
Andre tengah merasa tegang hari itu. Sabtu ini, ia mengajak Nava untuk makan siang di luar, berharap juga agar wanita itu akan menjawab permintaannya sore yang lalu. Ia menunggu di dalam mobilnya yang sudah terparkir di halaman pondok asrama Nava. Tak lama kemudian wanita itu keluar, tampak cantik mengenakan setelan blouse berwarna off white dan rok model A-line berbahan denim. Ia juga terlihat mengenakan sepatu sneakers putihnya, membuat tampilannya cantik dalam balutan outfit yang casual dan santai.
"Hai, maaf ya lama!" ucap Nava yang masuk ke dalam mobil Andre.
"Enggak kok!"
"Mau kemana kita?" tanya Nava antusias.
"Ada rekomendasi tempat makan yang asik dan cozy (nyaman)?" tanya Andre. Ia sudah lama sekali tidak menjelajahi Kota Kembang ini. Jadinya agak terlalu sulit untuk mencari referensi tempat makan.
"Hmm...di sekitar jalan Progo mungkin, ya sekitar sana banyak sih tempat makan yang enak juga bagus atmosfernya."
"Oke deh!" Andre menyalakan mesin mobilnya lalu berjalan menuju jalan Progo yang memakan waktu sekitar 30 menit dari kawasan kampus mereka.
Mereka memilih sebuah restoran makanan Jepang di kawasan yang tenang dan tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang. Suasana nyaman dengan nuansa kayu ala tradisional Jepang menyambut mereka. Lalu keduanya memesan menu yang disediakan oleh restoran itu. Andre memilih menu jenis yakiniku, sedangkan Nava memilih menu jenis shabu-shabu.
"Pasti asing banget sama Bandung sekarang ya?" tanya Nava sambil menyuapkan daging sapi yang sudah matang dari kuahnya.
"Banget dong, 7 tahun coba!" jawab Andre.
"Eh rumah orangtua kamu masih di rumah yang dulu?"
"Iya, Mama dan Papa Sakti masih di sana. Kalau rumah kamu?"
"Rumah aku udah pindah, sekarang di kawasan Setra Sari," jawab Nava.
"Ooh, kamu gak pulang, Va?"
"Kalau mau mampir sekalian, ayo aja!" jawab Nava.
"Boleh."
Nava meminum jus sirsaknya. Hatinya galau, haruskah ia menjawab tawaran Andre sore waktu itu sekarang. Tetapi bagaimana memulai percakapannya, sementara ia sendiri merasa gugup. Bahkan ia akan sulit berbicara kalau gugup hebat.
"Va, udah selesai?" tanya Andre membuyarkan lamunannya.
"Udah, udah," jawabnya terkaget-kaget.
"Mm...untuk orang tua kamu bawain apa ya enaknya?" tanya Andre.
"Ah gak usah, Dre! Bikin repot aja!" sergah Nava.
"Gak enak, aku kan baru ketemu lagi sama Tante Dewi. Apalagi mama kamu temenan baik sama mama aku," jawab Andre.
"Ya udah terserah kamu aja, Dre! Mama sebenarnya sering lho ketemuan sama mama kamu," terang Nava.
"Oh ya? Mamaku gak pernah cerita sih."
"Ya udah, yuk kita keluar!"
Andre dan Nava keluar dari restoran itu, kemudian melihat ada sebuah toko kue dan oleh-oleh, mereka akhirnya memutuskan untuk menyeberang jalan dan menghampiri toko kue itu.
"Keluarga kamu suka durian gak nih?" tanya Andre, ternyata toko kue itu hanya menyediakan menu durian saja dengan banyak macamnya.
"Wah suka banget!" jawab Nava antusias.
"Bagus lah, jadi mau pilih menu apa?" tanya Andre sambil melihat menu pilihan yang tersedia.
"Hmm...brownis durian aja deh!" jawab Nava.
"Oke!"
Andre pun meminta kepada pelayan untuk membungkus satu kotak brownies durian, pancake dan kue soes durian. Nava terkejut ketika Andre membeli semua itu, meskipun ia juga merasa senang, karena ia dan keluarganya memang penyuka durian.
