
Semilir angin berhembus di pagi hari, pohon-pohon yang segar pun bergoyang mengikuti irama angin yang lembut. Matahari bersinar malu-malu dibalik awan tipis. Ajeng kembali ke kampusnya hari ini setelah dua hari ia izin tidak masuk karena Arsene yang sakit. Hari ini anaknya itu sudah kembali ceria dan sehat lagi. Semenjak Ferdian wisuda, suaminya itu bertugas mengantar jemput dirinya ke kampus untuk mengajar. Hari ini ia datang lebih pagi karena ada rapat di perpustakaan untuk pemilihan kepala perpustakaan periode baru.
Sudah banyak dosen dari jurusan lain dan juga staff yang berkumpul di sebuah ruangan khusus pertemuan di dalam gedung perpustakaan. Ajeng duduk di sebelah Novi, pengantin baru, yang juga menjadi bagian dari dosen yang mengelola perpustakaan.
"Eh ada pengantin baru udah datang!" ucap Ajeng menyapa rekan kerjanya itu.
Novi tersenyum lebar. Ia memang sudah menikah dengan Ardi sebulan yang lalu. Bahkan kabarnya di perutnya itu sudah terkandung janin kecil buah hatinya dengan Pak Dosen favorit mahasiswa.
"Gimana Arsene udah sembuh?" tanya Novi.
"Alhamdulillah, udah ceria lagi."
"Syukurlah! Jadi ibu sambil kerja gini repot gak sih?" tanya Novi penasaran.
"Ya aku harus optimal aja untuk dua-duanya. Tapi tetep anak jadi prioritas utama aku, makanya pas kemarin sakit, terpaksa aku izin dulu."
"Iya sih."
"Jadi kamu beneran udah isi?" tanya Ajeng menunjuk perut Novi.
Novi menyengir. "Doain aja!"
"Hebat, topcer banget si Ardi! Sebulan udah jadi aja! Selamat ya Novi Sayang!" ucap Ajeng memeluk rekannya itu.
Tidak lama kemudian, beberapa dosen dan petinggi fakultas datang memasuki ruangan rapat. Pak Burhan yang menjabat kepala perpustakaan selama tiga tahun ini pun memimpin dan membuka rapat hari ini. Entah mengapa hati Ajeng berdebaran selama mengikuti rapat kali ini. Apa karena rumor ia adalah kandidat terkuat untuk menjadi kepala perpustakaan periode ini? Bisa jadi. Ia merasa senang dan bangga sebenarnya, tetapi ia khawatir akan lebih sibuk dari sebelumnya.
Setelah rapat di antara para dosen pustakawan, staff pengelola, koordinator layanan serta para pustakawan senior selama kurang lebih satu jam lebih, maka diputuskanlah bahwa Ajeng menjadi kepala perpustakaan fakultas untuk periode ini. Ia akan menjabat selama kurang lebih tiga tahun ke depan. Semua orang memberi selamat atas jabatan barunya tersebut. Amanah baru tentunya membuat tantangan tersendiri baginya. Ia harus lebih pandai mengelola waktu dan memanajemen dirinya sebagai istri, ibu, dosen, serta kepala perpustakaan. Pak Burhan memberikan laporan evaluasi tahunan dan berkas-berkas lainnya yang harus segera Ajeng pelajari sebelum perkuliahan dimulai.
"Semoga perpustakaan kita semakin maju dibawah pimpinan kamu ya, Jeng?" ucap Pak Burhan.
"Terima kasih Pak, saya juga mohon bimbingannya."
"Kalau ada apa-apa tak perlu sungkan untuk bertanya pada saya ya?"
"Baik, Pak! Terima kasih banyak!"
