daddy di sana.”
“Begitu, baiklah!” jawab Reza.
Arsene menatap ragu pada Reza dan Karin. Ia ingin sekali berbicara dengan Zaara sebelum pulang.
“Tante, Om! Apa saya boleh bicara sebentar dengan Zaara?” pintanya ragu sambil sedikit menunduk.
“Oh?” Karin menyenggol suaminya.
“Baiklah, kami akan mengawasi dari sini,” ucap Reza.
“Terima kasih, Tante, Om!” ucap Arsene mengangguk.
Zaara menatap teman sebangkunya itu dengan tatapan heran ketika pria muda itu mendekatinya, sementara Reza dan Karin mengawasinya dari sofa sambil terduduk di sana. Arsene berdiri di samping matras Zaara, ia membuat jarak yang agak jauh untuk membuatnya tidak kaku. Akan tetapi, tetap saja, mereka berdua tampaknya grogi satu sama lain.
“Hai,” sapa Arsene kaku.
“Arsene, aku mau bilang banyak terima kasih sama kamu. Aku gak tau harus balas apa untuk kamu!” ucap Zaara duluan sambil tertunduk.
“Udah kewajiban temen untuk menolong bukan?”
“Semoga Allah membalas kebaikan kamu.”
“Aamiin.”
Arsene mengambil tas ransel yang digendongnya, kemudian mengeluarkan sesuatu dari sana. Sebuah kotak yang terbungkus rapi dengan motif boneka bintang-bintang kecil dipegangnya, kemudian ditunjukan pada Zaara. Zaara terkejut dengan benda itu, ia benar-benar lupa.
“Maaf aku menemukan ini di laci meja kamu. Ada tertulis nama aku di sana, apa benar ini punya kamu?” tanya Arsene memastikan.
__ADS_1
Zaara terlihat salah tingkah. Ia lupa seharusnya menyimpan kotak itu di laci milik Arsene kemarin, tetapi karena pria itu sudah datang, kemudian ia panik dan menyimpannya lagi di lacinya. Sekarang, malah orangtuanya bisa mengetahui itu semua.
Zaara menyengir kaku.
“Iya itu punya aku, dan itu untuk kamu,” ucapnya sambil mengernyitkan matanya.
“Bener nih? Gak salah denger kan?” tanya Arsene memastikan.
“Iya!” jawab Zaara lagi.
“Ya udah aku bawa ya, makasih banyak. Semoga kamu cepet sembuh dan sekolah lagi. Oh iya, mungkin tiga hari kedepan aku juga bakal izin untuk pulang ke Singapura.”
“Oh ya?”
“Iya, jadi jangan kangen ya?” ucap Arsene berbisik.
Zaara meremas selimut yang menutupi tubuhnya, kesal, mengapa bisa Arsene menggodanya bahkan di depan orangtuanya. Meskipun ia sendiri tidak tahu apakah abi dan uminya itu mendengarnya atau tidak. Mudah-mudahan saja tidak.
“Aku pulang dulu ya, Ra! Assalamu’alaikum.” ucap Arsene tersenyum berseri.
“Wa’alaikumsalam.”
Arsene berpamitan dan bersalaman dengan Reza dan Karin di sore hari yang sudah semakin gelap itu. Pria muda itu tersenyum sambil menahan tawanya ketika berjalan di sepanjang lorong rumah sakit, mengingat candaannya pada Zaara di depan orangtuanya. Memang cari mati saja, tetapi ia beruntung sepertinya orang tua Zaara tidak mendengarnya. Ah, kali ini ia harus memikirkan ibunya, memesan tiket pesawat lalu pulang ke rumahnya.
\=\=\=\=\=
Ferdian menjemput anak-anaknya itu di lobi rumah sakit.
“Daddy!” ucap Arsene ketika ia melihat sosok ayahnya berjalan menghampirinya.
Ferdian memeluk anak sulungnya itu, lalu bergantian pada Rainer.
“Maaf daddy buat kalian cemas!”
“Dimana mommy sekarang?” tanya Arsene.
