
Sore itu Ferdian dan keluarga kecilnya kembali ke apartemen setelah mengunjungi kediaman orangtuanya. Sepanjang perjalanan, pikiran Ferdian tampak tidak fokus. Bahkan hampir saja ia menerobos lampu merah jika saja Ajeng tidak mengingatkannya. Ajeng menatap heran pada suaminya yang sedikit lebih pendiam. Ia berasumsi ada pembicaraan antara suaminya dengan ayahnya itu tadi siang. Tetapi ia akan membiarkannya sampai Ferdian mengatakan sendiri padanya nanti.
Arsene tertidur pulas setibanya di apartemen. Ferdian yang menggendongnya langsung menaruhnya di atas ranjang kecilnya yang empuk. Ia menaruh beberapa guling di setiap sisinya. Ferdian membelai kepala bayinya yang kali ini rambutnya sudah tumbuh lebih banyak. Ia mengecupnya dengan lembut, wangi tubuhnya membuat hati daddy-nya itu tenang. Ia menatapnya lekat, lalu tersenyum. Entah apa yang dia pikirkan, rasanya akan sulit jika ia benar-benar meninggalkannya suatu saat nanti.
Ferdian melepas kemeja abu yang dipakainya. Lalu duduk di atas kasur sambil menunduk. Otot tubuh dan tangannya mulai terbentuk karena beberapa bulan ini ia sudah sering berlatih mengangkat beban di sebuah gym yang ada di apartemennya. Ajeng menatap suaminya yang sedang menunduk itu. Wanita itu berlutut di hadapannya, lalu mendekap pipi suaminya.
"Kalau ada yang mau diceritain, aku siap denger ya Sayang!" ucap Ajeng tersenyum.
Ferdian langsung merangkul tubuh istrinya yang tidak pernah berubah ukurannya. Wanita itu memang sangat pandai menjaga berat badan idealnya, sehingga tetap ramping meski sudah melahirkan Arsene.
Ferdian mendekap erat istrinya ke dalam pelukannya. Ajeng membalas pelukan suaminya yang sedang tidak memakai atasan itu, tubuhnya tetap wangi meski hari sudah senja. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada suaminya hingga terlihat sedih dan sendu seperti ini. Ferdian menatap wajah istrinya yang terlihat bertanya-tanya. Ia memperhatikan satu-satu mulai dari bola matanya dengan warna iris yang coklat, hidung mungilnya yang lancip, dan bibir merahnya yang kecil namun berisi. Ia menciumnya lekat, lagi dan lagi. Sehingga akhirnya waktu terasa berhenti dalam balutan hangatnya cinta pada senja hari itu.
Malam itu, Ferdian belum mau berbicara sepatah kata pun perihal yang terjadi tadi siang. Ia lebih memilih untuk memejamkan matanya, meski pikirannya sama sekali belum tertidur. Ajeng membiarkannya dan tidak memaksanya untuk bercerita. Ia tahu seorang laki-laki itu tidak seperti perempuan yang akan berbicara apapun jika memiliki masalah. Laki-laki akan lebih memilih berdiam diri sambil berpikir. Ia mengira Ferdian akan menceritakan semuanya setelah mereka bercinta tadi, tetapi ternyata tidak. Sepertinya Ferdian masih membutuhkan waktu untuk berpikir.
\=\=\=\=\=
Hari Minggu itu seperti biasanya, Ferdian dan Ajeng akan membawa jalan-jalan Arsene ke taman di sekitar apartemennya. Karena tamannya luas, jadi mereka tidak perlu pergi jauh-jauh. Arsene duduk di dalam stroller sambil membawa boneka teddy bear kecil kesukaannya. Daddy mendorong strollernya sambil mengelilingi jogging track yang tersedia. Rumput-rumput hijau telah lebih rapi terlihat, sepertinya baru saja dipotong karena wanginya masih terasa. Bunga-bunga bermekaran di sudut-sudut taman. Ada juga sebuah kolam yang berisi ikan-ikan koi yang besar dan berbagai corak menempel di tubuhnya.
Ferdian menggendong Arsene untuk melihat ikan-ikan itu, ia duduk di sebuah batu kali besar yang menjadi dekorasi di sekitar kolam yang ukurannya tidak terlalu besar. Arsene tampak antusias melihat ikan-ikan yang berenang kesana-kemari saling mengejar satu sama lain, atau kadang mereka juga berkumpul ketika Ajeng melemparkan remah biskuit milik Arsene. Arsene tertawa bahagia sampai air liurnya kadang menetes.