Ajeng pun membawa berkas-berkas itu ke atas meja barunya di ruangan khusus untuk kepala perpustakaan. Ajeng menghela nafasnya. Rasanya ini semakin berat saja. Tetapi ia harus berpikir positif, ia ingat Karin pernah mengirimkannya sebuah poster dakwah ke whatsappnya. [Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya (HR. Mutafaq 'alaih)]. Ia harus bisa mengisi semua perannya dengan baik dan optimal, jadi tidak akan ada yang terabaikan dari semua amanahnya itu, baik Ferdian, Arsene, mahasiswanya, maupun perpustakaan fakultasnya ini. Ia sendiri sudah memiliki rencana dan beberapa program kerja untuk diusulkan nanti. Semoga saja semuanya berjalan dengan lancar.
\=====
Sementara itu Ferdian tengah mengunjungi sebuah rumah makan yang juga bagian dari usaha miliknya. Rumah makan yang menyediakan masakan khas Indonesia berkonsep sederhana dan murah ini terletak di dekat sebuah universitas negeri di kawasan pendidikan Jatinangor. Rumah makan ini lebih ramai pelanggannya dibanding cafenya. Mungkin karena harganya yang murah dan rasanya yang lezat. Tidak banyak promo yang dilakukan di usahanya ini, hanya tetap menjaga serta meningkatkan kualitas serta pelayanan. Bahkan di waktu mahasiswa libur, rumah makan ini tetap ramai di jam makan.
Ferdian masuk ke dalam rumah makan yang terlihat ramai dan sibuk di jam makan siang. Banyak mata pelanggan menatap ke arahnya. Pria itu memang selalu menjadi pusat perhatian. Ferdian langsung disambut kasir, seorang pria berusia 40 tahunan.
"Eh ada Bang Ferdian," ucap bapak berkumis yang bernama Pak Rustam.
"Gimana Pak, ramai terus?" tanya Ferdian.
"Iya alhamdulillah, Bang! Gimana bapak Gunawan udah sehat?"
"Alhamdulillah udah lebih baik, Pak! Oh ya, Mas Hilmi ada kesini gak?" tanya Ferdian menanyakan keberadaan manajer khusus rumah makan yang terbilang cukup besar ini.
"Mas Hilmi kayanya bentar lagi sampai, Bang! Tunggu aja sebentar, biasanya habis dzuhur kesini."
"Oke! Ibu-ibu masak di dalam sehat semua kan Pak?"
"Iya, luar biasa tiap hari selalu semangat Bang!"
"Bagus lah!"
__ADS_1
Ferdian memang jarang sekali ke tempat ini. Ia lebih mempercayakan kepada Mas Hilmi, seorang lulusan akuntansi yang ditunjuk langsung oleh Resha yang juga adalah kawan kuliahnya, untuk mengurus semua urusan rumah makan ini. Rencananya rumah makan ini akan membuka cabang baru di wilayah Cikutra, yang juga kawasan pendidikan di Bandung.
"Tah kan, Mas Hilmi datang!" ucap Pak Rustam menengok ke arah parkiran.
Seorang lelaki berusia 30 tahunan berkaca mata dan berjenggot turun dari sebuah motor matic berwarna hitam. Ia membuka helmnya dan menaruhnya di kaca spion motornya.
"Assalamu'alaikum!" sapa pria itu ketika melihat Ferdian.
"Wa'alaikumsalam!"
"Sehat Fer?!"
"Alhamdulillah, Mas kabarnya gimana?"
"Alhamdulillah sehat juga!"
Mereka pun duduk di kursi dari meja kosong dekat kasir, meski tidak terlalu dekat. Pak Rustam kembali fokus pada kerjaannya untuk melayani pelanggan yang akan membayar pesanannya.
"Kemana aja Fer, sibuk jadi orang tua baru ya?" tanya Mas Hilmi, ia menggeser kursinya dan duduk di atasnya.
"Ya gitulah, kemarin sibuk banget ngurus skripsi, ya juga ngurus anak! Keluarga Mas sehat semua kan?"
"Iya alhamdulillah! Jadi apa nih yang mau ditanyain? Kalau laporan penjualan udah saya kirim tiap bulan sama kakak kamu."
"Ooh iya iya!"
