Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Extra Story - Ferdian's Family


__ADS_3

Asap putih mengepul ke udara. Sementara aroma rempah dan daging tercium, memancing perut berkonser ria dengan latar musik decisan dari daging mentah yang bersentuhan dengan pinggan panas. Daging merah itu mengkerut seiring level kematangan yang terus meningkat, membuatnya menjadi warna kecokelatan.


Pria tinggi yang mengenakan kaos hitam itu membalikkan daging sapinya. Ia bukan seorang koki profesional, bukan juga seorang juru masak handal. Hanya seorang suami dan ayah yang sedang menghabiskan waktu bersama keluarga tercinta. Masak adalah salah satu dari sekian hobinya yang paling disukai.


Dua anak laki-laki berusia 7 tahun dan 4 tahun berlari riang dengan pistol airnya, meski salah satunya harus melompat-lompat susah payah ketika berlari. Tawa gembira muncul dari dua wajah putih oriental yang bibit tampannya sudah terlihat sangat jelas. Basah kuyup baju kaos yang mereka kenakan. Keduanya saling mengejar dengan semprotan air yang tidak ada hentinya, kecuali habis dan mereka akan segera mengisi ulang.


SROOOOT.


“Abaaaang!” Ferdian menoleh pada salah satu anaknya. Baju hitam miliknya basah di bagian belakang.


“Itu kerjaan Rain, Dad!” sangkal Arsene.


Kini Ferdian beralih pada anaknya yang kecil, tetapi bukan paling kecil. Karena Rain kecil sudah memiliki adik baru tahun ini.


“Rainer?!” Ferdian menatap anaknya yang memiliki wajah yang sangat mirip ibunya.


Rainer tertawa-tawa dengan gigi kecilnya.


“Yes, baju Daddy basah!” ucap Rainer berlari-lari kecil.


“Abang, bawa Rain ke sana ya? Kalian main di sana. Daddy harus selesaikan daging steak ini sebelum mommy kalian bangun.”


“Daddy butuh bantuanku?” tanya Arsene. Bocah itu memang sudah jago memasak. Bahkan steak buatannya di sekolah mendapat penilaian bagus dari para guru koki yang mengajarnya.


“Yes. Tapi kamu harus ajak main Rain di sana!”


SROOOOT.


Lagi-lagi Ferdian terkena semprotan pistol Rainer, yang memang sengaja mengarahkan air itu pada dada ayahnya. Ferdian hanya berdecak, mengusap wajahnya yang terkena air dan melanjutkan memasak steaknya.


Rainer tertawa lepas lagi melihat ayahnya yang pasrah saja. Arsene menyengir.


“Let’s go, Rain! Kamu jangan ganggu Daddy! Daddy mau kasih hadiah buat mommy,” Arsene menarik lengan adiknya dan membawanya bermain ke taman yang lebih luas.


“Mana hadiahku?” tanya Rainer kecil pada kakaknya.


“Nanti Abang bikinkan cupcake, do you want it?”


“Yes, I want a big huuuuge cupcake, with many blueberries on top!” ucapnya riang.


“Okay! Let’s play again!”


Ferdian tersenyum melihat kedua anaknya yang kembali bermain. Arsene benar-benar bisa diandalkan sebagai seorang kakak. Rainer yang sedikit jahil memang mesti selalu diawasi. Ferdian memperhatikan bajunya.


“Ayo lanjutkan!” ujarnya pada diri sendiri.


Ferdian berencana membuat kejutan untuk istrinya, Ajeng, yang sedang kelelahan mengurus Kirei, anak ketiga mereka yang masih berusia 10 bulan. Apalagi semalam, Ajeng bergadang, karena Kirei mengalami demam. Jadi, Ferdian menyiapkan menu makan pagi istimewa hari ini.


