
Rapat perdana akan dipimpin oleh Arsene sore ini, terkait dengan acara yang akan diadakan pada saat Idul Adha. Didampingi oleh Kang Ilman, Arsene membuka rapat yang dihadiri oleh sekitar 20-an mahasiswa baru, beserta para seniornya. Ia telah membawa buku catatan agendanya, di sana tertulis poin-poin yang akan dibahas pada rapat ini. Dengan gugup, Arsene membuka rapat. Pria muda itu memang jarang berbicara di depan umum atau di depan orang banyak, jadi public speaking-nya belum terasah.
Seperti biasa, rapat yang dihadiri oleh mahasiswa ikhwan dan akhwat ini keberadaan mereka dipisah oleh hijab. Angin sore menyapa lembut di antara celah ranting, menggoyangkan dedaunan rimbun di samping selasa masjid.
“Bismillah, assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap Arsene sedikit terdengar gugup.
Semua peserta rapat menjawab salamnya. Arsene membuka buku catatannya.
“Alhamdulillah di sore yang cerah ini, kita dikumpulkan bersama untuk membahas terkait acara yang akan kita agendakan pada Hari Raya Idul Adha. Semoga Allah melancarkan segala urusan kita kedepannya, aamiin. Adapun, dari beberapa divisi yang sudah dikelompokan, maka saya ingin bertanya dulu kepada divisi acara untuk menerangkan rencana yang sudah disusun. Silakan!”
Rapat dimulai dengan pembahasan beberapa agenda yang direncanakan sebelum hari H, seperti kajian fiqih Qurban, Kisah Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as., penyebaran proposal dan brosur untuk hewan qurban, serta persiapan shalat raya. Berlanjut kepada divisi-divisi lain yang mendukung, seperti divisi publikasi, divisi keuangan, dan divisi pelayanan publik. Rapat berlangsung cukup kondusif, meski yang banyak berbicara adalah dari para senior yang sudah pernah terjun langsung, sehingga para junior lebih banyak memperhatikan dan akan melaksanakan kerja mereka setelah ini. Arsene juga lebih banyak mencatat dari rencana tiap divisi, ia akan mengontrol dan mengevaluasi kinerja tim yang ada di bawahnya. Dengan begitu ia berharap segala sesuatunya berjalan lancar.
Tak terasa sinar matahari telah meninggalkan langit. Rapat harus diselesaikan dan dilanjut di hari berikutnya untuk mengevaluasi kinerja yang mereka bahas hari ini. Arsene menutup rapat, dan mengucap terima kasih pada kawan-kawan serta senior mereka yang sudah hadir. Tak lupa ia menyemangati seluruh kawan-kawannya dengan sebuah ayat. “Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuu in tanshuruullaha yanshurkum wayutsabbit aqdaamakum. Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu (Q.S. Muhammad ayat 7). Semoga Allah memudahkan urusan kita semua. Aamiin. Kita bertemu lagi di rapat selanjutnya. Syukron Jazakumullah Khair. Wassalamu’alaikum warahmatulahi wabarakatuh.”
Sengaja Arsene menghafal ayat itu yang memang sudah ia tanamkan pada dirinya, jadi ia bisa memberikan semangat itu pada yang lainnya.
Adzan maghrib berkumandang seiring ditutupnya rapat itu. Para mahasiswa yang mengikuti rapat langsung membubarkan diri dan pergi untuk mengambil wudhu, bersiap-siap untuk shalat maghrib berjamaah.
\======
Arsene tengah menyandarkan tubuhnya di kursi meja belajarnya malam itu. Ia baru saja menyelesaikan tugas grammarnya. Beberapa to do list sudah memenuhi papan tulis putih di temboknya. Pelaksanaan Hari Raya Idul Adha tinggal beberapa hari lagi. Sejauh ini, semua divisi bekerja dengan baik, hanya divisi keuangan yang mengalami kendala karena jumlah orang yang melakukan qurban dan menitipkan pada DKM belum terlalu banyak. Arsene sudah menyiasatinya dengan menyebar brosur penyelenggaraan itu di kalangan dosen dan para alumni. Terbukti setelah itu, beberapa dosen dan alumni menghubungi pihak DKM dan menitipkan hewan qurban mereka di masjid kampus, sehingga bisa menyalurkannya sesuai dengan sudah apa yang mereka rencanakan.
