Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 113


__ADS_3

Sinar mentari hangat menembus gorden tebal yang menjuntai dari ujung langit-langit ruangan hingga menyentuh lantai granit kamar asrama Ferdian. Pria itu mendudukan tubuhnya di atas sofa kecil sambil menghadap televisi yang menyala. Di tangan kirinya ada remote televisi, di tangan kanannya ia memegang sebuah piring ceper berisi roti sandwich berisi selai kacang dan strawberry.


Siang ini rencananya ia akan mengunjungi Islamic Center bersama Ridho, ia akan menghadiri kajian keislaman perdana di negeri Paman Sam ini. Jadwal kajian hari Minggu diadakan setiap sehabis sholat dzuhur. Jadi mereka berdua akan mengejar waktu agar bisa sholat berjama'ah di sana sebelum kajian dimulai.


Ponsel milik Ferdian berdering dari atas nakas di samping kasurnya. Pria yang sedang menikmati sarapan sederhananya, kemudian beranjak dari kursi lalu mengangkat teleponnya, tertera nama abangnya di sana. Ferdian jadi terkejut.


"Halo," sapanya.


"Hai Fer, gimana kabar kamu?" tanya suara berat di sana, terdengar rapuh.


"Aku baik, Bang! Abang gimana sekarang?"


"Abang juga baik," ucapnya, terdengar helaan nafas di sana.


"Aku udah denger kabar Abang. Aku jadi ikut sedih, gimana hubungan Abang sama Kak Tania?"


"Maafin Abang ya Fer! Mungkin ini hasil dari kesalahan Abang selama ini, jadinya karma ini muncul sebagai bentuk hukuman Tuhan buat Abang!" ucap Damian, terdengar benar-benar menyesal.


"Abang gak pernah salah apa-apa kok sama aku. Kalau Abang butuh teman cerita, aku bisa dengarkan," tawar Ferdian.


 


"Abang benar-benar gak nyangka Fer, Tania bakal percaya isu itu."


"Isu apa?"


"Isu kalau Abang ada main di belakang dia, dengan seorang rekan bisnis yang satu tahun ini kerja bareng dengan perusahaan kita."


"Jadi itu cuma isu?"


"Iya. Sebenarnya rumah tangga kita memang sudah rapuh. Ini semua murni kesalahan Abang yang terus-terusan bersikap dingin dan cuek sama Tania. Tapi Abang sama sekali gak ada maksud untuk mengkhianatinya. Abang sangat cinta Tania."


"Abang udah jelasin sama Kak Tania?"


"Dia gak pernah mau ketemu!"


"Gimana bisa kalian akur lagi kalau gak bisa saling menjelaskan?" tanya Ferdian benar-benar tidak mengerti keadaan yang terjadi pada kakaknya itu. Permasalahan ini hanya bisa selesai jika komunikasi mereka tersambung dan jika mereka saling memegang teguh kepercayaan di antara mereka masing-masing.


"Itulah masalah kami sekarang, dia sudah menggugat cerai dan tidak mau bertemu dengan Abang lagi! Abang benar-benar bingung, karena orangtuanya pun sekarang menghalangi. Hanya pengacaranya saja yang menemui Abang akhir-akhir ini untuk mengurus surat perceraian. Tapi Abang gak mau tanda tangan di sana."


"Astaghfirullah..., apa Kak Resha gak bisa bantu kalian?"


"Tania udah memblokir semua nomor kita, termasuk ayah, bunda, dan Resha, bahkan suaminya."


"Kalau nomorku?"


"Kamu coba saja dulu. Abang yakin dia sudah memblokir semuanya. Mungkin dia terlalu jenuh dengan pernikahan kami yang begini-begini saja, tanpa kehadiran anak, dan tanpa kehangatan yang ada. Mungkin Abang harus rela melepas dia," suaranya terdengar bergetar dan menyayat hati Ferdian.


"Abang jangan ngomong gitu dulu, Ferdian akan bantu sebisa mungkin! Aku mau tanya, apa yang Abang inginkan sekarang ini?" pungkas Ferdian, ia yakin pernikahan abangnya itu masih bisa di selamatkan.


