Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 28


__ADS_3

Malam semakin pekat, angin semakin kencang berhembus, dan suasana jalan semakin sepi saja.


Ferdian melajukan motor besarnya dengan kecepatan sedang karena memang udara sangat dingin, mungkin karena sudah masuk musim kemarau. Di belakangnya duduk seorang gadis yang tidak dikenalnya kecuali yang ia tahu gadis itu adalah mahasiswa junior di kampusnya. Namanya Serena, seperti yang ia sebutkan ketika Ferdian menabraknya ketika di perpustakaan siang itu.


Terpaksa Ferdian mengantarkannya karena kasihan. Toh alamat kosannya juga tidak jauh, jadi sebentar saja ia akan berbuat baik.


Tiba-tiba gadis di belakangnya itu merengkuh tubuh Ferdian, membuat pria itu terkejut sehingga keseimbangan tubuhnya goyah. Motor yang dikemudikannya bergoyang-goyang selama beberapa detik.


"Tolong lepasin ya, saya gak nyaman!" Seru Ferdian tegas, membuat gadis itu melepaskan tangan dari tubuhnya perlahan.


"Maaf aku refleks karena kedinginan," ucapnya lirih.


Ferdian menghela nafas. Ajeng saja belum pernah dibonceng di motor kesayangannya itu, ini gadis asing tiba-tiba main peluk aja. Dia mendengus kesal dalam hati.


Serena meminta Ferdian untuk menurunkannya di depan sebuah rumah kosan yang cukup besar dan bernuansa modern. Gadis itu mengaku kalau ia tinggal di sana.


"Terima kasih banyak Kak, mohon maaf sudah merepotkan!" ucapnya sambil menunduk.


"Sama-sama," jawab Ferdian datar dan ia kembali menyalakan mesin motornya.


"Hati-hati, Kak Ferdian!" ucap gadis itu lagi.


Tapi Ferdian melenggang begitu saja dengan motornya, menembus gelapnya malam. Gadis itu tersenyum menatap punggung Ferdian yang hilang di tikungan jalan.


\===


Ferdian memarkirkan motornya di halaman parkir asrama kampus. Ia berjalan menuju kamarnya.


"Kemana aja Lo, Fer?" Tanya Malik yang sudah berganti baju.


"Ada perlu, sebentar!" jawab Ferdian menutupi kejadian yang sebenarnya.


"Woy udah kumpul semua?" tanya Ferdi sambil menghitung kawannya itu. Ia mengangkat jempolnya.


Kelima kawannya sedang asyik mengambil potongan pizza yang dipesan oleh Ridho, tentu saja karena disuruh oleh Ferdian.


"Gue mandi dulu ah," ucap Ferdian mengambil handuknya.


"Awas jangan kelamaan," celetuk Danu.


"Emang mau ngapain?" tanya Ferdian polos.


"Ya siapa tau di dalem sambil bayangin Miss Ajeng, wkwkwk!"


Ferdian tersentak. Ia ingat belum melakukan video call dengan istrinya itu.  Langsung saja ia mengambil ponselnya, melihat jam yang masih menunjukkan pukul 21.17 WIB. Ia mengirim pesan instan, tetapi masih ceklis satu. Apa Ajeng sudah tidur? tanya Ferdian dalam hati.


"Woy, kenapa malah sibuk lihat hp? Itu celana Lo melorot!" seru Ghani, membuat pandangan Ferdian menatap bagian bawahnya, ia lupa sudah membuka resletingnya. Ia hanya menyengir saja dan masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa ponsel miliknya.


"Ya elah, mau mandi aja bawa hp, mau ngapain coba?!" kata Ghani komplain.


"Mau rekam sesuatu mungkin, bikin yang hot hot!" jawab Syaiful ngasal.


Ferdian menyalakan kerannya kencang-kencang di dalam kamar mandi. Ia mendudukan dirinya di atas toilet duduk dan mulai menghubungi Ajeng.


Sementara menunggu panggilannya terhubung, ia menyikat giginya dulu.


"Hai...." sapa suara lembut di seberang sana, membuat ia terburu-buru membersihkan mulutnya.


"Halo Sayang!" sapa Ferdian mengelap mulutnya dengan tangan. Ia melihat Ajeng sedang terkejut-kejut.


"Itu kamu lagi ngapain kok telanjang dada gitu sih? Dan kenapa berisik banget?" tanya Ajeng penasaran dan cemas.


"Hehe, aku di kamar mandi! Mau lihat?" goda Ferdian.


Ajeng berteriak histeris.


"Udah ih, jangan di video, malu tau! Lagian kenapa harus di kamar mandi?"


