
Toko sudah buka, beberapa pelanggan yang sudah mengantri sejak sebelum toko dibuka akhirnya masuk. Kue-kue menggugah selera sudah tersaji rapi di dalam etalase kaca. Para pelanggan berderet dalam antrian untuk mengambil piring saji lalu memilih pastry yang tersedia. Kemudian berbaris menuju kasir untuk membayar dan menggunakan voucher yang mereka punya.
“Terima kasih, selamat menikmati!” ucap Zaara ramah pada setiap pelanggan yang baru membayar pesanannya.
Sejauh ini kondisi masih aman terkendali. Arsene juga membuat menu pastry dan dessert jika di akhir pekan seperti ini. Signature menunya dibuat eksklusif dan harganya lebih mahal dibanding yang lain. Meski begitu, para pelanggan masih bisa membelinya dengan harga promo jika memiliki voucher loyalty yang mereka dapatkan jika sudah pernah membeli produk sebanyak 10 pcs.
Sekumpulan wanita rupawan dan berpenampilan modis memasuki toko. Pelayan menyambutnya dengan tagline khas. Mereka berjalan dengan angkuh sambil tertawa-tawa, kemudian memilih-milih menu yang ada.
“Kapan kita bachelorette party?” tanya seorang wanita yang menguncir rambutnya tinggi. Ia mengenakan rok span dan blouse berlayer.
“Astria, kapan sih wedding lu?” tanya temannya yang berambut pendek
“Bulan depan!” ucap yang bernama Astria itu, rambut bergelombang merahnya sangat indah tergerai. Wajahnya lancip dan cantik. Ia mengambil beberapa cheese cake in a jar dalam pinggannya.
“Kalau kue di sini enak, gue bakal pesen di sini buat pesta lepas lajang gue!” ucap Astria lagi.
“Yeaaay!”
“Gue kira lu mau coba di club punya Om lu itu, As?” mereka sibuk mengambil kue-kue manis yang berderet.
“Iya pestanya bakal diadain di sana. Makanan ringannya harus cari yang the best lah! Pokoknya kita bakal seneng-seneng!”
“Nih Mbak, semuanya satuin aja!” ucap Astria pada Alice untuk menghitung juga menu yang diambil oleh teman-temannya.
“Baik Kak!” ucap Alice ramah menghitung semua pesanan.
Zaara memandangnya saja, berasa ia mengenal wajah itu sebelumnya.
“Oh ya, ownernya datang kesini gak?” tanya Astria.
Alis Zaara terangkat.
“Ada perlu apa Kak?” tanya Zaara ramah.
“Saya mau coba kuenya dulu, nanti kalau enak mungkin saya mau pesan banyak. Bisa diantar kan?!” jawab wanita yang tubuhnya seperti jam pasir itu.
“Oh boleh, untuk pemesanan biasanya minimal H-3,” jawab Alice.
“Oke deh!”
Wanita itu tampak menatap juga pada Zaara sambil memicingkan matanya. Kemudian ia pergi mengikuti teman-temannya yang membawa pesanan mereka masing-masing. Kumpulan wanita yang berjumlah empat orang itu memilih sebuah meja di dekat pintu masuk. Mereka terlihat antusias dan mengambil gambar kue-kue yang mereka ambil sebelum menikmatinya.
Pelanggan lain berdatangan semakin ramai. Menu-menu yang tersaji dengan cepat habis. Membuat pelayan keteteran me-restock produk. Zaara turun tangan untuk membantu.
“Huuuh, mantap! Ada yang datang lagi!” seru Alice melihat beberapa motor dan mobil terparkir di depan toko.
Zaara bergegas ke dapur.
“Apa yang habis?” tanya Arsene.
“Lemon tart, eclair, creme brulee, sama cheese croissant!”
“Bentar ya, lagi dikasih filling dulu lemon tartnya. Kamu bawa creme brulee sama croissant aja dulu, Sayang!” ucap Arsene yang juga ikut sibuk di sana menghiasi kue.
Zaara membawa loyang berisi croissant dan menaruhnya di dalam etalase untuk disajikan. Masih terasa hangat. Kemudian ia kembali lagi ke dapur untuk mengambil creme brulee yang dingin dan menatanya dengan hati-hati.
Zaara kembali lagi ke meja kasir, karena ada pelayan yang mengambil alih. Para pelanggan yang akan membayar tampak sedang menengok-nengok ke arah dapur, seperti mencari sesuatu.
“Hihi ada di dapur tuh!” bisik salah satu pelanggan kepada temannya.
“Oh ya?” tanyanya melirik dapur.
Zaara menghela nafas. Ia beristighfar saja di dalam hati.
“Ada yang bisa dibantu Kak?” tanya Zaara berusaha ramah.
“Chef gantengnya mana, Mbak?” tanya pelanggan perempuan itu.
“Ohh, chefnya lagi sibuk di dapur,” ucap Zaara tersenyum.
