
Ruang tamu sudah dipersiapkan semaksimal mungkin untuk acara perkenalan dua insan yang mungkin baru saja akan bertemu. Semua asisten rumah tangga keluarga Jaya Diningrat sudah mempersiapkan semuanya.
Arsene sedang berbincang-bincang dengan dengan kakek dan pakdenya di ruang keluarga. Tidak ada kehadiran Ajeng atau Ferdian, karena memang pertemuan itu hanya diisi oleh keluarga inti saja termasuk kakek dan nenek.
Sebuah mobil SUV berwarna maroon berhenti tepat di depan pagar rumah megah klasik Keluarga Jaya Diningrat. Satpam menginstruksikannya untuk diparkir di dalam halaman rumah agar lebih aman. Dua orang laki-laki berpakaian batik dengan celana katun hitam keluar dari mobil. Disusul dengan dua orang perempuan berbeda generasi yang sama-sama mengenakan hijab. Kakek Jaya, Pakde Bima, dan Arsene bergegas keluar menyambut tamu mereka.
“Arsene!” teriak Angga yang baru turun dari mobil, tatkala mata mereka bertemu, tak percaya ternyata dugaan Arsene benar.
Arsene yang mengenakan kemeja dan jasnya langsung menghamburkan diri pada sahabatnya itu. Mereka sama-sama tak menduga akan bisa bertemu di sana.
“Kok bisa lu di sini?!” tanya Angga tidak percaya, menepuk terus bahu sahabatnya itu.
“Gue pawang lu, Ga! Hahaha!" ucap Arsene bercanda.
“Jangan-jangan lu adik calon gue?” tebak Angga.
“Sepupu, Ga! Gue sepupu Kak Alice!”
“Oh Alice namanya!”
“Ya elah, lu belum tau sama sekali?” tanya Arsene.
“Ortu gue pelit info, termasuk namanya pun gak dikasih tau!” bisik Angga.
Arsene tertawa-tawa. “Yuk masuk, salaman dulu sama kakek dan pakde gue!”
Angga berjalan bersama kedua orangtua dan adiknya, mereka bersalaman dengan tuan rumah.
“Angga kenal sama Arsene?” tanya Bima, ayah Alice, saat Angga bersalaman dengannya.
“Arsene sobat di SMA sekaligus di kampus, Om!” jawab Angga sopan.
“Walah, ternyata!” Bima dan Kakek Jaya menggeleng-geleng bersamaan tidak menyangka.
“Ayo silakan masuk!” ajak Kakek Jaya.
Angga merangkul Arsene senang sekali. Mereka duduk bersebelahan sambil terus berbincang meski berbisik-bisik. Tawa menghiasi keduanya.
“Cantik gak kakak sepupu lu?” tanya Angga penasaran.
“Gak usah ditanya! Lihat aja gue!” ucap Arsene percaya diri. “Masih satu bibit!” lanjutnya.
Angga menyikut tubuh sahabatnya yang terlalu percaya diri itu.
“Terus ngapain lu di sini, Sen?”
“Gue diminta Kak Al buat temenin. Biasa, pakar begini sering dimintain tolong,” ucap Arsene lagi-lagi membuat Angga mencebik.
Tidak lama dari sana, para asisten rumah tangga yang sudah berpakaian rapi keluar untuk menyuguhkan sajian makanan ringan dan minuman. Mereka sempat berbincang ringan dulu sebelum Alice dan Nadya muncul. Akhirnya kedua wanita itu datang menuju ruang tamu yang kini suasananya sudah hangat karena Arsene dan Angga sudah sangat dekat. Jadi baik Kakek Jaya, Pakde Bima, dan orangtua Angga bisa ikut terbawa cairnya suasana di sana.
“Cantik gak?!” tanya Arsene pada Angga ketika Alice duduk di sebelah ayah dan ibunya sambil tersenyum menunduk. Alice sudah bersalaman dengan Angga tadi. Matanya terlihat membelalak ketika menemukan Arsene berbincang akrab dengan calon suaminya itu, seolah bertanya-tanya.
“Cantik Sen! Tapi kok kaya galak gitu ya? Kayanya gue juga pernah ketemu deh!” bisik Angga.
“Dia kasir di toko gue, Ga! Lu pasti pernah ketemu.”
“Oalah, pantesan! Tapi dia ramah kalau di toko.”
“Emang. Lu harus kenal lebih deket, biar tau kelebihan dan kekurangannya,” ucap Arsene.
“Siplah!”