"Ada yang mau aku bicarakan sama kamu, Sayang!" ucap Ferdian.
Ajeng mendudukan tubuhnya di atas batu besar lainnya. Ia menatap serius wajah suaminya.
"Aku siap dengarkan!" jawab Ajeng.
Ferdian pun menceritakan perihal yang ayah sampaikan padanya, sampai permasalahan abangnya pun ia juga ceritakan pada istrinya itu agar bisa memahami kondisi yang sedang terjadi saat ini. Hati Ajeng berdebaran mendengar cerita suaminya, bahkan ia tak sanggup menatap mata suaminya. Mata Ajeng berkedip-kedip untuk menghilangkan air mata yang sebenarnya sudah mulai berkumpul di sana, agar tidak menetes mengaliri pipinya.
"Menurut kamu gimana?" tanya Ferdian menutup ceritanya. Pria itu tertunduk lemas.
Ajeng tertegun terdiam. Ia menahan nafasnya. Hatinya berusaha tegar dan akalnya berusaha ia sadarkan agar tak mengikuti perasaan terdalamnya.
"Cuma enam bulan aja kan, gak lebih?" tanya Ajeng memastikan, matanya berkaca-kaca.
"Kata ayah iya cuma enam bulan aja," jawab Ferdian.
Ajeng menundukan kepalanya. Air matanya menetes, menembus kain celananya. Lalu ia menengadahkan wajahnya ke langit berusaha untuk menahan air matanya agar tidak menetes lagi. Perasaan Ferdian bergetar ketika melihat istrinya itu.
"Oke, kamu boleh pergi!" jawab wanita itu kemudian, meskipun nadanya terdengar ragu-ragu. Ia mengusap pipinya yang basah.
"Tapi dengan syarat!" ucapnya lagi.
"Apa itu?" tanya Ferdian.
"Kamu harus menghubungi kita setiap hari. Video call, telepon, chat, atau apapun itu!"
Ferdian tersenyum lega. "Aku janji!"
Ajeng memeluk suaminya yang masih menggendong Arsene di atas pangkuannya, "Aku gak bisa bayangin rasanya hidup jauh dari kamu, Sayang!" ucapnya lirih dan bergetar.
"Sama aku juga! Aku gak tau rasanya kamu dan Arsene berada jauh dari aku!" ucap Ferdian bergetar.
Arsene menatap heran pada kedua orangtuanya yang sama-sama sedang menangis. Ia jadi ikut menangis.
"Acen jangan ikut nangis sayang! Daddy pergi masih lama kok! Kamu harus bisa jalan dulu sebelum daddy pergi ya?" ucap Ferdian, ia menggendong anaknya agar tenang dan menepuk-nepuk punggungnya.
Ajeng memberikan boneka teddy bear-nya, seketika bayi itu langsung menghentikan tangisannya dan mengambil boneka itu.
"Jalan yuk, biar gak sedih!" ajak Ferdian, ia merangkul pinggang istrinya.
"Kemana?"
"Kemana aja yang kamu suka!"
Ajeng tersenyum. Mereka kembali ke apartemen untuk bersiap-siap. Sungguh pagi yang penuh haru.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Hari reuni SMA Garda Bangsa angkatan 2013 akhirnya telah tiba hari ini. Acara yang diselenggarakan secara mandiri ini memang tidak dicampurtangani oleh pihak sekolah, hanya para alumni saja yang mengadakannya. Reuni itu diadakan di sebuah ballroom hotel populer berbintang lima. Maklum lulusan Garda Bangsa adalah anak-anak dari para pengusaha sukses.
Ferdian telah mengenakan sebuah kemeja navy yang dipadupadankan dengan jas maroonnya, ia juga mengenakan celana jeans dan sepatu sneakers denimnya. Rambut depannya sedikit menggunakan hair spray milik istrinya agar tidak terlihat lepek. Memang dibuat dengan kesan berantakan, tetapi membuatnya sangat keren.
