
Ridho merebahkan dirinya di atas kasur setibanya ia di kamar miliknya. Lalu ia menatap jam tangannya. Lebih baik ia langsung membuka laptopnya dan mengirim CV ta’arufnya kepada Ustadz Ahmed.
Email Sent
Email berisi rangkuman biodata, riwayat pendidikan, kesukaan dan ketidaksukaan, visi misi pernikahan, serta rencana masa depan milik Ridho Effendi itu sudah dikirimkan oleh yang bersangkutan kepada ustadznya. Dengan harap-harap cemas, pria itu menunggu balasan emailnya.
Selama menunggu, ia membolak-balik modul yang berisi penjelasan terkait materi yang didapatkannya kemarin. Gara-gara ciuman itu, konsentrasi belajarnya buyar. Ia bertekad untuk tidak akan memikirkan Patricia lagi, dan fokus untuk pelatihan juga ta’arufnya saja.
Beberapa ketukan terdengar di balik pintu kamarnya. Ridho segera beranjak dan mengintip di lubang kecil yang ada di pintunya. Ah, itu Ferdian.
“Udah dapet emailnya belum?” tanya Ferdian penasaran.
“Belum.”
Ferdian menyelonong masuk ke dalam kamar Ridho yang membiarkan pintu kamarnya terbuka. Ridho kembali ke tempat kursinya sambil mengecek emailnya.
“Ada pesan baru!” serunya riang. Ferdian langsung menghampirinya.
“Halaah, itu pesan notifikasi dari Facebook aja!” keluh Ferdian.
Ridho tertawa-tawa, karena ia berhasil mencandai sahabatnya.
Pesan baru muncul kembali di email milik Ridho. Ia tersenyum lebar.
“Nih Fer datang email lagi!” serunya lagi.
“Ah paling email notifikasi lagi,” cebik Ferdian yang sudah berada di kasur Ridho.
“Ini dari Ustadz Ahmed. Gak percaya?”
“Mana?” Ferdian kembali menghampiri Ridho, yang sedang mengunduh file berformat .pdf.
“Eh iya betul!"
“Deg-degan euy!” ucap Ridho sambil mengklik email dari ustadznya yang bersubjek CV Ta’aruf.
“Tenang, Dho! Kamu pasti seneng!” sahut Ferdian tersenyum lebar. “Buruan buka!” serunya lagi.
“Sabar atuh, keur download keneh!”
File PDF yang dikirim oleh Ustadz Ahmed sudah berhasil diunduh oleh Ridho dan sudah tersimpan di tempat penyimpanan laptopnya. Segera ia membuka file itu. Hatinya berdebar tidak karuan, mengingat ustadznya itu tidak memberitahu sama sekali ciri-ciri fisik akhwat itu. Akan tetapi, kecurigaannya pada Ferdian yang mengatakan bahwa ia akan senang membuat hatinya cukup was-was.
Dokumen itu pun terbuka, dengan foto akhwat berparas cantik oriental berkulit putih terpampang di sana. Wajah perempuan yang diketahui oleh Ridho itu tentu saja membuatnya hatinya berbunga-bunga.
“Fer, ini akhwat yang waktu itu senyum kan?” tanya Ridho seolah tidak yakin dengan apa yang dilihatnya.
“Iya, betul Dho. Hari ini aku ketemu sama dia sehabis pemotretan, dia diserang tiba-tiba sama cowok bule, cuma gara-gara dia pake hijab. Dia butuh pendamping dan pelindung yang kuat,” cerita Ferdian.
“Astaghfirullah, terus sekarang keadaannya gimana?” tanya Ridho, mimiknya terlihat cemas.
“Aku bawa dia ke klinik. Kata dokter, tulang ruas jari tengahnya bergeser dan tangannya memar karena dia terinjak oleh cowok bule itu.”
Ridho tertegun tidak menyangka.
“Mudah-mudahan seminggu ini bisa pulih kata dokternya.”
“Ya mudah-mudahan aja,” sahut Ridho.
“Udah sana pelajari CV Namira. Jangan terkesima dulu sama fisiknya, siapa tau kepribadiannya bertolak belakang sama kamu.”
“Iya Fer, aku harus konsentrasi nih!” ucap Ridho memegang kepala dengan dua jari dari kedua tangannya, seperti akan berilmu tenaga dalam saja.
Ferdian menoyor kepalanya, karena bertingkah konyol.
