
Sore itu Zaara memutuskan kembali pulang ke apartemennya. Diantar oleh adik satu-satunya, Zayyan, gadis itu mengucap terima kasih. Matanya sembab dan kemerahan karena sejak tadi menangis. Ia menyadari kesalahannya serta tetap berharap suaminya itu bisa merubah sikap padanya lebih baik lagi.
Zaara menyiapkan makan malamnya sendiri lagi. Kali ini ia mengubah suasana. Setelah selesai menunaikan shalat wajib dan tilawah hariannya, gadis itu mencoba menyalakan televisi yang memang jarang dinyalakan. Memilih siaran berita malam, Zaara mencoba tidak egois dengan masalahnya sendiri, ia ingin mengetahui peristiwa aktual maupun politik yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Sambil menikmati roti bakar dan potongan buah, ia menyimak berita-berita yang ternyata didominasi oleh isu krisis ekonomi yang melanda negeri ini. Angka kemiskinan terus bertambah, tetapi solusi untuk menuntaskan masalah tidak pernah kunjung usai. Hal tersebut berdampak pada angka kriminalitas yang melonjak tajam. Perut mereka butuh makanan, sedangkan lapangan kerja tidak mudah. Aksi kriminalitas seperti mencuri, merampok, transaksi ilegal dan haram adalah jalan cepat untuk bisa menambah isi dompet. Tentu saja masalah-masalah yang terjadi di tengah masyarakat bagai lingkaran setan yang tidak pernah usai. Selalu akan ada masalah lain dari sebuah masalah yang terjadi.
Zaara berdecak. Ternyata kehidupan di luar sana begitu rumit dan mengerikan. Ia bersyukur karena dikelilingi oleh keluarga yang baik hati dan cukup dalam segi materi. Ia juga bersyukur karena memiliki suami yang bekerja keras untuk menghidupinya dengan jalan yang halal. Melihat realita kehidupan di bawah dirinya, membuat gadis itu dipenuhi aura positif. Hal itu berhasil membuat dirinya lebih baik. Memang, seseorang harus selalu melihat ke bawah untuk bisa bersyukur dengan apa yang dimilikinya. Zaara terus menyimak berita-berita dari stasiun satu ke stasiun lainnya, hingga matanya lelah untuk tidak terpejam lagi. Gadis itu tertidur di atas sofa kecil dengan TV yang masih menyala.
Sampai akhirnya Zaara kembali terbangun tepat di pukul 03.30. Matanya mengerjap, tubuhnya kedinginan karena gaun tidurnya yang pendek. Ia menatap layar ponselnya. Hatinya terkejut karena sudah hampir subuh, tetapi dirinya tidak mendapati suaminya itu ada di sana. Zaara mengecek kamarnya, Arsene memang belum pulang.
Kini hatinya sangat was-was. Tidak pernah Arsene pulang sampai subuh seperti ini. Pria itu biasanya pulang di pukul 23.00 paling telat. Tidak ada pesan atau panggilan juga di ponselnya. Kemana Arsene? Zaara melakukan panggilan di teleponnya. Jantungnya berdebar menunggu panggilan itu tersambung, berharap Arsene akan mengangkat teleponnya. Hasilnya, tidak ada sambungan di sana. Pikiran Zaara dipenuhi oleh asumsi yang tak pernah muncul di benaknya. Begitu kalut dan gusar. Apakah Arsene marah karena tahu dirinya pergi tanpa seizinnya sehingga ia tidak pulang? Pikiran Zaara benar-benar dipenuhi oleh hal negatif. Dari Arsene diculik, kena begal, dijebak perempuan nakal, kecelakaan, dan pikiran negatif lainnya. Jantungnya berpacu sangat cepat, tangannya bergemetar hebat.
Tiba-tiba, bagian bawah perutnya terasa panas, melilit seperti sedang diperas. Rasa sakit hebat muncul di sana, membuat Zaara mengerang kesakitan. Ia memegang perutnya yang sakit seperti mau pecah.
Zaara segera mengambil gamis dan hijabnya, entah apa yang dipikirkannya saat itu. Gadis itu berusaha menahan sakit luar biasanya dan mencoba melangkah keluar kamarnya sambil membawa ponselnya. Lalu menuruni lift dengan langkah terseret-seret. Sesuatu dari bawah tubuhnya terasa basah dan hangat, ia menangis lirih berdiri di pojokan lift. Gadis itu berusaha menekan tombol di ponselnya, mencari nomor kontak orangtuanya di sana. Tetapi jarinya yang bergetar hebat sangat menyulitkannya. Sampai akhirnya pintu lift terbuka, ia menyeret langkahnya ke luar.
\=\=\=\=\=\=
Raffa terlihat sedang menguap lebar setelah bangun dari tidurnya yang sebentar malam itu. Pria itu terlalu asyik dengan uji coba praktiknya, sehingga membuat dirinya tertidur di dalam ruangan yang penuh dengan peralatan. Ia menengok jam dinding, sudah akan subuh. Sebaiknya ia lekas pulang dan tidur seharian hari ini.
