
Matahari semakin naik, suasana pertemuan dan lepas rindu itu masih berlangsung. Hidangan berat sudah disajikan di atas meja prasmanan. Kini para tamu bergiliran mengambil menu hidangan yang tersedia, berderet rapi mengantri di barisan yang mereka buat sendiri sambil memilih-milih kira-kira menu apa yang disukai.
Barisan orang tua lebih dahulu mengambil menu makanan sebelum adzan dzuhur tiba. Sementara anak remaja, masih asyik bermain dengan kesibukannya sendiri. Arsene masih menggendong Finn yang kini mulai bosan, entah mengantuk. Ia berusaha menenangkannya sambil menepuk-nepuk lembut punggungnya. Sementara Zaara masih asyik berayun-ayun dengan dua anak kecil di depannya.
“Kenapa gak dibawa ke mommy-nya?” tanya Zaara melihat Arsene masih asyik menggendong Finn di sampingnya.
"Tanggung," jawab Arsene.
Finn menempelkan kepalanya di bahu abangnya itu, sepertinya ia memang mengantuk. Tangannya yang gembul diemut di dalam mulutnya sendiri. Matanya mulai sayu.
“Dia tidur gak?” tanya Arsene menoleh pada Zaara.
Zaara turun dari ayunannya, karena dari sana ia tidak bisa melihat kondisi Finn yang tertunduk menempel di bahu Arsene. Gadis itu mendekati punggung Arsene, lalu membungkukan badannya sedikit sambil memperhatikan wajah Finn. Benar, bayi itu kini sudah terpejam di gendongan sang abang.
“Finn udah tidur, Sen!”
“Bener?” tanya Arsene tidak yakin.
“Iya!”
“Syukurlah,” ucap Arsene.
“Hebat ya, bisa boboin bayi!” puji Zaara.
“Haha, ini kemampuan rahasia. Masih banyak rahasia lain yang bisa aku kerjain,” ucap Arsene membuat Zaara menatapnya heran.
“Emang apaan?”
“Naklukin hati kamu,” godanya terkekeh-kekeh.
Zaara mendeliknya sebal, tetapi dirinya tersipu juga terlihat dari raut wajahnya.
“Aku ke kamar dulu ya, mau ikut?” goda Arsene lagi.
“Arsene!” Zaara memelototinya.
Arsene hanya tersenyum menanggapinya, ia pun berlalu dari sana, masih menahan tawanya karena ia berhasil membuat Zaara tersipu-sipu grogi. Entahlah apakah abi dan umi Zaara memperhatikan mereka atau tidak, ia hanya merasa perasaannya untuk Zaara itu makin besar saja.
Tanpa disadari, sebuah tatapan tajam tertuju pada keduanya yang kini sudah berpisah. Tatapan itu menyoroti mereka sejak awal Zaara pergi ke ayunan itu. Pemilik tatapan itu mendesah kesal, karena dirinya merasa tidak berguna hadir di pertemuan ini, meskipun tujuan awalnya adalah bertemu gadis pujaan hatinya yang justru malah bersama dengan laki-laki lain.
“Mas Raffa, makan dulu. Ajak Anggun sekalian!” ucap mamanya, Sita.
“Iya, Ma!” jawabnya malas.
“Kamu kenapa sih, wajahnya bete gitu?” tanya Sita yang sudah mengambil piring makan siangnya.
“Gak kenapa-napa.”
“Tuh ajakin Zaara makan! Kalian ngobrol sana, sama Arsene juga biar gak bete!” seru Sita.
Mendengar ucapan mamanya, Raffa langsung beranjak menghampiri Zaara yang sedang mengambil gelas berisi sirup leci.
“Ra, makan yuk! Biar bareng nih!” seru Raffa setelah ia juga mengajak adik perempuannya yang masih SMP. Karena memang anak remaja di sana belum mengambil menu makan siang, mereka jadi canggung. Zaara pun mengikuti Raffa yang sudah mengambil piringnya lebih dulu dan berdiri di belakang Anggun. Ketiganya menuju sebuah kursi yang dekat dengan orangtua mereka, dan makan di sana.
Arsene kembali setelah menidurkan Finn di ranjang bayi di kamar orangtuanya. Ia mencari-cari sosok Zaara yang ternyata telah duduk di sebelah Anggun dekat Raffa. Pria berhidung mancung itu menghembuskan nafasnya, lalu beralih pada Rainer dan Zayyan yang sedang mengobrol sambil berteduh di bawah pohon.
“Rain, Yan! Ayo makan dulu!” serunya pada kedua pemuda yang akrab itu.
“Yuk ah!” ajak Rain.
Arsene masih memperhatikan Zaara dari jauh sambil menikmati hidangan makan siangnya di bawah pohon rindang bersama Rain dan Zayyan. Tidak ada remaja perempuan lain memang, jadinya Zaara tidak ada teman di sini. Coba saja kalau ada Fea, sudah pasti Zaara tidak akan kesepian. Sayangnya, Fea berada di Jakarta, gadis itu sedang mengunjungi kedua orangtuanya.