Namira Safeea adalah nama lengkap akhwat yang berkuliah S1 di Jurusan Desain dan Seni di Universitas Illinois at Chicago (UIC). Perempuan itu lahir 21 tahun lalu, berarti ia berbeda dua tahun di bawah Ridho. Asal lahir dari Kota Palembang, keturunan Indonesia campuran Tionghoa. Perempuan itu adalah seorang mualaf sejak 10 tahun yang lalu, begitu pula dengan keluarga intinya saat ini yang sudah memeluk Islam.
Ridho membaca semua yang tertulis di sana sambil mempelajarinya. Apakah karakter keduanya bertentangan atau cocok, apakah saling melengkapi kekurangan dan kelebihan? Apakah mereka satu visi misi dalam membangun rumah tangga? Ridho mempertimbangkan setiap hal dengan baik dan teliti.
Ferdian ikut membaca CV wanita yang ditolongnya tadi siang. Menurut pendapat pribadinya, Namira akan menjadi pasangan yang cocok untuk Ridho. Tertulis di sana bahwa karakter wanita itu sedikit ambisius, agak keras, banyak bicara, dan terbuka. Sementara Ridho adalah kebalikan dari sifat itu. Ridho termasuk orang yang santai, tenang, dan tidak banyak bicara. Jika karakter mereka digabungkan, maka akan saling melengkapi kekurangan dan kelebihan masing-masing.
“Gimana, udah kamu pertimbangkan semuanya?” tanya Ferdian, ketika dilihatnya Ridho mundur dari layar laptop.
Pria yang sedang mengenakan kaca matanya itu mengangguk.
“Aku mau coba lanjut!” sahutnya mengambil ponsel.
“Mantap!” Ferdian mengangkat kedua jempolnya.
Ridho menghubungi Ustadz Ahmed untuk memberitahukan bahwa ia akan melanjutkan tahap perkenalan ini kepada akhwat bernama Namira. Ustadz Ahmed akan menyampaikan itu pada istrinya lalu kepada Namira. Memang kedua pasangan itu akan menjadi perantara sementara ketika ada dua insan akan menjalin hubungan ta’aruf menuju pernikahan.
“Kita tunggu jawaban Namira dulu ya, Dho! Apapun jawabannya, kamu harus siap,” ucap ustadz di dalam teleponnya.
“Siap, Tadz!”
“Serahkan semuanya ke Allah, berharap yang terbaik. Jodoh gak akan kemana.”
“Insya Allah.”
\=====
Pagi itu Ajeng baru saja merapikan kamarnya yang selama seminggu ini ia biarkan berantakan. Penelitian terhadap beberapa karya sastra dalam isu-isu tertentu membuatnya tidak sempat membereskan kamarnya itu. Meski Bi Asih selalu menawarkan diri untuk membantu merapikan kamarnya, hanya saja Ajeng tidak mau. Bi Asih hanya bekerja untuk mengasuh dan membantu semua hal yang berkaitan dengan Arsene juga rumahnya, tetapi tidak dengan kamar dan barang pribadi dan suaminya. Jadi ia tidak meminta wanita yang sudah dianggapnya sebagai bibi sendiri itu untuk membereskan kamar dan properti milik pribadinya.
Tubuhnya lelah dan terasa pegal, apalagi ia kurang tidur malam ini karena setelah Arsene tertidur, ia kembali melanjutkan tulisan penelitiannya. Wanita itu memutuskan untuk membersihkan tubuhnya. Baru saja ia masuk ke dalam kamar mandi, suara barang-barang berjatuhan terdengar sayup-sayup dari luar. Dirinya tidak mengindahkan hal itu, dan terus melanjutkan aktivitasnya di kamar mandi.
Betapa terkejutnya saat ia selesai berpakaian dan merapikan tubuhnya, mendapati kamarnya terlihat berantakan kembali. Apalagi properti milik pribadinya, terutama peralatan make-up bertebaran di lantai. Bedak wajah berhamburan di atas lantai, sprei kasur penuh dengan corat coret berwarna merah, dan juga tumpahan liquid concealer yang lengket. Sementara itu, sang seniman kecil dengan santainya membuat lukisan lainnya di permukaan tembok kamar dengan campuran warna nude dari concealer, dan coral dari lipcream milik mommy-nya.
“Arseeeeeene!” Ajeng berteriak, membuat seniman ciliknya menoleh terkejut.
“Kamu kok berantakin barang punya mommy sih?!” bentaknya sambil mengambil kuas lipcream dari tangan anaknya.
