Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 52


__ADS_3

Ferdian keluar dari kamar mandinya dengan perasaan yang agak tenang, setelah membasuh tubuhnya dengan air hangat. Ia masih mengenakan handuk yang terlilit di pinggangnya. Ia mencari sosok istrinya yang tidak berada di kamar, ia ingin memastikan istrinya itu baik-baik saja setelah perlakuan anehnya tadi.


"Sayang...," panggil Ferdian.


Namun tidak ada sahutan dari istrinya. Kemudian ia berjalan keluar kamarnya, mengedarkan pandangannya sekeliling luas apartemennya. Ajeng tidak ada di sana. Ferdian merasa gugup, apa Ajeng marah? Ia langsung mencarinya di kamar sebelah yang tidak terpakai.


"Sayang?!" teriak Ferdian membuka pintu kamar itu. Ajeng terlihat tengah sedang terbaring di atas kasur. Melihat suaminya yang terlihat panik, ia bangun dari pembaringannya.


"Kenapa?" tanya Ajeng terkejut.


"Kenapa kamu tidur di sini?" tanya Ferdian menghampirinya.


"Enggak kenapa-napa, aku cuma lagi merenung," jawab Ajeng jujur.


"Kamu enggak kerja?" tanya Ferdian melihat istrinya itu masih mengenakan jubah tidur yang menutupi kemolekan tubuhnya.


"Bentar lagi," jawabnya datar.


Ferdian merasa istrinya itu entah kecewa atau kesal mungkin gara-gara ulah dirinya tadi yang menghentikan 'kegiatan sakral' tiba-tiba saja. Ferdian mendudukan tubuhnya di samping istrinya yang menatapnya dengan pandangan datar, seperti bukan Ajengnya yang biasa.


"Maafin aku tadi ya, aku gak ada maksud buat nyakitin kamu! Aku hanya khawatir akan melukai anak kita! Aku takut!" ucap Ferdian tertunduk lesu.


Ajeng menatapnya lekat, ia menggenggam tangan suaminya.


"Aku ngerti kok, cuma aku ngerasa kamu agak sedikit aneh aja!" ucap Ajeng.


"Maksud kamu?"


"Gak tau, mungkin cuma perasaan aku aja. Aku lihat ekspresi kamu waktu aku bilang kalau aku mungkin hamil atau saat di dokter, kayak bukan kamu! Apa kamu gak suka kalau aku hamil?" tanya Ajeng masih menatapnya dalam-dalam.


Ferdian menelan air liurnya, jantungnya berdebar. Ajeng mungkin menyadari sikapnya yang sedikit berbeda.


"A...a..aku bukan gak suka!" ucap Ferdian terbata-bata. Ia menghela nafasnya.


"Terus?"


Ferdian menggenggam erat kedua tangan Ajeng.


"Aku butuh waktu untuk menyesuaikan diri, untuk menyiapkan diri. Aku sangat khawatir kalau aku melukai kamu!" jelas Ferdian dengan raut wajah yang risau.


"Kenapa kamu khawatir? Aku yakin kamu bisa menjadi ayah yang baik meski usia kamu masih muda! Aku juga yakin kalau kamu bisa jaga aku dan anak kita. Justru dengan sikap dan respon kamu yang seperti ini yang bisa melukai aku," ucap Ajeng dengan mata berkaca-kaca.


Ferdian menarik tubuh Ajeng ke dalam pelukannya dalam posisi duduk. Ia membelai lembut rambut istrinya.


"Aku mau ke Bunda!" ucap Ajeng lirih.


"Iya nanti aku antar," jawab Ferdian. Ia memang belum memberitahu berita kehamilan istrinya pada bundanya itu. Berbeda dengan mama mertuanya yang sudah tahu meski lewat telepon saja.


"Aku mandi dulu!" ucap Ajeng melepaskan tubuhnya dari pelukan suaminya. Raut wajah Ajeng belum berubah.


Ferdian hanya menghembuskan nafasnya kasar. Ia harus bisa segera mengatasi masalah yang ada dalam dirinya agar istrinya itu tidak kecewa lagi. Ia juga harus banyak belajar mengenai kehamilan seorang wanita. Kabarnya memang seorang ibu hamil akan lebih sensitif perasaannya. Ternyata memang benar seperti itu.


