Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 55


__ADS_3

Serena yang sedang menundukan tubuh dan wajahnya, menatap sosok pemilik sepatu sneakers denim di hadapannya dari bawah sampai tepat ke wajahnya.


DEG.


Jantungnya meledak bukan main ketika wajah pria itu menatapnya. Apa pendengarannya tidak salah? Ferdian bilang sayang pada dirinya? batinnya. Baru saja ia hendak meluapkan kembang api berwarna-warni di jantungnya, dosen di sampingnya justru berdiri dan menggandeng lengan pria itu mesra.


JLEB.


"Ini suami saya!" ucap Ajeng berseri-seri, menggandeng lekat lengan Ferdian.


Ferdian yang berdiri, menatap Ajeng dan Serena bergantian, dengan penuh heran.


"Oo..o.o.oh, i...i..ya, Miss!" ucap Serena terbata-bata.


"Maaf Miss, saya duluan!" ucapnya lagi, kemudian beranjak dari tempat duduknya dan langsung berlari kencang.


Ferdian dan Ajeng menatap sosok Serena keheranan sampai sosoknya menghilang ditelan gedung perkuliahan.


Ferdian menatap Ajeng heran kali ini.


"Kenapa dia?" tanya Ferdian.


"Entah, dia cuma nanya siapa suami aku! Terus dia coba tebak tapi salah semua!" jawab Ajeng.


"Hmm....emang agak aneh ya cewek itu!"


"Kenapa aneh?"


"Kudet gitu deh, kurang update maksudnya!" ucap Ferdian tanpa beban.


"Tapi dia itu pinter lho, cuma kayanya sifat dia agak tertutup!" ujar Ajeng.


"Iya sih, dia juga bagus kalau ngedongeng pakai Bahasa Inggris!"


"Kamu kenal Serena?"


"Hmm...dikit! Dia kan gabung Taman Belajar Anak juga! Jadi aku sedikit tahu tentang dia," jawab Ferdian.


"Ooh..."


"Oh iya, dia juga pernah aku tolong waktu malam puncak ospek," ucap Ferdian tiba-tiba.


"Tolong apa emangnya kamu ke dia?" tanya Ajeng penasaran.


"Waktu itu dia kaya ketakutan gitu karena pulang malem, karena ada dua orang mahasiswa cowok yang entah berbuat apa sama dia. Ya udah aku anter aja ke kosannya," cerita Ferdian santai.


"Kok bisa? Kok kamu gak pernah cerita sama aku!" seru Ajeng nadanya terdengar kesal.


"Bukan kejadian penting sih, jadi aku biasa aja!"


"Terus kamu ngapain aja sama dia?"


"Anterin aja udah!"


"Naik motor? Malem-malem?!" Ajeng menaikan kedua alis matanya.


"Iya!"


"Kayanya ada yang kamu sembunyiin ya?" tanya Ajeng memicingkan matanya.


"Apa?"


"Iya kayanya ada sesuatu yang terjadi antara kamu sama dia, kan?"


Ferdian berusaha mengingat-ingat. Sesekali matanya melirik ke atas. Ah, ia ingat itu sekarang. Haruskah ia ceritakan pada Ajeng? Hebat benar insting istrinya itu.


"Hmm.....apa ya?"


"Ya udah aku pulang sendiri aja kalau kamu gak mau kasih tau!" ucap Ajeng melengos pergi dari Ferdian.


Ferdian menarik tangannya.


"Iya aku kasih tau, tapi jangan marah ya?"


Ajeng memicingkan matanya, kesal.


"Apa itu?"


"Janji gak akan marah?"


Ajeng mendelik kesal, "Iya!" jawabnya meski ia pastinya akan merasa kesal. Curiga suaminya itu melakukan hal-hal aneh.


Ferdian menghela nafas.


"Dia sempet peluk aku waktu di motor, tapi..." ungkap Ferdian ceritanya terputus.


"What?!" tatapannya tajam dengan kerutan di dahinya. Jelas Ajeng marah, lebih tepatnya merasa kesal.


Ajeng melenggang pergi meninggalkan pria itu. Ia berjalan dengan langkah cepat. Ferdian berlari segera menyusulnya.


"Sayang!" sergah Ferdian.


"Aku mau pulang aja sendiri!" ucap Ajeng, rasa cemburu menguasai dirinya. Entah kenapa ia merasa kesal sekali mendengar cerita Ferdian. Padahal ia saja belum pernah memeluk suaminya di motor, karena mereka berdua selalu menggunakan mobil ketika berpergian keluar.