"Di kamar banyak temen! Jadinya disini aja deh,"


"Ya Ampun, Fer!" Ajeng menggeleng-geleng dibuatnya.


"Gimana Diklat kamu, seru?" tanya Ferdian.


"Lumayan lah, yang penting dapat ilmu baru," jawab Ajeng.


"Baguslah!"


"Acara kamu gimana?" Ajeng tanya balik.

__ADS_1


"Biasa aja lah, gak ada yang spesial, kaya tahun kemarin aja. Aku cuma kasih sambutan sedikit, itu pun kata-katanya karena aku ingat kamu," cerita Ferdian.


"Emang kamu ngomong apa?"


"Ya aku cuma inget saat aku dijodohin sama kamu dan gimana usaha aku untuk dapatin kamu,"


"Ah aku ga ngerti," ucap Ajeng.


"Kapan pulang?" tanya Ferdian sendu.


"Besok malam mungkin, atau Minggu pagi,"


"Hmm....masih lama!"


"Sabar Sayang! Udah sana kamu lanjutin mandinya, ntar temen-temen kamu curiga lho!"


"Biarin ah, aku masih kangen kamu!"


"Aku yang ngantuk, Sayang!" seru Ajeng, karena kegiatan hari ini memang sangat padat.


"Ya udah deh, selamat bobo, mimpiin aku ya!"


"Mudah-mudahan, hihi!"


"Yakin kamu gak mau liat aku mandi?" godanya lagi, membuat wanita di videonya itu lagi-lagi teriak.


"Ferdian!!!"


"Aaah....!" Desah Ferdian.


"Aku matiin sekarang lho!" ancam Ajeng.


"Eh kamu panggil-panggil nama aku, emang gak ada yang denger tuh?"


"Enggak kayanya, aku di kamar sendirian, Novi lagi keluar!"


"Ooh gitu, ya udah deh, kecup online dulu ya, muaaach!" Lagi-lagi Ferdian menempelkan bibirnya di kamera ponselnya, yang membuat Ajeng bergidik geli.


"Giliran kamu!" seru Ferdian.


"Muaccch! Bye, Sayang!" Kecup online ala Ajeng berlangsung singkat tanpa menempel di kamera.


"Bye!" Ferdian tertawa-tawa saja melihat tingkah istrinya yang jaim dan menggemaskan itu, membuatnya semakin rindu dengan kehadirannya.


"Ngapain Lo lama-lama di kamar mandi?" tembak Danu.


"Iya Fer! Pake ada acara mendesah segala, kedengaran tau!" protes Syaiful.


Ferdian terkejut, ia menyengir saja. Apa kawan-kawannya itu mendengar percakapannya juga?


"Curiga nih!" Timpal Danu memicingkan matanya.


"Gue gak ngapa-ngapain kok, cuma menikmati mandi aja, emang gak boleh?!" Kali ini Ferdian yang sewot.


"Ribut aja kalian! Cepet Fer, nih pizzanya dimakan keburu habis!" protes Ridho menengahi keributan yang tidak penting malam itu.


\=====


Malam itu, keenam mahasiswa heboh dari jurusan Sasing benar-benar bergadang. Ferdian, Ridho, Ghani dan Malik memutar film thriller dan action non stop. Sedangkan Danu dan Syaiful yang paling tengil, mereka tidak mau menonton thriller yang membuat kepala mereka pusing. Jadi keduanya memilih bermain PS saja. Apalagi mereka mendapatkan layar tambahan dari Malik karena ia memang satu asrama dengan Ferdian.


Film action yang mereka tonton ternyata tidak terlalu seru. Hal ini membuat Ridho dan Ghani tertidur lebih dulu. Begitu juga Syaiful dan Danu yang terlelap di kasur Ferdian, karena kelelahan ikut membantu panitia membereskan aula.


"Lo beneran serius mau deketin Miss Ajeng?" Tanya Malik di sela-sela film diputar.


"Kenapa emangnya?" Ferdian balik menanyakan.


"Jawab jujur ya Fer, gue lagi gak mau bercanda!"


"Kalau serius kenapa?"


"Gak masalah sih buat gue. Gue justru dukung Lo buat dapetin Miss Ajeng," ujar Malik.


"Gue serius, Lik! Gue suka sama Miss Ajeng dari sejak jadi maba (mahasiswa baru), dan makin kesini rasa suka gue makin besar apalagi setelah dia ngajar di kelas kita," ucap Ferdian jujur.