\=====


HarI Sabtu itu Ajeng dan Ferdian mengunjungi kediaman ayah dan bunda, seperti permintaan Ajeng saat itu. Ajeng sendiri sudah menyiapkan sebuah kado sebagai kejutan untuk mertuanya itu atas kehamilannya. Tentu ia berharap mertuanya, terutama Ayah Gunawan bisa segera sembuh dengan adanya kabar gembira ini. Terlebih lagi, anaknya akan menjadi cucu pertama dari Ayah Gunawan dan Bunda Bella.


Ferdian memarkirkan mobilnya di halaman rumah Keluarga Gunawan Winata yang cukup luas. Rumah bernuansa modern kontemporer terlihat megah dan elegan. Mereka pun turun dari mobil untuk masuk ke dalam.


"Assalamu'alaikum..." salam keduanya ketika memasuki rumah.


"Wa'alaikumsalam...," jawab Bunda yang mendorong kursi roda Ayah yang masih terduduk dengan strokenya.


Ajeng langsung menghampiri mertuanya itu dan mencium tangan mereka, diikuti oleh Ferdian di belakangnya.


"Bunda sehat?" tanya Ajeng yang mencium pipi kanan dan kiri mertuanya itu.


"Alhamdulillah, kamu gimana?"


"Alhamdulillah sehat juga, Bun!" jawab Ajeng sumringah.


"Gimana kabar kesehatan Ayah?" tanya Ajeng pada mertua perempuannya itu.


"Alhamdulillah ada kemajuan. Ayah udah bisa menggerak-gerakan tangan kanannya," jawab Bunda sambil melihat suaminya itu.

__ADS_1


Ferdian memeluk tubuh ayahnya dengan tubuh bergetar karena menahan tangisnya. Namun ayahnya hanya bisa mengangguk saja juga sambil bercucuran air mata. Bunda hanya tersenyum haru melihat pemandangan putera dan suaminya.


"Yuk kita ke ruang tengah!" ajak Bunda.


Ferdian yang kali ini mendorong kursi roda ayahnya.


Bunda, Ajeng, dan Ferdian duduk di sofa.


"Kalian gak liburan?" tanya wanita berusia sekitar 50-an itu. Namun wajah cantiknya masih tetap terpancar.


"Ini lagi liburan kesini, Bun!" jawab Ferdian.


"Maksudnya gak kemana gitu, siapa tau mau liburan singkat keluar kota?"


"Capek, Bun! Ajeng dan aku banyak tugas!" jelas Ferdian.


Bunda Ferdian hanya mengangguk saja mengingat status anak dan menantunya itu sama-sama sibuk dengan profesi masing-masing.


"Oh iya, kemaren kakak kamu kesini, dia titip sesuatu buat Ajeng!" ucap Bunda.


"Siapa? Kak Resha?" tanya Ferdian menebak kakak perempuannya itu yang memberi istrinya sesuatu.


"Iya," jawab Bunda.


"Tumben banget Kak Resha datang, biasanya dia paling sibuk tuh di Jakarta!"


"Sekarang kan udah berbagi tugas sama suaminya, Bang Leo udah mau ambil alih tugas Resha di perusahaan pangan,"


"Oohh, baguslah kalau gitu! Emang Kak Resha titip apa, Bun?"


"Gak tau tuh, soalnya dikotak gitu!"


Ajeng diam saja mendengarkan percakapan antara suami dan bunda mertuanya itu. Sebenarnya ia juga sudah memberitahu kakak iparnya itu tentang kehamilannya. Begitu juga dengan Kak Tania, kakak ipar Ferdian, yang ditemuinya pada saat acara keluarga Winata. Namun ia meminta kepada mereka untuk merahasiakan hal itu dari ayah dan bunda. Ferdian sendiri tidak tahu kalau Ajeng sudah menginfokan kehamilannya kepada kakaknya itu.


"Bun, ini Ajeng mau kasih sesuatu untuk Ayah dan Bunda!" ucap Ajeng pelan, ia mengeluarkan sebuah kotak sebesar ponselnya berwarna maroon dari tas gandengnya.


"Apa itu?" tanya Bunda terkejut dan langsung mengambil kotak yang disodorkan Ajeng.


Ajeng dan Ferdian bertatapan saling tersenyum.


