Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Bonus Episode 12


__ADS_3

Hari telah berganti hingga membuat bulan berputar. Zaara kembali berkuliah setelah cutinya selesai. Hatinya terasa berat meninggalkan Ryu meski pada ibunya sendiri.


“Mi, kalau ada apa-apa sama Ryu tolong kasih tau Zaara ya? Semua kebutuhan Ryu udah Zaara siapkan, Umi tinggal panasin aja,” ucap Zaara pada ibunya sebelum memulai kembali kuliahnya di hari itu.


“Tenang aja Neng! Percayakan ke Umi. Kamu kuliahnya yang fokus biar bisa lulus cepet ya?!” ucap Umi Karin yang menggendong Ryu ke depan rumah.


Zaara mengecup punggung tangan ibunya dan mencium pipi anaknya.


“Ryu baik-baik sama nenek ya. Uma pulang nanti sore!” pesan Zaara pada anaknya yang sudah berusia 13 bulan. Ia sendiri sudah men-sounding anaknya sejak beberapa hari yang lalu agar alam bawah sadar anaknya itu terbiasa ketika dirinya tidak berada di rumah bersamanya.


Ryu terlihat datar melihat kepergian ibu dan ayahnya.


“Mi titip Ryu dulu!” ucap Arsene.


“Iya.”


“Assalamu’alaikum!” pamit Zaara dan Arsene bersamaan ketika menaiki motor.


“Wa’alaikumsalam!”


Mata Ryu berkaca-kaca melihat kepergian ayah dan ibunya. Tetesan air mata meluncur, balita itu menangis. Zaara yang mendengar tangisan itu jadi terenyuh. Ia ikut menangis di balik helm yang menutupinya. Tangannya merangkul erat pada pinggang Arsene.


“Abang, putar balik!” seru Zaara membuat Arsene terkejut.


“Kenapa?”


“Aku gak tega ninggalin Ryu!” ucap Zaara, Arsene belum memberhentikan motornya.


“Sabar Sayang, kamu harus kuat!”


“Tapi aku gak bisa ninggalin Ryu nangis kaya gitu.”


“Ryu akan terbiasa nanti. Kamu harus inget janji sama abi dan umi, untuk bisa selesaikan kuliah meski kamu udah nikah dan punya anak.”


Zaara menundukkan kepala. Tangisannya belum reda, ia masih tetap merengkuh tubuh suaminya sampai tiba di kampus.


Mata Zaara terlihat merah. Arsene tersenyum menatapnya ketika ia membantu melepas helm dari kepala istrinya.


“Kamu pasti bisa. Ryu juga pasti bisa,” Arsene menguatkannya. Ia memeluk istrinya meski halaman parkir terdapat banyak mahasiswa yang baru datang.


“Udah jangan nangis lagi ya, nanti Ryu bakal nangis terus!” Arsene mengusap air mata dari pipi istrinya.


Zaara mengangguk lalu mengeluarkan tisu dan mengelap matanya.


Arsene menuntun tangannya dan mengantarkannya menuju kelas perkuliahan. Zaara tidak bersama dengan teman-teman sekelasnya lagi. Ia harus bersama angkatan adik kelasnya kali ini, membuat dirinya canggung dan kesepian.


“Kalau ada apa-apa, telepon aku!” ucap Arsene sebelum meninggalkan istrinya.


“Iya!” jawab Zaara pelan.


“Semangat Sayang, kita bakal lulus bareng!”


Zaara tersenyum. Keduanya berpisah di sana.


Dosen pagi itu belum masuk, sementara kelas terdengar ribut karena para mahasiswa masih sibuk berbincang-bincang. Zaara yang duduk di kursi paling depan hanya membuka buku bacaannya. Pikirannya terus tertuju pada anak bayinya. Perempuan itu mengeluarkan ponselnya.


“Assalamu’alaikum, Mi! Ryu gimana masih nangis?” tanyanya sedikit cemas.


“Wa’alaikumsalam. Udah enggak kok. Tuh lagi anteng main.”


“Alhamdulillah.”

__ADS_1


“Kamu fokus aja kuliahnya ya?! Ryu baik-baik aja kok.”


“Iya Mi, makasih! Aku tutup teleponnya ya?”


“Iya.”


Zaara masih memegang ponselnya, sambil berharap dosen segera masuk ke dalam kelas, agar pikirannya bisa fokus untuk belajar. Sebuah pesan instan masuk.


[Ra, lu masuk di kelas metode penelitian sastra?] itu pesan dari Terry.


[Iya udah di kelas, kenapa Ry?]


[Alhamdulillah. Udah masuk belum dosennya?]


[Belum.]


[Yes, gue kesana sekarang]


Zaara mengernyitkan keningnya mendapat pesan dari sahabatnya. Tiba-tiba, seorang perempuan berhijab oranye dengan setelan pakaian casual masuk ke dalam kelas.


Mata Zaara dan Terry langsung bertemu. Terry lekas-lekas duduk di kursi samping Zaara yang kosong.


“Kok kamu kesini?” tanya Zaara.


“Gue ngulang kelas. Semester kemaren kan dapet C, hehe!” jawab Terry mengeluarkan buku catatannya.


“Ya Allah. Tapi aku seneng ada temen di sini!” Mata Zaara berbinar.


“Hihi pasti lu kesepian ya?”


“Di sini sih ribut, tapi pikiran aku terus untuk Ryu.”


“Aah… lu cemas ya?”


“Udah tenang, ada gue di sini!” ucap Terry bangga.


