
Malam yang begitu pekat, mengantarkan angin dingin pada setiap ruangan. Zaara menyelimuti tubuhnya yang baru saja dibersihkannya. Gadis itu memilih tertidur lebih dulu dibanding suaminya. Sejak tadi ia memilih membungkam mulutnya.
“Sayang…,” panggil Arsene menepuk dan menggoyangkan bahu istrinya.
Zaara belum tertidur, ia menghela nafas dalam guling yang dipeluknya. Kemudian bangkit dan duduk bersandar. Melihat Zaara yang beranjak, Arsene menatapnya cemas.
Zaara berusaha mungkin menenangkan pikirannya, padahal tubuhnya sudah terasa letih sekali. Ia tersenyum merapatkan bibirnya.
“Kamu marah, Sayang?” tanya Arsene mendekatkan tubuhnya. Wajahnya tepat berada di hadapan wajah istrinya. Sesekali ia mengelus lembut kepala Zaara.
“Enggak.” Zaara menjawab singkat saja.
Arsene tidak percaya. Lebih baik istrinya itu mengomel atau menceramahi dirinya, sehingga ia tahu apa yang menjadi keluh kesahnya.
“Kamu gak boleh bohong, Sayang!” sergah Arsene.
Zaara mengembuskan nafasnya, “enggak salah lagi!” jawabnya kali ini, menatap tajam mata suaminya. Mendengar hal itu, Arsene jadi terkekeh kecil. Zaara mencebik.
“Huh, malah ketawa!”
“Kamu itu lucu. Aku gak kuat, gemes!” sedikit colekan di ujung hidungnya, membuat Zaara memutar bola matanya.
“Emangnya kamu mau jelasin sesuatu? Aku bakal dengerin meski sebenarnya aku udah capek banget!” ucap Zaara. Ia mencoba sabar.
“Ya, aku gak mau kita tidur dalam gelisah karena kejadian tadi.”
“Oke, aku bakal dengerin penjelasan Abang.”
Arsene mulai menarik nafas. Ia menceritakan sedetail mungkin apa yang terjadi padanya dan mengapa ia bisa berbincang dengan Liza di sana adalah murni ketidakterdugaan. Meskipun Arsene sendiri meragukan apakah kejadian tumpahnya teh lemon itu adalah ketidaksengajaan? Ia tidak tahu.
Zaara memejamkan matanya sebentar setelah mendengar penjelasan suaminya. Ia meminta hatinya untuk tidak memberontak dan tetap tenang. Bukan salah suaminya, dan mungkin tidak ada yang salah di sana. Hanya saja hatinya ragu dan cemas, melihat keberadaan Liza, yang mungkin masih memiliki hati untuk suaminya itu.
“Kamu masih marah?” tanya Arsene berusaha mengetahui perasaan istrinya sekarang.
“Sebenarnya aku gak marah, Abang! Aku cuma kesel. Apalagi ngeliat penampilan perempuan itu yang seksi, terus bicara di depan kamu.” Zaara membulatkan bibirnya.
Arsene masih menunggunya menyelesaikan apa yang menjadi unek-unek istrinya.
“Siapa yang gak kesel coba! Meski aku percaya kamu bakal nundukin pandangan. Lebih-lebih, dia punya hati sama kamu. Aku cemas dia bakal kejar kamu lagi.”
Arsene tersenyum kecil.
“Apalagi sekarang toko kamu mulai naik popularitasnya. Dia bisa temuin kamu kapan aja. Apa aku harus terus ada di samping kamu? Biar perempuan itu menyingkir dan sadar diri?!”
“Kita gak tau apa yang bakal dia lakuin, meski dia udah minta maaf. Aku khawatir dia anggap permintaan aku dulu itu sebagai hutang di masa kini. Aku bakalan bingung membayar kesalahanku dulu kalau gak ada kamu di samping aku,” Arsene tertunduk cemas.
Zaara meminta pelukan dari suaminya, sehingga Arsene bisa menenggelamkan wajahnya di dada. Zaara memeluknya erat, mengelus kepala suaminya yang sedang dilanda kecemasan. Keduanya terbaring masih dengan posisi berangkulan. Wangi shampoo mint dari rambut Arsene membuat Zaara tak tahan mencium kepala suaminya itu.
“Aku akan percaya Abang. Aku juga bakal coba ikutin permintaan Abang untuk jadi baju zirah sekaligus perisai.”
Arsene menengadahkan wajahnya, melihat istrinya. “Makasih, Sayang! Aku sangat memerlukan itu!”
Keduanya sama-sama terlelap masih dengan posisi itu karena tubuh mereka terlalu letih hari ini. Meskipun begitu kedua hati mereka sudah merasa lebih baik, walau tidak tahu apa yang akan terjadi di esok hari. Mereka hanya berharap semuanya akan baik-baik saja.