Terdengar hembusan berat dari nafas Damian di seberang sana.


"Abang ingin Tania kembali, Fer!"


"Ya udah, kalau gitu yakinkan diri Abang untuk berubah. Persiapkan diri Abang untuk menyambut istri Abang dengan diri Abang yang lebih baik, yang bisa membuat kalian sama-sama bahagia. Minta bantuan sama Allah, dan aku juga bakal bantu Abang!"


"Gimana caranya Fer?"

__ADS_1


"Buat komitmen diri untuk berubah, dekati Allah, minta doa dari ayah dan bunda agar semuanya lancar."


Hening di sana. Damian tidak bersuara. Ia sedang berpikir dan merenungkan apa yang dikatakan adiknya itu.


"Baik, Fer! Abang akan coba."


Ferdian tersenyum mendengar jawaban abangnya itu, meski matanya sempat berkaca-kaca.


"Ferdian akan usahakan bantu kalian bertemu segera. Jadi Abang gak usah khawatir. Tapi Abang harus tetap kejar Kak Tania dimana pun. Perjuangkan dia kalau benar-benar mencintainya."


"Terima kasih Fer, Abang akan berusaha. Terima kasih karena nasihat kamu menguatkan Abang. Abang tak menyangka adikku ini benar-benar dewasa."


"Sudah seharusnya kita saling menguatkan, apalagi kita sudah sama-sama berumah tangga."


"Semoga keluarga kalian juga selalu bahagia, maafkan abang yang membuat kalian terpisah jauh."


"Gak apa-apa Bang, ini pilihan kami juga."


"Baiklah kalau begitu, Abang akan mengejar Tania lagi. Terima kasih banyak, Fer!"


"Sama-sama."


Sambungan telepon pun terputus. Ferdian mengusap wajahnya. Ia tak menyangka abangnya yang dia kira kuat, ternyata serapuh itu ketika menemui masalah pelik dalam rumah tangganya. Entah apa yang terjadi sampai kakak iparnya itu tidak mau menemui abangnya lagi. Apakah memang cinta untuk abangnya sudah pudar seiring sifat cuek sang abang yang mendarah daging? Pernikahan abangnya yang selama 10 tahun bukan waktu yang sebentar, Tania memang sangat tegar menghadapi suaminya itu. Mungkin inilah titik terendah rumah tangga mereka. Namun Ferdian percaya, jika saja komunikasi dan kepercayaan mereka bisa terjalin lagi, itu akan merubah semuanya.


Ferdian jadi teringat, apakah nomornya itu sudah diblokir oleh kakak iparnya atau belum? Ia mencari nomor kontak Kak Tania di ponselnya dan langsung menghubunginya. Mata Ferdian melebar ketika mendapati nomornya itu masih terhubung dengan sang kakak ipar, ini pertanda bagus.


"Assalamu'alaikum," terdengar suara hangat dari seberang sana.


"Wa'alaikumsalam, Kak Tania?" tanya Ferdian meyakinkan kalau itu benar-benar kakak iparnya.


"Ada apa Fer?" ternyata benar itu suaranya.


"Kakak lagi di Bandung, kenapa emangnya?"


Ferdian terdiam sejenak. Ia harus memberitahukan abangnya, kalau Tania sedang berada di Bandung.


"Umm, apa Kakak benar-benar menggugat cerai Abang?" tanya Ferdian ragu-ragu.


Tania menghela nafas.


"Kamu gak tau apa-apa, Fer! Kakak hanya ingin membuat pelajaran kepada Abang kamu!"


"Maksudnya apa?"


"Kakak cuma pengen dia berubah, itu aja cukup!" terangnya. Nadanya terdengar datar dan biasa saja, meski dengan sedikit penekanan pada intonasi di akhir kalimat.


Ferdian termenung, masih tidak mengerti jawaban dari kakak iparnya itu.


"Apa gugatan cerainya itu tidak benar-benar ada?" tanya Ferdian.