Pria itu menaruh daging yang sudah matang ke atas pinggan porselen dan menaruhnya di sisi kompor. Semua side dish dan saus sudah siap. Ajeng belum juga bangun, jadi ia akan memastikannya. Ferdian mendatangi kamar tidurnya.


Dilihatnya wajah kelelahan yang tampak berantakan itu. Kancing baju bagian atasnya terbuka, memperlihatkan belahan dadanya yang tidak pada tempatnya. Rambut panjangnya kusut dan kacau. Sementara di sebelahnya sudah tertidur lelap bayi perempuan gemuk putih yang menggemaskan dengan posisi tidur menghadap ibunya.


Ferdian menghampiri tubuh istrinya. Ia mengaitkan kancing baju istrinya yang terbuka. Dikecupnya wajah yang selalu membuatnya terpesona. Ia tersenyum. Bersyukur memiliki wanita ini sebagai pendampingnya, memberikan anak-anak lucu yang menemani hidupnya kini.


“Emmh ….” Ajeng mendesah kecil, ketika merasakan kecupan kecil di pipinya.


“Maaf, aku bangunin kamu ya?”


Ajeng bangkit dari tidurnya seraya merapikan rambutnya.


“Gak apa-apa kok Sayang!” ucapnya parau.


“Kamu harus sarapan dulu. Yuk! Udah siap kok!” ucap Ferdian membantu merapikan rambut istrinya.


“Kamu siapin sarapan?” Ajeng cukup terkejut.


Ferdian mengangguk.


“Makasih Sayang, you’re so sweet!” Ajeng merangkul tubuh suaminya.


“Yuk keburu dingin dagingnya!”


“Eh kenapa baju kamu basah?” tanya Ajeng selepas menempel di dada suaminya.


“Iya tadi Rain semprot aku pake pistol airnya.”


“Ya Allah. Ganti bajunya, Sayang! Nanti masuk angin ih!”


“Oke deh!”


Ferdian melepas kaosnya yang basah dan memberikannya pada Ajeng. Ia mengambil kaos baru untuk dikenakannya lagi. Keduanya berjalan menuju ruang makan di rumah mereka di Singapura.


Rain yang dikejar terus oleh Arsene merangkul paha ibunya.


“Ayo makan dulu! Abang bantu Daddy ya?” pinta Ajeng.


“Yes, Mom!” Arsene berhenti mengejar adiknya dan beralih mengambil piring untuk makan mereka. Arsene memang anak yang penurut.


Sementara Ajeng menggendong Rainer.


“Kamu jahilin Daddy ya?” Ajeng mencolek hidung anaknya.


Lagi-lagi Rain hanya menyengir.


Ferdian menaruh daging steak yang sudah ia panaskan kembali sebentar, sementara Arsene menata piring-piring itu di atas meja. Mereka berempat makan di sana.


“Ayo berdoa sebelum makan, Abang Acen pimpin doa ya?” ujar Ferdian.


Dengan wajah berbinar Arsene memimpin doa sebelum menyantap sarapan yang terlihat istimewa itu.


Suasana hangat dan menyenangkan membalut pagi itu.

__ADS_1


“Gimana rasa steaknya?” Ferdian bertanya pada anggota keluarganya.


“Deliciousooo!” ucap Ajeng, Arsene, dan Rain kompak. Ferdian tersenyum lebar menatap satu persatu anggota keluarganya.


“Aku mau jadi koki yang lebih hebat dari Daddy!” ucap Arsene bersemangat.


“You already did that, Sweetheart!” ucap ibunya.


“But I want more!”


“Sure, kamu pasti bakal lebih hebat dari Daddy!” sahut Ferdian.


Arsene kecil melebarkan senyumannya.


“Kalau Rain mau jadi apa udah besar?” tanya Ajeng.


“Jadi Daddy!” jawab bocah itu polos.


Mereka tertawa-tawa jadinya.


\======


Ajeng menidurkan Rainer siang itu selagi ia juga menyusui Kirei. Arsene datang menghampirinya di kamar tidur.


