
“Apa maksud lo, Nin?!” bentak Arsene yang sudah habis kesabarannya mendengar apa yang terjadi.
“Arief itu anak yatim piatu. Keluarga pamannya gak peduli sama dia, kayanya gak ada yang bikin laporan kehilangan. Mungkin dia masih ada di gudang olahraga sampai sekarang,” jawab Anin bergetar.
“Astaghfirullahaldziim!”
Arsene langsung memakai helmnya, memacu kembali motornya ke sekolah. Ia tidak menyangka ternyata ada dua korban penyekapan yang dilakukan oleh Anin dkk. Mereka semua gila, apa yang membuat mereka berlaku kejam di usia mereka yang masih muda? Ia tidak habis pikir kejahatan dilakukan oleh para remaja ini.
Dengan langkah berlari, ia masuk kembali ke dalam sekolah. Arsene meminta satpam untuk menolongnya mencari keberadaan Arief, siswa kelas XII IPA 1, yang tidak dikenalnya. Suasana sekolah sudah sepi. Rainer masih memegang bola basketnya di bawah langit kelabu keoranyean. Ia memandang heran pada abangnya yang berlari menuju belakang masjid bersama seorang satpam, sehingga membuatnya kakinya tertarik mengikuti mereka.
Nafas Arsene terengah-engah setelah menemukan sebuah bangunan kecil di belakang gudang kesenian. Bangunan itu lebih kecil ukurannya, dengan sebuah pintu kayu yang tergembok dari luar. Tidak ada jendela besar di sana, melainkan hanya ventilasi udara saja. Jantung Arsene berpacu kencang, dengan pikiran negatif yang menyelimuti benaknya. Selalu ada cahaya dalam kegelapan, sekecil apapun itu. Jika Anin benar bahwa Arief masih ada di dalam ruangan ini, semoga saja pria itu masih selamat setelah seharian lebih berada di sini.
Rainer menghampiri abangnya dengan penasaran.
“Rain, panggil guru yang masih ada di sekolah!” ucap abangnya itu panik.
“Ada apa?” tanyanya cemas.
“Panggil aja, suruh ke sini! Darurat! Cepetan!” seru Arsene dengan nafas memburu.
Rainer pun berlari menuju ruangan guru, berharap masih ada guru yang belum pulang sore itu.
Sementara itu, pak satpam menggunakan kekuatan kakinya untuk mendobrak pintu kayu yang sudah tidak kokoh itu. Sudah dua kali tendangan, tetapi kaitan gembok belum saja terbuka. Lelaki paruh baya itu mencoba lagi, kini dengan kekuatan yang lebih besar. BRAK.
Pintu itu terbuka. Seorang pria dengan seragam sekolah dan tasnya tergolek tidak berdaya di atas sebuah karpet merah tipis yang terlihat lecek. Pak Satpam langsung masuk ke ruangan yang penuh dengan debu itu. Begitu pula dengan Arsene, lalu meraba kulitnya, merasakan apakah nadi siswa itu masih berdenyut atau tidak. Ia merasakan denyut nadi di leher siswa itu. Dengan segera, Arsene mengambil ponselnya dan menghubungi nomor darurat untuk memanggil ambulans.
Pak Satpam mengeluarkan anak itu dari ruangan yang pekat dengan debu itu, karena ruangan itu sudah lama tidak terpakai. Lelaki paruh baya itu meletakan tubuh Arief yang tidak sadar di atas ubin teras masjid. Siswa-siswa rohis yang masih berada di sana melihatnya tidak percaya, karena salah satu teman mereka menjadi korban perundungan.
“Siapa yang tahu wali siswa ini?” tanya Arsene dengan nafas yang tersengal-sengal setelah berpacu dengan waktu berusaha menyelamatkan Arief.
“Saya!” seorang siswa tinggi berjanggut tipis menghampiri.
__ADS_1
“Siapa nama kamu?”
“Wildan, saya teman sebangku Arief!”
“Bisa tolong kamu hubungi keluarganya sekarang? Kalau bisa langsung saja jemput!” ucap Arsene masih berusaha menenangkan dirinya.
“Baik, saya akan segera ke rumah keluarganya!” ucap Wildan.
Namun sebelum Wildan pergi, Arsene menceritakan kejadian sebenarnya, agar keluarga Arief mengerti dan peduli, jika saja perkataan Anin benar. Kasihan sekali jika siswa menderita itu justru diabaikan oleh keluarganya sendiri.