Arsene belum terlalu berkoordinasi banyak dengan Zaara terkait kepanitiaan akhwat, karena ketika rapat ia selalu mengatakan kinerja kepanitiaan akhwat selalu berjalan lancar. Jadi ia tidak masalah dengan hal itu, selama tidak ada kendala terucap dari akhwat itu.
Tiba-tiba saja, ponselnya berdering singkat. Sebuah notifikasi muncul dari sana. Ada pesan whatsapp masuk malam itu.
[Assalamu’alaikum. Afwan mengganggu, tapi aku butuh masukan. Barusan aku dapat telepon dari dosen Sasing yang minggu kemarin titip uang untuk qurban di DKM Asy-Syifa, tapi beliau mau tarik lagi uangnya karena katanya mau disalurkan di tempat lain. Menurut kamu gimana?]
Pesan itu datang dari Zaara.
Divisi keuangan akhwat memang kebagian untuk menyebar proposal dan brosur di FIB, FISIP, dan FIKOM. Jadi semuanya kepanitiaan akhwat yang menanggungjawabi. Arsene berpikir sejenak terkait masalah yang baru ditemukannya ini. Ia tahu semua uang yang dititipkan pada DKM sudah dibelikan hewan qurban, mengingat Idul Adha yang tinggal menghitung hari.
[Wa’alaikumsalam. Aku coba hubungi Kang Ilman dulu ya.] Balasnya kemudian, karena ia khawatir salah memberikan keputusan.
[Baik] Jawab Zaara.
Arsene langsung menelepon Kang Ilman saat itu juga, mengingat waktu yang sudah mepet, karena Kang Ilman pun harus berkoordinasi dengan pembina yang membawahinya. Untung saja, keputusan cepat datang setelah ia menghubungi SC-nya itu. Arsene kembali menghubungi Zaara, karena khawatir salah menyampaikan, pria muda itu langsung menelepon Zaara.
“Assalamu’alaikum,” sapa Arsene cukup gugup, tetapi ia berusaha menenangkan dirinya.
“Wa’alaikumsalam,” jawab suara di seberang tak kalah gugup.
“Afwan ya terpaksa telepon khawatir miskom.”
“Iya, gak apa-apa.”
“Tadi aku udah hubungi Kang Ilman, katanya kalian harus langsung konfirmasi aja ke orangnya besok. Maksud aku, dosennya didatangi dan tanyakan ke beliau, kenapa tiba-tiba merubah akad, soalnya itu udah dibelikan hewan qurban. Kalau alasannya bisa diterima, kita harus cari orang lain untuk mengganti hewan itu. Akhwat bisa kan konfirmasinya?” terang Arsene.
Zaara terdiam, berpikir sebentar.
“Apa kamu bisa bantu? Mungkin dosennya kenal sama kamu. Ini dosen laki-laki juga soalnya,” terang Zaara.
“Oh? Boleh.”
“Aku buat janji dulu sama beliau ya, nanti aku hubungi lagi. Makasih, Sen!” pamit Zaara lalu mengucapkan salam.
Arsene menutup telepon. Ia lupa menanyakan siapa nama dosen itu, agar ia bisa bersiap-siap untuk menghadapinya.
Beberapa menit kemudian datang lagi pesan singkat dari Zaara di aplikasi WhatsApp.
[Besok beliau bisa ketemu sebelum Dzuhur. Kamu bisa ikut?] Pesan Zaara.
[Oke, insya Allah. Boleh tau nama dosennya siapa?] Tanya Arsene.
[Pak Ardi Bastian]
__ADS_1
Arsene sedang mengetik…. Cukup lama bagi pria muda itu untuk mengetikkan kata-kata selanjutnya.
[Ooh aku tau! Janjian dimana?] Ketik Arsene ragu-ragu.
[Langsung di gedung dekanat aja. Aku mau tunggu formulir qurban dari Rosa anak divisi keuangan dulu.]
[Oke!]