Saat itu mulailah pertemuan sesi perkenalan itu. Kakek Jaya menyambut mereka sebentar, setelah itu ayah Angga memberitahu maksud kedatangannya untuk apa. Arsene memperhatikan acara itu baik-baik, mirip saat prosesi lamarannya dengan Zaara. Hanya saja karena itu adalah pertemuan pertama Angga dan Alice, mereka lebih banyak berdiskusi terkait rencana kedepannya. Hal itu sama seperti yang telah diterangkan oleh Nadya kepada anaknya. Mereka memiliki waktu untuk saling mengenal selama tiga bulan, bahkan mereka boleh memutuskan sendiri jika dalam satu bulan ini salah satu dari mereka sudah memiliki pilihan. Arsene memberikan usul agar mereka saling bertukar CV untuk bisa saling mengenal dan melanjutkan komunikasi secara langsung. Keduanya setuju untuk melakukan hal itu.
Acara berlanjut ke sesi jamuan makan siang, karena perkenalan perdana ini dirasa cukup. Arsene duduk di samping sepupunya di meja makan, sedangkan Angga berada di ujung meja yang kadang mencuri pandang pada Alice. Hanya ada perbincangan ringan saja di sana.
__ADS_1
“Jadi Nak Arsene ini cucu Kakek Jaya? Sekelas sama Angga di SMA dan di kampus?” tanya Pak Ridwan, ayah Angga.
“Iya betul Pak!” jawab Arsene tersenyum ramah.
“Arsene ini cucu saya yang nikah muda, Pak Ridwan!” terang Kakek Jaya.
“Masya Allah, sudah nikah ternyata!” ucap Pak Ridwan dan istrinya bersamaan.
“Baru jadi ayah juga, istrinya baru melahirkan beberapa bulan lalu!” tambah Nenek Aryani.
“Masya Allah! Hebat sekali kamu, Nak!” puji Pak Ridwan.
Arsene tersenyum tersipu-sipu. “Angga pernah saya ajakin juga ke acara pra nikah, Om! Jadi seenggaknya dia juga udah punya bekal ilmu dalam pernikahan,” terang Arsene membuat Alice terkejut.
“Oh ya?!” respon orangtua di sana terkejut bersamaan. Mereka kagum pada anak muda yang ada di sekitar mereka.
Nadya menyenggol tubuh anaknya.
“Apa Mi?!”
“Tuh dia udah mempersiapkan diri, kamu juga harus gitu!”
“Kalian sama-sama aktif di LDK ya?” tanya Bu Hani, ibunda Angga.
“Iya Tante!” jawab Arsene.
"Alhamdulillah."
“Angga ini sedang skripsi, tapi Om selalu membuat dia ikut terjun ke dunia bisnis. Jadi insyaAllah setelah lulus nanti, dia akan siap untuk kerja di perusahaan!” terang Pak Ridwan menatap ke arah Alice.
“Untuk masalah nafkah, Angga sebenarnya sudah ada sampingan karena dia selalu dapat kerjaan di luar jam kuliahnya. Dia suka bantu-bantu manajer keuangan di kantor kami. Lucu ya, dia sebenarnya suka hitung-hitungan tapi kok malah pilih sastra untuk kuliahnya?!” ucap Ridwan lagi.
Arsene menoleh pada sepupunya.
“Cari ilmu baru, Pa! Hitungan udah terlalu jago!” ucap Angga percaya diri, membuat yang lain tertawa-tawa.
“Alice juga manajer keuangan di tokonya Arsene, Om!” jelas Arsene.
“Oh ya?! Wah kalian bakalan cocok tuh!” ucap Pak Ridwan antusias, Alice tertunduk.
“Ya mudah-mudahan kalian bisa cocok satu sama lain, jadi pelengkap juga!” Nadya berharap.
“Aamiiin,” ucap para orangtua di sana.
Acara pertemuan selesai di siang itu setelah shalat dzuhur. Angga dan Alice sudah bertukar nomor ponsel, sehingga mereka bisa melanjutkan komunikasi setelah ini.
Keluarga Angga kembali ke kediamannya.
Alice menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, usai kepulangan Angga dan keluarganya. Arsene ikut duduk di sofa seberangnya.
“Gimana Angga?” tanya Arsene ingin tahu kesan pertama sepupunya itu pada sahabat di kampusnya.
Alice menghela nafas. Wajahnya datar dan terlihat biasa saja.
“Ganteng, tinggi, ramah!” jawabnya datar.
“Kak Al gak tertarik sama sekali?” tanya Arsene mendengar jawaban sepupunya itu.
