Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 126


__ADS_3

Sinar matahari menyorot dari sudut kemiringan tertentu, membuat Patricia menghalaunya dengan tangan kanannya. Ia berjalan seorang diri di atas trotoar, sambil menunggu taksi yang lewat. Hanya saja fokus pikirannya tidak untuk mencari taksi. Wanita itu terus berjalan sampai angin tidak bosan meniup rambutnya yang tipis. Pikirannya kini tertaut pada sebuah nama pria yang tadi disebut oleh wanita asing yang baru saja ditemuinya hari ini.


Ridho


Mengapa nama itu selalu membuatnya melayang dalam benaknya. Ia sendiri merasa heran. Setelah pencurian kecupan yang dilakukannya membuatnya terus merasa bersalah, sekalipun laki-laki itu sudah memaafkannya. Apakah rasa suka pada pria pemilik pipi chubby itu begitu besar? Apakah ia terobsesi untuk memilikinya? Lalu ada hubungan apa Namira dengan Ridho, sampai-sampai ia menyebut nama pria itu? Patricia menggelengkan kepalanya, berusaha menepis semua pertanyaan yang mengawang-awang itu.


Sebuah taksi tepat berhenti di depan dirinya, setelah ia menjulurkan satu tangannya. Mobil itu melesat cepat di jalanan yang kosong, menyibak dedaunan kecil yang berada di pinggir jalan. Tak butuh waktu lama untuk tiba di Winston Tower, Patricia sudah menginjakan kakinya di pelataran gedung itu. Ia melihat layar ponselnya. Seharusnya pelatihan sudah selesai sore ini dan para peserta sudah kembali ke kamar masing-masing. Hatinya was-was. Namun peduli apa mereka, toh ini pun hidupnya sendiri.


Bunyi dentingan sendok, garpu, pisau, beradu dengan porselen terdengar sayup-sayup ketika Patricia melangkahkan kakinya keluar dari lift. Ia memutuskan untuk mampir ke kafetaria dulu untuk membawa sepiring makanan ke dalam kamarnya. Wanita itu menoleh ke kanan dan kirinya. Hanya ada beberapa peserta pelatihan di sana yang tidak cukup akrab dengannya. Hatinya cukup lega.


Sajian spaghetti carbonara dengan daging cincang sudah tersaji panas di atas pinggan besar. Wangi dari keju parmesan membuat perutnya tergoda. Patricia mengambil sebuah wadah kertas karena berniat membawanya ke dalam kamar. Suara tawa dari seberang membuatnya menoleh. Ia kenal suara-suara itu.


“Pat, kau kemana aja hari ini?” tanya sebuah suara berhasil mengagetkannya. Itu Ferdian.


“Ah-eh, aku ada perlu tiba-tiba,” jawabnya terpaksa. Ia melirik ke pria di samping Ferdian yang tertunduk.


“Ooh...boleh ya keluar?” Ferdian bertanya-tanya.


Patricia melirik kanan kiri mencari alasan.


“Aku terpaksa membolos,” jawabnya kaku.


Ferdian tertawa-tawa.


“Aku duluan ya?!” ujarnya seraya tersenyum kecil setelah mengambil satu kotak dus berisi spaghetti carbonara. Ia tidak ingin berlama-lama di sana, karena tengah menghindari pria yang sedang mengenakan kacamata di sebelah Ferdian.


“Baiklah," jawab Ferdian.


Wanita itu pun melangkah terburu-buru dan masuk kembali ke dalam lift menuju kamarnya.


Ferdian mengambil sebuah piring porselen, lalu diisinya dengan spaghetti dan taburan keju parmesan. Sementara Ridho sudah mengambil hidangan makan malam lebih dulu, ia sudah terduduk di salah satu kursi.


“Jadi kamu mau maju khitbah gak?” tanya Ferdian sembari duduk di hadapan pria yang sedang mengunyah sambil mengenakan kacamatanya.