Sementara Ajeng memilih setelan blouse broken white pendek dengan panjang bawah asimetris antara depan dan belakangnya. Kerah yang bermodel stand away, membuat tulang selangkanya sedikit terlihat. Rok A-line selutut berwarna senada membuatnya terlihat imut. Rambutnya sengaja ia ikat dengan model ponytail, sehingga ia lebih tampak seperti seorang mahasiswa semester akhir. Olesan lipmatte living coral membuat wajahnya lebih cerah dan segar.
Arsene tidak ikut ke acara reuni ini, karena acaranya malam dan khawatir bayi itu akan rewel jika mengantuk. Jadi ia akan bersama Bi Asih saja di dalam apartemen. Ajeng memintanya agar menghubunginya jikalau anaknya itu tidak bisa tidur. Ajeng dan Ferdian pun berangkat menuju pusat kota Bandung.
Keduanya turun di basemen hotel tersebut ketika sebelumnya sudah menanyakan tentang reuni angkatan 2013 SMA Garda Bangsa di tempat ini. Mereka pun menuju lantai paling atas dari hotel tersebut di lantai 20 dimana ballroom berada. Ada sebuah standing banner di sana. Ajeng sengaja tak menggandeng suaminya, ia ingin tahu seberapa populer suaminya itu di acara hari ini. Mereka memasuki lift. Ferdian menyuruh istrinya tetap bersamanya di sampingnya, namun Ajeng malah melangkah jauh seolah-olah mereka memang tidak bersama.
Bersamaan dengan itu beberapa wanita yang mengenakan gaun terusan selutut masuk juga ke dalam lift. Wajah mereka tampak cantik dengan riasan wajah tebal, wangi aneka parfum memenuhi kotak besi itu dari dalam. Ajeng berjalan menuju sudut lift, ketika mereka mulai berbincang sambil tertawa.
"Ferdian kan?" tanya seorang wanita dengan rambut gelung yang mengenakan dress coklat tua. Glitter terlihat berkilauan dari tubuh dan bajunya. Ajeng memperhatikan suaminya yang berdiri jauh darinya karena terhalang oleh tubuh-tubuh wanita tadi.
Ferdian tersenyum kecil terlihat kaku.
"Kamu kuliah dimana Fer?" tanya gadis di sebelahnya, yang rambutnya tergerai. Wajahnya pun tak kalah tebal riasannya, apalagi bagian bibirnya yang merah menyala.
"Universitas Mentari," jawab Ferdian singkat.
"Oooh...bareng sama si Lily dong ya? Cuma dia di Fakultas Kedokteran, kamu jurusan apa?" tanya wanita yang rambutnya tergerai lagi.
"Sastra Inggris!"
Wanita-wanita itu meng-ooh-kan saja.
Pintu lift pun terbuka, dan mereka semua melangkahkan kaki di lantai itu.
"Kita duluan ya, Fer! See you!" ucap wanita yang mengenakan dress coklat.
Ferdian hanya tersenyum.
Sejurus kemudian, Ferdian menarik lengan istrinya.
"Kenapa sih jauh-jauh dari aku?" tanyanya.
"Gak kenapa-napa," jawab Ajeng. "Sayang, aku mau ke toilet dulu dong!"
"Gak usah, kamu tunggu di sini aja!" ucap Ajeng, ia melihat-lihat sekitar, ternyata toilet tidak berada jauh darinya.
"Tuh deket kan?!" ucap Ajeng menunjuk papan toilet.
"Ya udah!"
Ajeng pun berlari kecil menuju toilet. Sementara Ferdian berdiri di sana seorang diri. Beberapa orang keluar dari lift yang terbuka. Ada beberapa laki-laki dan perempuan dari sana yang asyik tertawa-tawa.
"Oy, Ferdian?!" sapa seorang laki-laki tinggi berbadan tegap. Ferdian yang melihat jam tangannya, menoleh.
"Steve?! Apa kabar?!" ucap Ferdian menepuk lengan kawannya dan berjabat tangan. Itu adalah Steve, salah satu kawan sekelasnya pada saat kelas tiga.
"Gue baik, Fer!" ucapnya menjabat tangan Ferdian keras.
"Ferdian, what's up man! Lo kemana aja gak pernah ada kabar?" kali ini sapaan datang dari pria bertubuh tinggi agak berisi, namanya Vino.
"Hey No!" balas Ferdian.
"Fer, kamu tuh paling dikangenin lho sama semua!" ucap Natasya yang datang berbarengan dengan Steve dan Vino.