"Ini benaran?" tanyanya menutup mulutnya karena tidak percaya.


"Iya Bun, Ajeng hamil!" ucap Ajeng tersenyum.


"MasyaAllah, alhamdulillah!" ucapnya berkaca-kaca, langsung ia merangkul menantunya itu. Hatinya merasa takjub dan luar biasa bahagia. Begitu juga dengan Ayah Gunawan yang hanya bisa mendengar percakapan mereka. Ia menangis terharu, sesekali bibirnya tampak ingin memaksakan senyumannya. Ia tampak menggerak-gerakan tangannya yang langsung disambut oleh genggaman Ferdian.


Ferdian menatap ayahnya penuh haru. Ia pasti sangat bahagia mengetahui dirinya akan segera memiliki cucu yang selama ini selalu dinantikan dari ketiga anaknya. Namun tak disangka, justru Ferdian, anak bungsunya ini yang mendapat rezeki lebih dahulu.


"Bukannya kalian berencana untuk menunda?" tanya Bunda masih tidak percaya.


"Ajeng lupa minum pil KBnya, Bun!" jawab Ferdian.


"Itulah rezeki, Nak! Kalau Allah berencana kasih, kalian gak bisa menolaknya!" ucap Bunda memandang teduh kepada Ajeng.


"Iya betul, Bun!" ucap Ferdian menunduk.


"Kamu harus kuat, Nak! Kamu pasti siap menjadi ayah! Bunda yakin!" ucap Bunda mengusap punggung anak lelakinya.


Ajeng menatap keduanya. Ada pertanyaan menggelayuti pikirannya.


\=====


Siang itu selepas menyantap hidangan makan siang yang sudah disiapkan oleh asisten rumah tangga, Bunda mengajak Ajeng berjalan menuju halaman belakang rumahnya. Halaman belakang rumah milik ayah dan bunda Ferdian memang tidak terlalu luas. Namun terlihat desain taman rumah ini seperti desain-desain taman di rumah-rumah besar di Jepang. Ada parit kecil yang terhubung dengan kolam yang lebih besar, dimana ikan-ikan koi berkumpul. Batu-batu kali putih dan rumput Jepang mendominasi. Ada juga sebuah lampu taman yang terbuat dari batu. Tanaman bonsai cemara udang terlihat cantik di pojokan taman.


Bunda dan Ajeng duduk di kursi taman yang menghadap kolam. Sepertinya bunda ingin memberitahu sesuatu.


"Jeng..." panggil Bunda.


"Iya, Bun!"


"Gimana ekspresi Ferdian ketika tahu kamu hamil?" tanya Bunda sambil memberi makan ikan-ikan.


Ajeng merasa heran kenapa mertuanya itu menanyakan hal itu.

__ADS_1


"Harus jujur ya, Bun?" pertanyaan konyol yang meluncur begitu saja. Bunda terkekeh.


"Tentu saja!"


"Aku merasa, kalau Ferdian sedang menahan sesuatu. Dia tidak terlihat senang, tapi kecewa juga tidak. Ada yang aneh dari ekspresinya, Bun!" jawab Ajeng memperhatikan mertuanya itu.


Bunda memandangi Ajeng.


"Ada yang harus Bunda sampaikan. Kamu harus tahu hal ini!" ucap Bunda membuat Ajeng jadi merasa gugup.


Bunda menghela nafasnya.


"Saat itu, Ferdian masih berusia 5 atau 6 tahun kalau tidak salah. Ia sedang bermain softball bersama ayah dan kakak-kakaknya. Ia memang sangat senang berolahraga. Pada saat itu, ia juga sangat menggemari permainan softball. Meski tubuhnya masih kecil, ia sanggup membawa tongkat softball dan memukul bola dengan sangat kencang," cerita Bunda.


Ajeng tampak sangat memperhatikan cerita bunda.


"Saat itu juga sebenarnya, dia akan memiliki seorang adik," lanjut Bunda.


"Adik? Ferdian punya adik?" tanya Ajeng terheran-heran.


"Iya, seharusnya. Namun, saat permainan itu terjadi kecelakaan. Ferdian bersemangat sekali memukul bola sampai akhirnya bola itu mengenai perut bunda yang sedang mengandung adiknya," cerita Bunda terhenti.


Ajeng terkaget-kaget.