Alice jadi terkekeh mendengar jawaban Zaara yang berusaha tenang.
“Mbak, mbak!” panggil seorang pelanggan yang bernama Astria tadi. Ia menyuruh Zaara untuk menghampirinya.
Zaara berjalan menghampirinya.
“Mbak, boleh tolong panggilkan chefnya gak? Saya jadi mau order banyak nih!” ucapnya sambil merapikan rambutnya.
Zaara menahan nafasnya. Entah kenapa perasaannya tidak enak. Tetapi ia harus berpikir positif.
“Saya lihat dulu ya, Kak! Soalnya tadi masih sibuk!” ucap Zaara.
“Oke deh, saya tunggu!” ucapnya datar.
Zaara berjalan menuju dapur.
“Kok mbak pelayan itu kaya yang gak suka gitu ya pas lu suruh panggil chefnya?”
“Naksir sama bosnya kali!” ucap Astria asal.
__ADS_1
“Iya kali ya, kan emang ganteng banget!”
“Oh ya?!” tanya Astria.
“Iya, mirip idol KPOP gitu sih kalau dilihat dari akunnya Natasya!
“OMG! Kok jadi gak sabar gue!”
“Lihat aja nanti!”
Zaara memasang ekspresi datarnya ketika mendatangi suaminya di dapur.
“Abang, ada pelanggan yang mau pesen banyak tuh!” ucap Zaara datar.
Arsene memperhatikan wajah istrinya yang tidak seceria tadi.
“Kamu kenapa, Sayang?”
“Enggak apa-apa!”
“Sini coba aku suapin!” Arsene menyuapi Zaara cheesecake yang baru dibuatnya dengan selai strawberry. Seketika kue lembut itu lumer di mulut Zaara, membuat moodnya seketika membaik.
“Enak?” tanya Arsene.
“Mau lagiii!” ucap Zaara manja.
Pegawai-pegawai di dapur jadi tertawa melihat keduanya, lucu dan menggemaskan, juga membuat iri. Arsene menyuapi lagi istrinya dengan suapan yang lebih besar.
“Gimana?”
“Aku ikut kamu!” ucap Zaara.
Zaara mengantar Arsene pada pelanggan perempuan tadi. Seketika suasana toko menjadi ramai karena para pelanggan terkesima dengan kehadiran Arsene di sana.
“Yang mana?” tanya Arsene berusaha tenang.
“Ikut aku!” Arsene mengikuti langkah Zaara.
“Tuh tuh dateng! Sumpah ganteng banget, masih muda lagi!” ucap teman Astria menyenggolnya.
Keempat wanita di meja itu terlihat grogi dan kikuk dengan kedatangan Arsene di tengah-tengah mereka.
“Ada yang bisa dibantu?” tanya Arsene dengan senyuman kecilnya. Sementara Zaara berdiri di samping suaminya.
“Eh...mmh, s-saya mau pesen kue di sini. B-bisa diantar kan?” tanya Astria gugup karena ketampanan pria di hadapannya. Tetapi ia merasa sudah pernah melihatnya entah dimana.
“Bisa. Untuk hari apa ya?” tanya Arsene.
“Eh bukannya hari Sabtu, As!”
“Eh, ya! Hari Sabtu depan!” ralat Astria.
“Boleh.” Arsene meminta Zaara untuk mengambilkan buku menu dan formulir pesanan agar pelanggannya itu bisa memesan kue yang diinginkan.
“Duduk dulu sih!” ucap teman wanita itu pada Arsene mengambilkan sebuah kursi kosong.
“Makasih Kak!” Arsene duduk di sana. Tak lama Zaara kembali dan memberikan buku menu pada suaminya.
“Silakan, dilihat dulu aja menunya. Nanti Kakak boleh isi di sini. Ada yang mau ditanyain dulu?” tanya Arsene.
“Harus pakai DP gak ya?” tanyanya.
“Gak usah, Kak! Asal amanah aja, tidak cancel order atau kami blacklist untuk pemesanan selanjutnya.”
“Oh… oke!”
Arsene baru saja akan beranjak, tetapi Astria segera mengeluarkan suara.
“Menu apa yang direkomendasikan di toko ini?” tanyanya.
“Ada eclairs, muffin, cheesecake, creme brulee, dan panna cotta.”
“Oke, aku tulis semuanya di sini! Nanti siapa yang antar? Masnya bukan?” tanyanya.
“Oh itu ada dari tim delivery.”
“Yaah…” ucapnya kecewa.
Zaara mendelik kecil yang tertangkap oleh salah satu teman Astria.
“Kalau gitu saya permisi dulu, karena di dapur masih sibuk! Maaf ya!” ucap Arsene pamit dari sana. Zaara mengikutinya.
“Duuuh kok gue malah deg-degan sih! Gak tahan itu gantengnya!”
“Hey, inget Paul, As! Bulan depan lu udah jadi istrinya!”
“Iya, tapi ini menggoda sekali!”
