
Hari itu adalah hari yang cukup padat bagi Ajeng. Jadwal mengajarnya dimulai sejak pagi sampai sore. Tentu saja hal itu membuat Ferdian semakin cemas, mengingat kondisi Ajeng yang sedang hamil muda. Ferdian rela mengantar istrinya sejak pagi, padahal hari itu jadwal kuliahnya baru dimulai setelah dzuhur. Ia juga sengaja tidak kembali ke apartemennya, melainkan tinggal di asrama sekalian mengerjakan tugas kelompoknya. Ia khawatir jika istrinya itu kenapa-napa.
Meskipun begitu, Ajeng tetap santai dan menikmati aktivitasnya sebagai seorang dosen yang profesional. Apapun keadaannya, ia tetap harus mengajar meski tetap berhati-hati pada kondisi kehamilannya. Penampilan seorang Ajeng juga tidak berubah, tetap menarik dan enerjik di hadapan mahasiswanya. Mungkin karena morning sickness-nya tidak parah.
"Kenapa Sayang?" tanya Ajeng via sambungan teleponnya dari Ferdian.
"Gimana kondisi kamu? Capek? Pegel? Udah makan belum?" tanya Ferdian.
"Tanyanya satu-satu dong, aku bingung jawabnya," ucap Ajeng. Ia tahu suaminya itu mencemaskannya.
"Hehe....aku cuma sedikit cemas," jawab Ferdian.
"Alhamdulillah, aku baik-baik aja kok. Emang sih agak pegel-pegel, tapi it's still fine, I'm sure (Ini masih baik-baik aja kok, aku bisa pastikan)!"
"Jangan lupa makannya, Sayang! Nanti malem aku bawain buah-buahan lagi ya?"
"Iya makasih, Sayang! Oh iya, kamu pulang malem?"
"Iya kayanya. Cuma nanti aku anter kamu pulang dulu, biar aku balik lagi ke kampus. Tugas kelompok di semester ini tambah lagi. Maaf ya?"
"Gak apa-apa kok, aku ngerti!"
"Ya udah, aku kuliah dulu ya?"
"Iya, semangat calon Papa! We love you!"
"I love you too!"
Ajeng membuka kotak bekalnya di meja kerjanya. Ada 3 kotak di sana. Satu kotak berisi sayuran dan makanan berprotein, satunya berisi potongan buah segar, dan satunya lagi berisi puding cokelat. Dua botol minuman berisi air putih dan jus semangka juga ia taruh di atas meja. Ajeng tampak lahap memakan semua menu yang disiapkannya sendiri sambil membaca sebuah jurnal bahasa yang akan ditelitinya.
"Ya ampun, Jeng, itu kamu bekal atau lagi piknik?" tanya Susan yang menghampirinya bersama Novi. Keduanya baru saja selesai makan siang dari kantin.
Ajeng menyengir saja dan kembali menikmati makan siangnya.
"Mau?" tawarnya kemudian.
"Enggak deh, makasih! Makannya tawar semua, gak ada rasanya!" jawab Susan memandangi menu milik Ajeng yang berupa rebusan sayuran tanpa bumbu atau saus.
"Sehat lho!" ucap Ajeng memasukan potongan kentang rebus ke dalam mulutnya.
"Sehat sih sehat, tapi lidahku gak suka!"
"Ah Susan, kamu kan emang paling doyannya makan nasi padang berbumbu atau yang pedas-pedas gitu, ya kan?" ujar Novi menimpali.
__ADS_1
"Iya dong, nasi padang is the best buatku!"
"Makanya lemak di badan kamu tuh gak berkurang-kurang!"
"Hahaha, iya emang!" Susan menyadari tubuhnya yang gemuk.
"Kok tumben Jeng, bekalnya banyak amat? Biasanya cuma 2 kotak aja!" ujar Novi yang selalu memperhatikan menu bekal milik Ajeng.
"Maklum, butuh nutrisi banyak!" jawab Ajeng santai.
Kedua orang rekan di depannya itu saling berpandangan.
"Jangan-jangan," Novi belum selesai berucap, teman di sampingnya itu menyerobot.
"Kamu hamil, Jeng?" tebak Susan.
Ajeng tersenyum mengangguk, mengiyakan tebakan kedua rekannya itu. Seketika kedua perempuan itu berteriak kegirangan, dan membuat semua dosen yang berada di dalam ruangan menoleh kepada mereka.
"Ajeng hamiiiiiil!!!" teriak Susan girang.
"Yeaaaah! Selamat ya Sayang!!!" ucap Novi menciumi pipi rekannya itu.
"Ajeng beneran hamil?" tanya Bu Resti.
"Iya, Bu!" jawab Ajeng tersipu-sipu.
"Congratulation, my dear!" ucap Bu Resti memeluk Ajeng yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri.
"Thank you, Bu!"
"Wah hebat juga mahasiswaku satu itu, Jeng! Topcer abis!" timpal Pak Julian yang mengajar Ferdian di kelasnya.