"Tapi apa Lo, percaya diri? Maksud gue, ini Miss Ajeng lho! Orang-orang juga pada tau kalau dia emang konsen banget sama karirnya. Ardi aja yang keliatan banget pedekatenya agak nyesek tuh, soalnya Ajeng ngehindar mulu!"


"Tau darimana Lo, kalau Ajeng ngehindarin Ardi?"


"Eiits, jangan ngeremehin gue ya, gue ini agen rahasia, haha!"

__ADS_1


Ferdian tertawa-tawa.


"Kalau Lo agen rahasia, mestinya Lo tau berita ini!" ucap Ferdian, membuat Malik mengernyitkan keningnya.


"Berita apa?"


"Ah, dasar agen rahasia abal Lo mah!"


"Serius, berita apa?!"


Ferdian memperhatikan wajah teman-temannya yang sedang tertidur. Tampaknya sudah pulas semua. Bahkan ia sampai mengibas tangannya di depan wajah mereka yang tertidur pulas.


"Buruan kasih tau!" seru Malik mengecilkan suaranya.


"Oke, karena elo salah satu temen yang gue percaya gue kasih berita ini, tapi jangan pingsan oke?!"


"Pingsan ga boleh, oke lah! Kalau bocorin?"


"Apalagi bocorin! Top secret ini, mahal bayarannya!" Ujar Ferdian.


"Okelah, Lo bisa pegang janji gue!"


"Oke, gue percaya Lo! Sini gue kasih tau!"


"Apa?"


"Gue udah nikah!" terang Ferdian, sontak Malik terkejut dan matanya terbelalak lebar.


"Seriusan?!"


Ferdian mengangguk.


"Sumpah demi apa, Fer?!"


"Sumpah demi Allah lah, gue ijab kabul kan perjanjiannya sama Allah! Gue nikah gak main-main!" terang Ferdian seterang-terangnya.


"Lha terus katanya serius mau deketin Miss Ajeng, jadi gimana sih?" Malik kebingungan.


Ferdian menahan tawanya.


"Kira-kira istri gue siapa? Tebak!"


"Miss Ajeng!" celetuk Malik asal saja


Ferdian mengacungkan dua jempolnya.


"SERIUSAN?!!!!!" suara Malik tak dapat ditahan, ia menutup mulutnya ketika melihat gerakan tubuh Danu.


Ferdian mengangguk lagi.


"Jangan sampai Danu atau Syaiful tau, mereka banyak bacot soalnya!"


"Ya ampun, Fer! Gue gak nyangka Lo seberuntung itu! Pantes aja Lo refleks banget pas ngomong Sayang ke dia!"


"Iya, beneran refleks, pas dia manggil nama gue, berasa manggil di rumah. Nih buktinya!" Ferdian menunjukan foto pernikahannya yang ia simpan secara online, berikut foto buku nikah mereka.


"Wah beneran, Fer! Tapi kenapa kalian sembunyiin status kalian?" tanya Malik penasaran.


"Itulah maunya Ajeng! Gue sih bangga punya istri kaya dia. Apa karena gue masih mahasiswanya kali, jadinya dia agak ragu-ragu, khawatir pesonanya bakal turun?!"


"Ya mungkin bisa jadi. Wajar sih! Sabar aja elo-nya! Eh tapi, kalian bisa nikah gitu karena dijodohin?"


"Iya, ayah gue yang minta! Beruntungnya gue bisa milih mau ceweknya yang mana pas disodorin foto. Eh ternyata ada foto Miss Ajeng, langsung aja hajar! Hahaha!"


"Beruntungnya Lo! Sorry nih gue masih kepo, apa Ajeng suka sama Lo, Fer?"


"Tidak ada yang bisa menampik pesona Ferdian Winata! Hahaha!" ucapnya pede sekali. Malik melempar bantal ke wajahnya.


"Syukur deh, kalau kalian udah saling jatuh cinta! Meski emang Lo harus tahan diri aja selama di kampus, selama istri Lo masih pengen nyembunyiin statusnya. Dan Lo juga mesti hati-hati, ancaman Ardi itu nyata loh! Dia masih saingan Lo! Jadi gimana caranya agar Lo bisa jauhin Ajeng dari dosen gym itu?!"


"Iya gue tau, Ardi emang serius deketin Ajeng! Tapi dia gak akan menang lawan gue, selama gue di kampus akan gue awasi terus,"


"Mantap lah, gue bantuin awasi juga kalau ada yang aneh-aneh,"


"Thanks my bro!"


Ferdian dan Malik men-tos kepalan tangan mereka tanpa sadar ada sepasang telinga mendengar percakapan mereka berdua.


\======

__ADS_1


Keep like & vote


Thank you 🤗❤️


__ADS_2