“Mommy!” ucapnya.


“Kenapa Sayang?”


Arsene duduk di samping Ajeng. Bocah itu ikut berbaring di sebelah adiknya.


“Kamu mau tidur siang?”


Arsene menggeleng.


“Kaki kamu masih sakit?” tanya Ajeng.


“Sedikit. Sampai kapan aku harus terapi?” tanya Arsene.


“Sebentar lagi pasti sembuh. Sabar ya, Sayang!”


Arsene mengangguk.


“Setelah kamu sehat, kita bakal pulang lagi ke Indonesia,” ucap Ajeng.


“Apakah di Indonesia akan menyenangkan?”


“Mommy selalu merasa bahagia tinggal di sana, karena Mommy selalu dikelilingi orang yang Mommy cintai.”


“Jadi, kita bisa bahagia jika dikelilingi orang yang kita cintai?” tanya Arsene.


“Yup.”


Arsene terdiam.


“Siapa teman Mommy?”


“Ada Tante Karin dan Tante Sita, ada juga teman lainnya. Tante Karin itu baik banget, orangnya bijak. Kalau kita bertemu dengannya, mungkin kamu akan memiliki seorang teman yang cantik.”


“Apa dia baik Mom? Apa dia tidak akan mengataiku si pincang?”


“Tentu saja. Kamu akan sudah sembuh ketika bertemu dengannya nanti.”


“Siapa namanya?”


“Zaara Haniya. Namanya cantik sekali kan?”


Arsene hanya terdiam. Hanya saja nama itu sudah terukir dalam hatinya saat itu. Berharap suatu hari mereka bertemu dan membuktikan kalau gadis itu cantik dan baik seperti yang dikatakan ibunya.


“Abang tidur sini ya, jaga adik-adik kamu!” pinta Ajeng menaruh Kirei di tempat tidur bayinya.


“Yes Mom!”


Tidak butuh waktu lama, bocah itu sudah terlelap. Ajeng mengecup dua putranya di sana dan berjalan keluar dari kamarnya.


Mencari sosok suaminya, Ajeng berjalan menuju ruang tengah. Ferdian tertidur di atas sofa dengan kakinya yang panjang terangkat di atas dudukan sofa. Wanita itu merapikan rambutnya dan berlutut di samping tubuh suaminya.


Diperhatikan wajah suaminya yang tidak pernah berubah selama mereka bertemu. Ferdian tetaplah menjadi pria yang kurus dengan rahang wajah lebar dan dagunya yang lancip. Meski kini bagian leher dan bahunya semakin lebar karena Ferdian sering berlatih. Hidung tajamnya selalu menjadi pesona. Mata sipitnya yang teduh ketika dipandang. Ajeng bersyukur telah mencintai mahasiswanya yang tampan ini.


Dikecupnya pipi tirus itu. Ternyata membuat pria itu membuka matanya.


“Kamu gak tidur siang?” tanya Ferdian beranjak dari tidurnya.


“Enggak!”


Ferdian menarik tangan istrinya dan menyuruhnya duduk di sampingnya. Pria itu kembali merebahkan tubuhnya dengan merangkul erat pinggang istrinya.


 


 


“Masih ngantuk, Sayang?” tanya Ajeng mengelus rambut tebal Ferdian.


“Mmhh ….”


“Padahal aku mau ajak kamu main!”


Ferdian langsung beranjak tegak mendengar ucapan Ajeng. Meski tatapannya sayu karena mengantuk, ia menatap teduh istrinya.


“Main apa?” tanyanya.


Ajeng terkekeh-kekeh melihat tingkah suaminya.

__ADS_1


“Main apa aja boleh. Anak-anak udah pada tidur tuh!” ucap Ajeng.


Ferdian membuka lebar matanya, lalu beranjak berdiri.


“Mau kemana?” tanya Ajeng.


