Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 59. Seminar


__ADS_3

Sabtu yang cerah. Langit pagi biru nan jernih tanpa awan. Pepohonan menyambut sukacita dengan kesegaran pucuk kecil dedaunan yang tumbuh dalam setiap ujungnya, menandakan semangat baru untuk terus bertumbuh. Meski akhir pekan, manusia pun sudah seharusnya bertumbuh setiap hari, menjadikan hari ini lebih baik daripada kemarin. Arsene sebenarnya bisa saja berleha-leha di rumahnya atau melayani pelanggan di tokonya, tetapi pemuda gesit itu tidak memilih hal itu hari ini. Ia sudah memiliki janji dengan kedua sohibnya, Adit dan Angga, untuk menghadiri seminar pra nikah yang sudah didaftar oleh mereka beberapa hari yang lalu. Ia selalu berpikir bahwa akan ada ilmu baru dari setiap tempat atau acara yang ia hadiri. Pemuda itu memang berjiwa semangat, apalagi ia sudah memutuskan terkait pilihan hidupnya yang kemarin sempat membuat pikirannya galau. Hatinya sudah mantap.


Suasana Kota Bandung di akhir pekan memang sangat sibuk. Bukan oleh orang-orang yang bekerja atau siswa yang bersekolah, melainkan orang-orang yang akan berlibur dan membeli oleh-oleh atau produk-produk yang tersedia di kota Paris Van Java itu. Pukul 8 lewat Arsene sudah berangkat, mengingat acara seminar itu akan diadakan pada pukul 9 tepat pada sebuah gedung serbaguna yang berada di pinggir jalan, tidak jauh dari komplek kampusnya.


Dua pintu terpisah disediakan oleh panitia, satu untuk ikhwan dan satu untuk akhwat. Arsene berjalan menuju pintu ikhwan setelah sekilas memperhatikan para akhwat yang tengah measang sebuah pita warna hijau di kerudung mereka, beberapa lagi berwarna biru dan merah. Sesekali mereka mencuri pandang pada keberadaan pria yang mengenakan setelan kemeja krem dengan t-shirt putih dan celana berbahan kanvas berwarna cokelat tua. Arsene menunduk saja setelah itu. Ia berjalan menuju meja pendaftaran yang disambut oleh dua orang panitia ikhwan dengan ramah.


“Assalamu’alaikum. Dengan Akhi siapa ini? Sudah mendaftar sebelumnya kan?” tanya seorang panitia ikhwan yang mengenakan kacamata.


“Wa’alaikumsalam. Saya Arsene, sudah mendaftar hari Selasa kemarin!” jawab Arsene tersenyum ramah.


Panitia mengecek daftar para peserta yang sudah tercatat, nama Arsene tercantum di sana.


“Apa Akhi sedang mencari jodoh? Atau sudah siap menikah? Atau masih ingin mencari ilmu?” tanya panitia yang tubuhnya lebih tinggi daripada yang berkacamata tadi.


Arsene cukup terkejut, ia tidak menyangka sama sekali.


“Saya sudah siap menikah, Kang!” jawabnya terlalu polos.


“Ah, begitu, apa CV-nya di bawa?” tanya pria tinggi itu.


“Enggak Kang!”


“Oh ya sudah gak apa.”


Panitia memberikan sebuah pita berwarna merah padanya, beserta sekotak makanan ringan juga sebuah buku catatan padanya sebagai souvenir. Panitia menyuruh Arsene agar memasang pita itu di sisi lengan kemejanya bagian kanan.


Arsene mengucap terima kasih dan panitia mempersilakannya untuk memasuki aula. Ruangan yang cukup luas itu masih terlihat sepi, meski sudah ada beberapa peserta di dalamnya. Kursi ikhwan dan akhwat dipisah meski tidak tersekat tirai, karena para pengisi materi akan duduk dalam satu panggung yang sama.


Arsene memilih sebuah kursi di paling depan agar mudah untuk menyimak. Sudah ada beberapa ikhwan di sana, ia duduk di samping seorang pemuda yang terlihat mapan dari wajah dan gesturnya. Janggut berhias di bawah dagunya.


“Saya duduk di sini ya, Kang!” ucap Arsene sopan pada pria tegap itu.


“Mangga!” ucapnya, suaranya berat. “Siapa nama Akhi?” tanya pria itu mengulurkan tangannya.


“Arsene, Kang!” jawab Arsene menjabat tangannya.


“Fadhli.” Pria itu ternyata memiliki pita yang berwarna merah juga pada sisi bajunya.


“Masih muda, masih kuliah ya?” tebak Fadhli.

