Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 30. Buku Ajaib


__ADS_3

Pagi itu Arsene tampak rapi dengan setelan t-shirt putih serta kemeja salur navy yang ia biarkan terbuka kancingnya, lengkap dengan celana jeansnya. Ia turun dari tangga bersama adiknya, Kirei, yang juga sudah rapi dan cantik.


“Mom, aku mau ikut Abang Acen ya?” pinta Kirei pada Ajeng yang sedang menyuapi Finn.


“Mau kemana kalian?” tanya Ajeng melihat kedua anaknya sudah rapi.


“Mau ke toko buku, Mom!” jawab Arsene.


“Ya udah, hati-hati di jalan, Sayang! Jangan kenceng-kenceng naik motornya!”


“Yes!”


Kedua anak muda itu melangkahkan kaki menuju garasi, mengambil motor, dan melaju menuju pusat kota pada sebuah toko buku besar. Semalaman Arsene tidak bisa tidur, ia mencari referensi buku terkait pernikahan dan nikah muda. Ah, pemuda itu benar-benar serius memang. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk langsung saja mencarinya di toko buku yang menjual banyak koleksi.


Kirei mengekori abangnya ketika mereka sudah sampai di toko buku yang cukup terkenal itu. Bermacam-macam buku berderet rapi di setiap rak kokoh sesuai dengan kategori untuk memudahkan pencarian. Arsene mencari buku itu di kategori agama. Sementara Kirei ditinggalkannya di bagian rak yang berisi bermacam-macam komik dan buku anak.


Sebuah buku berjudul Nikah Muda menarik perhatian pria muda itu. Arsene membaca sekilas dari apa yang tertera di bagian belakang buku itu. Sepertinya segala pertanyaan yang melayang di pikirannya akan bisa terjawab oleh buku itu.


Pria muda yang terlihat tampan itu membawa beberapa buku ke meja kasir. Ia juga membayarkan buku yang dibeli adiknya, lalu keluar dari toko itu. Melihat ada kedai ice cream di luar, Kirei membujuk abangnya untuk membeli.


“Abang, aku mau es krim!” pintanya siang itu.


“Iya, yuk kesana!”


Kedua anak muda itu pergi ke sebuah kedai es krim yang sedang banyak antriannya. Sambil mengantri, mereka memilih menu yang akan dipesan. Sebuah ice cream sundae bersaus strawberry dipegang oleh Kirei setelah ia mendapatkannya. Gadis remaja itu terlihat senang melihat lelehan kental merah beraroma segar strawberry di gelas es krim yang baru dibelinya. Sementara Arsene lebih senang dengan ice cream bersaus cokelat pekat. Mereka duduk di sebuah kursi yang ada di taman tepat di depan toko buku yang tadi mereka kunjungi.


Kirei terlihat mengernyitkan wajahnya, ketika sensasi dingin soft ice cream lembut yang sudah tercampur dengan saus strawberry segar masuk ke dalam mulutnya.


“Enak?” tanya abangnya.


“Don’t ask! I love it so much!” ucapnya riang.


Arsene tersenyum padanya.


“Kamu tadi beli buku apa sih, Rei?” tanya Arsene. Ia menyendokan es krim lembutnya dan memasukkannya ke dalam mulutnya.


“Aku cuma beli novel Spiderwick,” jawab Kirei.


“Bukannya Mommy pernah cerita tentang itu?”


“Iya, tapi cuma buku ke satu. Buku ke dua sampai ke lima belum tuh!”


“Oh ternyata ada sekuelnya. Itu buku lama lho!”


“Buku kan bisa dibaca kapan aja, bahkan Abang masih suka baca The Hobbit, karya yang terbit tahun 1937, ih lebih kuno! Bahkan opa Gunawan aja belum lahir.” protes Kirei. Arsene terkekeh-kekeh saja mendengar jawaban adiknya itu.


