Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 60. Pengajuan


__ADS_3

Zaara tengah berbincang bersama kawan-kawan masjidnya setelah mengikuti seminar pra nikah di salah satu gedung yang terletak tidak jauh dari kampusnya. Ada Ema, Fitri, dan Hana di sana. Mereka baru saja keluar dari gedung itu.


Mata Zaara membesar ketika sorot matanya bertemu langsung dengan Arsene yang juga berada di sana. Zaara mengalihkan pandangannya dan kembali berbicara dengan teman-temannya di sana sambil terus mencuri pandang keberadaan Arsene bersama dua kawan kampusnya. Ia melihatnya sedang menerima sebuah map biru dari panitia yang menjadi penerima tamu. Hatinya penasaran, apa yang diterima Arsene siang itu? Mengapa hatinya jadi tidak karuan.


“Assalamu’alaikum…,” sapa seorang panitia akhwat ramah yang mendatangi keempat gadis itu.


“Wa’alaikumsalam…,” jawab keempat gadis berkerudung itu.


“Ini Teh Zaara ya?” tanyanya menatap ramah pada Zaara yang tidak terlalu fokus karena pandangannya tengah berpendar.


“Eh, iya. Ada apa teh?” tanya Zaara kali ini melihat akhwat yang mengenakan kerudung berwarna ungu muda itu.


“Maaf ini ada yang titip sesuatu buat teteh!” ujarnya menyodorkan sebuah map merah yang terlilit oleh benang.


“Eh?!”


“Dibaca dan dipelajari dulu aja ya, Teh! Nanti silakan hubungi nomor yang tertera di sana, jazakillah!” ucap panitia akhwat dan langsung berpamitan dari keempat gadis itu.


“Ciyeee ada yang ngajuin proposal nikah tuh, Ra!” ucap Ema menggodanya.


“Eh kok kamu bisa nebak? Emang iya isinya itu?” tanya Zaara tidak yakin.


“Coba buka aja deh!” seru gadis mungil yang tingginya jauh lebih pendek dari Zaara.


Zaara saling berpandangan dengan Hana, yang memang sudah tahu terkait proses ta’arufnya dengan Arsene. Gadis itu juga jadi berpikir kalau Arsene menerima map berisi hal yang sama dengannya. Ia menahan nafasnya karena tegang. Tetapi siapa yang memberikan ini? Zaara bertanya-tanya. Hanya saja, gadis yang mengenakan pashmina cokelat muda itu, memutuskan untuk membukanya di rumah saja. Matanya masih mencari sosok Arsene yang sudah tidak ada di depan meja panitia. Mengapa perasaannya jadi semakin tidak enak begini?


\======


Zaara telah tiba di kediamannya sambil terus memegang map merah berbahan plastik itu. Ia sudah tidak sabar untuk membukanya. Apakah tebakan Ema benar kalau itu proposal nikah dari seseorang untuknya? Tetapi siapa? Ia tidak bisa menebaknya.


Setelah menyelesaikan shalat dzuhur, gadis itu membuka map plastik yang di dalamnya terdapat map kertas lainnya. Zaara perlahan membukanya. Sebuah kertas berisi biodata pribadi seorang ikhwan sebanyak empat lembar berada di dalamnya. Tertempel sebuah foto pria yang cukup tampan di sana memiliki janggut yang tidak terlalu tipis dan kulit cerah bersinar. Seulas senyum tertempel di bibir pria itu dalam foto. Zaara memperhatikan foto itu, berusaha mengenal wajahnya. Akan tetapi, ia sama sekali tidak mengenalnya. Tidak ada ikhwan dengan wajah itu di masjid kampus atau masjid fakultas. Wajahnya terlalu dewasa. Zaara beralih pada data diri pria itu.


Tertera nama Muhammad Fadhli Aryandi di sana. Terpaut hampir 6 tahun lebih tua dari usia Zaara. Pria itu bekerja sebagai dosen FISIP di universitas yang sama dengannya dan sedang menyelesaikan kuliah S2-nya. Bahkan ia sudah diangkat menjadi aparatur sipil negara. Sungguh pria dewasa dan mapan. Wajahnya terlihat sebagai lelaki shalih dan baik. Zaara mengernyitkan keningnya, darimana ia bisa mengetahui dirinya? Apa karena pita merah yang dipakainya? Zaara bertanya-tanya. Atau jangan-jangan ia pernah bertemu ketika menyebar proposal pelaksanaan kurban seminggu yang lalu karena timnya bertugas di fakultas itu? Zaara tidak terlalu peduli.


Gadis itu malah memikirkan Arsene, karena hal yang sama terjadi juga pada mantan teman sebangkunya itu. Arsene sama-sama mengenakan pita merahnya dan menerima map itu. Zaara bergegas keluar menemui ayahnya yang sedang membaca buku di ruangan kerjanya.


“Abiiii…” panggilnya sambil membawa lembaran kertas itu.


“Kenapa Shaliha?” tanya Reza melihat raut cemas anaknya.

__ADS_1


“Aku dapat ini dari seminar tadi!” ucapnya, bibirnya melengkung terbalik.


Reza mengambil kertas itu dan membacanya baik-baik. Zaara memperhatikan ayahnya saja sampai menyelesaikan aktivitasnya.