__ADS_1


“Iya Kang!” jawab Arsene mengangguk.


“Semester berapa?”


“Semester satu.”


Fadhli cukup terkejut mendapati jawaban Arsene. Apalagi melihat tanda pita merah di sisi lengannya. Ia takjub pada pemuda di sampingnya itu.


“Wah, kamu udah siap nikah?” tanyanya tidak percaya.


“Insya Allah, Kang!” Arsene terlihat tersipu-sipu, meskipun begitu Fadhli tetap menghormati pria muda ini dengan tidak berpikir yang aneh-aneh tentangnya.


“Akangnya juga udah siap? Apa masih kuliah juga?” tanya Arsene canggung. Padahal kalau dilihat dari fisik Fadhli, dia terlihat sudah sangat matang untuk menikah.


“Insya Allah, masih melayakan diri. Saya mahasiswa S2 dan sambil kerja juga jadi dosen.”


Arsene terkesima.


“Dosen apa, Kang?”


“Dosen Ilmu Pemerintahan.” Pria itu tersenyum kecil, wajahnya yang putih terlihat tampan dan dewasa, sepertinya bakal banyak yang akan terpikat.


Para peserta lain berdatangan baik dari pintu akhwat maupun pintu ikhwan. Begitu juga dengan Adit dan Angga, keduanya mengenakan pita hijau, pertanda kalau kedatangan mereka untuk mencari ilmu. Arsene sendiri masih bingung dengan pita-pita yang terpasang. Ada lagi pita warna biru, yang menandakan sedang mencari jodoh. Meski ia sendiri tidak tahu apa perbedaan antara pita biru dan merah, apakah dilihat dari kesiapan niatnya? Arsene hanya akan fokus menyimak acara.


“Bismillahirrahmanirrahim. Masya Allah, Alhamdulillah, di sini saya akan berbagi ilmu dengan para peserta yang luar biasa berseri-seri. Wah, kebanyakan pada pakai pita biru ya? Ini lagi pada cari jodoh?”


Para peserta tertawa tersipu mendengar pertanyaan ustadz yang berbadan ramping itu.


“Ada juga yang pakai pita merah, alhamdulillah, berarti sudah pada siap nikah ya?! Nah, sebelum membahas terkait nikah, mungkin baiknya kita paparkan dahulu fakta-fakta yang melanda para pemuda pemudi Indonesia. Cinta adalah sesuatu yang fitrah, Allah menciptakannya dan menanam itu pada setiap manusia. Namun sayangnya, virus merah jambu ini tidak terkendali di dunia modern yang menghalalkan kebebasan, termasuk negeri ini yang padahal mayoritas Muslim, yang sebenarnya punya aturan untuk mengendalikan si virus merah jambu ini.” Ustadz Yusuf menerangkan materinya dengan bahasa yang mudah dimengerti, Arsene menyimaknya dengan baik.


“Dalam laporan KPAI dari sebuah survei yang dilakukannya di 12 kota besar di Indonesia, dari 4500 remaja yang disurvei mengaku 97% pernah menonton film porno. Kemudian 93,7% remaja mengaku pernah berciuman dan bercumbu berat. Bukan hanya itu, 62,7% remaja SMP mengaku sudah tidak perawan. Bahkan 21, % remaja SMA pernah melakukan aborsi*. Subhanallah, naudzubillah! Itu sudah beberapa tahun lewat, bagaimana dengan kondisi sekarang? Bisa tebak?!”


“Bisa jadi bertambah? Bisa! Karena sistem pergaulan membebaskan para remaja dan juga manusia lainnya berbuat sesuka hati mereka. Istilahnya adalah permisivisme yaitu budaya serba boleh. Ada juga yang namanya hedonisme, yaitu budaya yang mencari kebahagian sepuas-puasnya sehingga memungkinkan melabrak aturan yang ada. Apakah Muslim diperbolehkan menganut hal itu?”


“Tidaaaak!” jawab para peserta.


“Tidak! Allah punya aturan bagi setiap Muslim, jika melanggar, siap-siap saja dosa dan siksa di neraka akan menunggu. Jika saja aturan ini diterapkan pada sebuah negeri, tidak ada lagi yang namanya pergaulan bebas, pacaran yang mengantarkan pada zina, atau berganti-ganti pasangan atau suka sesama jenis, aborsi atau pernikahan yang tidak dipersiapkan. Allah telah melarang untuk mendekati zina, berikhtilat atau bercampur baur dan juga berkhalwat atau berdua-duaan saja dengan lawan jenis. Juga bagi laki-laki untuk menundukkan pandangan, bagi perempuan menjaga auratnya mengenakan jilbab dan khimar. Maka Allah mengatur masalah si virus jambu ini dengan sebuah ikatan yang suci dan halal, bernama pernikahan. Masya Allah.”