“Jadi!” jawabnya tegas.


“Kapan?”


“Bulan depan sepertinya. Aku udah bilang sama Ustadz. Aku mau kabarin bapak sama ibu di Bandung, biar mereka gak kaget,” terang Ridho.


“Ooh....”


Ferdian menatap sahabatnya yang tertunduk itu. Akhir-akhir ini sikapnya lebih pendiam, meski memang aslinya, Ridho tidak terlalu banyak bicara. Ia selalu fokus pada pelatihannya, merencanakan proyek kecil yang ditugaskan oleh mentor pribadinya, dan mengusahakan pekerjaan jauhnya tetap berjalan lancar. Sepertinya memang Ridho sudah membulatkan tekadnya dalam ta’aruf ini, dan mengabaikan perasaannya pada Patricia.


Tiba-tiba ponsel Ferdian bergetar. Nama sepupunya itu terpampang di sana. Itu Andre yang menghubunginya.


“Apa kabar Bang?” sapanya ramah.


“Aku baik Fer. Kamu sendiri gimana?” tanya Andre, nadanya terdengar ragu-ragu.


“Alhamdulillah. Ada apa Bang?” tanya Ferdian penasaran, sudah lama sekali mereka tidak saling menyapa. Pasti ada sesuatu terjadi atau memang Andre hanya ingin menyapa sepupu tergantengnya itu? tanyanya dalam benak.


Hening sejenak.


“Arsene, Fer!”


“Kenapa Arsene?” tanya Ferdian tersentak.


“Arsene...,"


DEG.


\=\=\=\=\=


Sebelumnya


Semangat Ajeng di pagi itu menyebar di seluruh tubuhnya, setelah beberapa hari yang lalu ia sudah mendapat suntikan semangat dari suaminya. Wanita itu memang sedang sibuk di akhir semester ini. Mahasiswanya tengah berjuang dalam ujian akhir semester, sehingga ia pun mempersiapkan agar mereka bisa mendapatkan hasil yang bagus. Belum lagi bimbingan beberapa mahasiswa akhir yang kadang membuat jadwal tiba-tiba. Sudah ia beritahukan beberapa kali agar mereka membuat jadwal seminggu sebelum pertemuan, jika ingin merubah jadwal maka berlaku untuk minggu berikutnya.


“Bi Asih….” panggil Ajeng di kala ia telah selesai merapikan anaknya.


Sehabis subuh, Bi Asih sudah keluar dan menyiapkan sarapan di dapur. Namun pukul 7 pagi ini, batang hidungnya belum terlihat lagi di area dapur atau ruangan utama.


“Kamu duduk di sini dulu ya, mommy siapkan sarapan!” ucapnya mendudukan Arsene di kursi makan miliknya. Ajeng menyiapkan sarapan untuk anaknya dan menaruhnya di hadapan Arsene agar anak itu menyendok makanannya sendiri. Sementara ia, mencari Bi Asih di kamarnya yang tertutup.

__ADS_1


Pintu tertutup itu diketuknya perlahan. Suara parau terdengar di sana.


“Masuk, Neng!” ujar perempuan tua itu.


Perempuan yang sudah bekerja di keluarga Diningrat hampir ¾ usia Ajeng itu tengah berbaring di kasurnya, dibalik selimutnya. Wajahnya terlihat pucat. Ajeng terkejut dan menjadi khawatir. Ia menghampiri Bi Asih.


“Bibi sakit?” tanyanya cemas, tangannya memegang dahi perempuan tua itu. Suhu tubuh Bi Asih terasa panas.


“Bibi demam, bibi harus ke dokter!” ujarnya lagi.


“Gak usah Neng. Bibi udah minum paracetamol tadi. Cuma maaf Bibi izin istirahat dulu hari ini, kepala Bibi pusing,” ucapnya lemas.


“Ya udah, Bibi istirahat aja dulu, biar Ajeng bawa Arsene ke kampus,” ujarnya.