"Mungkin ini bagian dari takdir Allah. Bunda keguguran saat itu juga, di usia kehamilan 7 bulan. Dengan kondisi bunda yang sebenarnya tidak lagi muda, dan kehamilan yang penuh resiko, bunda mengalami pendarahan hebat. Ini tentu kejadian yang mengerikan bagi Ferdian. Padahal dia sudah sangat mengharapkan kehadiran adiknya. Kami tidak pernah sama sekali menyalahkan Ferdian atas kejadian ini. Namun ia begitu kecewa dan terus menyalahkan dirinya sendiri. Ia mengalami trauma berat pada saat itu, sehingga ia menjalani sesi psikoterapi."


"Hampir 10 tahun lamanya ia melakukan psikoterapi. Ia kerap sering bermimpi buruk karena melihat darah, atau didatangi seseorang yang mengaku adiknya. Tapi alhamdulillah, Bunda bersyukur Ferdian bisa melewati masa-masa terberat baginya," terang Bunda. Ia mengambil nafas panjang.


"Ajeng..., Bunda harap kamu bisa mengerti Ferdian! Bunda yakin Ferdian bisa lebih kuat dan siap menghadapi kehamilan kamu! Hanya saja mungkin ia butuh penyesuaian, butuh lebih banyak waktu. Bunda juga yakin, kamu wanita yang kuat! Jika ada apa-apa dengan Ferdian, tolong hubungi Bunda!" pinta Bunda, matanya berkaca-kaca.


Nafas Ajeng terasa sesak mendengar cerita bunda. Ia tidak menyangka suaminya itu memiliki trauma berat di masa lalu. Apalagi traumanya berkaitan dengan kehamilan.


"Tapi kamu jangan terlalu memikirkan hal ini ya? Pikirkan sesuatu yang positif, biar anak kamu bisa tumbuh dengan sehat! Bunda hanya ingin memberitahu jika saja Ferdian bersikap tak acuh, atau seolah-olah menghindari kamu, jangan terlalu pedulikan. Mungkin ia memang sedang mempersiapkan diri," imbuh Bunda.


Ajeng memejamkan mata dan mengangguk. Ia mengerti. Ferdian begitu mencintainya jadi mungkin suaminya itu khawatir jika dia bisa melukainya, seperti yang diucapkannya pada saat itu.


"Iya Bunda, Ajeng ngerti kok! Semoga aja Ferdian bisa menaklukan rasa takutnya!" ucap Ajeng bergetar.


"Bunda akan selalu mendoakan kalian semua!" ucap Bunda memeluk Ajeng, memberikan kekuatan seorang ibu untuk anaknya.


\=====


Tak terasa matahari sudah berada di ujung langit. Bunda dan ayah mengantarkan anak dan menantunya itu sampai teras depan yang kembali ke kediaman mereka. Ajeng membawa sebuah kotak sedang yang didapatnya dari Kak Resha.


"Fey..." tiba-tiba ayahnya Ferdian memanggil namanya.


Padahal selama ini wajah yang terkena strokenya itu sudah terlalu sulit untuk mengucap sesuatu. Inilah kali pertama ia mengucap kata setelah sekian lama menderita stroke. Ferdian terkejut dan langsung menghampiri ayahnya lagi,


Tangannya itu bergerak-gerak berusaha menyentuh kepala Ferdian. Ferdian menunduk dan merengkuh tubuh ayahnya.


"a..mu, a.a.us, u..at" ucapnya lagi terbata-bata.


Ferdian tak bisa lagi menahan tangisnya. Ia mengerti benar apa yang diucapkan oleh ayahnya itu.


"Ferdian akan berusaha kuat, Yah!" ujar Ferdian bergetaran dengan air mata yang terus bertumpah di pipinya.


Ajeng dan Bunda pun ikut mengucurkan air mata penuh haru.


Ferdian semakin membulatkan dan menguatkan tekadnya. Demi istri dan kesembuhan ayahnya, ia harus berusaha kuat mengalahkan rasa takutnya di masa lalu.


\=====


Bisa kah Ferdian mengalahkan traumanya?


VOTE VOTE VOTE


LIKE LIKE LIKE


COMMENT COMMENT COMMENT


Thank youuu ^^


 

__ADS_1


 


__ADS_2