“Ah gak jadi deh. Di sini aja!” ucap pria tinggi itu.


“Emang mau kemana?”


“Enggak, hehe!”


Ferdian menyelipkan anak rambut istrinya di telinga dan memainkan ujungnya.


“Kenapa ya kamu gak pernah berubah?” tanya Ferdian tiba-tiba.


“Apa yang gak pernah berubah?”


“Wajah kamu, selalu cantik di mata aku!” ucapnya tanpa ekspresi.


Ajeng tersipu merona.


“Padahal usia kamu lebih tua dari aku. Aku malah ngerasa kamu lebih awet muda.”


“Alhamdulillah. Berarti kita masih bisa kelihatan kaya mahasiswa lagi pacaran ya?”


“Mmh….”


Ferdian mendekatkan wajahnya pada Ajeng dan meraup bibirnya lembut.


“Bibir kamu juga, tetep manis!” ucap Ferdian lagi.


“Ah, gombal kamu!”


“Gombalan aku tuh jujur, Sayang!”


“Iya aku percaya deh!”


Ferdian mendekatkan wajahnya lagi. Kini ciuman itu berlangsung lebih lama dan lebih syahdu. Mendesak udara untuk segera keluar, tetapi keduanya menahannya lebih lama demi waktu yang berharga. Ferdian baru akan melepas tautan bibirnya.


“Mommy!” sontak suara Arsene membuyarkan suasana romantis di sana.


“Abang?!”


Ferdian menggeram kecil. Menjauhkan jarak wajah dari istrinya.


“Kenapa gak tidur?” tanya Mommy menatap anak sulungnya yang terlihat sayu.


“Aku mau tidur di kamar aku!”


“Ooh ….”


Arsene berjalan menuju kamarnya sendiri, lalu menutup pintunya.


“Sampai mana tadi?” tanya Ferdian memainkan jarinya di wajah istrinya.


“Mmhh ….”


Ferdian kembali mendekatkan wajahnya. CEKLEK.


Arsene kembali keluar dari kamar.


“Mau apa, Sayang?” tanya Ajeng.


“Aku mau ambil air minum!”


Ferdian mengacak-acak rambutnya sendiri. Tak lama Arsene kembali ke kamar.


“Apa kita gak ada kamar lain yang lebih private gitu?” protes Ferdian.


“Di kamar kita ada Rain.”


“Aku harus bikin kamar banyak di rumah nanti. Biar anak punya kamar masing-masing.”


Ajeng tertawa-tawa melihat Ferdian yang merasa kesal sendiri. Perempuan itu menarik kembali tubuh suaminya, menautkan kembali bibir mereka.


“Aku ingin pulang ke Indonesia,” ucap Ajeng.


“Sabar, Sayang! Kita tunggu Abang sembuh!”


Ajeng mengangguk. Berat rindu yang ia tabung untuk keluarganya di Indonesia. Akan tetapi, ia harus lebih kuat untuk Arsene dan anak-anaknya.


“Nanti kita liburan ke sana ya?”


Ajeng mengangguk. Ferdian menggendongnya ke ruang kerjanya dan mendudukkannya di atas mejanya.


“Eh kamu mau apa kesini?” tanya Ajeng terkejut.


“Mau booking kamu. Seharian sama anak-anak terus, aku jealous tau!” ucapnya dengan mata sayu.


Ajeng terkekeh.


“Aku juga butuh kamu!” lanjutnya lagi.


Pria itu meneruskan aksi tertundanya sejak tadi. Meskipun tidak terlalu leluasa, setidaknya ia mendapatkan apa yang diinginkannya.


\======


Ceritanya aku lagi kangen mereka, jadi bikinlah ini, hihi


Extra Story ini adalah masa-masa mereka waktu tinggal di Singapore ya

__ADS_1


Jangan lupa like dan commentnya ^_^


__ADS_2