Pria itu berjalan ke luar ruangan setelah mencuci mukanya dengan air dingin yang menusuk kulit, sehingga matanya bisa dengan cepat terbuka. Menyusuri lorong klinik yang cukup luas itu terasa hening dan mengerikan, meski suara-suara orang mengaji sudah mengalun lembut di luar. Raffa baru saja hendak keluar, tiba-tiba seorang satpam paruh baya sedang membopong tubuh seorang perempuan bergamis. Darah menetes di atas lantai keramik yang putih bersih.
Raffa memperhatikan wajah perempuan yang ia kenal itu.
“Zaara!” ucapnya ketika satpam melewati dirinya. Ia mengejar satpam yang bersiap menaruh gadis itu ke atas matras yang disediakan oleh petugas kesehatan yang berjaga.
“Arsene sialan!” pungkasnya ketika menyadari pria itu tidak ada di sana.
Raffa menyusul petugas medis yang membawa Zaara ke ruangan IGD. Setelah memastikan Zaara ditangani, Raffa segera menelepon ibunya untuk datang ke klinik. Ia tahu tidak ada dokter kandungan yang berjaga saat subuh seperti ini. Lagipula, ibunya adalah salah satu senior di klinik ini juga.
__ADS_1
“Kamu udah coba hubungi keluarga Zaara?” tanya Sita ketika ia tiba di klinik saat itu.
“Udah Ma!”
“Arsene gimana?”
Raffa menggeleng dengan penuh kernyitan di wajahnya.
“Cari dia kalau gitu!”
“Ma?!”
“Cepat!” teriak Sita berlari menuju ruangan dimana Zaara berbaring.
Raffa menendang kakinya ke udara. “Arsene sialan lo!” umpatnya lagi emosi. Meski ia begitu kesal, tetap saja ia pergi berangkat menuju tempat kerja Arsene yang sudah diberitahu oleh Zaara.
Membelah jalanan yang masih sunyi dan gelap, Raffa memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia berharap dalam hati terdalamnya, agar Zaara baik-baik saja. Ia ingin sekali mendaratkan pukulan di wajah Arsene. Entah apa yang dilakukan Arsene sampai-sampai membiarkan istrinya sendiri menderita seperti itu. Raffa begitu marah, karena Arsene menyia-nyiakan Zaara.
“Ada yang bisa dibantu Mas?”
“Mana koki-koki di restoran ini?” tanyanya penuh amarah.
“Maaf tapi restorannya masih tutup dan akan buka di pukul 8 pagi!”
“Sialan!” umpatnya lagi.
“Apa kalian tahu koki kue yang bernama Arsene?” tanyanya ketus pada pegawai yang menyambutnya tadi.
__ADS_1
“Maksud Mas-nya, Arsene koki pastry yang baru ya?” tanya pegawai itu memastikan.
“Iya mungkin!” jawab Raffa ketus, karena dirinya tidak terlalu mengetahui macam-macam koki. Ia hanya tahu Arsene adalah koki yang sering membuat kue. Sepertinya pegawai itu mengenal Arsene.
“Bang Arsene kayanya….”
Tiba-tiba Raffa melihat wajah tampan yang sangat ia benci hari ini. Wajah itu terlihat letih dan pucat, ia masih mengenakan jaket tebalnya.
Raffa menghampirinya dan langsung meninjukan kepalan tangannya pada pemilik wajah itu hingga tersungkur di atas lantai granit yang berkilauan. Bercak darah menetes di atas lantai. Pria itu tentu saja terkejut dengan pukulan keras yang tiba-tiba. Terasa perih dan linu apalagi bibirnya sobek.
“Mas Raffa?!” tanya Arsene memegangi ujung bibirnya yang berdarah.
“Heh ngapain lo di sini?! Dasar laki bejat sialan!” umpat Raffa mencengkram ujung kerah Arsene.
“Ada apa Mas?” tanya Arsene tidak mengerti.
“Lo gak perlu tau Zaara kaya gimana! Dia gak berhak dapetin suami bejat macem lo!” teriaknya kemudian meninju wajah Arsene lagi.
Para petugas keamanan berdatangan. Mendorong tubuh Raffa yang mulai hilang kendali karena emosinya, ia sepertinya akan memberikan pukulan lagi pada Arsene.
“Zaara?!”
Arsene berlari menuju tempat parkir dimana ia menyimpan motornya semalaman. Hatinya kalut, apa yang terjadi pada istrinya? Ia begitu sial mendapati pukulan keras dari Raffa di subuh ini. Ia juga sial tadi malam menemukan ponselnya jatuh begitu saja ke dalam ember berisi air ketika akan mengganti baju, sehingga ponselnya mati. Lagi-lagi ia sial, karena ambruk setelah pekerjaannya selesai, membuat dirinya terpaksa beristirahat di mess hotel bersama pegawai lainnya. Sialnya dia tidak pernah hafal nomor istrinya dan anggota keluarga lainnya. Benar-benar sial. Apa ada kesialan lainnya hari ini?
Arsene memacu motornya ke apartemen. Hanya saja banyak pertanyaan berterbangan di atas kepalanya. Mengapa bisa Raffa sampai menyusulnya ke tempat kerja? Apa yang terjadi dengan Zaara sampai-sampai Raffa repot mendatanginya meski ia harus mendapat pukulan di pipinya? Jangan-jangan … Arsene melaju cepat dengan kecepatan tertinggi yang belum pernah ia capai sebelumnya.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
DEG
Bersambung.... >.<