"Ini bawa ya, buat keluarga kamu. Yuk!" ajak Andre ketika semua pesanan mereka telah selesai dibeli.
"Makasih banyak, Dre!"
Andre dan Nava tiba di kediaman keluarga Nava, Rumah orang tua Nava kali ini sudah jauh lebih besar daripada rumah sebelumnya, yang diingat Andre. Mereka pun masuk ke dalam yang langsung disambut oleh ibunda Nava, Tante Dewi.
"Akhirnya pulang juga anak gadis Mama yang satu ini!" ucap Mama memeluk Nava.
"Hehe, maaf Ma, aku sibuk kuliah jadi belum sempet pulang," ucap Nava beralasan. Mama mencolek hidung anaknya itu.
"Eh ini siapa ya? Kok gak dikenalin sih?" tanya Mama memandang Andre, yang kemudian pria itu menyalaminya.
"Ini dosen aku, Ma!"
"Dosen? Bukan pacar?!" tanya Mama refleks keluar dari mulutnya. Nava menyenggol tubuh mamanya itu.
"Ini Andre, Ma! Anaknya Tante Indah, yang kemaren kuliah di London, sekarang dia jadi dosen aku di kampus," jelas Nava.
Mata Tante Dewi seketika berbinar dan senyuman keluar dari mulutnya.
"Ini Andre? Temen SMA-nya Nava kan ya?"
"Iya, Tante, apa kabar?"
"Alhamdulillah Tante baik! Masya Allah, makin ganteng aja kamu, Nak! Kok bisa jadi dosennya Nava?"
"Iya kebetulan setelah pulang dari London, saya ngajar di Universitas Mentari, satu semester sebelum Nava masuk pasca sarjana," jelas Andre.
"Ooh begitu! Wah hebat! Ayo silakan duduk, kita cerita-cerita. Tante sih sempat beberapa kali ketemuan sama Mama kamu, Dre! Cuma mungkin pas kamu pulang kita belum ketemuan lagi," cerita Tante Dewi.
"Oh iya ya Tante!"
"Va, bikinin minum gih! Dikirain kamu pacar Nava, eh bener gak? Nava gak pernah cerita sama Tante sih!"
Andre menyengir, "Enggak, Tante!"
"Ah, sayang! Tante seneng banget kalau punya mantu kaya kamu, Dre!" jawab Tante Dewi heboh.
Andre jadi tersipu-sipu.
"Tante ke belakang dulu sebentar ya? Mau panggil papanya Nava!"
__ADS_1
Entah kenapa Andre jadi gugup.
Nava kembali menghampiri Andre sambil membawakannya segelas cangkir teh hangat, dan beberapa potong kue yang tersedia. Ia kemudian duduk di seberang Andre.
"Gak berubah ya, Mamaku heboh banget!" ujar Nava. Andre terkekeh saja.
"Oya kakak kamu dimana sekarang, Va?"
"Kak Rafi? Udah nikah dua tahun lalu, sekarang tinggal di Jakarta."
"Ooh..."
Tiba-tiba, Tante Dewi kembali lagi diikuti suaminya, Om Indra, alias papanya Nava. Andre berdiri dan menyalaminya.
"Apa kabar Om?" sapa Andre merunduk.
"Om sehat, Dre! Udah lama ya, baru balik lagi kesini?"
"Iya Om, ini pertama kalinya saya pulang ke Indonesia setelah tujuh tahun tinggal di London!"
Om Indra mengangguk-angguk.
"Dengar-dengar kamu jadi dosennya Nava, betul?"
"Iya, Om! Saya kebetulan mengajar di kelas Nava semester ini," terang Andre.
"Dikirain Mama tuh udah pacaran sama Nava, bukannya kalian dulu juga deket kan ya?" kali ini Tante Dewi kembali memanas-manasi.
Andre dan Nava tersipu. Wajah mereka sama-sama merona.
"Mama, slow aja! Andre juga baru ketemu lagi sama Nava, ya? Tapi emang sih kalau kalian punya perasaan yang sama, kenapa gak cepet-cepet dihalalkan, kalian pasti sama-sama nunggu kan?" tanya Om Indra berusaha mengkonfirmasi. Ia tahu kalau anak putrinya itu tidak pernah menjalin hubungan spesial dengan pria mana pun, pasti Nava menunggu kepulangan Andre.