Ferdian tertawa. "Masa sih? Gue kan jutek!" ucapnya.
"Eh iya tau, kan tampang kamu yang bikin kangen!" ujar Natasya lagi.
Ferdian menggeleng-geleng saja.
"Jutek, ngeselin, tapi tetep aja banyak yang mau!" timpal Steve.
"Aneh ya, gue yang ramah aja, gak banyak yang kangen!" seru Vino.
__ADS_1
"Itu karena wajah lo butek!" pungkas Steve.
"Eh lo ya!" Vino memukul lengan kawannya.
"Ayo masuk ah!" ajak Natasya menarik lengan Steve, tidak sabar.
"Yuk Fer!"
"Gue lagi nunggu seseorang!" ucap Ferdian tersenyum.
"Nungguin siapa lo? Ferdian si pangeran tampan udah gak jomblo lagi kayanya?" ujar Vino.
Ferdian terkekeh geli. Julukan itu memang untuknya semasa SMA, Pangeran Tampan Jomblo. Jadi wajar, selama julukan itu tersemat untuknya, banyak wanita yang mengincar dan memburunya untuk jadi kekasih hatinya. Namun ternyata tidak ada sama sekali, karena Ferdian memang tidak suka melakukan aktivitas yang menurutnya membuang waktu saja.
"Nungguin siapa sih? Rachel ya?" tebak Steve.
Ferdian mengangkat alisnya. Mendengar nama yang dulu akrab di telinganya otomatis ia terkejut. Kawan-kawannya itu tertawa-tawa.
"Rachel bakal dateng kok, tenang aja! Rachel sengaja dateng dari Jakarta buat ketemu lo, katanya!" Natasya menimpali.
"Apa sih? Siapa juga yang deket sama dia. Dia aja yang sok deket sama gue!" terang Ferdian.
"Ah kalian dulu kan emang deket. Siapa tau sekarang kalian bisa jadian ya kan?" ucap Vino pada kawan-kawannya.
Ferdian menggeleng-geleng.
"Rachel udah makin mantap sekarang, body bohay, otak encer, wajah cling-cling. Katanya dia bakal jadi pengacara," terang Steve.
"Oh ya?!"
"Eh lihat aja nanti, lo pasti tergila-gila. Dulu lo bisa nolak, tapi kayanya sekarang bakal susah!"
Ferdian tertawa-tawa. Ia melihat jam tangannya, kenapa istrinya itu belum keluar juga dari toilet.
Pintu lift pun terbuka lagi, mengantarkan wanita bergaun hitam dengan list emas. Gaunnya begitu pas dengan tubuhnya yang berbentuk seperti gitar Spanyol versi ramping. Bahu putihnya terekspos karena lengannya bermodel sabrina. Rambut gelombangnya meliuk-liuk ketika berjalan. Ketiga pria yang berbincang di lorong lebar itu pun menoleh.
"Gila, panjang umur! Yang diomongin langsung datang aja!" ucap Vino.
"Sumpah si Rachel beda banget!" seru Steve berbinar.
Ferdian menatapnya datar saja. Bahkan wajah perempuan itu kalah cantik terlalu jauh beratus-ratus kilometer jaraknya dari wajah istrinya.
Wangi parfum menyengat tercium ketika wanita itu melewati mereka.
"Rachel!" panggil Steve.
Wanita itu menoleh. Tiba-tiba mematung ketika melihat wajah Ferdian di sana. Ia tidak sadar ketika berjalan tadi.
"Hai! Maaf aku gak ngeh kalau kalian teman-teman sekelasku," ucapnya. Ia pun menghampiri ketiga pria itu. Lalu memandang Ferdian sambil tersenyum.
"Hai Ferdian, udah lama ya gak bersapa!" ucapnya sambil memainkan rambut bergelombangnya.
Ferdian menyengir saja.
"Ayo ah kita ke dalam, bentar lagi dimulai nih!" ajak Vino mendorong tubuh Ferdian.
"Eh, eh..."
Rachel pun menggandeng dengan sedikit menarik paksa lengan Ferdian, "Kita duduk satu meja ya?"
\=\=\=\=\=
Nah lhoo
Ramaikan kolom komentarnya dong :D
Like dan Vote juga biar makin seru, haha
__ADS_1
Follow ig @aeriichoi ya
atau gabung grup chat author nih yang mau seru-seruan 😊