Hilmi pun menjelaskan terkait keadaan rumah makan ini dan juga perkembangannya yang setiap tahun selalu meningkat. Cabang baru di Cikutra kira-kira akan diresmikan dalam dua bulan, ketika para mahasiswa akan kembali masuk. Mereka juga akan memberi promo yang cukup besar agar para mahasiswa mau mengunjungi dan menjadi pelanggan mereka. Ferdian tampak fokus mendengarkan dan memperhatikan penjelasan pria yang seumuran dengan kakak keduanya itu. Hilmi juga sudah mengirimkan laporan penjualan setahun terakhir ini pada email Ferdian.
"Begitu kurang lebih lah, ya overall rumah makan ini selalu stabil, meskipun mahasiswa libur. Tapi ternyata banyak juga staff yang memesan katering atau makan di sini!"
"Bagus, bagus!" ucap Ferdian mengangguk-angguk.
"Kalau masalah alhamdulillah sih, jarang ya, pernah ada pencurian tapi dari pihak luar. Tapi sejak Pak Rustam jadi kasir, semuanya aman."
"Oh gitu! Wajah Pak Rustam garang banget sih ya?"
"Haha iya emang, tapi luar biasa, beliau itu jujur. Makanya sering kita kasih bonus."
"Baguslah kalau gitu! Saya percaya sama Mas!"
Ketika kedua pria itu sedang berbincang, Pak Rustam sempat menawarkan makan siang kepada mereka. Namun keduanya menolak karena sudah makan di rumah masing-masing. Tiba-tiba sekelompok mahasiswi berjumlah empat orang datang dan duduk di meja kosong di sebelah Ferdian dan Hilmi.
Seorang mahasiswi berambut model bob sebahu tampak memperhatikan wajah Ferdian sebelum ia duduk. Ferdian bangkit dari tempat duduknya dan menyalami Hilmi dan juga Pak Rustam untuk pamit pulang, karena urusannya sudah selesai.
__ADS_1
"Ferdian?!" panggil mahasiswa itu, membuat Ferdian yang akan berjalan keluar menoleh.
Ferdian menatap wajah yang cukup dikenalnya. Itu adalah salah seorang teman sekelas di SMA-nya.
"Natasya?" ucapnya.
Wanita itu langsung berbinar dibuatnya ketika mendengar namanya disebut oleh pria yang berdiri di hadapannya.
"Duh alhamdulillah, masih inget nama aku!"
Ferdian memaksakan senyumnya.
"Kamu ngapain di sini, bukannya kuliah di Universitas Mentari ya?" tanya Natasya.
"Ada urusan sebentar," jawab Ferdian datar.
"Ih kebetulan banget, sekolah kita kan ada reuni angkatan kita lho akhir bulan ini!" ucap Natasya riang.
"Oh ya?"
"Iya, ah kamu gak masuk grup ya? Minta nomor kamu dong, nanti aku invite ke grup whatsapp. Kebetulan aku juga jadi panitia reuni lho!"
"Boleh!"
Natasya pun memberikan ponselnya, agar Ferdian bisa mengetikan nomor miliknya.
"Thanks banget Fer! Pasti temen-temen pada seneng lho kamu eksis lagi!"
Ferdian menyengir saja.
"Gue balik dulu ya?"
"Oke deh! Aku udah masukin kamu di grup angkatan ya!"
Ferdian mengangkat alisnya.
"Bye Fer!"
"Bye!" Ferdian pun berjalan menuju parkiran, lalu menaiki motornya untuk pulang ke apartemennya.
Natasya pun kegirangan bagai ketimpa rezeki dari langit. Teman-teman yang dari tadi bersamanya tampak antusias bertanya tentang Ferdian yang terlihat sangat tampan di mata mereka. Keempat mahasiswi itu pun ribut dan Hilmi yang masih berada di sana hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saja.
\=====
Bersambung dulu yaa...
Kalau mau ribut, dipersilakan di kolom komentar
Tapi like dulu ya
Dan votenya jangan lupa
Biar episode besok-besok makin seru ^_^
Thank youuu
__ADS_1