“Makasih, Neng!”


“Cepet sembuh ya, Bi! Bibi kalau kecapean bilang aja sama aku. Aku gak mau lihat Bibi sakit kaya gini. Atau perlu aku panggil Teh Ani, buat rawat Bibi?” tawar Ajeng berdiri di samping kasur.


“Gak usah, Neng. Kalau ada apa-apa, biar Bibi aja yang suruh anak Bibi ke sini.”


“Ya udah Bibi tidur aja ya. Aku siap-siap dulu.”


“Iya Neng!”


Ajeng kembali keluar dan menutup pintu kamar Bi Asih, membiarkannya beristirahat selama beberapa hari ke depan. Sementara itu ia melihat Arsene sedang menikmati sarapannya seorang diri, beberapa makanan miliknya berserakan ke atas meja. Mulutnya tampak belepotan karena saus. Ajeng menggeleng-geleng saja, sepertinya hari ini ia harus menyiapkan tenaga ekstra.


Parkiran mobil di halaman Fakultas Ilmu Budaya tampak penuh. Ajeng memarkirkan mobilnya di antara dempetan mobil lain yang lebih besar. Arsene memasang wajah sumringahnya ketika ia dibawa oleh sang mommy ke tempat kerjanya. Ajeng tersenyum kepada anaknya yang duduk di dalam carseat.


“Arsene, kamu harus tenang ya. Duduk di tempat mommy, dan nurut sama mommy, okay?” pinta mommy Ajeng berusaha menawar anaknya yang lincah itu.


“Okay!” jawabnya tersenyum. Ajeng membuka seatbelt miliknya dan anaknya. Lalu keluar dari dalam mobil. Ia mengambil tasnya dan tas mainan milik Arsene, kemudian menurunkan anaknya dari sana.


Arsene berjingkrak riang, ketika menginjakan sepatunya di atas aspal. Sementara Ajeng terlihat kerepotan dengan beberapa tas yang digendongnya di punggung, serta sebagian lagi dijinjing di tangan kanannya. Tangan kirinya menuntun sang anak untuk menuju ruang dekanat.


Banyak mahasiswa yang sedang duduk di pelataran gedung dekanat memperhatikan kehadiran anak dan ibu itu. Arsene melompat-lompat riang, sementara Ajeng tetap menuntun tangannya yang mungil. Mahasiswa-mahasiswa itu terlihat gemas melihat sosok Arsene yang lucu dan gemuk. Ini adalah kedatangan perdana anak itu di dalam kampus orangtuanya.


“Aceeen!” panggil sebuah suara dari belakang, ketika Ajeng dan Arsene hendak menaiki tangga. Ajeng mxenoleh. Itu Andre yang baru tiba juga.


Arsene tersenyum lebar ketika melihat wajah pamannya itu.


“Hai! Tumben bawa Arsene ke kantor?” tanya Andre menghampiri ke arahnya.


“Bi Asih lagi sakit, terpaksa deh bawa Arsene.”


“Yuk sini Uncle gendong kamu!”


Karena gedung dekanat tidak memiliki lift, mereka memang terpaksa harus menaiki atau menuruni tangga setiap harinya. Gedung dekanat FIB memang tidak terlalu tinggi hanya memiliki 3 lantai saja, jadi untuk apa memiliki lift.


Andre dengan sigap menggendong Arsene di tubuhnya. Arsene kegirangan dan memeluk leher pamannya.


“Gimana Nava sekarang? Katanya kemaren sempat bed rest ya?” tanya Ajeng ketika mereka tengah menaiki tangga menuju lantai tiga.


“Iya, padahal udah masuk trimester 2 tapi, morning sick-nya masih terus-terusan. Makanya disertasinya tertunda dulu untuk sekarang,” terang Andre.


“Duh, mudah-mudahan sehat terus ya!”


“Aamiin.”


Mereka pun tiba di ruang dosen. Kedatangannya disambut meriah oleh para dosen yang ada di sana, apalagi ketika melihat Arsene.


