
Zaara dan Arsene telah kembali ke apartemen. Pria yang masih mengenakan kemeja kuliahnya itu langsung membuka kotak dus berisi martabak manis ketan hitam yang dibuatkan istrinya sendiri. Mencium aromanya, air liur Arsene terus diproduksi. Pria itu bergegas mencuci tangan dan langsung melahapnya.
Ekspresi wajahnya berlebihan ketika memasukan dan mengunyah martabak itu ke dalam mulutnya. Begitu nikmat dan lezat. Bahkan matanya hingga terpejam saking nikmatnya merasakan martabak yang jarang dicicipinya itu.
“Abang lebay!” ucap Zaara yang baru memperhatikannya.
“Enak banget, Sayang! Kamu hebat!” pujinya sambil terus mengunyah makanan manis itu.
Zaara jadi ingin mencicipinya juga. Memang benar apa yang dikatakan suaminya, martabak ini begitu lezat. Bukan untuk memuji buatannya, karena ia hanya menuangkan adonan dan memarut keju saja. Mereka memang tidak pernah membeli makanan seperti ini di luar, karena permintaan Arsene untuk mengirit pengeluarannya. Zaara jadi teringat perkataan tukang martabak tadi. Apakah benar Arsene mengidam sementara dirinya hamil?
Zaara lekas mengambil ponselnya, mengecek tanggal menstruasi terakhirnya. Ia tidak hafal betul, tetapi menstruasi terakhirnya itu sudah lama sekali. Periodenya yang tidak teratur membuatnya tidak terlalu pusing memikirkannya. Apalagi tidak ada gejala kehamilan, seperti kehamilan pertamanya, membuatnya semakin santai saja. Tidak ada mual dan pusing, hanya sesekali merasa lelah dan pegal yang ia anggap biasa. Hanya nafsu makannya saja yang terus bertambah dari waktu ke waktu. Payudaranya juga memang terasa agak bengkak. Perempuan yang baru saja membuka kerudungnya itu jadi ragu-ragu sejenak. Apakah Allah benar-benar memberinya kesempatan kali ini? Ia akan mencoba lagi memakai testpack yang sudah dibelinya tadi di apotek besok setelah bangun tidur.
Suhu dingin pada dini hari benar-benar membuat tubuh malas bergerak. Zaara mematikan alarm ponselnya. Matanya masih terasa berat sekali, ia mengeratkan selimut pada tubuhnya. Tubuh Arsene yang sangat dekat membuat dirinya menghindar, ada sesuatu dari tubuh pria itu yang membuatnya tidak suka dekat dengannya. Anehnya dalam waktu tertentu saja, seperti saat pagi atau ketika Arsene baru selesai berpakaian. Perempuan itu terperanjat menyadari keanehan dalam dirinya, ia bergegas pergi ke kamar mandi dan membawa dua benda pipih panjang bersamanya.
Dua garis merah muncul bersamaan tatkala air seni pertamanya dikenakan pada benda itu. Zaara menganga tidak percaya, Allah memberikan kesempatan ini padanya secepat itu setelah peristiwa kegugurannya. Ia tidak tahu usia kandungannya sudah berapa minggu karena tanggal menstruasi terakhirnya sudah hampir berjalan lewat dari tiga bulan. Seketika rasa insecure-nya menghantuinya lagi. Apakah Arsene akan bersikap sama seperti kehamilan pertamanya yang cuek dan tidak terlalu peduli padanya? Sejenak ia berpikir, masih berada di dalam kamar mandinya, ia merasa bahagia dan tidak akan terlalu mempedulikan apapun. Ia akan fokus menjaga janinnya sampai bisa melahirkannya ke dunia. Perempuan itu mengembalikan test pack pada tempatnya, kemudian keluar dari sana setelah berwudhu. Ia menyimpan test packnya dalam laci nakas dan akan memberitahu Arsene setelah dirinya siap.
“Abang…” panggil Zaara pagi itu ketika mereka telah selesai sarapan.
“Hmm?” Arsene menoleh pada istrinya.
“Mau tanya.”
“Mau tanya apa?”