"Gugatan cerai itu ada, bahkan sedang diurus pengacara. Tapi abang kamu itu keras kepala dan tidak mau menandatanganinya, dan hal itu bikin Kakak berpikir beribu kali."


"Lalu kenapa Kakak tidak mau bertemu dengannya?"


"Kakak cuma ingin tau seberapa besar dia memperjuangkan pernikahan kita, Fer! Kakak jenuh dengan sikap dia yang dingin dan tak acuh. Bahkan ketika Kakak ingin memberitahunya kabar bahagia, dia tetap cuek. Akhirnya isu perselingkuhan dia dan Angel lebih dulu muncul."


"Kabar bahagia?"

__ADS_1


"Nanti juga kamu tahu sendiri Fer!" jawab Tania datar.


Ferdian berpikir keras apa maksud dari kabar bahagia yang diucap oleh Kak Tania. Tiba-tiba terbersit sebuah ide di dalam kepalanya, yang membuat hatinya berbunga-bunga. Apakah benar?


"Kakak hamil?" tebak Ferdian berharap cemas.


Tidak ada jawaban dari Tania saat pertanyaan itu dikeluarkan.


"Kak!" panggil Ferdian.


"Lihat aja pas kamu pulang nanti ya?" ujarnya.


Ferdian menyentak kasurnya kesal. Kenapa ia tidak diberitahu saja sekalian.


"Aku mau tanya sama Kakak! Kenapa Kakak gak blokir nomor aku? Bang Damian bilang Kakak blokir semua nomor kita?"


Tania terkekeh kecil dari sana.


"Karena kamu beda, Fer! Kamu udah kaya adik kandung aku sendiri, dan aku percaya sama kamu juga Ajeng."


Ferdian tersenyum lebar di balik ponselnya yang ia pegang.


"Apa masih ada kesempatan buat kalian bersatu, Kak?" tanya Ferdian serius.


Hening lagi di sana untuk beberapa detik.


"Kalau abang kamu masih berusaha, Kakak akan hargai usahanya. Tapi..., kalau tidak, lebih baik seperti ini saja!"


Ferdian menghembuskan nafas beratnya, setelah ia menahannya ketika kakak iparnya itu menjawab. Masih ada kesempatan yang tidak boleh disia-siakan Damian untuk istrinya itu.


"Baik Kak, terima kasih banyak! Aku pikir, abang akan tetap berjuang agar Kak Tania kembali."


Tania hanya tertawa kecil.


"Mudah-mudahan, tapi Kakak gak akan berharap banyak dari pria itu."


"Kita lihat saja nanti, Kak!"


"Oke!"


"Kalau gitu, aku pamit dulu ya, Kak! Makasih! Assalamu'alaikum...."


"Wa'alaikumsalam...."


Ferdian merubuhkan tubuhnya di kasur. Ia menghembuskan nafasnya. Ternyata rumit juga menghadapi pasangan yang sedang bermasalah seperti ini. Ia hanya berharap yang terbaik untuk kakak-kakaknya itu. Kalau pun kakak iparnya itu benar-benar hamil, ia berharap abangnya serius untuk mengembalikan rumah tangganya menjadi harmonis kembali. Agar anak mereka tidak menjadi korban pertama perpisahan orang tuanya. Jika sudah begitu, masa depan anak itu bisa jadi akan sulit.


Semoga saja rumah tangganya sendiri pun tidak bermasalah. Butuh komitmen dan rasa saling percaya di antara dua insan, apalagi ketika jarak menjadi penghalang seperti ini, maka kepercayaan itu harus ditingkatkan berkali-kali lipat. Begitu juga komunikasi di antara mereka tidak boleh terputus dan harus saling terbuka satu sama lain. Begitulah kunci keharmonisan rumah tangga yang ia pelajari selama ini.


Ah, ia jadi merindukan istrinya dan berharap ia tidak akan pernah meninggalkannya lagi. Kalau pun begitu, ia akan paksa istrinya itu mengikutinya kemana pun, agar tidak ada ruang hampa di antara mereka.


\=====


Lanjut besok yaa


Like, comment, dan votenya yaa


Makasiiih ^_^

__ADS_1


 


 


__ADS_2