
Ajeng menaruh selimut tipis di atas tubuh Arsene yang telah tertidur di atas kasur miliknya. Wanita itu kemudian mematikan lampu utama kamar itu setelah menyalakan lampu tidur kamar anaknya. Ia berjalan keluar dan menemukan suaminya tengah duduk di sofa sambil memandangi ponselnya.
Keluarga Ferdian telah pindah ke Singapura setahun lalu. Kini mereka tinggal di sebuah rumah minimalis modern di sebuah kawasan yang cukup ramai dekat Orchard. Dari rumah itu juga, mereka bisa mengakses dengan mudah ke Mount Elizabeth Hospital, tempat dimana Arsene mendapat perawatan dan terapi untuk memulihkan kakinya yang patah. Arsene sudah bisa kembali berjalan, meski masih terseok-seok. Anak itu tumbuh dengan cepat dan tetap ceria seperti dahulu.
Sedangkan Ferdian telah membangun usaha di bidang kuliner lainnya, yaitu sebuah cafe dan bakery di satu tempat yang sama di Orchard Road. Bukan usaha yang mudah, karena persaingan di negara asing ini sangat ketat. Namun berkat pelatihannya di Amerika, ia bisa menyiasatinya sehingga bisnisnya itu tetap berjalan dan berkembang. Meski kini dirinya sudah pindah negara, tetapi usaha yang ada di Bandung juga tetap ia pantau dari jauh. Bahkan usaha rumah makannya sudah kembali menambah cabang di beberapa tempat strategis yang ramai pengunjung. Rezeki yang tidak disangka-sangka.
“Sayang….” ucap Ajeng duduk di samping suaminya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu suaminya itu.
“Kenapa Sayang?” tanya Ferdian mengelus kepala istrinya itu.
“Arsene bilang, katanya dia pengen jadi chef kaya di TV itu lho. Dia kan sering banget nonton Masterchef Junior. Tadi aja dia ikutan bikin adonan cupcake pas aku nyoba, menurut kamu gimana?” tanya Ajeng.
“Yakin itu pengennya dia?” tanya Ferdian tidak percaya.
“Iya, dia udah sering banget ngomong gitu semenjak pindah ke sini.”
“Hmm… Nanti aku tanya Chef Fred, dimana ada sekolah chef khusus anak di sini. Kita coba aja, siapa tau memang dia minat di dunia kulinari.”
Ajeng tersenyum. Ia sendiri tidak masalah minat anaknya ada dimana. Ia hanya akan mengarahkan minat anaknya itu pada arah yang positif.
“Kamu lapar gak?” tanya Ferdian.
“Umm enggak sih, cuma pengen yang asin-asin aja,” ucapnya sambil mengelus perutnya yang mulai membesar.
Ya, wanita itu kini sedang hamil empat bulan. Semenjak pindah ke Singapura, kerjaannya hanya di rumah, mengantar Arsene terapi, menjadi ‘dosen’ bagi Arsene, atau kursus privat memasak. Ia memutuskan untuk melepas KB IUD-nya, karena keinginannya ingin menambah adik bagi Arsene. Alhamdulillah tidak lama, kandungannya itu sudah terisi lagi dengan Ferdian junior.
“Asin? Garam mau?” goda Ferdian tertawa-tawa.
“Mau aku darah tinggi?!” omel Ajeng.
“Bercanda, Sayang…. Jadi mau apa?”
“Hmm… Kalau minta sate Madura boleh?” tanyanya dengan mata berbinar.
“Ya Allah, aku harus ke Madura gitu?” tanya Ferdian mengacak-acak rambutnya sendiri.
“Ya enggak juga kali! Aku pengen kamu yang buatin, boleh ya?” pintanya mengedip-kedipkan matanya, manja.
“Sekarang?!” tanya Ferdian memastikan.
“Enggak, seratus tahun lagi! Ya sekarang lah!” ucap Ajeng ketus.
“Alamak!”
“Bahan-bahannya udah ada kok, tinggal bikin aja! Kamu kan jago masak!” ucap Ajeng berusaha menyemangati suaminya.
“Ya udah deh! Nasib nih punya istri lagi ngidam!”
Ajeng tertawa kecil, ketika dilihatnya suaminya itu tengah menepuk jidatnya sambil berlalu ke arah dapur.
Ferdian membuka kulkas, ia melihat ada potongan daging ayam fillet yang sudah berada di dalam sebuah tempat. Lalu ia membuka lemari dapur, mencari kacang tanah mentah yang sudah dikupas.
“Untung cuma sate Madura!” ucapnya sambil menggoreng kacang tanah.
Ajeng mendudukan dirinya di atas bangku panjang di meja bar dapurnya. Ia selalu suka ketika melihat suaminya masak di dapur. Ketampanannya itu meningkat tajam dari biasanya. Ah sepertinya ia juga mengidamkan suaminya itu malam ini.
“Sini aku bantuin potong dagingnya!” ucap Ajeng.
“Gak usah, Ratuku duduk aja di sana ya, sambil perhatiin Rajamu yang sedang masak ini!” ucap Ferdian menoleh dari hadapan kompornya.
“Awas kacangnya gosong!” sahut Ajeng.
“Iya Sayang….”
Satu jam berlalu, wangi daging ayam terpanggang plus dengan bumbu kacang sudah memenuhi ruangan dapur dan ruang makan.