Ferdian membawa kedua putranya menuju kamar inap istrinya, tetapi sebelum itu mereka melihat dulu kondisi adik bungsu mereka yang baru saja lahir beberapa jam yang lalu. Bayi mungil itu sedang dalam tahap observasi oleh para dokter spesialis anak. Meski kondisinya normal, tetapi membutuhkan perawatan khusus karena posisinya sungsang saat dilahirkan dan dikeluarkan. Bayi yang masih terlihat merah dan sipit itu terlihat tertidur di dalam sebuah inkubator dengan beberapa selang yang menempel di tubuhnya yang mungil. Arsene dan Rainer tersenyum kecil melihat adik mereka, semoga bisa cepat pulih.
Mereka bertiga pun beralih menuju ruang rawat inap VVIP Daffodil khusus untuk perawatan ibu bersalin. Ruang bernuansa gold dan cokelat itu terlihat tenang, ketika ketiga pria itu masuk ke dalamnya. Ajeng tengah tertidur masih dengan selang infus yang menancap di lengannya. Sementara Kirei, tengah tertidur di sofa memeluk boneka beruangnya yang besar.
“Mommy tidur kan?” tanya Arsene pelan, memastikan kalau ibunya memang tengah tertidur bukan tidak sadar.
“Iya, mommy lagi tidur kok! Kalian capek?” tanya daddy Ferdian.
Kedua putranya menggeleng, hanya saja mereka mengantuk.
__ADS_1
“Emang boleh tidur di sini?” tanya Arsene.
“Gak boleh sih, kalian sapa mommy dulu. Nanti Daddy anter pulang, biar besok kesini lagi.”
Mendengar suara di telinganya, wanita dengan rambut tergerai itu terbangun perlahan.
“Eh Arsene, Rainer, kok ada di sini?” tanyanya terkejut, lalu meminta Ferdian untuk mengubah posisi sandaran kasurnya.
“Aku ingin jenguk mommy sama adik baruku!” jawab Arsene memeluk dan menciumi ibunya, bergantian dengan Rainer.
“Ini pasti kerjaan Daddy ya? Pasti panik gara-gara mommy operasi!” tebak Ajeng.
Ferdian menyengir saja. Lelaki berusia 37 tahun itu memang panik, karena operasi caesar adalah pertama kalinya bagi Ajeng. Jadi ia meminta anak-anaknya untuk pulang, setidaknya bisa menenangkan dia, karena ada teman di sampingnya. Tetapi ternyata proses persalinan berjalan lancar dan lebih cepat dari yang ia duga.
“Kasian ih mereka jadi izin sekolahnya!” sergah Ajeng dengan suara seraknya.
“Gak apa-apa, Mom! Mungkin Daddy butuh temen!” ucap Arsene tersenyum.
“Jadi nama adikku siapa, Mom?” tanya Rainer memeluk manja ibunya.
“Finn Aiden Winata,” jawab Ajeng.
“Wow, keren banget!” puji Rainer.
“Semua anak mommy, punya makna nama yang kuat! Karena mommy berharap kalian akan menjadi anak-anak yang kuat!” ucap Ajeng mengelus rambut Rainer yang duduk menempel di sisinya.
Mommy Ajeng tersenyum melihat keluarganya berkumpul di sisinya. Ia tak menyangka kalau anak lelakinya akan datang ketika ia bersalin hari ini. Apalagi Arsene, karena ia sudah kelas dua belas. Ia merasa bahagia, apalagi keluarganya sudah bertambah lagi satu, si kecil Finn.
Ferdian mengelus kepala istrinya dan mengecupnya, hatinya sama bahagianya, apalagi jika saja mereka semua berada di Indonesia, sudah pasti bahagianya tidak terkira.
“Dad, bawa mereka pulang, kasian pasti udah pada ngantuk. Sekalian bawa Kirei, kasian dia dari siang nemenin mommy di sini,” seru Ajeng pada suaminya.
“Aku masih kangen Mommy!” ucap Rainer memeluk ibunya.
“Aku juga!” sahut Arsene.
Ferdian dan Ajeng saling bertatapan tersenyum, akhirnya membiarkan mereka tertidur di samping matras ibunya. Mereka memang merindukan belaian tangan dan kasih sayang orangtuanya. Sudah beberapa bulan berpisah, tentu saja menyisakan rindu di relung hati mereka, meskipun keduanya telah beranjak besar.
Malam semakin pekat, angin berhembus dingin. Keluarga kecil Ferdian berkumpul membuat suasana malam menjadi hangat karena kasih sayang yang saling mengerat.
\=\=\=\=\=
Bersambung dulu yaa...
Like, comment, dan votenya
__ADS_1
Terima kasih ^_^