Alice terdiam. “Belum kayanya!” ucapnya kemudian.
“Kakak punya perasaan untuk cowok lain?”
Alice menggeleng. Tetapi Arsene tidak percaya.
“Bang Lunar?” tanya Arsene menyebut nama kepala tim marketingnya itu. Alice menoleh kepadanya.
__ADS_1
“Kenapa sebut nama dia?” tanya Alice.
“Entah, nebak aja! Kak Al punya perasaan sama Bang Lunar?”
“Entahlah, gue juga gak yakin, Cen! Gue ngerasa gak pantas aja buat Angga.”
“Kenapa?”
“Dia kelihatan alim, meski gue tau dia terlihat konyol apalagi saat narsisnya itu muncul. Dia aktif di LDK, otomatis bekal agama dia ada. Lah gue?! Sholat aja bolong-bolong. Gue ngerasa gak sepadan dengan dia. Dia berhak dapatin cewek yang lebih baik dari gue.” Alice terlihat rendah diri.
Arsene terdiam sejenak setelah mendengar respon dari sepupunya itu.
“Aku tau jodoh itu cerminan, Kak! Tapi di sisi lain, kita juga berhak memantaskan diri,” ucap Arsene membuat Alice mengernyit.
“Apa maksud lo?”
“Dulu aku juga ngerasain hal yang sama kaya Kak Al waktu aku suka sama Zaara. Aku ngerasa Zaara jauh lebih baik dari aku, apalagi masalah agama. Tapi, masalah keimanan dan kesholehan seseorang itu hanya Allah yang bisa menghitungnya. Kita hanya bisa lihat secara kasat mata aja dan mungkin dia gak sebaik yang kita kira. Tapi dari sana aku sadar, kalau aku ingin bisa bersanding sama dia, setidaknya aku harus bisa melakukan apa yang dia lakukan juga.”
Arsene menghela nafas.
“Kakak tau? Kenapa dulu aku mutusin kuliah di Sasing?”
Alice mengedikkan bahunya.
“Jujur aja, jawabannya karena aku kejar Zaara yang masuk Sasindo di UBP. Padahal, aku bisa aja sekolah di Le Cordon Bleu Malaysia, London, atau bahkan Paris di tahun itu. Tapi, aku beralasan sama mommy kalau aku cuma mau sekolah di Sydney, padahal negara itu baru kena bencana. Itu karena aku ingin mantau dia. Aku pikir dia pasti ikut LDK, aku pun daftar. Meski setelah itu aku jadi sadar, niatku gak lurus dan jawaban mertua aku saat kajian di masjid benar-benar membuat aku tertohok. Akhirnya aku luruskan niat, aku coba perbaiki hubungan aku sama Allah, aku aktif di LDK bukan lagi untuk dapatin dia, tapi untuk dapatin ridho Allah, agar aku bisa dapat yang terbaik. Aku memantaskan diri di depan Allah, Kak!”
Hati Alice bergetar mendengar cerita Arsene. Matanya berkilauan. Ia sangat sadar bahwa dirinya tidaklah dekat dengan Tuhannya. Ia masih enggan menemui-Nya dalam keadaan lapang.
“Aku mau tanya lagi, apa Kak Alice tertarik sama Angga?”
Alice memejamkan matanya. “Sepertinya, ya! Tapi gue sadar diri, Cen!”
“Kakak masih bisa memantaskan diri, bukan untuk Angga, tapi untuk Allah!” jawab Arsene seperti jawaban Reza saat berdiskusi dengannya dulu.
“Tapi gimana caranya?” tanya Alice menatap sepupunya itu.
“Kakak harus berubah. Hijrah. Mau?” tawar Arsene.
“Hijrah?!”
Arsene mengangguk.
“Gue ragu, Cen! Apa gue bisa istiqomah? Gue takut!”
“Lurusin niat Kak! Allah pasti bantu,” ucap Arsene meyakinkan.
Alice termenung.
“Minta sama Allah yang terbaik. Allah pasti tunjukan jalan buat Kakak!”
Alice masih terdiam mematung dengan pikirannya sendiri.
“Maaf Kak! Aku harus pulang, Ryu demam!” ucap Arsene melihat ponselnya.
Alice menoleh, lalu mengangguk.
Arsene bergegas pamitan pada keluarganya yang lain dan pulang siang itu juga.
\=\=\=\=\=\=
Bonus Episode bersambung....
Tetap like, comment dan votenya yaa
makasiiih
__ADS_1