“Kalau aku hamil lagi, perasaan kamu gimana?” tanya Zaara ragu-ragu.
Mata Arsene berbinar, bibirnya terkembang lebar.
“Aku seneng banget lah!”
“Bakal cuekin aku lagi gak?” tanya Zaara menatap serius mata suaminya.
Arsene terbelalak dengan pertanyaan Zaara. Tetapi dengan cepat ia tersenyum lagi lebih lebar.
“Ya enggak lah, insyaAllah enggak. Lagian kerjaanku udah di toko aja. Kemaren daddy ajakin kerja ke hotel aja, aku gak jadi ambil. Aku mau ambil pekerjaan itu kalau udah lulus kuliah nanti. Jadi aku bener-bener fokus ngembangin toko dulu.”
Zaara jadi lega mendengarnya. Arsene memang selama ini fokus sekali mengembangkan tokonya, tetapi dia masih bisa membagi waktu. Bahkan jarang sekali ia pulang malam. Kalaupun pulang malam biasanya ia pulang tepat waktu dan selalu memberitahunya, tidak seperti dulu ketika dirinya bekerja di restoran. Zaara sudah bisa mempertimbangkannya, suaminya sudah memegang komitmen. Ia tersenyum kecil sambil menunduk.
Arsene memperhatikan istrinya yang kemudian beranjak dan masuk ke dalam kamarnya. Tak lama Zaara keluar sambil menggenggam sesuatu di tangannya yang tidak bisa terlihat jelas oleh Arsene. Zaara kembali duduk di depan suaminya. Ia menghela nafas. Arsene menatapnya keheranan.
Zaara meletakkan sesuatu di atas meja. Ia melepas benda itu sehingga Arsene menatapnya tajam tidak percaya dan membuat mulutnya terbuka. Pria itu memandangi wajah istrinya dengan mata berkaca-kaca seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya di depan.
“Ini serius, Sayang?” tanya Arsene, air matanya menggenang di pelupuk mata. Hatinya begitu bergetar.
Zaara tersenyum kaku seraya mengangguk.
Bulir air mata milik Arsene terjatuh. Pria itu tidak tahu harus merasa apa, antara terkejut, terharu, bahagia, khawatir, dan kalut. Ia menengadahkan wajahnya berusaha untuk tidak menangis lebih banyak. Mulutnya bergetar, ia tidak sanggup menahan rasa bahagia dan harunya kali ini. Pria itu menghampiri istrinya dan memeluknya erat kemudian menangis terharu.
“Alhamdulillah ya Allah, makasih banyak udah kasih kami kesempatan lagi!” ucapnya mengelus kepala istrinya dan mengecupnya lekat-lekat.
Zaara ikut terenyuh dalam suasana itu. Arsene tidak berhenti mencium keningnya, betapa bahagianya ia kali ini. Pria itu terus memuji kebesaran Tuhannya dan bersyukur. Ia akan berusaha menjaga istri dan calon buah hatinya lebih baik lagi kali ini.
Arsene menangkup pipi istrinya.
“Aku bahagia sekali, Sayang! Kita harus menjaganya lebih baik lagi. Kamu siap kan?” tanya Arsene.
“Insya Allah!” Zaara mengangguk mantap.
__ADS_1
“Jadi kapan kita ke dokter?”
“Nanti sore?”
“Ya! Ya!” Arsene kembali memeluk istrinya lebih erat.
Arsene tidak bisa berhenti tersenyum sepanjang hari. Bahkan ketika sedang ujian pun dirinya terus tersenyum, meski harus ia sembunyikan di balik kertas ujian yang sedang diisinya.
Sore itu, Zaara dan Arsene mendatangi poliklinik kandungan. Masih dengan dokter yang sama saat itu memeriksa Zaara. Dokter Aliyah begitu terkejut sekaligus antusias mendapati kabar Zaara yang rahimnya kini terisi kembali.
“Ini kandungannya udah jalan 4 bulan, Dek!” ucap Dokter Aliyah sambil melihat layar USG.