“Hmm… menarik! Kamu tertarik sama ikhwan ini?” tanya Reza, membuat bibir Zaara semakin membulat.


“Ih Abi mah, Zaara mana kenal sama itu orang! Tiba-tiba aja dikasih ini sama panitia,” terangnya.


“Kamu pasti pakai sesuatu yang menandakan siap nikah ya?” tebak Reza.


“Aku pakai pita merah, Bi! Katanya kalau pakai pita merah buat orang yang siap nikah di acara itu. Ya udah aku bilang aja,” jawabnya polos.


Reza tertawa-tawa melihat jawaban polos anaknya itu. Ia sendiri juga pernah menghadiri acara semacam itu yang memang akan diberi tanda jika sudah siap menikah. Kemudian para panitia akan menghubungi mereka agar dipertemukan dengan seseorang yang sama-sama siap menikah, sehingga memungkinkan untuk menjalin proses ta'aruf.


“Maksud tanda itu artinya kamu sudah siap dinikahi dan bisa dijadikan target oleh ikhwan-ikhwan yang memang sedang mencari istri. Wajar jadinya, kalau ada ikhwan yang tertarik dengan wajah kamu dan sudah siap dengan CV-nya, langsung memberikan ini pada kamu,” terang Reza.


“Tapi aku gak mikir ke sana, Bi! Karena aku pikir ya aku emang udah siap untuk nikah, tapi bukan jadi target baru seseorang. Arsene juga kayaknya dapet map gitu deh!” seru Zaara.


“Oh ya? Dia ada juga di sana?!”


“Iya tadi aku lihat dia di meja panitia, di bajunya ada pita merah juga. Terus panitia kasih map biru sama dia!” terang Zaara.


“Kalian itu sama-sama polos. Harusnya gak usah bilang apa-apa, karena kalian sedang menjalin proses ta’aruf dan udah ada calon. Masya Allah.” Reza menggelengkan kepalanya.


Kemudian, pria yang sedang mengenakan kacamatanya itu tertegun sejenak.


“Terus kamu gimana?” tanya Reza menyelidiki putrinya.


“Maksudnya gimana, Bi?” Zaara tidak mengerti sama sekali pertanyaan ayahnya, atau ia khawatir salah menjawab.


“Kamu mau lanjut ke tahap berikutnya sama Arsene gak? Selama perempuan belum dikhitbah, laki-laki lain masih boleh mengajukan ta’arufnya sama kamu lho!”


Zaara terdiam. Bagaimanapun ia sulit menjawab pertanyaan ini saat ini. Ada sesuatu yang masih mengganjal di hatinya. Diskusi bersama Arsene masih terlalu singkat untuk menuju tahap berikutnya. Meskipun jika dibaca dari CV ta’aruf Arsene, Zaara sudah merasa tertarik dan cocok.


“Aku mau diskusi lagi sama Arsene, Bi!”


“Kenapa? Masih ada yang belum sreg? Padahal kalian itu dari CV-nya udah cocok satu sama lain.”


“Mmmh….”

__ADS_1


“Terkait sekolah Arsene ke luar negeri?” tebak ayahnya itu.


Zaara tertunduk.


“Masya Allah, Nak, ini bukan perkara yang harus diperpanjang. Kalian bisa bicarakan ini nanti. Toh Arsene udah bilang dia masih bisa merubah rencananya setelah ini. Atau kalaupun kalian menikah dalam waktu dekat, kalian bisa LDR dulu sebentar, kalian masih sibuk dengan aktivitas masing-masing. Gimana ketetapan hati kamu? Udah istikharah?”


Zaara mengangguk.


“Ya udah, kalau kamu masih butuh diskusi sama Arsene lanjutkan aja dulu. Tapi cepat buat keputusan. Dan terkait ikhwan ini, mau kamu pertahankan sampai kapan?”


“Enggak Bi! Aku enggak mungkin terima. Masih banyak yang lebih pantas dan lebih baik buat ikhwan ini. Baiknya Abi aja langsung yang hubungi!” jawab Zaara yakin.


“Bener ya? Ini mantap lho ikhwannya!” goda Reza.


“Iya Abi! Aku ke kamar dulu!” ucap Zaara sambil berlalu keluar dari ruang kerja ayahnya.


Zaara mengambil ponselnya dan mengecek semua notifikasi. Ada satu chat dari Arsene di grup ta’aruf mereka. Zaara membaca dengan hati yang berdebar.


[Assalamu’alaikum. Zaara bisa kita diskusi lagi?] tanya Arsene.


[Wa’alaikumsalam. Iya silakan!] jawab gadis itu.


Arsene sedang mengetik, yang tampaknya cukup panjang. Zaara masih menunggunya,


[Pendaftaran sekolah memasak yang aku tuju akan buka minggu ini. Aku mau daftar sekarang, kemungkinan perkuliahan akan dimulai dua bulan lagi. Kalau aku gak daftar sekarang, tahun depan baru bisa daftar lagi. Menurut kamu gimana? Aku akan buat keputusan terkait tahap taaruf berikutnya, setelah kamu kasih jawaban terkait ini]


Zaara tertegun dengan hati yang berdebaran.


\======


Bersambung dulu yaa


Zaara galau nih permisah


Votenya ditunggu


Like dan komennya wajib yaa, gratis :D


Makasiiih

__ADS_1


__ADS_2