Semakin naik matahari, semakin banyak juga pengunjung toko buku. Buku-buku yang diobral, sepertinya lebih banyak diminati. Ternyata buku-buku fisik masih cukup banyak digandrungi, meski buku digital sudah populer dan lebih mudah untuk dibaca dimana dan kapanpun. Tetapi buku fisik mungkin lebih nyaman bagi sebagian orang, terutama bagi yang tidak terlalu nyaman membaca di layar ponsel atau tablet, yang sering membuat mata cepat lelah dan pegal.


Arsene baru saja menghabiskan es krim cokelatnya yang kemudian ia buang ke tempat sampah. Tubuhnya berbalik, seketika ia mendapat sengatan listrik dari pertemuan tatapan yang tiba-tiba. Pria itu menjadi kaku dan canggung. Hanya saja senyuman dari wajah itu berhasil meluruhkannya.


“Hei, kamu di sini juga?” sapanya ramah.


“Za-zaara?”


Itu Zaara bersama kawan-kawan rohisnya, sepertinya baru saja keluar dari toko buku itu juga. Mereka tengah membeli minuman trendi di sebuah kedai kecil.


“Aku baru beli buku untuk psikotes,” terangnya tanpa ditanya.

__ADS_1


“Ooh … jadi kapan ujiannya?”


“Kamu emang belum cari-cari tau?” tanyanya heran.


Awalnya Arsene memang tidak berniat untuk masuk kampus dan berkuliah disini, mengingat ia sudah berencana akan mendaftar ke Le Cordon Bleu. Tetapi mengingat tekad barunya semalam, ia akan menyusun ulang rencana studinya dan merapikan semua rencana masa depannya.


“Baru mau cari tau,” jawabnya polos.


“Jadi mau masuk ke mana?” tanya Zaara.


“We’ll see!” ucapnya tersenyum.


Zaara mengedikan bahunya. Pria di depannya terlihat aneh menurutnya, seperti menyembunyikan sesuatu saja.


“Jadi kamu mau daftar dimana?” tanya Arsene.


“UBP FIB, kalau gak lulus, baru aku masuk ke Universitas Mentari aja,” jawab Zaara.


“Well, sampai ketemu kalau gitu,” jawab Arsene lalu pergi dari sana.


Zaara memandangi punggung Arsene yang berjalan semakin menjauhinya. Ya, Arsene terlihat bersikap aneh hari ini. Pria itu berbalik dan tersenyum sambil melambaikan tangannya pada Zaara. Gadis itu membalasnya dengan senyuman kaku.


“Ra, kamu deket banget sama Arsene ya?” tanya Rahma, ketika gadis berkerudung panjang itu selesai membeli minumannya.


“Dibilang deket sih iya, karena dia satu-satunya laki-laki yang bisa akrab sama aku. Orangtua kita juga ternyata sahabatan sejak SMA. Jadi sering ketemu deh di luar sekolah,” terang Zaara.


“Wah! Orangtua kalian sahabatan?” tanya Intan terkejut.


Zaara mengangguk.


“Bisa nih jadi jodoh!” celetuk Rahma.


“Peluangnya terbuka lebar, Ra! Lagian dia baik kan? Gak pernah bikin masalah, rajin juga ke masjid, terus dia juga yang sibuk nolong kamu waktu itu,” terang Rahma.


“Iya betul!” sahut Intan


“Apa kamu gak ada perasaan sama sekali buat dia? Duh kalau aku jadi kamu, aku udah klepek-klepek aja deh!” ucap Intan, membuat Zaara menyenggol tubuh kecilnya.


“Perasaan ini harus dijaga, gak boleh membludak kalau belum waktunya,” ucap Zaara.


Rahma dan Intan saling berpandangan.


“Jangan-jangan sebenarnya kamu udah ada perasaan ya buat Arsene?” tebak Intan.


Mata Zaara melebar, pipinya merona. Tiba-tiba saja gadis itu melangkahkan kakinya menuju minimarket yang tidak berada jauh dari mereka berdiri.