“Lihat tuh tangan dan kakinya udah mulai kebentuk. Nah bergerak tuh tangannya!” imbuh dokter berhijab itu tatkala melihat ada pergerakan dari janin yang tertangkap dalam alat itu.
“Masya Allah, alhamdulillah!” ucap Zaara dan Arsene bersamaan tidak percaya, mereka saling bertatapan tersenyum.
“Alhamdulillah semuanya bagus, detak jantung dan ukuran juga normal. Dijaga terus asupan gizinya ya! Ada keluhan gak selama ini?” tanya Dokter Aliyah kembali ke meja kerjanya.
Zaara membetulkan gamisnya. Ia dan Arsene duduk di hadapan dokter muda itu.
“Itulah Dok, sama sekali gak ada keluhan. Makanya gak tau kalau ngisi lagi! Cuma makan aja yang makin banyak!” jawab Zaara terus terang.
“Alhamdulillah, itu bagus banget!”
“Tapi kayanya suami aku yang malah ngidam, Dok!” ucap Zaara. Arsene melirik ke arah istrinya. Ia juga tidak menyangka.
“Akhir-akhir ini dia banyak banget keinginannya. Aneh-aneh dan di luar kebiasaannya,” ucap Zaara membuat Dokter Aliyah tertawa kecil.
“Saya juga sering ngerasa mual lho Dok! Malah pernah muntah-muntah di kampus. Saya pikir asam lambung naik, Emang bisa ya?” tambah Arsene.
Arsene jadi menahan senyumnya mengingat dirinya yang sering jajan cemilan akhir-akhir ini. Ia memang selalu mencemaskan istrinya setelah peristiwa keguguran itu terjadi, yang mungkin akhirnya tertanam dalam alam bawah sadarnya.
“Diminum vitaminnya ya! Olahraga ringan juga biar gak kaku. Sehat-sehat ya, ingat jangan terlalu banyak pikiran!” pesan Dokter Aliyah sambil memberikan resep dan juga sebuah foto hasil USG dua dimensinya.
“Terima kasih banyak, Dok!” ucap Arsene dan Zaara bersamaan.
Keduanya keluar dari ruangan dokter dan menebus resep. Arsene merangkul tubuh istrinya sambil tersenyum bahagia melihat foto janin mereka. Tanpa disadari mereka ada dua pasang mata yang menangkap keduanya. Ia tersenyum melihat keduanya lalu kembali berjalan lagi menuju ruangannya.
[Assalamu’alaikum wr. wb. Alhamdulillah puji dan syukur kepada Allah swt. karena telah memberikan kami kesempatan lagi untuk amanah ini. Kepada keluarga kami yang terkasih, kami minta doanya untuk kesehatan Zaara dan janinnya, semoga Allah melindunginya selalu. Aamiin.]
Arsene mengetikkan kata-kata itu di grup whatsapp keluarga besarnya dilampirkan bersama foto janinnya. Ia berharap anaknya bisa lahir dengan selamat dan sehat ke dunia ini, begitu juga dengan istri tercintanya yang selalu dilimpahi kesehatan dan kekuatan.
Seketika respon balasan datang dengan cepat.
[Alhamdulillah, selamat Abang Acen & Neng Zaara. Sehat selalu!] respon Bukde Tania.
[MasyaAllah, tabarakallah! Semoga sehat terus yaa] ketik Bukde Resha.
[Abang Acen tokcer abis, mantap! Neng Zaara semoga sehat terus!] balas Uncle Andre.
Dan respon lain dengan doa dan harapan yang sama.
Tak kalah, Zaara juga menerima beberapa telepon masuk dari umi dan abinya, mertuanya, serta nenek dan kakeknya, juga Tante Jingga, dan Tante Bunga. Semuanya ingin menguatkan perempuan yang kini sudah berusia 22 tahun itu. Ia merasa kehamilannya kali ini akan bisa lebih kuat untuk menanggungnya. Apalagi suaminya akan selalu berada di sampingnya.
“Kamu pegel-pegel? Capek?” tanya Arsene mencemaskan istrinya, membawanya duduk di atas sofa apartemennya.