“Done!” seru Ferdian menyajikan dua piring berisi sate ayam Madura di atas meja bar, di hadapan istrinya.
“Bawa ke atas ya, kita makan di rooftop!” seru Ajeng riang turun dari kursinya.
__ADS_1
“Oke!”
Ajeng mengambil dua gelas panjang berisi air putih dan mengikuti suaminya menaiki tangga menuju atap rumah yang datar. Rooftop rumah mereka memang didesain sebagai tempat bersantai meski dengan atap terbuka. Ajeng sudah menata sedemikian rupa, agar rooftop itu terlihat indah dan nyaman. Banyak tanaman hias dan sayuran yang ia tanam sediri menjadi dekorasi di sana. Mereka juga menaruh kursi-kursi santai dan meja kayu.
Ferdian menaruh piring-piring itu di atas meja kayu.
“Hati-hati, Sayang….” seru Ferdian ketika melihat istrinya tengah menaiki tangga sambil membawa dua gelas air.
Ajeng menaruh gelas itu di samping piring berisi sate.
“Kamu capek?” tanya Ajeng menatap suaminya.
Ferdian menegakkan tubuhnya. “Enggak!”
“Nice! Yuk makan!” ajak Ajeng memberikan sepiring sate itu kepada suaminya.
Keduanya duduk bersandar di atas kursi santai sambil menyelonjorkan kakinya. Mulut mereka menikmati sate ayam Madura yang masih panas itu, terasa nikmat apalagi bintang-bintang berkelip seolah cemburu dengan pemandangan yang ada di bawahnya. Begitu pun dengan bulan yang terlihat terang.
“Are you happy?” tanya Ferdian menatap istrinya yang mengunyah hidangan hasil buatannya itu.
“Yes, of course!” ucap Ajeng tersenyum.
“Masakanku enak?” tanyanya lagi.
“Always!”
“Alhamdulillah….” Ferdian tersenyum melebar.
Hidangan keduanya telah habis dengan cepat, entah karena lapar atau karena terlalu menikmati. Ajeng menaruh gelas dan piring kosongnya di atas meja. Lalu menyalakan ponselnya, dan menyetel sebuah lagu dari sana untuk membuat suasana malam ini lebih hangat. Untung saja angin tidak terlalu kencang bertiup.
I finally asked you to dance on the last slow song
Beneath that moon that was really a disco ball
And I can still feel my head on your shoulder
Hoping that song would never be over
Sometimes I find myself wondering where you are
For me you'll always be eighteen
And beautiful and dancing away with my heart
[Dancing Away with My Heart - Lady Antebellum]
Ajeng menarik lengan suaminya sehingga bisa berdiri bersamanya di depan tubuhnya.
“Mau dansa?” tanya Ferdian.
Ajeng tersenyum tersipu malu-malu.
“We just danced only once in our wedding party at rooftop (Kita cuma pernah dansa satu kali waktu pesta pernikahan kita di rooftop apartemen)!” ucap Ajeng.
Ferdian merangkul pinggang istrinya, sementara Ajeng merangkul leher suaminya. Kedua pasang mata mereka saling mengunci sampai-sampai jantung mereka berdebar dibuatnya. Langkah kaki mereka beriringan mengikuti alunan irama musik yang berputar.
“Kamu cantik banget, Sayang….” ucap Ferdian menatap wajah istrinya yang selalu dikaguminya.
Ajeng tersenyum merona. “Kamu juga cakep banget!” balas Ajeng.
Ferdian melempar senyum sambil memperlihatkan giginya yang rapi.
“Kamu mau adik Arsene ini perempuan atau laki-laki?” tanya Ferdian, langkah-langkah mereka masih mengikuti alunan lagu.
“Perempuan atau laki-laki sama aja. Aku tetep bahagia,” jawab Ajeng.
“Udah siapin nama buat si kecil?”
Ajeng mengangguk.
__ADS_1
“Siapa namanya?” tanya Ferdian penasaran.
“Kalau perempuan namanya, Kirei. Kalau laki-laki namanya, Rainer!”
“That’s beautiful!”
Ajeng memeluk tubuh suaminya, dan mendaratkan kepalanya di atas dadanya.
“I love you so much, I’m happy with this!” ucapnya lirih.
Ferdian mengelus rambut istrinya yang tergerai.
“Thank you, my queen! I also always love you….”
Keduanya saling bertatapan yang menyiratkan rasa cinta yang begitu dalam sampai lubuk hati mereka. Darah mereka berdesir lembut di kala bibir mereka saling bersentuhan lembut.
Bulan bersinar menemani kedua insan yang selalu jatuh cinta itu, begitu pula dengan bintang yang berkelap-kelip riang menjadi saksi bisu atas cinta dua manusia di bumi.
On a night like this
I could fall in love
I could fall in love with you
In this dark so dense
We talk so soft
The way young lovers do
The day's last sight
Turns to cool night's breeze
And this love hangs thick like these willow leaves
I've hid myself away from this
But your silhouette is the cutest kiss
On a night like this
The moon sits still
And the stars are watching too
The way you move
Is a lullaby
And I could fall (I could fall)
In love with you
[On A Night Like This**- Lady Antebellum**]
\=\=\=\=
[T A M A T]
Terima kasih banyak atas dukungan kalian selama ini
I love you all
minta VOTE TERBAIK dan REMAH KOIN, juga BOOMLIKE-nya yaa
Sampai jumpa lagi di cerita lainnya ^_^
__ADS_1