\======


Waktu berlalu begitu cepat. Zaara sudah terbiasa meninggalkan anaknya demi menyelesaikan kuliahnya. Ryu juga tampaknya sudah bisa menikmati waktunya bersama neneknya di rumah. Beruntung, Karin termasuk wanita yang bugar dan fit. Usianya memang belum mencapai genap 50 tahun. Wanita itu selalu santai menikmati momennya menjadi seorang nenek muda bagi cucunya.


Zaara terlihat sedang menikmati makan siang bersama suaminya di bawah teduhnya pohon rimbun dekat masjid setelah shalat dzuhur.


“Aku pulang malam, gak apa-apa?” tanya Arsene.


“Gak apa-apa. Aku bisa pulang sendiri sebelum maghrib.”


“Ada rapat LDK nanti sore. Pengennya sih kamu pulang bareng aja. Aku gak suka kamu naik angkutan umum.


Apalagi Zayyan juga ikut rapat ini, jadi gak bisa pulang bareng,” terang Arsene. Zayyan memang sudah aktif menjadi anggota LDK sejak menjadi mahasiswa baru.


“Tapi aku gak mau pulang malem, Abang Sayang! Kasihan Ryu, waktu aku sama dia udah banyak berkurang di semester ini,” terang Zaara.


Arsene terdiam, masih terus menghabiskan makan siangnya.


“Ya udah. Tapi hati-hati ya!” pesan Arsene.


Zaara mengangguk.


Sore itu Zaara berlari menuju masjid. Para aktivis LDK sudah siap-siap mengadakan rapat. Ia hendak mencari suaminya. Melihat adiknya di sana, ia segera menghampirinya.


“Abang mana?” tanya Zaara wajahnya terlihat panik.

__ADS_1


“Abang masih sholat. Kenapa Teh?” tanya Zayyan melihat kakaknya yang terengah-engah.


“Kata umi, Ryu demam tinggi banget sampe kejang-kejang.”


“Astaghfirullah. Bentar aku lihat abang lagi!”


Zayyan kembali ke dalam masjid untuk menyusul kakak iparnya. Tak lama Arsene dan Zayyan keluar dan segera menghampiri Zaara yang masih berdiri di dekat teras ikhwan.


“Kenapa Ryu?!” tanya Arsene.


“Ryu demam tinggi sampe kejang kata Umi. Aku mau ajak kamu pulang bentar!”


“Bentar aku bilang sama Rasyid dulu!” Arsene bergegas menuju ruang kesekretariatan, menemui Rasyid yang juga adalah wakil ketua LDK.


Arsene meminta izin bentar agar rapat dipimpin sementara oleh wakilnya, sementara ia akan pulang terlebih dahulu untuk memastikan kondisi anaknya. Setelah semua sepakat, Arsene menemui istrinya lagi dan mengajaknya pulang.


Ryu terlihat berpeluh keringat dalam tidurnya. Bayi berusia hampir dua tahun itu sudah berbaring di atas sofa. Zaara segera memastikan suhu panas tubuhnya yang masih terasa hangat tetapi tidak terlalu panas.


“Alhamdulillah udah baikan, Neng! Panasnya juga udah turun. Tadi emang sempet kejang tapi untungnya sebentar,” Karin menjelaskan pada anak dan menantunya.


“Apa perlu dibawa ke dokter, Mi?” tanya Zaara.


“Lihat kondisi besok pagi aja. Kalau malam ini naik lagi drastis, lebih baik bawa ke dokter. Udah mau tiga hari kan demamnya?”


“Iya.” Zaara menoleh pada suaminya.


“Kamu coba kompres lagi badannya setelah dia bangun. Mudah-mudahan dia sembuh besok.”


Zaara mengangguk. Arsene menggendong tubuh anaknya ke dalam kamar dan membiarkannya tidur di atas kasur. Jendela-jendela dibuka agar udara di dalam kamar terasa segar.


“Banyakin kasih air minum ya! Aku pergi lagi gak apa-apa?” tanya Arsene.


“Iya. Makasih Abang!’


“Kalau ada apa-apa langsung telepon aku aja.”


“Iya!”


Zaara mengecup punggung tangan suaminya. Ia kembali memperhatikan wajah anaknya yang damai dalam tidur setelah Arsene kembali ke kampusnya. Ditepuk-tepuknya kening Ryu menggunakan tisu untuk mengelap keringatnya yang tersisa. Perempuan itu mengambil sebuah handuk kecil. Dituangkan air panas yang dicampurkannya dengan air dingin. Zaara memeras handuk dan menaruhnya di atas kening anaknya, sambil mendoakan kesembuhannya.


“Uma…” ucap Ryu malam itu sebelum maghrib. Anak itu sudah terbangun, wajahnya terlihat segar.


Zaara lekas memeluknya erat-erat dan menciumnya. Dirasakannya suhu panas tubuh anaknya itu. Sudah jauh lebih baik. Untuk memastikannya, ia menempelkan termometer di ketiak Ryu. Terpampang angka 37,3 derajat Celcius.


“Alhamdulillah sekarang udah baikan. Minum dulu yuk!” ajak Zaara menggendong anaknya ke lantai bawah dan meminumkannya segelas air agar Ryu tidak dehidrasi.


“Mana ayah?” tanya Ryu dengan lidahnya yang masih terdengar belum jelas.


“Ayah masih di masjid, Sayang!”


Ryu kembali ceria dan bermain di atas karpet miliknya. Zaara jauh merasa lebih lega malam itu.


\======


Bonus episode masih bersambung. Yess...


Likenya jangan lupa yaa


Votenya juga nih


Komentarnya juga aku tunggu

__ADS_1


Makasiiih


__ADS_2