Rainer mendapati abangnya berpeluh keringat dengan wajah kusut dan rambut yang berantakan, ketika ia membawa seorang guru lelaki dari bagian konseling. Seragamnya tidak lagi rapi, karena Arsene telah membuka sweater hoodienya. Beberapa siswa mengerumuni Arsene dan Pak Satpam yang sedang menunggu kedatangan ambulans. Tiba-tiba suara sirine itu terdengar sayup.
Pak guru terkejut melihat kerumunan siswa di depan masjid, begitu pula dengan suara sirine ambulans yang semakin dekat.
“Ada apa ini?” tanya pak guru bernama Imam itu, melihat kerumunan siswa.
“Maaf Pak, saya jelaskan nanti! Bisa Bapak ikut juga ke rumah sakit?” pinta Arsene.
Beberapa petugas medis datang dan membawa sebuah tandu berwarna merah. Mereka mengangkat tubuh Arief dan menggotongnya menuju mobil ambulans untuk kemudian dicek kondisinya serta diberikan penanganan pertama.
Arsene bergegas mengambil motornya. Ia dan Rainer mengikuti ambulans itu sampai rumah sakit untuk mengetahui kondisi Arief. Sementara itu Pak Imam sudah berada di dalam ambulans untuk mendampingi salah satu muridnya. Arief langsung dibawa ke instalasi darurat. Siswa itu sudah diberikan bantuan pernafasan selama perjalanan ke rumah sakit.
Pak Imam dan Arsene duduk di ruang tunggu.
“Apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Pak Imam.
“Arief menjadi korban perundungan lainnya, Pak!” jawab Arsene.
“Setelah Zaara?”
“Iya, Pak! Saya sudah mendapatkan pelakunya, dan salah satu dari pelaku pembullyan ini menceritakan kalau ternyata korban tidak hanya Zaara.”
__ADS_1
“Astaghfirullahaladzim!”
Arsene mengeluarkan ponselnya, lalu memperdengarkan isi percakapannya dengan Anin tadi. Pak Imam tidak percaya bahwa murid di sekolahnya melakukan kejahatan ini semua. Ia berjanji akan segera memproses dan menindaklanjuti kasus yang bukan main-main ini.
“Apa Bapak bisa pastikan kalau kepala sekolah kita menindak para pelaku? Menurut saya kejahatan ini sudah wajib untuk dilaporkan ke polisi,” ujar Arsene.
“Kamu benar, kasus ini sudah keterlaluan. Kita wajib melaporkannya kepada pihak yang berwenang,” ucap Pak Imam.
“Sekalipun itu mencoreng nama baik sekolah?” tanya Arsene.
“Ya, keadilan harus ditegakkan dimanapun berada!”
“Saya serahkan kepada Bapak, saya harap sekolah kita benar-benar memperhatikan siswanya. Saya bersedia menjadi saksi.”
Langit sudah gelap karena matahari telah lenyap di ujung barat. Adzan maghrib sudah berkumandang terdengar sayup-sayup terbawa angin.
Arsene pamitan dari sana, karena merasa tubuhnya terlalu letih untuk duduk. Keluarga Arief sudah datang dan terlihat mereka cukup khawatir memikirkan kondisi Arief yang belum tersadar. Arsene menyerahkan semuanya pada Pak Imam agar segera pihak sekolah melaporkan semua kejadian ini pada pihak yang berwenang. Ia sendiri sudah mengantongi bukti percakapan antara dirinya dan Anin, yang mungkin bisa menguatkan bukti para pelaku, meskipun Astria, Samsul, dan Bobby, masih dalam tahap pengincaran.
Arsene memutuskan untuk pulang dan beristirahat. Sejak malam ia tidak bisa beristirahat dengan benar karena memikirkan Zaara, tubuhnya terasa lemas lebih-lebih batinnya. Ia meminta Rainer untuk memboncengnya karena merasa sudah tidak sanggup untuk membawa motornya lagi.
Akan tetapi belum juga menaiki motor, tubuhnya sudah ambruk di atas paving block halaman parkir rumah sakit. Pria remaja itu pingsan tak sadarkan diri.
\=====
Duh kasian Arsene :(
Bersambung….
Like dan commentnya dong
Vote juga yaa
__ADS_1
makasiiih