“Astaga!”
__ADS_1
“Itu mbaknya apa gak ngaca ya, sok-sok pakai acara ngedelik lu lho! Cantik sih cantik, tapi biasa aja kali!"
“Ohh ya?!”
“Iya pas lu kecewa karena gak bisa diantar sama chef gantengnya.”
“Maklum lah, karena kerja barengan jadi berasa akrab. Nanti gue minta nomor telepon chefnya deh!”
"Ho'oh!"
Suara adzan sudah berkumandang. Para pegawai beristirahat secara bergantian karena masih harus melayani pelanggan yang tidak usai berkunjung. Keempat wanita modis masih ada di sana, dan mereka terus menambah pesanan. Astria juga masih berpikir-pikir untuk memesan kue yang cocok untuk pesta kecilnya nanti.
“Kita pulang dulu bentar ya, nanti balik lagi sini!” ucap Arsene pada asisten chef dan pegawai lainnya di dapur.
“Iya Chef!” jawab mereka.
Sementara itu Zaara masih melayani para pelanggan yang akan membayar. Alice sedang makan siang keluar.
“Eh dikirain Kak Alice udah balik!” ucap Arsene menghampiri istrinya.
“Belum, bentar lagi mungkin!” jawab Zaara memberikan struk belanja pada pelanggan.
“Ya udah tunggu bentar lagi.”
“Mau pulang?” tanya Zaara.
“Iya, kita istirahat dulu sebentar. Lagian kamu udah masak banyak tadi pagi, kan sayang kalau gak dimakan!”
“Oke deh!” Zaara tersenyum.
Astria berlari menuju meja kasir begitu melihat Arsene di sana sambil membawa kertas pesanannya.
“Ini pesenan aku ya, Chef!” ucapnya menyodorkan kertas itu pada Arsene.
Arsene mengambilnya dan memeriksanya. Sepertinya cukup banyak.
“Baik Kak! Saya bacakan lagi pesanannya ya. Eclairs 50 pcs, Cheese cake in a jar 50 pcs, Cupcake 50 pcs, Lemon Tart 50 pcs, Tiramisu 50 pcs dan Layer Dessert 50 pcs, semua varian campur ya? Untuk hari Sabtu pukul 17.00 di Bubbly Club. Ini kena charge untuk ongkirnya ya kak. Saya bikin invoice-nya dulu, untuk pembayaran bisa diakhir atau diawal secara cash.”
“Saya bayar cash aja semua deh!”
“Baik! Atas nama siapa Kak?"
"Astria Renata!"
DEG. Zaara tiba-tiba terkejut mendengar nama itu. Ia menatap tajam pada wanita di hadapan suaminya itu.
Arsene mengambil alih tablet pc yang sejak tadi dipakai oleh Zaara, lalu menuliskan pesanan itu di sana sehingga struk belanja tercetak.
“Totalnya segini ya Kak!” ucap Arsene memberikan invoice.
Perempuan itu mengeluarkan kartu kreditnya untuk membayarnya di mesin EDC yang tersedia.
“Terima kasih! Nanti akan saya hubungi lagi nomor kakak kalau ada apa-apa!” ucap Arsene mengembalikan kartu kredit beserta struknya.
“Oke deh! Siapa nama kamu, Chef?”
"Arsene!"
Mata Astria membesar dengan alis terangkat. Astria mendelik kecil pada Zaara sebentar, membuat jantung gadis berhijab itu jadi terentak. Kemudian pergi begitu saja dengan senyum menyeringai di salah satu sudut bibirnya.
Arsene langsung menggantung kertas pemesanan di papan pesanan di dapurnya agar para koki bisa terjadwal untuk mengerjakan pesanannya. Alice sudah kembali.
“Yuk pulang, Sayang!” ajak Arsene.
“Kita pulang dulu ya Kak Al!” pamit Zaara.
"Yooo!"
Arsene sudah melepas pakaian kokinya. Ia menuntun lengan istrinya untuk berjalan keluar.
Entah mengapa hati Zaara tidak karuan berjalan melewati wanita tadi yang kini menatapnya terus. Ia bisa melihatnya meski dari ujung matanya. Sedikit ia mendelik.
Arsene memakaikan helm pada kepala Zaara di tempat parkir.
"Lho, lho, mereka...," ucap salah satu teman Astria menunjuk pada Zaara dan Arsene.
"Pacaran kali ya?" sahut yang lain.
"Maybe...," ucap Astria menatap sinis.
Arsene dan Zaara berhenti di tempat parkir khusus penghuni apartemen. Zaara terdiam sambil melihat suaminya yang mengambil helm.
"Kenapa? Kok melamun?" tanya Arsene.
"Kamu gak kenal cewek yang tadi?" tanya Zaara tiba-tiba membuat Arsene mengernyit.
\=\=\=\=\=\=\=
Bersambung dulu
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, dan comment untuk terus dukung Author Aerii
Makasiiiih 🥰