Zaara terbangun tiba-tiba di tengah malam. Gadis itu langsung beranjak keluar kamar dan pergi menuju dapur kecilnya. Mengambil sesuatu dari lemari penyimpanan, dimana ia terbiasa menyimpan seluruh bahan makanan, ia meraih satu bungkus minuman teh instan dengan rasa lemon. Diseduhnya serbuk minuman instan itu dengan air hangat secukupnya. Ia mengaduknya pelan agar tidak ribut, lalu menambahkan beberapa mili liter air biasa dan menambahkannya beberapa bongkah es batu. Ia mengaduknya kembali.
__ADS_1
Zaara duduk di atas sofa sambil menyalakan televisi. Diminumnya minuman segar itu, terasa menyegarkan kerongkongannya yang kering. Ia tersenyum, hatinya bersyukur karena ia punya minuman teh lemon di dalam apartemennya, karena tadi tidak sempat mencicipnya di acara itu. Perlahan Zaara menghabiskannya sambil menonton acara televisi yang masih memiliki siaran di tengah malam itu. Tak lama setelah minumannya habis, ia kembali ke dalam kamar. Untung saja Arsene tidak terbangun, Zaara kembali melanjutkan tidurnya.
\=\=\=\=\=\=
“Mbak tolong hitung semuanya ya?” ucap seorang gadis berambut cokelat terang membawa satu pinggan berisi cheesecake, lemon tart, apple pie, dan cinnamon rolls. Gadis itu juga memesan segelas matcha latte dingin sebagai teman camilannya.
Alice memberitahukan jumlah total yang harus dibayar oleh pelanggan barunya itu. Kemudian gadis yang terlihat santai dalam balutan kemeja kotak serta celana jeansnya berjalan memilih sebuah kursi untuk diduduki. Ia mengambil foto apa yang menjadi menu brunch-nya dan mengunggahnya di akun media sosial miliknya dengan menandai Sweet Recipes sebagai lokasi terkininya. Ia tersenyum senang saat menyuap satu sendok cheesecake dengan topping oreo.
“Still the same!” ucapnya pelan.
Gadis itu menikmati kesendiriannya sambil menyantap pastry manis yang membuatnya rindu akan masa lalunya.
“Mbak aku tambah lagi ya, dibawa pulang aja!” ucap gadis ramping yang tidak terlalu tinggi itu sebelum pergi dari toko.
“Baik Kak! Totalnya segini ya!”
“Terima kasih!” ucapnya saat sudah membayar pesanan takeaway-nya.
Gadis itu mengaitkan anak rambutnya ke telinganya. Menarik pintu dan berjalan keluar. Sebuah motor besar tepat parkir di samping mobil gadis itu. Pengemudi itu membuka helm full face-nya. Gadis yang sudah memasuki mobil sedannya menyalakan mesin kemudi dan perlahan mundur untuk memutar langsung ke jalan raya.
Jalan raya tampak ramai, membuat gadis itu kesulitan untuk memutar mobilnya. Arsene yang baru saja tiba di sana, seketika menolongnya untuk menghentikan laju kendaraan yang berlalu lalang agar membiarkan mobil sedan hitam itu bisa menyebrang. Jantung gadis itu berpacu cepat melihat keberadaan Arsene membantunya. Ia ingin menghentikan lagi mobilnya, tetapi kendaraan bermotor sudah berhenti, membuat ia terpaksa meneruskan gasnya. Ia mengklakson dua kali sebagai ucapan terima kasih. Arsene segera mengunjungi tokonya tanpa tahu bahwa gadis yang membawa mobil itu adalah Liza, yang baru saja berkunjung dari tokonya.
“Ramai Kak?” tanya Arsene sesaat ia belum masuk ke dapur.
“Lumayan lah! Mungkin habis jam makan siang biasanya lebih rame!” jawab Alice.
“Sipp, aku ke dapur dulu!”
Alice merapikan sedikit meja kerjanya dan mengelap debu yang menempel dengan tisu basah. Ia mencuci tangannya setelah itu. Sebuah mobil sedan hitam terparkir di depan toko.
“Ada yang ketinggalan Kak?” tanya Alice pada Liza.
Liza tidak mendengarkan pertanyaan Alice, matanya masih berpendar ke seluruh ruangan toko itu. Sampai akhirnya ia menatap wajah Alice yang tengah menunggunya.
“Ah, saya mau beli lagi kuenya! Karena mama saya ingin lemon tart-nya,” ucapnya berbohong.
“Ooh…”
Terpaksa Liza mengambil sebuah kotak lagi, padahal tadi ia sudah mengambil beberapa cheesecake in jar. Kali ini ia tampak berpikir-pikir setelah mengambil lemon tart. Sengaja ia melakukan hal itu untuk memperlambat waktu dan memperbesar peluang untuk bertemu Arsene. Kemudian ia mengambil roll cake, sambil terus berharap dalam hati. Mengambil lagi cinnamon roll. Kemudian yang terakhir ia mengambil tart buah.