"Ajeng!" teriak Ferdian, lagi-lagi ia menarik lengan wanita itu dan kini ia berhasil mendekap tubuhnya.


Jantung Ajeng berdebaran dikuasai emosinya. Ia sadar, ia tak seharusnya bersikap begini, tidak baik untuk kehamilannya. Hanya saja ia merasa kesal pada suaminya itu. Ferdian masih mendekap tubuhnya, tak peduli jika banyak pandang mata yang melihatnya sore ini.


"Kita pulang bareng ya, Sayang?" pinta Ferdian lembut.

__ADS_1


Ajeng tidak bergeming. Ia tahu, tidak mungkin Ferdian mengkhianatinya. Lagipula kejadian itu sudah lama, mungkin Ferdian tidak akan ada di sampingnya jika saja ia menaruh perhatian pada mahasiswi berkacamata itu.


"Ajeng sayang?" tanya Ferdian lagi, kali ia menatap wanitanya dalam.


"Lain kali kamu gak boleh bonceng cewek lain kecuali aku!" seru Ajeng membalas tatapan suaminya dengan tajam.


"Iya aku janji!" ucap Ferdian kembali mendekap tubuh istrinya lalu mengecup keningnya, dan hampir saja ia mencium bibirnya itu kalau Ajeng tidak menghalanginya dengan telapak tangannya.


"Ferdian!" seru Ajeng cemberut.


"Hmm..." Ferdian menatapnya teduh.


"Di rumah aja!"


Ferdian tertawa geli melihat tingkah istrinya yang dikuasai rasa cemburu. Ia merasa beruntung karena istrinya itu memang benar-benar cinta padanya. Ferdian menarik lengan Ajeng dan menaruh lengannya itu di pinggangnya. Sementara ia memeluk bahu Ajeng dan berjalan beriringan menuju parkiran mobil.


\=\=\=\=\=


Serena benar-benar merasa kalut setelah mengetahui kalau dosen favoritnya, Miss Ajeng, bersuamikan seorang Ferdian, pria yang selama ini menjadi pujaan hatinya, tepat ketika ia bertubrukan dengan pria tampan itu. Ia ingin menepis perasaan itu, tetapi tidak bisa. Bagaimana pun ia harus menerima kenyataan kalau ia tidak memiliki kesempatan sedikit pun untuk menitipkan hatinya untuk pria itu.


Serena berusaha menyeka air matanya. Ia tidak mau menangis untuk hal yang sia-sia. Lebih baik memang ia fokus saja untuk menjadi mahasiswa berprestasi daripada sibuk memikirkan orang lain yang belum tentu membalas perasaannya.


Langkah kaki gadis itu begitu cepat dengan wajah yang masih tertunduk, melewati ruangan per ruangan.


BRUK.


Tubuhnya terdorong keras sehingga ia terjatuh ke lantai. Kacamata miliknya terjatuh. Ia langsung mengambil kacamatanya yang ternyata retak. Ia tidak bisa memandang dengan jelas di bagian mata sebelah kanannya.


"Maaf gue gak sengaja!" ucap sebuah suara pria.


Serena berusaha menatap pria yang menabraknya itu namun tidak begitu jelas karena matanya yang minus 3 itu cukup terganggu karena ada retakan di kacamatanya.


Pria itu terkejut ketika melihat kaca mata mahasiswi yang ditubruknya ternyata retak.


"Maaf, gue bener gak sengaja! Gue akan ganti kacamata Lo yang rusak!" ucapnya lagi.


Serena berdiri dengan susah payah. Ia membersihkan roknya dari kotoran yang menempel di pakaiannya. Kali ini ia bisa sedikit melihat tampang wajah orang yang menabraknya tadi. Ia tahu pria itu adalah orang yang pernah bersama Ferdian pada waktu petang hari ketika ia meminta untuk menitipkan buku pada Ferdian.


"Gak apa-apa, Kak! Cuma retak dikit!" ucapnya.


"Nanti gue ganti! Lo mahasiswa angkatan baru kan? Siapa nama Lo?"


"Serena!"


"Oke, gue Syaiful! Boleh gue minta nomor Lo?"


Serena bergumam. Ia harus memanfaatkan kebaikan orang ini, daripada ia harus mengeluarkan uang lagi untuk membetulkan kacamatanya.