__ADS_1
“Ya ampun, ini habis semua punya mommy!” tukasnya lagi.
“Bibi….” teriak Ajeng, saat ia menggendong Arsene yang polos saja seolah ia tidak memiliki masalah apa-apa.
“Iya Neng?”
“Tolong mandiin Arsene lagi ya? Aku mau beresin kamar lagi.”
“Oh iya Neng!”
Bukannya mengikuti Bi Asih, Arsene malah berlari ke dapur lalu membuat cap tangan di kabinet kayu yang ada di sana sambil tertawa riang. Bi Asih kewalahan mengejarnya, karena anak itu begitu gesit berlari dari satu tempat ke tempat lain. Anak itu menganggap kalau Bi Asih sedang bermain dengannya.
“Astaga, Arsene!” ucap Ajeng menggeleng-geleng melihat tingkah laku anaknya yang semakin lincah saja.
Dengan berat hati, Ajeng harus merelakan make up kesayangannya habis begitu saja karena ulah anaknya. Salahnya sendiri karena tidak menyimpannya dengan benar di tempat yang tersembunyi. Ia lupa menaruh tas kerjanya di atas meja dekat kasur, yang seharusnya ia taruh di dalam lemari bajunya. Wanita itu hanya bisa pasrah. Untung saja, ia masih punya cadangan yang ditaruhnya di tempat tersembunyi. Ia menghela nafas karena harus mengulang pekerjaannya ditambah harus mengganti sprei kasurnya.
Ajeng tertidur di atas kasurnya yang baru saja digantinya. Rasa lelahnya yang berat membuat wanita itu tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Sementara Arsene sedang asyik bermain di ruang tengah dengan semua mainannya. Bi Asih membuat anak itu betah agar tidak mengganggu ibunya yang kelelahan.
Suara ponsel berdering nyaring di atas nakas, membuat wanita berambut panjang itu terbangun setelah hampir dua jam tertidur. Tubuhnya merasa lebih baik, meski tadi ia sempat merasa anaknya itu mengganggunya sebentar, karena selanjutnya Arsene sudah tertidur di sampingnya. Ajeng segera mengambil ponselnya agar Arsene tidak terbangun.
“Halo, assalamu’alaikum?”
“Wa’alaikumsalam. Jeng, main yuk!” suara cempreng itu milik Karin.
“Eh Rin, main kemana? kapan?” tanya Ajeng menggerai rambutnya yang berantakan.
“Ke Starmall yuk, mumpung Mas Reza mau ngasuh Zaara nih.”
“Sekarang?”
“Iya siang ini, mau gak?”
“Hayu aja sih.”
“Arsene mau dibawa?”
“Gak tau, kasian kalau Bi Asih yang jaga di Mall, bakal kewalahan banget. Aku titip di papa aja deh.”
“Ya udah, Sita juga mau ikut kok!”
“Yeay. Kapan berangkatnya?” tanya Ajeng riang.
“Aku berangkat ba’da dzuhur ya, selepas adzan, sholat, langsung berangkat.”
“Oke deh, aku siap-siap dulu biar mampir ke rumah papa dulu.
“Sip, see you, Jeng! Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Sebelum bersiap-siap, ia sempat mengetikkan sesuatu pada suaminya, sekedar memberitahu kalau dirinya akan bertemu sahabat SMA-nya. Arsene yang masih tertidur, sudah bersih kembali dan untung saja Bi Asih memakaikannya pakaian bagus, sehingga ia akan membawa beberapa baju lagi untuk dimasukan ke dalam tas.
\=====
Papa yang bahagia terus menggendong cucu laki-lakinya itu.
“Iya, Sayang! Kamu santai aja, kita bakal jaga Arsene,” ucap mama senang.
“Makasih, Mama Sayang. Aku pergi dulu ya?” pamit Ajeng mengecup pipi mamanya. Lalu ia beralih menuju papanya.
“Arsene sayang, mommy pergi dulu ya sebentar. Main sama kakek dan nenek dulu!” ucap Ajeng mengecup pipi montok Arsene. Anak itu memang sudah terbiasa ditinggal ibunya, jadi ia tidak terlalu bermasalah untuk bermain dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.
“Hati-hati, Sayang!” ucap papa sambil menggerak-gerakan tangan Arsene, melihat mommy-nya yang masuk ke dalam mobilnya.