“Ya ampun, itu Arsene udah gede aja. Iihh lucu bangeeet!” ucap Susan yang kebetulan mejanya terletak dekat pintu. Ia mencubit pelan pipi gembul Arsene yang masih digendong Andre.


“Arseeeeene! Masya Allah, Jeng! Anak kamu lucu banget sih. Iih sini gendong sama nenek yuk!” sahut Bu Resti, mengambil paksa Arsene dari Andre.


Arsene jadi terkejut dan ingin kembali ke pamannya lagi.


“Uuh… ini akrab banget sama omnya ya?” seru Bu Resti lagi, ia mengembalikan lagi Arsene pada Andre.


“Iya tuh. Bentar lagi punya saingan lho kamu, anaknya om Andre bakal lahir deh!” seru Susan yang gemas karena ingin menggendong Arsene.


Ajeng dan Andre tertawa-tawa saja.


Namun karena waktu terbatas, sementara ujian akhir semester akan dimulai, mereka jadi kembali fokus untuk menuju kelas mahasiswanya. Begitu pula dengan Ajeng dan Andre, setelah mereka mengisi daftar absensi digital, keduanya menuju kelas masing-masing.

__ADS_1


“Nanti ketemu lagi ya, Cen!” ujar Andre yang berbelok menuju gedung B.


“Uncle temana?” tanyanya.


“Uncle mau ngajar dulu, bye bye!”


“Bye bye."


Sementara Ajeng dan Arsene akan menuju gedung C. Mereka berdua menjadi pusat perhatian bagi para mahasiswa yang masih berada di luar.


“Itu anak Miss Ajeng sama Ferdian, lucu ih. Gemesin.”


“Cakep ya?”


“Iyalah, ortunya aja pada cakep.”


“Huwaaa, gak kebayang gedenya secakep apa! Gua mau tungguin ah.”


“Ketuaan woy!”


Percakapan itu sayup-sayup terdengar di telinga Ajeng. Jika mereka masih mengenal Ferdian, berarti itu datang dari adik junior angkatan yang mengenalnya atau mahasiswa tingkat akhir yang belum lulus kuliah. Ia hanya tersenyum kecil, lalu menaiki tangga menuju lantai dua sambil kerepotan. Beruntung ada mahasiswi yang membantunya.


Ujian akhir semester dimulai pagi itu di dalam kelas C202. Arsene dengan mata yang berkilauan duduk di atas kursinya sambil menikmati buah pisang kesukaannya. Dua kakinya yang menggantung terlihat bergoyang-goyang. Sesekali ia bernyanyi di tengah keheningan kelas yang sedang diselimuti aura ketegangan.


Twinkle twinkle little star


How I wonder what you are


Up above the world so high


Like a diamond in the sky


Twinkle twinkle little star


How I wonder what you are


Suara imutnya mengeluarkan kata sesuai yang bisa ia lafalkan saja. Lidahnya memang masih kaku, tetapi irama dan nadanya sungguh pas. Hampir seluruh mahasiswa menahan tawa karena gemas dibalik meja mereka masing-masing. Arsene melunturkan aura ketegangan yang ada di sana. Sementara Ajeng hanya tersenyum melihat anaknya yang tenang dan menikmati suasana baru baginya.


“Mommy, i want to drink! Hausss!” ucapnya memonyongkan bibirnya yang merah.


Ajeng menyodorkan botol minumnya ke mulut anaknya itu.


“Aaaah…! Cegeeeerr!” ucapnya refleks, pengucapan huruf R begitu jelas di ujung lidahnya. Mahasiswa lain tampak gemas terhadap anak dosennya itu.


Setelah minum, Arsene kembali bernyanyi nursery rhyme lainnya.