“Aku balik lagi ke kampus ya, Kak!” ucap Arsene yang baru keluar dari dapur sesaat setelah Liza membayar belanjanya. Gadis itu dengan cepat berbalik, menunduk, agar Arsene tidak melihat wajahnya yang pura-pura sedang merogoh sesuatu di dalam tas.
Arsene berjalan cepat keluar. Arsene terdiam memperhatikan jalanan sambil akan memasang helmnya. Tiba-tiba, sebuah rangkulan dari belakang tubuhnya mengejutkannya.
“Astaghfirullahaldziim!” ucapnya refleks, membuat helm yang dipegangnya terjatuh menggelinding.
“I miss you so bad!” ucap Liza lirih. Arsene buru-buru melepaskan rangkulan itu dan berbalik.
“Liza?!”
Liza tampak murung sekaligus menahan rasa rindu untuk pria yang ada di hadapannya.
Perempuan itu menjatuhkan kantong belanjaannya, dan meraih tangan Arsene untuk digenggamnya. Arsene menarik lepas tangannya ke atas, membuat gadis itu tersungkur dengan posisi berlutut.
“Apaan sih kamu ini?! Udah kubilang aku udah nikah, aku udah punya istri!” Arsene membentak.
__ADS_1
Suara itu sampai ke telinga Alice yang kemudian berlari keluar untuk melihat apa yang terjadi. Ia terkejut mendapati Arsene di sana tengah memasang wajah penuh emosi pada seorang pelanggan yang tadi.
“Aku cuma ingin peluk kamu sekali ini!” pinta Liza.
Arsene beristighfar kembali. Berusaha menenangkan dirinya agar tidak menyakiti perempuan di depannya itu.
“Liz…,” Arsene tampak kebingungan.
“Aku tau dulu aku salah karena memanfaatkan kebaikan kamu. Tapi tolong! Saat ini keadaan udah berubah. Aku minta maaf sebesar-besarnya untuk saat itu. Tapi tolong jangan bawa situasi itu lagi untuk masa ini!”
Liza menangis tersedu-sedu.
“Maaf…” hanya itu yang terucap dari lisannya. “Maaf aku belum bisa kontrol diri dan perasaan aku untuk kamu. Aku masih sangat suka kamu, Arsene!” ucapnya.
Arsene menghela nafas. Terpejam menyesali masa lalunya.
“Biar kubantu berdiri!” Arsene mengulurkan tangannya, sangat terpaksa melakukan itu semua. Penyesalannya sangat besar.
Liza menyambutnya, ia berdiri dan menepuk celananya yang kotor karena debu dan pasir. Arsene segera menarik tangannya.
“Aku minta maaf sekali lagi, Liz! Karena pernah mempermainkan kamu. Tapi aku gak bisa menebus apapun untuk kamu. Aku hanya berharap Tuhan mengampuni kita dan kebodohan kita di masa lalu,” ucap Arsene, Liza bukanlah seorang muslim.
Liza masih tertunduk.
“Maafkan aku juga. Lebih baik aku pergi dari sini. Aku sadar, aku tidak akan pernah mendapatkan hati kamu. Aku berharap kamu selalu bahagia, Arsene!”
Liza membawa kantong belanjaannya dan bergegas masuk ke dalam mobil. Arsene masih terpaku di tempatnya memandangi tanah ketika mobil sedan hitam itu melaju. Lagi-lagi ia beristighfar, menyesali kebodohannya.
“Kenapa sih Cen? Yang tadi itu siapa?” tanya Alice menghampiri ketika drama tadi telah selesai.
“Hanya bagian dari masa lalu aku yang buruk, Kak!” ucap Arsene lesu.
“Mantan lu?”
Arsene menggeleng. “Mantan boongan!”
“Kok bisa, lu punya mantan boongan?! Berarti dulu dia pacar boongan lu?!”
Arsene mengangguk lemas.
“Ya Allah! Zaara tau?”
“Tau. Entah apa yang terjadi kalau dia tahu kejadian hari ini.”
“Udahlah, mudah-mudahan cewek yang tadi bener-bener pergi dari hidup lu. Lu harus makin perhatian sama Zaara, khawatirnya dia cium gelagat lu hari ini. Anggap aja gak ada apa-apa. Oke? Gue bakal tutup mulut!”
“Makasih Kak Al! Aku pergi lagi!”
Alice mengangguk dan menepuk bahu sepupunya itu.
\=\=\=\=\=\=
Bersambung dulu yaah
Kutunggu like, vote, dan komentar kalian untuk dukung terus karyaku
__ADS_1
Terima kasiiih