"Papa!" sergah Nava.
"Papa sih gak masalah, mau kamu masih kuliah atau udah lulus, toh masa depan ada di tangan kalian berdua!"
"Lagian usia kamu juga udah matang, Nava Sayang! Mama aja dulu nikah usia 23 tahun, iya kan Pa?" kali ini Tante Dewi menambahkan.
Andre semakin gugup dibuatnya. Namun hatinya merasa lega, bahwa keluarga Nava secara terang-terangan mendukung hubungan dia dan Nava. Apakah kesempatan ini harus ia sia-siakan?
"Ehm..." Andre berdehem. Jantungnya berdegup kencang.
"Maaf Om, Tante! Mungkin kedatangan saya ini memang tiba-tiba dan mendadak, tetapi saya pernah utarakan maksud kepada Nava sendiri beberapa hari yang lalu. Sepertinya ini menjadi hari yang baik untuk mengutarakan maksud saya kepada Om dan Tante selaku orangtua Nava meski dengan keterbatasan seperti ini," ucap Andre memberanikan diri.
Nava sontak terkejut. Sedangkan Om Indra dan Tante Dewi saling berpandangan dengan mata yang berbinar.
Andre menghela nafas.
"Saya bermaksud untuk melamar putri Om dan Tante, untuk menjadi istri saya," ucap Andre lantang.
"Dengan senang hati, Om menerima lamaran kamu! Tetapi Om kembalikan lamaran itu kepada Nava, yang akan menjalani hidup bersama kamu nanti, bagaimana Va?" ucap Om Indra dengan tenang dan bijak.
"Inget Va, diamnya perempuan itu berarti pertanda setuju!" ucap mamanya.
"Mmh..."
Hati Andre tidak kalah gugup untuk mendengar jawaban dari Nava.
\=====
Ajeng tengah menyiapkan berkas-berkas pengajuan cuti bersalin di apartemennya. Rencananya berkas itu akan ia berikan minggu depan ke pihak kepegawaian di kampusnya. Ah, mudah-mudahan saja semuanya berjalan lancar. Ia juga belum memikirkan kembali bagaimana rencananya setelah cutinya itu berakhir. Apakah ia akan memperkerjakan baby sitter, atau menitipkannya pada orangtuanya nanti. Rasanya masalah ini semakin membuat dilema. Ia tidak ingin meninggalkan karirnya saat ini, namun bagaimana pun anaknya nanti adalah prioritas utama.
"Sayang, bisa tolong fotokopiin berkas-berkas aku gak?" pinta Ajeng pada Ferdian yang sedang membaca novel penelitiannya di atas sofa.
"Harus sekarang?"
"Enggak juga sih, tapi lebih cepat lebih baggus!" jawab Ajeng.
"Bentar lagi ya, aku selesaikan dulu bab ini."
Ajeng melihat ke arah suaminya yang tengah sibuk membaca, menulis catatan, memberi tanda di tiap halaman novelnya. Suaminya itu begitu fokus, ia jadi tidak enak karena mengganggunya. Ajeng tersenyum lalu berlalu ke dapur untuk membuatkan suaminya itu segelas cokelat panas kesukaan Ferdian.
"Diminum ya, Sayang! Tetap semangat!" ucap Ajeng menaruh gelas itu di atas meja.
"Makasih, Sayang!"
Ajeng duduk di samping Ferdian, dan menatapnya. Ferdian bertambah tampan saja ketika fokus seperti itu, semoga saja anaknya nanti juga bisa setampan dan sepintar ayahnya, batin Ajeng sambil mengelus perutnya. Ternyata hawa mendung seperti hari ini membuatnya cepat mengantuk, Ajeng tertidur dalam posisi duduk di samping Ferdian.
"Eh, Bu dosen cantik malah tidur di sini," ujar Ferdian lembut ketika melihat istrinya tampak lelap dengan mulut menganga.
Ferdian jadi tersenyum geli.
