Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 39. Pesanan


__ADS_3

Zaara berjalan gontai di depan gedung B dengan pikiran yang menyelimutinya. Ini terkait dengan surat Raffa yang diberikan padanya satu minggu yang lalu. Pasalnya, pemuda itu akan meminangnya tepat pada minggu ini. Sementara abinya itu tampak antusias dan senang, ketika ia mengatakan ada seorang laki-laki yang berniat serius melamarnya. Ia memang belum memberitahukan pada kedua orangtuanya sosok pria yang akan meminangnya, ia pikir abi dan uminya pasti sudah tahu niat baik Raffa dari Tante Sita.


Zaara terlihat gusar dengan hatinya sendiri. Terkait dengan nikah muda, seperti yang diutarakannya saat itu pada ayahnya. Gadis berhijab lebar itu tidak pernah menutup kemungkinan dirinya untuk menikah di usia yang sangat muda. Usia bukanlah patokan bagi seseorang apakah ia pantas atau tidak pantas untuk menikah. Komitmenlah yang membentuk pola pikirnya agar ia pantas untuk menjadi pendamping dari seseorang. Komitmen itu harus dipegang juga oleh pasangannya. Jika visi misi pernikahan mereka sejalan dalam masa perkenalan atau ta'aruf, barulah keduanya bisa melanjutkan menuju jenjang yang lebih serius.


“Hey, kebiasaan ngelamun aja nih ukhti!” Terry mengagetkannya.


“Astaghfirullah, bikin kaget aja!” ucapnya refleks.


“Ayo ke perpus, anter gue mau cari bahan matkul Filologi nih!”


“Yuk! Hana kemana? Biasanya bareng sama kamu, Ry!”


“Hana lagi jajan dulu di gerbang kampus, antriannya lama, ya udah gue duluan.”


“Ooh!”


Kedua gadis semester satu itu berjalan menuju perpustakaan fakultas yang terletak di lantai satu gedung B. Pagi itu waktu masih menunjukan pukul 10 lewat, waktu dimana perpustakaan sedang sepi-sepinya. Zaara dan Terry memasuki ruangan perpustakaan yang dipenuhi koleksi yang menurut mereka cukup tua. Jika dibandingkan dengan perpustakaan FIB Universitas Mentari, sungguh jauh berbeda. Zaara pernah mengunjunginya beberapa minggu lalu bersama kawan-kawannya ketika hendak mencari referensi buku sejarah Bahasa Indonesia. Koleksi buku di sana sangat banyak, dilengkapi juga dengan perpustakaan digital yang modern.


“Kapan-kapan kita ke perpus FIB UM lagi yuk!” ajak Terry ketika dirinya kebingungan mencari buku-buku tentang filologi karena jumlahnya hanya sedikit.


“Yuk!” ucap Zaara riang. Ia senang sekali pergi ke perpustakaan itu, apalagi mereka juga sudah terdaftar menjadi anggota di sana.


Zaara kembali meneliti buku-buku yang ada di sana. Ia terlalu fokus membaca judul-judul yang tertera, sehingga tidak sadar tubuhnya menyenggol seseorang yang ada di sana.


“Maaf!” ucapnya terkejut melihat pemilik wajah orang di sebelahnya.


“Hei!” sapanya ramah dengan senyuman khas milik pria itu.


“Lagi cari buku apa?” tanya Arsene.


“Filologi. Kamu sendiri?”


“Morfologi.”


“Ooh…”


“Koleksi bukunya kurang banyak ya?” ungkap Arsene.


“Iya kayanya, kalau di UM banyak lho koleksi buku morfologi.”


“Oh ya? Kamu pernah kesana?” tanya Arsene.


“Iya, minggu kemarin kita kesana. Koleksinya banyak dan ada perpustakaan digitalnya juga. Kebetulan pamanku yang sekarang jadi penyuplai utama di sana.”


“Hmm … kayanya aku harus coba kesana deh. Dulu mommy juga kerja di sana jadi kepala perpusnya.”


“Oh ya? Tante Ajeng kepala perpus FIB UM?”


“Iya katanya! Janjian ya kalau ke sana!” pinta Arsene.

__ADS_1


 


 


Zaara tersenyum, “nanti deh aku agendain dulu sama yang lain.”


“Sipp, aku duluan ya? Kayanya cari bukunya besok lagi, aku harus ke toko dulu sebentar sebelum masuk kuliah siang.”


“Okay!”


“Assalamu’alaikum!”


“Wa’alaikumsalam!”


Zaara memandangi punggung pemuda yang mengenakan setelan kaos berkerah navy dan celana jeans itu.


“Arsene!” panggil Zaara. Panggilannya terdengar ragu-ragu, khawatir akan memancing perhatian pengunjung perpustakaan yang lain. Dengan cepat Arsene menoleh dan menghentikan langkahnya.


“Iya?” tanyanya terheran.


Zaara menghela nafas, mencoba bersikap senormal mungkin.


“Apa kamu pernah kirim aku sebuah buku?”