[Makasih ya]
[Sama-sama]
Tanpa emotikon, tanpa simbol apapun, chat di antara mereka berakhir malam itu. Chat sebentar dan tanpa embel-embel apapun saja berhasil membuat jantung pria itu berdebar-debar. Memang rasanya berbeda jika berhubungan langsung dengannya. Padahal isi percakapannya bukan sesuatu yang menjurus hal pribadi. Pria itu beristighfar, mencoba membersihkan hatinya.
\======
Seperti janji Zaara, mereka akan bertemu di gedung dekanat FIB siang ini. Zaara dan Rosa sudah datang ketika Arsene baru saja tiba memasuki lobi gedung dekanat. Pria itu memindai ruangan yang cukup ramai dilewati oleh para mahasiswa yang hendak mengurus administrasi perkuliahan.
“Sen, bapaknya nunggu di ruang dosen!” ucap Zaara tiba-tiba mengagetkannya dari belakang. Pria itu terlihat terkejut ketika menoleh.
“Kaget ya? Maaf ya?!” ucap Zaara menyadari, gadis itu menyengir.
“Hehe. Ya udah ke atas aja langsung!”
Ketiga mahasiswa baru itu menaiki tangga menuju lantai tiga, menuju ruang dosen jurusan Sastra Inggris. Arsene pernah ke ruangan ini untuk menyerahkan tugas kuliahnya yang terlambat saat kelas writing. Pria itu memimpin jalan di depan dua gadis berhijab di belakangnya. Mereka sampai di ruang paling ujung koridor gedung dekanat, Arsene mengetuk pintu yang terbuka. Disambut seorang perempuan paruh baya yang merupakan pegawai khusus, Arsene menanyakan keberadaan Pak Ardi Bastian.
“Masuk aja. Bapaknya udah nunggu di sofa!” seru ibu berkacamata dan berhijab itu.
“Baik, terima kasih, Bu!” ujar Arsene, lalu menoleh pada dua gadis di belakangnya untuk mengikutinya masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi oleh meja.
Seorang laki-laki tegap dengan tubuhnya yang tinggi sedang duduk di atas sofa berwarna biru tua di ujung ruangan. Pria dengan rambut sedikit beruban yang rapi sedang memainkan jarinya di ponsel miliknya.
“Assalamu’alaikum,” Arsene membungkuk dan menyapa dosen dengan kulit cokelat terang itu.
“Dari LDK DKM Asy-Syifa ya?” tanyanya. Wajah pria itu telah memiliki garis kerutan di kening serta samping bibirnya. Meskipun begitu tubuhnya yang tegap terlihat masih bugar.
“Betul Pak! Saya Arsene, Ketua Pelaksana Idul Adha di kampus, mahasiswa Sastra Inggris juga. Ini teman saya, Zaara dan Rosa,” terang pria muda itu.
“Arsene ya?”
Arsene mengangguk tersenyum.
“Maaf ya, kemarin saya hubungi teman kamu ini, karena ternyata ada wilayah di desa orangtua saya masih kurang terkait penyaluran hewan qurban ini. Makanya saya coba menghubungi kalian. Apakah masih bisa ditarik?” tanya dosen paruh baya itu.
Arsene mengeluarkan brosur yang diambilnya dari dalam tasnya. Kemudian ia menjelaskan bahwasanya uang yang sudah masuk tidak bisa ditarik kembali karena sudah langsung dibelikan hewan qurban. Terkait distribusi daging, maka hal itu bisa disiasati. Jika saja lokasinya masih terjangkau oleh panitia DKM, maka masih bisa didistribusikan ke daerah tersebut. Tetapi jika tidak, maka mengikuti prosedur yang sudah ditetapkan oleh panitia.
Ardi mengangguk-angguk mendengar penjelasan mahasiswa di depannya yang terlihat dewasa dan berwibawa. Lelaki itu seperti pernah melihat wajah mahasiswa di depannya. Ardi melihat kembali brosur yang sudah diberikan Arsene, menemukan nama akhirannya, Ardi sedikit terkejut.
“Nama kamu Arsene Rezka Winata?” tanyanya sambil membaca nama ketua pelaksana yang tercantum di brosur.
“Betul, Pak!” jawab Arsene tersenyum.
“Keluarga Winata ya? Apa mungkin kamu anaknya Ajeng dan Ferdian?” tanya Ardi, sontak membuat Arsene terpaku kaget. Bagaimana mungkin dosen di depannya tahu nama orangtuanya?