\=\=\=\=\=


Siang itu Ajeng dan Arsene duduk di sebuah kursi di bawah pepohonan rindang di taman fakultas. Ajeng sedang menyuapi Arsene yang berjalan kesana kemari sambil menikmati makanannya. Kadang Ajeng terpaksa berlari mengejar anaknya jika ia sudah cukup berada jauh. Baterai tenaganya untuk menjaga Arsene hari ini entah berapa persen lagi, dan ia harus tetap kuat sampai sore. Masih ada 2 kelas yang akan ujian hari ini.


Sorenya, Ajeng tampak terlihat lelah. Namun energinya harus benar-benar ia siapkan untuk konsentrasi mengemudi ke apartemennya. Ia menuntun Arsene keluar dari gedung dekanat yang mulai sepi. Mobil-mobil di parkiran sudah berkurang. Ia melepas tangan Arsene dan mengambil kunci mobilnya. Dirogohnya saku di dalam tasnya, hanya saja karena banyak mainan anaknya yang juga ditaruh di sana, sehingga kunci otomatis mobilnya itu sulit diambil. Ajeng berusaha mencari-cari lagi, dan ketemu. Dengan cepat jarinya menekan tombol kunci itu, seketika lampu mobil itu berkelip sebanyak dua kali. Ajeng membuka pintu mobilnya dan memasukan semua barang ke dalamnya.


Betapa terkejutnya, di kala ia menemukan Arsene tidak berada di sampingnya lagi.


“Arseeene!” panggilnya, ia berjalan ke sisi mobil yang lain. Namun anak itu tidak ada di sana. Ia berkeliling di halaman parkir, tak juga ditemukan. Hatinya jadi was-was. Jantungnya berdegup kencang seiring dengan langkahnya yang keliling kesana kemari.


Ia kembali ke pelataran gedung dekanat, lalu ke halaman parkir motor.


“Arseeeene!” panggilnya mulai panik, tangannya bergetar.


Di halaman kampus memang sudah tidak banyak orang. Hanya ada beberapa di sana, yang hendak keluar dari halaman parkir motor. Ajeng bergegas menuju trotoar sambil berpikir kira-kira dimana anaknya berada. Arsene sangat menyukai bunga yang berwarna-warni, jadi sepertinya anak itu berada di suatu tempat yang menarik perhatiannya. Apalagi dengan halaman dan jalanan fakultas yang luas dan lenggang ini membuat anak itu bisa berlari kemana pun ia suka.


Ajeng melihat tanaman bunga-bunga yang berjejer rapi di samping trotoar di ujung gerbang fakultasnya. Dengan langkah setengah berlari, matanya tetap awas memperhatikan balita yang mengenakan baju berwarna kuning itu. Benar saja, anak itu berada di sana. Berjongkok sambil mengambil beberapa kuntum bunga berwarna merah di tangannya mungil. Ia terlihat gembira, padahal ibunya sedang panik setengah mati. Mengapa bisa sejauh itu Arsene pergi, padahal ibunya hanya mencari kunci mobil saja sebentar.


“Arsene!” teriak Ajeng dari seberang trotoar, membuat anak itu menoleh ketika dipanggil namanya lalu kegirangan dan berlari menuju ibunya.


“Arsene stop! Stop!” teriak Ajeng.


Bukannya berhenti, anak itu terus berlari, membuat Ajeng pun ikut berlari menyeberang untuk menangkapnya. Namun tiba-tiba sebuah motor yang akan masuk ke dalam gerbang fakultas melaju kencang. Keberadaan anak itu yang berlari tiba-tiba, membuat sang pengemudi motor menjadi terkejut dan tidak bisa mengontrol remnya.


BRUK. Tubuh mungil Arsene yang tertabrak motor, terjatuh menelungkup. Darah mengucur dan membasahi aspal kasar yang berkerikil. Tubuh Ajeng seketika lemas tak berdaya melihat pemandangan mengerikan. Wanita itu tak sadarkan diri.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


(╥﹏╥)


Maaf bersambung dulu, author mau nangis


__ADS_2