"Benaran mau ganti kacamata aku, Kak?"


"Iya, gue serius! Atau kita mau langsung pergi ke optik sekarang?" tawar Syaiful.


"Ya udah, yuk, gue anter sekarang!" ajak Syaiful.


Serena mengikuti pria kurus bertubuh tinggi itu menuju tempat parkiran motor. Langkahnya terasa kaku, mengingat ia baru pertama kali jalan bersama seorang pria asing di depannya ini.


Syaiful mengeluarkan kunci motornya dari dalam saku celananya. Ia kemudian melihat salah satu kawannya di sana.


"Lik, gue pinjem helm dong!" seru Syaiful pada Malik.


"Mau kemana Lo? Kan Lo punya," Malik malah balik bertanya.


"Ada lah," jawab Syaiful menghampiri kawannya itu.


"Ikut dulu lah ke asrama, gue ambil dulu di sana!" jawab Malik.


"Oke!"


Syaiful kembali menghampiri motor matic-nya. Ia mengenakan helm dan menyalakan mesin motornya.


"Yuk naik!" ajak Syaiful yang sudah mengenakan helmnya.


"Benaran gak apa-apa, Kak?" tanya Serena ragu-ragu.


"Iya. Lagian gue juga gak akan apa-apain Lo kok!" terang Syaiful menatap gadis yang ada di hadapannya itu.


Serena mendekati motor Syaiful dan menaikinya.


"Kita ke asrama bentar ya, mau pinjem helm dulu gue!"


Serena mengiyakan saja.


Malik yang melajukan motornya menatap heran pada gadis yang diboncengi Syaiful. Namun ia tidak terlalu peduli. Kedua motor itu melaju menuju asrama yang masih di dalam komplek kampus.


"Gue ke dalem bentar, Lo tunggu aja di sini!" seru Syaiful pada Serena di halaman parkir asrama. Pria itu langsung menuju kamar Malik untuk mengambil helm.


Tidak butuh waktu lama, Syaiful membawa sebuah helm standar dan ia langsung memberikannya pada gadis yang berdiri di samping motornya.


"Yuk!"


Keduanya pun pergi menuju salah satu optik terdekat yang ada di sekitaran kampus.


"Gak apa-apa nih nunggu satu mingguan lagi sampai kacamata Lo selesai?" tanya Syaiful setelah mereka selesai dari optik. Kedua mahasiswa itu sedang berada di sebuah rumah makan karena hari sudah lewat petang dan mereka sedang memesan makanan untuk dibawa pulang.


"Gak apa-apa, Kak! Lagian mau gimana lagi, aku juga gak punya kacamata cadangan," ucap Serena yang duduk di hadapan Syaifu.


"Sorry banget ya!" ucap Syaiful menyesal. Ia memang tidak sengaja karena dirinya baru saja keluar dari ruangan kelas dan menabrak tiba-tiba Serena yang berjalan dengan cepat.


"Aku yang harusnya berterima kasih banyak, Kak! Mungkin ini juga keteledoran aku karena tadi jalan terburu-buru," ujar Serena menunduk.

__ADS_1


"Ya udah, kita impas aja ya?"


Serena mengangguk dan tersenyum tipis.


Seorang pelayan memberikan dua kantong kresek berisi kwetiau goreng pada Syaiful. Dengan segera ia membayar pesanannya pada pelayan. Lalu memberikan satu kantongnya kepada Serena.


"Nih buat Lo!"


"Gak usah, Kak! Tadi aja Kakak udah bayarin perbaikan kacamata aku," sergah Serena.


"Gue maksa, sengaja beliin buat Lo!"


Dengan terpaksa, Serena menerima kantong berisi makanan itu. Lagi-lagi ia mengucapkan terima kasih pada kakak seniornya itu.


Setelah itu, Syaiful langsung mengantar gadis itu ke pondok asrama tempat tinggalnya.


"Makasih banyak ya, Kak Syaiful! Semoga kebaikan Kakak dibalas berlipat-lipat lagi," ujar Serena tulus.


"Iya, sama-sama!"


"Aku pamit pulang dulu!" ucap Serena.


"Hey, gue belum tau nomor Lo!" seru Syaiful ketika gadis itu hendak membalikan tubuhnya.


"Oh iya," Serena langsung memberitahu nomor ponselnya. Ia memberikannya karena memang nanti yang mengambil kacamatanya adalah pria itu.