Hati Arsene terkejut dan berdebar, tetapi ia tidak menampakan pada wajahnya.


“Buku apa ya?” tanyanya santai.


Arsene terdiam, terpaku. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, untuk tidak memberitahukan hal itu pada Zaara selama ia sendiri masih belum kuat memegang komitmennya. Lagipula sepertinya memang Om Reza pun cukup baik dan tidak memberitahukan anaknya terkait hal buku itu.  Arsene kembali melanjutkan langkahnya menuju luar ruangan. Entah kenapa melihat wajah Zaara yang tiba-tiba lesu membuat hatinya tidak enak. Apa mungkin hanya perasaannya saja?


\=====


Motor besar hitam milik Arsene terparkir di toko miliknya sebelum adzan Dzuhur berkumandang. Ia hanya ingin mengontrol dan memastikan semuanya tidak ada masalah. Alice, kakak sepupunya yang baru saja lulus kuliah, ditempatkan sebagai kasir untuk sementara. Alice adalah anak Nadya, kakak Ajeng satu-satunya. Gadis itu benar-benar ingin membantu Arsene, lagipula ia memang ingin mengisi waktu luangnya setelah lulus. Ia sudah bekerja di toko Arsene sejak dua minggu yang lalu.


“Oy Pak Bos dateng nih!” seru Alice pada dua chef di dapur yang sedang bercakap-cakap.


“Kak Al, gimana tadi?” tanya Arsene memeriksa stok kue di etalase.


“Ada yang borong eclair sama muffin tadi. Ini juga lagi panggang muffin lagi,” terang Alice, gadis tomboy berambut bob itu.


“Alhamdulillah. Aku cek langsung ke dapur deh!”


Arsene melangkahkan kakinya menuju dapur. Terlihat Ardan sedang membuat adonan choux untuk eclairs, sementara Satrio sedang membuat isiannya.


“Ada kendala gak Kang?” tanya Arsene sambil mencuci tangannya. Pria muda itu mengecek semuanya, mulai dari rasa, aroma, tekstur, hingga tingkat kematangan.


“Gak ada sih, Bos! Ini lagi manggang muffin, bentar lagi matang. Coba nanti rasain, mirip gak kaya punya Bos?” ujar Satrio.


Arsene menengok pada kaca oven. Kue-kue kecil yang sedang mengembang itu terlihat bagus. Muffin yang sudah ludes terjual adalah buatannya tadi pagi, ia sendiri yang membuatnya sebelum pergi ke kampus. Sedangkan yang ada di oven ini adalah buatan chefnya, meskipun resep dan teknik pembuatannya sudah ia instruksikan sejak awal mereka bekerja di sini.

__ADS_1


Alarm khusus pemanggang berbunyi, tanda kue di oven itu sudah matang. Satrio dengan sigap membuka oven itu dan mengeluarkan jejeran muffin dari sana. Sedap aroma cokelat, vanilla, dan kacang bercampur menjadi satu. Arsene mengambil dan mencicipnya.


“Siapa yang bikin ini?” tanya Arsene selepas ia mencicipinya.


“Saya Bos!” Arden mengangkat tangannya.


Arsene mengacungkan jempol padanya, “Nice, Kang!”


Ardan tersenyum lega dengan mata yang berbinar, puas dengan hasil kerjanya.


“Besok kita perbanyak stok muffin dan eclair ya?!” ucap Arsene.


“Kang Rio, nanti aku kirim resep topping varian baru. Biar makin banyak variannya.”


“Siap Bos!”


“Untuk cupcake dan cake pops kita kurangi jumlahnya, biar yang sisa gak banyak. Ya mudah-mudahan gak ada sisa.”


“Yes, chef!” ucap keduanya berbarengan.


“Mantap! Lanjutkan, Kang!”


Arsene keluar dari dapur masih sambil melahap sisa muffin buatan Ardan yang mirip dengan buatannya. Ia memperhatikan tablet PC yang ada di meja kasir dan memeriksa pesanan dan transaksi yang masuk. Sementara Alice sedang sibuk melayani para tukang ojek online yang melakukan pesanan.


Penjualan hari ini cukup bagus, bahkan di siang hari, muffin dan eclair stok tadi pagi sudah habis terjual. Itu semua tercatat di tabletnya yang langsung tersambung dengan aplikasi dari ponselnya juga.


“Kita dapat pesenan banyak buat Sabtu ini,” ucap Alice, dan langsung membuka aplikasi di kolom pesanan made by order.


“50 muffin, 50 eclairs mix varian! Diantar jam 9 pagi paling telat,” ucapnya membuat mata Arsene melebar.


“Kereeen!”


“Sabtu kamu libur kan?” tanya Alice.


“Libur.”


“Mantap!” Alice men-tos tangan Arsene.


“Aku balik lagi ke kampus ya, Kak! Masih ada kuliah!”


“Yoyoi, semangat Cen!”


\=====


Bersambung dulu


like dan vote jangan lupa untuk suppor author


comment dan masukannya juga yaa

__ADS_1


terima kasih <3


__ADS_2