Mobil sedan hitam itu melaju menuju sebuah kawasan perbelanjaan di Kota Bandung, yaitu Starmall, sebuah mall yang diklaim sebagai mall terbesar di Bandung dengan banyak gedung perkantoran, bisnis, bank, dan masjid yang mengelilinginya dalam satu komplek.
Pada akhir pekan, halaman parkir mall begitu penuh dan sesak. Banyak yang masuk dan keluar secara bergantian. Ajeng menyetir dengan hati-hati, agar mobil suaminya itu tidak tergores sembarangan. Ia pun berhasil memarkirkan mobilnya di halaman parkir luar. Wanita yang mengenakan setelan sweater rajut panjang berwarna hijau army dan celana jeans itu keluar dari mobilnya dan langsung memutuskan untuk melangkahkan kakinya ke masjid besar.
“Rin kamu dimana sekarang? Aku udah di mall nih,” tanya Ajeng setelah ia selesai menunaikan sholat dzuhur.
“Aku udah di lantai tiga, di tempat mainan anak-anak, Jeng!” sahut Karin, suara riuh anak-anak dan musik menjadi latarnya.
“Oke aku kesana sekarang,” jawab Ajeng.
“Aku di Kiddy Fun ya Jeng!”
“Siap.”
Suasana ramai, ribut, dan alunan musik bertempo cepat terdengar seketika kaki Ajeng melangkahkan di lantai tiga mall itu. Warna-warni serta kerlap-kerlip lampu dengan berbagai karakter lucu yang menggemaskan menjadi pemandangan yang bisa dilihat sekeliling tempat itu. Ajeng mencari sebuah Kiddy Fun Corner Kids, sebuah tempat permainan khusus untuk anak usia 2 tahun ke atas untuk bereksplorasi dan bermain sambil belajar.
Seorang muslimah mengenakan khimar lebar berwarna dusty ungu dan gamis ungu tua terlihat tengah duduk di sana sambil memandangi ponselnya.
“Karin!” panggil Ajeng ketika dirinya berada kurang lebih lima meter dari wanita berkerudung itu.
Karin menoleh dan langsung beranjak dari tempat duduknya, menghampiri Ajeng yang masih melangkah menuju ia.
“Assalamu’alaikum,” sapa Karin ber-cipika-cipiki dengan sahabatnya.
“Wa’alaikumsalam.”
“Arsene beneran gak dibawa?” tanya Karin ketika melihat Ajeng tampak seorang diri.
“Iya, sama kakek neneknya dulu. Dia gak bisa diem soalnya, kalau aku pegang sendiri di sini udah pasti judul acaranya jadi ‘ngejar-ngejar Arsene’,” ujar Ajeng.
Karin tertawa-tawa,” Zaara juga lagi di dalem tuh, main sama abinya, mumpung lagi luang.”
“Ooh dia main di sana ya?” tanya Ajeng memperhatikan arena permainan yang penuh dengan bola-bola dan properti empuk lainnya.
“Iya, baru nyobain. Ya udah yuk, kita ke kafe di bawah aja. Sebentar lagi Sita sampai.”
“Oke.”
__ADS_1
Kedua wanita itu duduk di dalam sebuah kafe yang menonjolkan atmosfer kewanitaan. Dengan suasana terang dan didominasi warna lembut pastel seperti pink, peach dan biru membuatnya terlihat sangat nyaman. Ajeng dan Karin memilih sebuah tempat duduk di sudut ruangan, dengan sofa empuk yang menjadi alas duduk mereka.
Menu-menu patisserie dan dessert menjadi andalan kafe itu. Ajeng memesan sepotong cheesecake tiramisu dan chocolate truffle dengan segelas frappuccino float. Sementara Karin memesan matcha eclairs dan durian layer cake, dengan segelas matcha milkshake. Sambil menunggu kawan mereka, Sita, perbincangan terkait anak adalah topik pembuka yang cocok.
“Jadi ibu rumah tangga tulen gimana rasanya, Rin?” tanya Ajeng setelah ia memberikan pesanannya pada pelayan.
“Capek pasti, karena kerjaan rumah gak pernah selesai. Baru beresin ini, yang di sana udah berantakan,” terang Karin membetulkan posisi khimarnya.
“Aku kira punya anak perempuan gak terlalu capek.”
“Sama aja kayanya, Jeng. Namanya anak balita, rasa keingintahuannya besar. Mereka eksplorasi ke benda apa aja yang ada di sekitarnya.”
“Iya ya, Arsene juga sama. Tadi pagi aja habis melukis pake make up punya aku, duh!”