Ustadz Yusuf menghela nafas sebelum akan melanjutkan kembali materinya.

__ADS_1


“Tadi, cinta adalah fitrah, maka Allah punya aturannya yaitu pernikahan. Dalam pernikahan semua yang dilarang menjadi halal dan berpahala. Nikmatnya. Hanya saja pernikahan yang mengantarkan pada keluarga impian yang sakinah, mawaddah, wa rohmah ini ternyata tidak mudah. Pernikahan yang baik harus diawali sesuatu yang baik. Niatnya lurus karena Allah, mencari jodoh pun yang sholeh dan sholeha. Ilmu dan iman dipersiapkan dengan baik, begitu juga masalah maisyah alias nafkah ini pun mesti dipersiapkan. Mau makan cinta aja? Mana kenyang perutnya?! Iya gak?! Bahan makanan emang bisa dibayar pake cinta di pasar? Mana bisaaa!”


Para peserta tertawa-tawa saja mendengar penjelasan renyah Ustadz Yusuf.


“Terus kalau jodohnya belum ketemu tapi keinginannya sudah ada gimana? Ya terus melayakkan diri, semakin dekat sama Allah biar makin didekatkan jodohnya. Ibadah, akhlak, dan pemahaman agamanya diperbaiki dan ditingkatkan. Jangan lupa ikhtiarnya digencarkan, juga doanya ditinggikan, insya Allah, Allah akan memberikan kemudahan. Alhamdulillah.”


Ustadz Yusuf menutup materi penyampaiannya dengan salam. Para peserta memberinya apresiasi luar biasa terhadap penjelasannya.


Kali ini moderator memberikan kesempatan pada pemateri berikutnya yang adalah pasangan selebriti instagram domisili Bandung. Pasangan tersebut cukup mendapat banyak perhatian setelah hijrah wanitanya sebelum menikah, yang akhirnya mengantarkan jodohnya pada lelaki shaleh. Mereka menyampaikan terkait keharmonisan rumah tangga, komunikasi efektif antara suami dan istri, serta peran-peran suami dan istri yang merunut pada sunnah Rasulullah saw., pada sesi penyampaian materi kedua ini. Para peserta sesekali terlihat berseri-seri mendengar pengalaman sepasang suami istri itu.


\=\=\=\=\=\=


Acara seminar itu telah berakhir siang sebelum dzuhur tiba. Banyak ilmu baru yang Arsene dapatkan, khususnya mengenai kehidupan setelah menikah. Ujian pernikahan akan selalu datang di awal, dan ini harus disiapkan oleh siapapun yang sudah bersedia siap menikah. Keimanan akan membantu mereka melewatinya atau menyerah dengan keadaan, sesuai dengan kadar keimanan masing-masing. Oleh karena itu, bekal menuju menikah haruslah dipersiapkan dengan baik.


Arsene, Adit, dan Angga berjalan menuju keluar gedung setelah acara selesai. Para panitia mengantar para peserta pulang dengan memberikan sertifikat acara tersebut. Tiba-tiba Arsene dikejutkan dengan kehadiran Zaara di sana bersama teman-teman masjidnya. Gadis itu mengenakan pita merah di samping kerudungnya. Keduanya saling kontak mata karena keberadaan mereka tidak terlalu jauh, bahkan dibilang cukup dekat sampai-sampai Arsene bisa mendengar suara khasnya yang cukup cempreng itu.


“Akhi Arsene ya?” tanya panitia ikhwan berkacamata.


“Iya, ada apa Kang?” tanya Arsene terkejut.


“Ini ada titipan dari seorang akhwat!” ucapnya sambil menyodorkan sebuah map biru tipis pada Arsene.


“Apa ini?” tanya Arsene tidak berani membuka isi map yang terlilit tali tersebut.


“Itu CV taaruf dari salah seorang peserta di sini. Tadi akhwatnya titip ke saya untuk diberikan ke Akhi. Silakan dipelajari dulu dan kalau cocok silakan langsung mengontak akhwatnya. Nomornya sudah tertera di sana, katanya!”


DEG. Arsene terperanjat.


Tanpa ia sadari, sorot mata tajam memandangnya penuh tanda tanya.


\=\=\=\=\=\=


Nah lho...


Bersambung dulu yaa


Sawer poin & koin jangan lupa yaa, hihihi


Like dan komen sih wajib

__ADS_1


Thank youu


*data survey di atas diambil dari republika.co.id, 09/19


__ADS_2