Ajeng tertawa-tawa geli mendengar ucapan Pak Julian, diikuti dengan dosen-dosen lainnya yang juga ikut menimpali.
Suasana ruangan Jurusan Sastra Inggris pun menjadi ramai, karena berita kehamilan Ajeng membuat para dosen ikut gembira. Ajeng, salah satu dosen terbaik mereka, akhirnya akan menjadi seorang ibu. Berita itu juga sampai di telinga Ardi yang baru saja datang, karena jadwal mengajarnya baru saja selesai. Tentu saja ikut senang dengan kabar gembira itu. Mungkin sebentar lagi, cepat atau lambat, berita kehamilan Ajeng akan menyebar ke luar jurusan, yang tentunya akan membuat rumor-rumor di luar sana semakin ramai.
\=====
Sore itu, Ferdian bergegas menuju ke halaman parkir, dimana ia telah memarkirkan mobil miliknya. Dengan langkah panjang, ia berjalan tergesa-gesa. Ajeng telah menunggu di sebuah kursi taman tidak jauh dari mobil Ferdian. Beberapa rekan dosen melambaikan tangan pada Ajeng ketika mereka hendak pulang. Angin sore menyapa lembut rambut Ajeng yang tergerai. Ferdian melihat istrinya itu sedang duduk sendirian. Dari jauh, wajah istrinya itu terlihat cerah. Ia selalu mengagumi kecantikan alami milik istrinya itu. Ferdian melambaikan tangannya ketika tatapan mereka saling bertemu. Ferdian semakin mempercepat langkahnya.
__ADS_1
"Tas kamu mana?" tanya Ajeng setelah Ferdian berhasil menghampirinya dengan nafas terengah-engah.
"Aku titip sama Ridho," jawabnya sambil membungkukan badan untuk mengatur nafasnya.
Ajeng mengeluarkan botol minum dari tasnya.
"Ngapain sih buru-buru gitu, nih minum dulu!" ucap Ajeng sambil menyodorkan botol minumnya.
"Takut kamu ngambek, hehe..." ucapnya sambil menghabiskan air putih yang tersisa di botol itu.
Ajeng mendeliknya, ada-ada saja Ferdian ini.
"Yuk aku antar!" ucap Ferdian menyodorkan tangan kanannya yang langsung disambut oleh tangan Ajeng.
Ferdian membukakan pintu mobilnya untuk istrinya. Lalu ia berlari menuju pintu lainnya untuk duduk di balik kemudi.
"Kamu jangan pulang terlalu malam ya, aku takut kamu nanti kenapa-napa lagi. Kalau emang sekiranya kemaleman, lebih baik kamu nginep aja di asrama. Besok pagi kamu jemput aku di apartemen," ucap Ajeng. Tentunya ia cemas, jika suaminya pulang larut malam. Khawatir peristiwa dulu terulang kembali.
"Emang kamu bisa tidur kalau gak ada aku?"
"Bisa dong!" ucap Ajeng percaya diri.
"Hmm....oke deh! Kita lihat nanti, ya mudah-mudahan bisa lebih cepet selesainya. Habisnya ini tugas kelompok mesti dikumpulin besok sih," terang Ferdian.
"Iya!"
Serena baru saja keluar dari gedung dekanat untuk mengambil transkrip nilainya selama semester satu kemarin. Gedung dekanat dan halaman parkir fakultas yang tidak terlalu jauh membuat ia bisa melihat pemandangan mobil-mobil yang terparkir di sana. Ia juga bisa menatap pada dua pasangan yang sedang ada di sana. Ia melihat Ferdian mengambil botol yang disodorkan oleh Ajeng dan menghabiskan isinya. Tentu saja ia juga melihat ketika Ferdian menyodorkan tangannya itu pada dosennya. Wajah pria itu terlihat berseri-seri menatap wanita yang ada di hadapannya. Ada gejolak panas dari dalam diri Serena melihat pemandangan itu. Apa benar Ferdian pacaran dengan Miss Ajeng seperti rumor-rumor yang ada? Ia bertanya dalam hatinya. Haruskah ia bertanya langsung pada pria itu. Ia ingat saat suatu siang mencoba menghubungi Ferdian untuk meminta tolong padanya. Pada saat itu ia berada di sebuah hutan kecil di belakang tempat mengajar Taman Belajar Anak. Namun bukannya mendapat jawaban pria itu, melainkan sebuah suara perempuan yang mengangkat teleponnya. Setelah itu ia mencoba menghubungi lagi nomor Ferdian, namun nomornya itu tidak pernah tersambung lagi.
Serena mengambil foto keduanya dengan ponselnya ketika Ferdian menyodorkan tangan itu pada Ajeng. Ini akan menjadi tambahan koleksi foto albumnya yang lain.
\=====
Hmmm....ngapain ya si Serena?
Yuk ah Like, Comment dan Votenya
__ADS_1
Makasiiih ^^