"Dek, kapan kita ketemu? Ayah kangen nih!" bisik Ferdian di perut hamil sang istri.
"Oke, nanti malam ya, sip!" ujarnya lagi, menjawab sendiri. Ferdian konyol.
Ferdian meneguk cokelat panasnya yang sudah tidak lagi panas, lalu kembali membaca novelnya sambil mencatat segala hal yang penting, agar tidak lupa untuk dilaporkan dalam skripsinya nanti.
__ADS_1
Hujan rintik-rintik pun turun dengan sangat indah, apalagi dilihat dari gedung apartemen lantai 15 hunian milik Ajeng dan Ferdian.
\=====
"Mmh...."
"Gimana Va? Kamu udah siapin jawabannya?" tanya Om Indra pada anaknya.
Nava masih merasa tegang, karena ia tak menyangka akan secepat itu Andre menghadap dan melamarnya di depan orangtuanya. Bukankah ia begitu serius? Hal yang tidak pernah dilakukan oleh Gerry, yang padahal dia masih tinggal di Bandung selama beberapa kali melamarnya.
"Dre, aku..."
Posisi tubuh Andre menegak dalam duduknya itu. Hatinya benar-benar berdebar, Begitu pula dengan kedua orangtua Nava, yang berharap anaknya itu bisa menerima lamaran dari Andre.
Nava menghela nafas.
"Aku masih butuh waktu untuk menjawab lamaran kamu, Dre!" ucap Nava terdengar ragu.
Mata bulat Andre membesar. Entah kenapa hatinya pecah, padahal ia begitu optimis Nava akan menerima lamarannya. Lidahnya tiba-tiba menjadi kelu dan kaku. Namun ia harus berbicara.
"Ah begitu ya?" ucapnya terdengar kecewa. "Baiklah," lanjutnya lagi. Ia tertunduk sebentar.
Nava memandangnya dengan hati yang tidak enak. Ia merasa telah menggores hati pria itu dengan silet, kecil namun tajam. Ia sendiri sebenarnya hanya butuh meyakinkan dirinya sendiri, apakah ia sudah siap untuk menikah?
"Ehm, Nak Andre! Mungkin Nava masih butuh pertimbangan matang terkait lamaran kamu, semoga kamu bisa memberinya sedikit kelonggaran waktu ya?" kali ini Tante Dewi yang berbicara.
"Iya gak apa-apa, Tante! Saya mengerti!" ucap Andre mencoba tersenyum.
"Kamu pria baik, Andre! Nava pasti akan mempertimbangkan sangat baik lamaran kamu," ucap Om Indra.
"Iya, Om! Terima kasih!"
Suasana itu seketika hening, hanya ada bunyi rintik-rintik hujan yang terdengar yang terjatuh di atap.
"Baiklah, mungkin saya harus kembali sekarang," ucap Andre berpamitan.
"Nava mau balik lagi ke kosan?" tanya mamanya.
"Aku nginep disini dulu, Ma!" jawab Nava.
"Oke!"
"Saya pamit pulang dulu, Tante, Om! Terima kasih banyak, mungkin lain kali saya kemari lagi!"
"Iya dong, kamu harus kembali lagi kesini, apalagi kalau Nava udah terima lamaran kamu!" ucap Tante Dewi berusaha menyemangati pria itu.
"Assalamu'alaikum!" pamit Andre.
"Wa'alaikumsalam!"
Nava berjalan mengantar Andre ke depan halaman rumahnya.
"Dre!" panggilnya.
Andre membalikan tubuhnya.
"Maafin aku ya? Aku harap kamu mengerti," ucap gadis itu lembut tanpa memandang pria yang ada di hadapannya.
"Iya, aku ngerti kok! Kamu bisa jawab kapan pun ketika kamu siap."
"Makasih banyak, Dre!"
Andre tersenyum lalu masuk ke dalam mobilnya sebelum hujan semakin deras. Ia pun melambaikan tangannya ketika pergi dari rumah itu, menembus hujan yang terasa dingin sampai ke hati.
\=====
Bersambung dulu yaa
Jangan lupa kasih masukan, like, dan votenya
makasiiiih ^_^
__ADS_1