“Be-betul, Pak! Darimana Bapak tau?” tanya Arsene penasaran.
Ardi tertawa-tawa sambil menepuk bahu anak muda di sampingnya. Kemudian ia tersenyum lebar.
“Pantas saja mirip sekali dengan mereka. Saya Ardi, rekan kerja ibu kamu di Universitas Mentari. Saya juga dosen ayah kamu, Ferdian.”
Arsene cukup terkejut ternyata pria di depannya adalah rekan kerja ibunya. Zaara dan Rosa memandangi dua pria yang ada di hadapannya.
“Kenapa Bapak jadi mengajar di sini?” tanya Arsene.
“Saya pindah ke sini sejak sepuluh tahun lalu. Tapi memang sudah terbiasa ngajar di sini juga. Jadi sekarang kamu pun berkuliah di Sasing ya? Ikut jejak orangtua?”
__ADS_1
Arsene tersenyum saja mengiyakan.
“Jadi begini saja. Saya tuliskan alamat untuk distribusi daging qurban saya, jika memang tidak memungkinkan untuk dikirim ke alamat tersebut, tolong hubungi saya!”
“Baik, Pak!” jawab Arsene.
“Oh ya, salam untuk ibu dan ayah kamu ya?!”
“Siap, Pak! Apa ada yang mau ditanyakan lagi?”
“Tidak. Terima kasih!”
“Baik, Pak! Kalau begitu kami permisi dulu. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Ketiga mahasiswa itu berpamitan pada Ardi dengan sopan, lalu meninggalkan ruangan dosen jurusan Sasing untuk kembali keluar gedung dekanat. Ardi sudah mengirimkan alamat seperti permintaannya tadi kepada Zaara, yang kemudian gadis itu berikan pada Arsene untuk disampaikan pada atasannya.
“Makasih banyak ya, Sen!” ucap Zaara pada pria yang baru saja mengecek ponselnya, ketika menginjakan kaki di atas aspal jalan fakultasnya.
“Sama-sama!” ucapnya tersenyum kecil.
"Aku duluan ya, maaf ada perlu dadakan!" ucap Rosa terburu-buru, gadis bertubuh mungil itu tidak lagi bisa bertahan di sana karena kakinya langsung berlari menuju gerbang FIB. Entah apa urusannya.
Zaara dan Arsene hanya memandanginya saja, kini mereka hanya berdua di antara mahasiswa lainnya yang berlalu lalang.
"Ya udah aku juga duluan ya, temen-temenku udah nunggu di depan gerbang!" Zaara membetulkan posisi tas gandengnya.
"Ra... sebentar!" sergah Arsene.
Baru saja Zaara hendak pergi, ia kembali menoleh.
"Ada apa?" tanya gadis itu curiga.
"Aku titip ini, buat..."
Arsene memutuskan kalimatnya, karena sibuk merogoh isi tas ranselnya. Zaara memandanginya dengan curiga dan penuh tanda tanya. Sedangkan Arsene masih mencari benda di dalam tasnya. Kemana? tanyanya dalam hati.
Hanya ada beberapa lembar brosur terlipat dan juga buku-buku catatan serta buku pelajarannya. Ia yakin sudah memasukan benda itu di sana. Hanya saja, mengapa tidak ketemu. Hatinya jadi was-was dan gugup setengah mati karena Zaara terus memperhatikannya.
"Ah sepertinya ketinggalan!" ucapnya kemudian.
"Emang mau titip apa?" tanya Zaara masih bertanya-tanya.
"Lain kali aja sepertinya, aku cari dulu barangnya!"
Zaara memicingkan matanya penuh selidik, lalu menarik bibirnya.
"Ya udah aku duluan!" pamitnya kembali memutar tubuhnya lalu berjalan meninggalkan Arsene yang masih merasa sial.
"Duh kacau!" umpat Arsene menepuk jidatnya.
\=====
Bersambung dulu oke?
Yang kemarin tanya Ardi siapa? Haha aku munculin sedikit deh
Kira-kira Arsene mau titip apa buat Zaara ya?
Jangan lupa VOTE
LIKE & COMMENT-nya jangan lupaaa, gratis kok, hihi
Thank youu
__ADS_1