"Hati-hati, Kak!" ucap Serena lembut.


Syaiful hanya menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya. Pria itu berlalu ditelan gelapnya malam.


\=\=\=\=\=


Ferdian menyandarkan tubuhnya di atas kasur. Tak lama berselang, Ajeng mengikutinya. Ajeng baru saja membuka buku tentang kehamilan, namun dengan cepat pria di sampingnya itu menutup paksa buku itu.


"Masih marah?" tanyanya melihat Ajeng yang hari ini terlihat kesal.


"Enggak!" jawab Ajeng datar.


"Bohong!"


"Kenapa emangnya kalau bohong?"


"Ketauan kalau kamu bohong, kamu masih ngerasa kesel kan?"


"Kalau iya, terus kamu mau ngapain?"


"Aku mau godain kamu terus, biar keselnya hilang,"


Ajeng menutup seluruh wajahnya dengan selimut. Ia tidak ingin memandangi suaminya. Ia memang masih merasa kesal, tetapi sudah lebih baik. Ferdian terkekeh melihat istrinya itu.


"Kamu lucu deh, kalau cemburu gitu!" ucap Ferdian mengintip wajah istrinya dari balik selimut.


Ajeng diam saja, dan cemberut di balik selimut.


"Apa aku harus bikin kamu cemburu terus ya?" goda Ferdian menjauhkan dirinya dari Ajeng.


Ajeng membuka selimutnya, dan langsung menimpuk tubuh suaminya itu dengan guling yang ada di sampingnya.


"Ampun, Beb!" teriak Ferdian.


"Beb. beb, bebek?!" seru Ajeng kesal.


"Waktu awal nikah, kamu yang sering buat aku cemburu. Nyadar gak?" tanya Ferdian mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri.


"Enggak tuh!" ucap Ajeng mendelik.


"Masa? Sampai aku mencret-mencret dibuatnya, gara-gara makan mie super pedas itu," cerita Ferdian mengingat tingkah bodohnya saat itu.


Ajeng tertawa-tawa saat mengingat kejadian bodoh itu. Begitu cintanya Ferdian sampai-sampai ia rela melakukan hal bodoh agar Ardi menjauh dari istrinya itu. Atau ponselnya yang rusak, karena cemburu melihat postingan foto Ardi dan Ajeng yang tengah berada di pantai berdua.


"Tapi aku kan gak sampai melakukan hal bodoh kaya kamu, Fer!"


"Ooh... jadi kayanya cinta kamu ke aku gak terlalu besar ya?" ucap Ferdian memicingkan matanya.


"Gak tau juga tuh!" ucap Ajeng datar.


"Ya udah, berarti emang aku harus sering-sering buat ulah, biar kamu cemburu terus, artinya cinta kamu akan makin besar buat aku," Ferdian lagi-lagi menggoda istrinya.


"Ya udah sana! Lakuin aja yang menurut kamu bisa bikin aku cemburu. Aku gak akan cemburu juga kok!" seru Ajeng mendeliknya kesal. Ia membenamkan tubuh dan wajahnya ke dalam selimutnya.


Ferdian tertawa-tawa. Ia berusaha menarik selimut dari tubuh istrinya. Saat berhasil, ia mendekatkan wajahnya.


"Yakin?" tanyanya, hidung keduanya saling menempel.


Ajeng semakin cemberut dibuatnya. Namun hal itu justru membuat Ferdian semakin gemas, membuatnya langsung saja melahap bibir kecil istrinya.


Anehnya, Ajeng bukannya menolak atau mengelak dari ciuman maut suaminya, justru ia sangat menikmati itu. Karena memang perasaannya tak akan pernah bisa berbohong apalagi diperlakukan lembut dan dibikin mabuk oleh cinta suaminya itu.


"Jadi, aku boleh jenguk dedek?" tanya Ferdian di sela waktu yang semakin hangat.


Ajeng menutup wajahnya dengan tangannya. Wanita itu merasa malu tersipu-sipu untuk menjawabnya. Namun, Ferdian tidak membutuhkan jawaban karena ia sudah tahu kalau istrinya pasti menyetujuinya.


"Pelan-pelan aja," ucap Ajeng lirih.


"Okay, I'll do it slowly!" ucap Ferdian lembut.


\=\=\=\=\=


Like, comment, dan vote nya yaa

__ADS_1


Makasiiiih sudah setia membaca


__ADS_2