“Zaara!” panggil Rahma dan Intan berbarengan, lalu mengejarnya.


Zaara berusaha menahan senyumnya.


“Idih, main kabur aja!” protes kedua sahabatnya.


\=\=\=\=\=


Sore itu, Zaara baru saja tiba di rumahnya setelah ia menghabiskan waktu bersama-sama sahabatnya di toko buku. Wajahnya tampak kebingungan terlebih lagi setelah percakapan antara dirinya dan sahabatnya siang tadi.


Gadis itu memasuki kamarnya dan mengganti seluruh pakaiannya. Tangannya menopang dagu, ketika ia terduduk di kursi meja belajarnya. Buku-buku yang baru dibelinya ia keluarkan semua, lalu dibukanya satu-satu. Tiba-tiba sebuah ketukan terdengar di pintunya.

__ADS_1


“Masuk aja!” ucapnya.


Abinya, Reza, masuk ke dalam kamar anak gadisnya itu. Pria berjanggut itu membawa sebuah kotak berbungkus kertas cokelat yang terdapat label putih di permukaannya. Reza menaruh bingkisan itu di atas meja anaknya.


“Apa ini, Bi?” tanya Zaara sambil memperhatikan bingkisan itu, terheran-heran.


“Paket buat kamu. Tuh ada nama kamu di situ!”


“Emang aku beli apa ya? Perasaan gak pernah belanja online akhir-akhir ini. Kapan datang, Bi?”


“Tadi siang, dari kurir ojek online!”


Zaara mengernyitkan alisnya ketika membaca namanya tertulis di paket itu. “Dari siapa ya?” tanyanya dalam hati. Tidak ada nama pengirim di sana, begitu juga dengan nomor teleponnya. Gadis itu jadi was-was.


Reza masih berdiri di samping anaknya itu, berharap agar Zaara segera membuka paket yang masih dipertanyakan siapa pengirimnya.


“Buka aja Bi?” Zaara malah bertanya pada ayahnya.


“Coba aja!” jawab Reza santai.


Ragu-ragu, Zaara membuka paket yang sepertinya berisi sebuah buku. Benar saja, itu memang sebuah buku dengan jilid soft cover berwarna hijau terang. Bukunya tidak terlalu tebal dan tidak terlalu tipis. Zaara membalikkan covernya. DEG.


Nikah Muda, Siapa Takut?


Begitulah judul yang tertera di buku itu. Tentu saja jantungnya melompat seketika. Ia memandangi ayahnya yang tampak menilik buku itu setelah pria itu mengambilnya dan membuka daftar isinya.


“Bukunya bagus. Isinya juga sepertinya bagus.” Reza menanggapinya dengan santai.


“Tapi dari siapa, Bi?”


“Mana Abi tau, mungkin dari penggemar kamu!”


“Abiiii!”


Jantung Zaara bergetar. Pikirannya mengawang. Apa maksud dari si pengirim buku ini?


“Baca aja dulu!” ujar Reza.


“Tapi ….”


“Sambil baca, diresapi, dan pikirkan secara bijak. Nanti Abi coba tanya!”


“Tanya apa, Bi?”


“Tanya pendapat kamu terkait nikah muda.”


“Hah?!"


“Abi ke kamar dulu.”


Perasaan Zaara jadi tidak karuan, apa memang ayahnya yang memberi buku ini. Sepertinya ayahnya itu tidak terlalu terkejut ketika tadi ia membukanya. Apa ayahnya itu hendak mempertimbangkannya untuk menikah muda? Zaara semakin kebingungan. Tetapi ayahnya benar, setidaknya ia harus membaca dulu. Terkait jawabannya, akan ia pikirkan nanti.


\=\=\=\=\=


Dari siapa ya buku ajaibnya? Hihi


Like dan votenya

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan komentar kamu


makasiiih ^_^


__ADS_2