“Enggak, aku biasa aja kok Abang Sayang! Kaya lagi gak hamil aja,” jawab Zaara tersenyum.
__ADS_1
“Alhamdulillah!”
“Sejak kapan kamu ngidam gitu sih? Nyadar gak?” tanya Zaara pada suaminya.
“Gak tau! Aku juga gak nyadar, penciuman dan pikiran aku sensitif buat makanan yang jarang aku makan. Eh, tapi aku juga ada yang ngerasa aneh sama kamu lho!” ucap Arsene merangkul bahu Zaara.
“Oh ya?” tanya Zaara tidak percaya.
“Iya. Kamu tuh sering menghindar dari aku. Udah lama aku ngerasa gitu. Kalau pagi-pagi kamu gak pernah mau aku cium lagi. Pas malem, gak mau dipeluk. Dan kamu lebih sedikit bicara. Kenapa coba? Aku ngerasa kamu lebih cuek dan datar akhir-akhir ini!”
“Aku gak ngeh, Abang! Tapi emang aku gak terlalu suka bau kamu. Aneh pokoknya, apalagi pas pagi-pagi!” ucap Zaara bergidik.
Arsene menggaruk-garuk lehernya. Apa karena pengaruh batin Zaara juga setelah peristiwa keguguran itu? Jadinya istrinya itu menghindarinya sedikit sebagai bentuk pertahanannya. Begitu yang dipikirkan Arsene.
“Jangan-jangan posisi kita tertukar, Sayang!” ucap Arsene tiba-tiba.
“Maksud Abang?”
“Aku ngerasain apa yang dulu kamu rasain, dan sebaliknya. Buktinya aku sensi banget pas kamu gak perhatian sama aku!”
Zaara terkekeh-kekeh mendengar ucapan suaminya.
“Karma does exist, gitu ya?!” celetuk Zaara, membuat Arsene menyengir memperlihatkan giginya yang rapi.
“Maybe!”
“Emang bawaan aja itu mah! Yang penting aku seneng karena Abang ada di samping aku, meski mungkin nanti kalau aku ngerasa eneg atau datar sikap aku jangan baper ya? Itu bawaan dedek!” sergah Zaara mengingatkan suaminya kalau semua ini hanya perasaannya yang berlebihan. Zaara melingkarkan tangannya pada leher suaminya.
“Iya deh, Sayang!”
Arsene memeluk kembali istrinya dengan erat, mengecup dan menggulum bibir imut yang membuatnya terlupa sejenak akan waktu yang terus berputar. Betapa lega dan bahagia hatinya saat ini. Andai saja ada hujan yang bisa menerjemahkan perasaannya kali ini, mungkin langit akan menurunkan bunga-bunga yang wanginya tercium seantero dunia. Ia berharap semuanya akan indah pada waktunya.
Angin malam bertiup lembut, membisikkan kalimat cinta pada telinga yang terpejam. Kabar bahagia telah datang menyambut dunia penuh suka cita. Bertadabur pada masa lalu membuat semuanya menjadi lebih baik dengan harapan baru yang lebih indah. Kisah cinta anak muda memang penuh tantangan. Liku dalam setiap sudutnya, sudah seharusnya mampu mengantarkan pada jalan keluar. Meski tidak mudah. Akan tetapi jika iman menuntun, tentu kunci itu akan bisa membuka hambatan setinggi apapun di depan mata.
\=\=\=\=\=\=
Terima kasih untuk semua pembacaku yang setia ngikutin dari Season 1 sampai Season 2 ini
You're the BEST <3
Terima kasih untuk LIKE, KOMENTAR dan VOTE kalian
You're so mean to me, I love you all
Ini episode terakhir dengan konflik dari Mahasiswaku Calon Suamiku season 2 :'(
Tapi jangan sedih dulu, karena masih ada bonus episode selama hari-hari kedepan yaa ^_^
Tungguin aja
Dan tunggu karyaku selanjutnya
Thank you so much
Jangan lupa kasih testimoni dan vote terbaik kalian di episode ini untuk dukung terus aku berkarya
I LOVE YOU <3
__ADS_1