Karin tertawa. “Aku juga gak tau udah berapa banyak itu bedak punya dia dihambur isinya. Berasa main salju kali ya?” keduanya menertawakan tingkah laku anak mereka masing-masing.
“Tapi selama ini kamu bosen gak di rumah aja?” tanya Ajeng.
“Bosen pasti muncul. Tapi ya mau gimana lagi, aku cuma bisa keluar seizin Mas Reza. Mas Reza kan gak pernah sembarangan ngasih izin. Aku cuma boleh keluar untuk belanja, ngaji, dan kalau pergi sama dia aja. Selebihnya ya di rumah,” terang Karin.
Kemudian pelayan datang membawakan semua pesanan mereka. Sesaat kedua wanita itu menikmati menu-menu yang terasa manis di lidah itu.
“Jadi selama ini kamu banyak di rumah ya?”
Karin mengangguk sambil menyesap minuman miliknya.
“Iya. Aku juga emang gak enak kalau keluyuran kemana-mana, lagian aku juga gak kerja kaya kamu, Jeng!”
Ajeng terdiam sebentar mendengar setiap jawaban Karin.
“Oh ya, kamu sendiri gimana ngurus Arsene sambil kerja?” tanya Karin balik.
“Capek banget, Rin. Meski ada Bi Asih yang bantu, tetep aja. Apalagi gak ada Ferdian di samping aku, rasanya penat banget,” terang Ajeng sejujur-jujurnya.
“Iya ya, aku juga gak kebayang kalau jadi kamu. Bukan masalah kamu kerja atau enggak, tapi gak ada suami itu yang aku pikir gak akan sanggup.”
“Ngurus anak tanpa suami itu rasanya menyita pikiran banget, Rin! Udah kita yang capek fisik, capek hati dan pikiran juga! Mau ngobrol sama suami pun rasanya gak enak, apalagi dia di Amerika, waktu kita berlawanan. Jadi aku sungkan untuk menghubungi dia lebih dulu, kecuali Arsene yang minta.”
“Masya Allah, Jeng! Ini ujian buat kamu. Kamu ibu yang hebat, Jeng!” puji Karin.
“Tapi aku belum bisa kaya kamu, Rin! Jadi ibu rumah tangga yang benar-benar diam di rumah dan nurutin semua kata suami.”
Karin tersenyum memandangi sahabatnya.
“Peran fitrah seorang ibu memang di rumah, untuk mengurus anak dan suami serta menjadi manajer rumah tangga. Selama kita tidak mengabaikan peran itu, berarti kita masih berada di garis yang disyariatkan agama. Aku salut sama kamu, karena selain kamu menjadi seorang ibu, kamu juga seorang pengajar. Kamu itu keren banget!” terang Karin.
Ajeng tersipu dibuatnya mendengar pujian dari Karin.
“Tapi tetep aja, Rin. Aku selalu merasa tidak puas, seolah-olah ada saja yang kurang. Apalagi makin sini aku makin sibuk. Penelitian, kerjaan di perpustakaan, bimbingan, belum lagi tugas mahasiswa. Ditambah gak ada Ferdian di samping aku, rasanya kepala ini mau meledak aja!” Ajeng mencurahkan yang selama ini dipendamnya sendiri, ketika suaminya itu pergi.
“Aku tau itu bagian dari resiko pekerjaanku, cuma aku jadi meragukan diri aku sendiri, terutama untuk Arsene. Apakah aku bisa menjadi ibu yang baik untuk dia dengan aku yang sekarang ini?” lanjutnya.
“Sering sekali aku menangis sendiri, menangisi suami, Arsene, atau hal yang terjadi. Aku selalu bilang aku capek, lelah, aku ingin lepas dari semua ini. Tapi akhirnya aku kembali seperti biasa, menjalani hari-hari yang melelahkan lainnya. Aku kaya robot banget, Rin!”
“Kadang ketika aku jenuh dan penat, sering aku bentak Arsene hanya karena dia membuat ulah kecil yang sebenarnya tidak ada masalah berarti. Aku merasa telah menjadi ibu yang buruk buat dia,” suaranya bergetar, sedangkan matanya berkaca-kaca menahan apa yang selama ini dirasakannya. Ajeng memijat pelipisnya, lalu menepis anak rambut yang menghalangi wajahnya.