Raffa beranjak dari tempat duduknya dan menaruh piring bekas makannya di sebuah tempat yang disediakan. Kemudian pria itu mengambil dua buah piring kecil berisi puding manis bersaus vla vanilla.
“Ra, nih buat kamu!” ucap Raffa sambil menyodorkan pudingnya.
“Eh, makasih!” jawab Zaara mengambil piring kecil itu, tanpa menolaknya.
__ADS_1
“Buat aku mana, Mas?!” protes Anggun yang meminta jatah pudingnya juga.
Terpaksa Raffa memberikan piring satunya lagi pada adik bungsunya ini, lalu kembali mengambil untuknya lagi.
Arsene memperhatikan itu semua, bagaimana Raffa mencoba bersikap baik pada Zaara, sehingga membuatnya bergegas lari masuk ke dalam rumahnya menuju dapur, mengambil beberapa buah cupcake spesial yang ia simpan khusus di lemari penyimpanannya. Cupcake itu memang dibuat spesial, terlihat dari banyaknya krim serta saus dan buah blueberry serta strawberry di atasnya.
Dengan nampan berisi beberapa kue spesial itu, Arsene berjalan menuju teras belakang rumah. Ia mendekati Zaara seperti seorang pelayan di sebuah restoran.
“Mau coba?” tanyanya tersenyum sambil menyodorkan kue-kue yang terlihat cantik itu. Pria itu juga mencuri pandang pada Raffa yang duduk di sana, terlihat mendelik ke arahnya.
Tentu saja dekorasi cantik cupcake berwarna ungu dan pink itu menarik mata Zaara, apalagi ada rasa kesukaannya di sana. Zaara tampak kebingungan, varian mana yang harus ia pilih. Blueberry sudah pernah dirasakannya, tetapi ia sangat menyukainya. Sedangkan cupcake strawberry, ia belum pernah sama sekali mencicipinya. Ia ingin mengambil kedua varian itu.
“Mau ambil dua juga boleh,” ucap Arsene seolah tahu keinginan gadis di depannya itu.
“Benaran?” tanya Zaara tidak yakin.
“Yes, for sure!”
Dua buah cupcake langsung diambilnya setelah mendapat jawaban dari Arsene itu. Pria itu juga menawarkan pada Anggun dan Raffa yang berada di sana. Sama seperti Zaara, Anggun mengambil dua buah cupcake, sedangkan Raffa tampak gengsi mengambilnya, jadi pria itu menolaknya halus.
Arsene menawarkan kue-kue itu pada tamu lainnya. Ferdian bercerita kalau kue-kue yang tersaji di sini, yaitu cupcake dan cookies adalah buatan Arsene semua. Tentu saja, Arsene jadi banjir pujian dari para tamu, membuat pria muda itu tersipu-sipu dibuatnya, tetapi ada rasa kebanggaan tersendiri, apalagi hal itu terjadi di depan rivalnya, Raffa.
Kursi di sebelah Zaara terlihat kosong. Hal itu membuat Arsene yang baru saja dari dapur, untuk menyimpan kembali kuenya, menarik kursi itu lalu duduk mengambil jarak dari gadis itu sehingga ia lebih dekat jaraknya dengan Raffa.
“Abang Raffa kuliah dimana?” tanya Arsene membuka percakapan para anak muda.
“Panggil Mas aja,” ucapnya tersenyum kaku.
“Oh, Mas Raffa, kuliah dimana sekarang?” Arsene mengulang pertanyaannya.
“Universitas Bumi Pertiwi,” jawabnya singkat.
“Semester berapa, Mas?”
“Sekarang mau semester 7,” jawabnya lagi.
“Iya mudah-mudahan. Kamu mau lanjut kemana, Sen?” tanya Raffa.
“Um … masih galau, hehe!” jawab Arsene.
“Ra, kamu mau kuliah dimana?” kali ini Raffa yang bertanya padanya.
“Kayanya mau coba di ilmu komunikasi atau sastra untuk pilihan kedua,” jawab gadis itu sambil berusaha membersihkan remah-remah kue atau krim di mulutnya.
“Universitas apa?” tanya Arsene.
“Kalau gak di UBP, aku masuk UM aja.”
Arsene dan Raffa mengangguk-angguk bersamaan.
“Masuk UBP aja, FIKOM-nya bagus kok. FIB-nya juga populer.” ujar Raffa menanggapi keinginan Zaara.
“Iya, pengennya. Mudah-mudahan bisa lulus tesnya nanti,” ucap Zaara.
“Mudah-mudahan, kamu kan pinter dan cantik. Pasti lulus!” ucap Raffa memuji Zaara, Arsene melirik ke arahnya, Raffa seperti kenal dekat dengan Zaara saja, bisa-bisanya memuji seperti itu apalagi ditambah embel-embel kata cantik, bukankah itu modus namanya. Untung saja Zaara tidak terlalu menanggapi pujian Raffa. Arsene jadi tidak terlalu panas.
