
Siang hari itu, Ferdian mengunjungi perpustakaan di sela-sela waktunya menunggu perkuliahan berikutnya. Ia tidak sendirian, ia bersama Ridho untuk membaca berbagai karya ilmiah yang sudah ditulis oleh para mahasiswa yang telah lulus. Seperti saran Ajeng kemarin, ia hendak mencari referensi dan perbandingan untuk rencana skripsinya. Meski sebenarnya skripsinya belum dimulai semester ini, namun ia begitu antusias untuk menyusun tugas karya ilmiah persyaratan lulusnya itu mulai saat ini. Ridho pun ternyata memiliki ambisi yang sama seperti kawannya itu, makanya ia pun tidak menolak ketika Ferdian mengajaknya ke perpustakaan.
Perpustakaan di bagian koleksi karya ilmiah adalah korner yang paling sering dikunjungi oleh mahasiswa, terutama mahasiswa tingkat akhir. Seperti Ferdian, mereka hendak mencari referensi teori juga bahan perbandingan untuk karya sastra yang akan mereka bahas. Meski seringkali berbeda, tetapi hal itu sangatlah membantu. Ferdian mencoba mencari karya ilmiah yang sesuai dengan apa yang diinginkannya itu. Istrinya benar, ia mendapatkan banyak karya ilmiah dengan bahasan yang mirip. Tentu saja hal itu membuat dirinya antusias sekaligus kebingungan. Namun ia tak ambil pusing, karena masih tahap merencanakan, ia hanya membaca apa saja yang sekiranya ia inginkan.
Sudah hampir satu jam, Ferdian dan Ridho berada di dalam perpustakaan yang terus bertambah ramai. Akhirnya mereka memutuskan keluar sebelum kelas terakhir dimulai 20 menit lagi.
“Fer, saya ke toilet dulu ya?” ucap Ridho setelah selesai mengenakan sepatunya.
“Oke! Mau aku tungguin gak?”
“Gak usahlah, duluan aja! Mules nih!” jawab Ridho, wajahnya mengkerut, menahan sakit di perutnya, .
“Ya udah!”
Dengan santai, Ferdian memasang sepatunya. Seorang perempuan duduk di sebelahnya sambil kerepotan membawa buku, tas, dan sepatunya. Lalu ia menaruhnya di atas kursi panjang di antara dirinya dan Ferdian.
“Eh ada Kak Ferdian!” sapa perempuan itu, Serena.
“Hey, baru dari perpus juga?” tanya Ferdian memasang sepatu kirinya.
“Iya Kak!” jawab Serena sambil memasukan buku-buku yang baru dipinjamnya ke dalam tas ranselnya.
“Kamu sering banget ke perpus kayanya ya?”
“Iya kak, aku seneng baca soalnya, jadi tiap hari aku sempatkan ke perpus, meski cuma sebentar!” ucap Serena sambil memasang kaos kaki putihnya.
“Bagus lah! Jarang-jarang ada orang kaya kamu sekarang,” puji Ferdian menatapnya.
“Hehe, makasih Kak! Kakak sendiri aja?” tanya Serena tersipu.
“Barusan sih sama temen,” jawab Ferdian, kali ini tatapannya menuju pemandangan lain.
Di seberang jalan, dua orang rupawan berjalan beriringan sambil melempar tawa sesekali. Mereka terlihat sangat akrab berbincang satu sama lain.
Serena melihat ke arah Ferdian yang menatap dua makhluk rupawan itu. Ah, itu Miss Ajeng dan Andre dosen baru itu. Serena mengerti pasti Ferdian sedikit merasa terganggu dengan pemandangan di depannya itu.
“Duh, serasi banget ya Miss Ajeng dan dosen baru itu, siapa ya namanya, aku lupa!” ucap Serena, tatapannya mengikuti kemana Miss Ajeng dan Andre berjalan.
“Andre,” jawab Ferdian.
“Nah, Mister Andre! Miss Ajeng dan Mister Andre kayanya cocok banget jadi pasangan. Sama-sama cantik dan ganteng, dua-duanya juga pinter!”
Ferdian terkekeh dalam hati. Anak ini tidak tahu apa-apa, batin Ferdian.
__ADS_1
“Cocok ya?”
“Iya cocok banget kalau menurutku sih!” ujar Serena menoleh pada Ferdian. “Di kelasku banyak juga lho yang pasangin mereka, soalnya mereka sering ketemu gitu kalau habis ngajar,” lanjut Serena.
“Oh gitu,” respon Ferdian datar.
Ferdian menatap lagi ke arah Ajeng dan Andre, namun keduanya sudah tidak tampak. Mungkin mereka sudah masuk ke gedung dekanat. Ferdian hanya menghela nafasnya. Ia menatap jam tangannya, lima menit lagi kelas terakhir akan dimulai.
“Saya duluan ya!” pamit Ferdian lalu berdiri dari tempat duduknya.