Sementara Karin tertegun mencoba memahami masalah yang dihadapi sahabatnya ini. Ia sadar, ketiadaan Ferdian di samping Ajeng membuat sahabatnya itu merasakan masalah yang dihadapinya menjadi lebih berat lagi. Ia berempati padanya. Ia pun tidak akan sanggup jika harus berjauhan dengan Mas Reza, suaminya. Teringat dahulu, ketika suaminya itu diterima bekerja di Jakarta. Beberapa orang menyarankannya untuk tetap berada di rumah orang tuanya saja, sementara Reza bisa pulang seminggu sekali. Namun hatinya menolak, ia ingin mengikuti suaminya pergi kemana pun, sekalipun itu di ujung dunia. Apalagi yang dirasakan Ajeng. Amerika - Indonesia bukanlah seperti Bandung - Jakarta yang bisa ditempuh dalam 3 jam perjalanan darat. Meski hanya beberapa bulan, ia menyadari bahwa Ajeng pasti merasa tertekan karena suami yang dicintainya tidak berada di sampingnya. Itulah yang menjadikan permasalahan yang biasa dihadapinya, menjadi terasa lebih berat.
“Kapan Ferdian pulang, Jeng?” tanya Karin.
“Sekitar empat bulan lagi, kalau sesuai rencana,” jawabnya lirih sambil menyeruput minumannya.
Bagi seorang istri, menunggu kepulangan suami selama empat bulan adalah waktu yang sangat lama. Jangankan bulan, suami pulang terlambat beberapa jam saja kadang ia merasa panik. Karin tersenyum di dalam hatinya.
“Kamu yang sabar ya Jeng?! Pasti ada hikmah dari ini semua. Masukan aku, coba kamu ceritakan semua ini sama suami kamu. Aku yakin Ferdian pasti ngertiin kamu. Kamu gak boleh simpan beban ini sendirian, karena beban rumah tangga itu selalu dipikul bersama, bukan sendiri.”
Ajeng tersenyum mendengar nasihat sahabatnya itu.
“Makasih, Rin! Aku akan coba.”
Keduanya saling melempar senyum dengan sudut bibir yang melebar. Mereka menikmati kembali sajian kue yang ada di hadapan mereka, sampai akhirnya Sita datang.
“Maaf ya, aku telat!” ujar dokter berhihab pendek itu. Ia terlihat casual dengan kemeja blouse pink dan celana putihnya. Sita bercipika-cipiki ria dengan sahabat-sahabatnya itu.
“Sibuk Bu Dokter?” tanya Karin yang sudah duduk kembali di tempatnya.
“Enggak sih, aku libur hari ini. Tadi nganter suami sama anak dulu main di atas, cuma anak aku yang kecil sempet merengek dulu gak mau ditinggal. Jadinya berdrama dulu deh!” cerita Sita yang kemudian memilih menu.
Ajeng tersenyum memandangi sahabatnya. Ia begitu iri melihat mereka yang bisa pergi keluar bersama keluarga kecilnya, sedangkan ia hanya bisa menitipkan Arsene pada orangtuanya dan pergi sendiri. Hatinya mendadak mellow, merindukan suaminya dan kebersamaan mereka bertiga. Tak terasa setetes kristal cair terjatuh dari matanya. Sita yang menyadari hal itu langsung terkejut.
“Ajeng sayang, kamu kenapa?” tanyanya penuh heran. Karin menoleh ke arah Ajeng yang sedang menyeka matanya.
“Aku gak apa-apa kok,” jawabnya berbohong. “Aku cuma seneng kita bisa kumpul lagi kaya dulu,” lanjutnya lagi.
“Ooooh….”
Sita, Karin, dan Ajeng saling berpelukan. Tetapi bukannya bahagia, Ajeng malah kembali menangis, menangisi dirinya sendiri.
“Ajeng sayang….” ucap Karin memeluk erat sahabatnya. Ia mengusap-usap punggung Ajeng yang terisak-isak. Sementara Sita kebingungan dengan apa yang terjadi, jadi ia hanya menyaksikan keduanya dengan hati yang penuh simpati.
“Kita di sini kok, kalau kamu perlu apa-apa kita akan bantu,” ucap Karin berusaha menenangkan.
“Maaf ya, aku lagi sensitif banget. Makasih karena kalian udah jadi sahabat aku,” ucapnya mengusap air matanya. Karin dan Sita tersenyum bersamaan.
\=====
Bersambung dulu yaa
Sedih nih authornya T_T
Like, comment dan votenya dong biar Ajeng gak sedih
__ADS_1