“Jurusan apa Ra?” tanya Arsene.
“Kalau fikom pilihannya ilmu komunikasi, kalau sastra pilihannya Inggris atau Indonesia.”
Arsene tampak berpikir serius, ia tahu keinginan besarnya adalah mengambil akademi memasak di Le Cordon Bleu. Tetapi entah mengapa keinginan itu semakin lama semakin sirna, ia merasa ada sesuatu dalam dirinya yang kurang sehingga ia ingin mengejar hal itu terlebih dahulu. Ia akan mencari tahu dulu sebelumnya. Lagipula kursus di Le Cordon Bleu akan dimulai enam bulan lagi. Ia merasa masih memiliki waktu untuk menentukan masa depannya sejak sekarang.
“Ra, boleh minta nomor whatsapp?” tanya Raffa. membuat Zaara terkejut.
“Maaf untuk apa, Mas?”
“Siapa tau butuh bantuan informasi terkait UBP, kebetulan aku ada teman di FIKOM dan FIB.”
__ADS_1
“Ooh … nanti paling aku hubungi via Tante Sita aja ya?” ucap Zaara sungkan.
Raffa tertunduk sambil mengangguk-angguk.
Mendengar hal itu, Arsene ingin sekali mengatai-ngatai Raffa yang terus saja bermodus untuk pdkt. Bahkan ia saja tidak memiliki nomor Zaara meski sudah hampir satu tahun menjadi teman sebangku. Mereka berkomunikasi via Karin, dan itu pun jika ada keperluan saja.
"Zaara pernah periksa gigi gak?" tanya Raffa.
“Aku sering kok,” ucapnya tersenyum.
“Gigi kamu bagus kan?” tanya Raffa lagi.
“Alhamdulillah, aku rajin sikat gigi minimal 2 kali sehari,” jawab Zaara.
“Bagus! Yang penting gigi terawat, dan cek ke dokter secara rutin biar gak kecolongan kalau ada gigi yang rusak,” terang calon dokter gigi itu.
Zaara tersenyum saja karena sudah diingatkan.
Arsene sadar, Raffa sangat tertarik dengan Zaara. Arsene harus mencari cara agar Zaara tertarik pada dirinya, sehingga membuat calon dokter gigi di sebelahnya itu mundur secara perlahan.
“Ra, kamu suka baca novel gak?” kali ini Arsene yang bertanya.
“Suka banget,” jawab Zaara tampak antusias.
“Suka novel apa?”
“Roman religi gitu deh, hehe agak gimana ya?” ujarnya tersipu.
“Gak apa-apa sih selera orang kan beda-beda, yang penting minat bacanya besar,” jawab Arsene mengapresiasi.
Raffa tampak mendelik pada Arsene yang mulai mengendalikan haluan pembicaraan mereka. Apalagi Zaara terlihat antusias dengan topik itu.
“Kamu suka novel apa, Sen?” tanya Zaara.
“Dari kecil, mommy kasih aku buku-buku sastra anak klasik. Makanya sekarang bacaanku juga gak jauh dari itu, tapi aku lebih suka genre fantasi.”
“Wah keren, umi juga suka cerita itu. Tapi lebih banyak ngeluhnya sih, soalnya umi gak terlalu paham isinya, karena bahasa Inggrisnya berat, hihi!”
Arsene ikut tertawa bersama Zaara. Hatinya puas karena merasa memenangkan kemudi percakapan itu dari Raffa.
“Mommy punya banyak novel lho di atas, mau lihat?” tawar Arsene.
“Novel apa aja emangnya?”
“Banyak sih, aku aja belum lihat semua koleksinya apa aja. Cuma gak semua sastra klasik, ada novel populer juga kaya karya J.K. Rowling, Suzanne Collins, Stephenie Meyer. Ada juga karya dari novelis Indonesia juga.”
“Wow, keren!”
“Ayo kalau mau lihat-lihat, Mas Raffa juga yuk barangkali suka baca novel!” ucap Arsene antusias.
Zaara tampak tersenyum kaku dengan ajakan Arsene.
“Makasih. Tapi nanti aja deh kapan-kapan, gak enak juga sama orang di sini,” ucap Zaara sungkan. Gadis itu tentu saja tidak nyaman, apalagi orang-orang sedang berkumpul semua di sini. Haruskah ia berduaan atau bertiga dengan cowok-cowok tampan ini di dalam rumah? Sepertinya tidak mungkin.
“Ah iya deh!” respon Arsene, terlihat sedikit kecewa.
Kali ini Raffa yang terlihat berusaha menahan nafas dan tawanya, karena ajakan Arsene ditolak juga oleh Zaara. Sepertinya skor tanding persaingan mereka 1-1, atau mungkin masih 0-0. Entahlah.
\=\=\=\=\=
Hmm....
Bersambung lagiii
Ayo like, commentnya nih biar ide author makin mengalir deras, haha
Votenya yang rajin ya
__ADS_1
makassiiiiih