“Kak Ferdian kuliah di gedung mana?” tanya Serena yang ikut berdiri.
“Gedung B!”
“Bareng dong kak, aku juga ada kuliah di sana!”
Ferdian mengangkat bahunya. Keduanya pun berjalan menuju gedung B. Serena tersenyum tersipu-sipu ketika berjalan beriringan dengan Ferdian, meski dirinya hanya berjalan di belakang pria bertubuh tinggi itu.
\=\=\=\=\=
“Halo Sayang, kamu pulang jam berapa?” tanya Ajeng setelah selesai mengajar. Mejanya masih belum rapi karena buku-buku dan diktat yang barusan dibagikan untuk mahasiswanya itu masih ada sisa.
“Bentar lagi, kayanya! Ini masih ada diskusi sebentar buat tugas minggu depan. Sebentar lagi ya, gak apa-apa?” jawab Ferdian dengan latar suara yang cukup ramai.
“Ya udah aku tunggu aja!”
Ajeng terpaksa menunggu suaminya itu karena tadi pagi mereka berangkat bersama-sama dengan menggunakan mobil, jadinya ia tak bisa pulang duluan. Meski sebenarnya bisa saja jika menaiki taksi online atau angkutan umum. Hanya saja ia memilih untuk menunggu suaminya itu, toh hanya sebentar.
Ia merapikan meja kerjanya, menumpuk buku-buku ajar miliknya, juga menyimpan diktat ke dalam lemari mejanya. Suasana ruang kerja sudah sepi, hampir semua dosen yang mengajar hari ini sudah kembali pulang.
Hanya ada dua meja yang kemungkinan masih belum ditinggal pemiliknya, meja milik Ardi dan Andre. Meja keduanya terlihat masih agak berantakan dengan kertas hasil tugas mahasiswa yang menumpuk.
Ajeng merogoh tas miliknya hendak mengambil permen dari saku tasnya. Entah kenapa ia agak sedikit merasa mual. Mungkin karena ia telat makan tadi siang, biasanya gejala mual itu muncul di saat seperti itu. Namun bukannya permen yang ia dapatkan, melainkan cokelat yang diberikan Andre kemarin. Sebatang dark chocolate dengan butiran kacang almond di dalamnya. Langsung saja ia membuka cokelat itu dan memakannya. Benar kata Andre, sekalinya makan cokelat hatinya tiba-tiba merasa tenang. Meskipun rasanya sedikit pahit karena
merupakan jenis dark chocolate, tetapi lidahnya sangat menyukainya.
“Kamu belum pulang, Jeng?” tanya Ardi yang baru datang dan langsung berjalan ke meja kerjanya.
“Bentar lagi!” jawab Ajeng, mulutnya masih dipenuhi cokelat.
“Nunggu suami?”
Ajeng mengangguk. Ardi tersenyum saja melihat tingkah Ajeng seperti anak kecil yang sibuk dengan cokelatnya.
__ADS_1
“Aku duluan ya Jeng! Kamu gak apa-apa sendirian?”
“Gak apa-apa Di! Bentar lagi juga pulang kok!” jawab Ajeng.
“Oke, hati-hati ya!” ucap Ardi yang kemudian melenggang keluar.
Tak lama setelah Ardi pergi, Andre datang membawa tas laptopnya dan menanyakan hal yang sama dengan apa yang ditanyakan oleh Ardi. Namun, wanita itu masih tetap sibuk dengan cokelat di mulutnya.
“Ya ampun ini ada anak kecil asyik banget deh!”
“Enak banget cokelatnya, Dre! Kamu beli dimana?”
“Ini beli di Swiss!” jawab Andre sambil membereskan meja kerjanya.
Ajeng membelalakan matanya. Pantas saja nikmat.
“Yah gak bisa beli lagi deh!” ucap Ajeng kecewa.
“Aku masih punya banyak kok! Mau lagi?”
Ajeng mengangguk antusias. “Kapan kamu ke Swiss?”
“Sebelum pulang ke Indonesia, aku mampir dulu ke Swiss, ya liburan bentar lah! Dan yang pasti nyetok cokelat dong!”
“Ahh….you’re so lucky!” ucap Ajeng berbinar.
“Besok aku bawain lagi ya?”
“Duh, jadi ngerepotin, tapi makasih banyak deh!” ucap Ajeng sambil melahap potongan cokelatnya yang terakhir.
Ponsel Andre terdengar berdering nyaring, lalu ia mengangkat teleponnya.
“Ya?”
Ajeng hanya memperhatikan pria itu yang hanya menjawab iya-iya dan iya, kemudian menutup teleponnya dan memandangnya.
“Jeng, kamu pulang bareng aku ya?”
\=\=\=\=\=
[Visual Cast Andre]
__ADS_1
Keep reading, like & votenya jangan lupa
Makasiiiih ^^