Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 53. Grup WA


__ADS_3

Arsene membelalakan matanya sambil melihat ponselnya. Memastikan kembali bahwa grup yang bernama 'Taaruf Zaara dan Arsene' itu berisikan enam orang. Ia pikir grup itu hanya akan ada dirinya, Zaara, dan Om Reza sebagai mahram Zaara dan penengah mereka. Ia sama sekali tidak menyangka kedua orangtua mereka semuanya akan ikut tergabung dalam grup itu. Apakah semuanya akan mengintervensi hubungan ta’arufnya dengan Zaara? Atau semuanya akan mengetahui secara detail percakapan antara dirinya dan Zaara. Pria muda itu merebahkan tubuhnya di atas karpet sambil mengembuskan nafasnya kasar.


Ferdian tertawa-tawa melihat anaknya yang terlihat frustrasi. Mungkin tidak semua proses ta'aruf berjalan seperti apa yang dialami anaknya. Buktinya ia ingat, Ridho dan almarhumah Namira berta'aruf seperti berkomunikasi biasa, hanya saja memang rentan terjadi maksiat yang tidak disengaja. Apalagi Arsene mirip dirinya yang sering bertingkah konyol, khawatir tidak bisa menjaga dirinya.


“Semuanya sayang kalian, dan gak mau sampai lihat kalian terjebak kemaksiatan. Santai aja, Cen!” ujar Ferdian menyemangati anaknya. Ia sendiri sudah mendapat pesan pribadi dari Reza terkait grup itu.


Bunyi notifikasi whatsapp kembali datang, dan ini berasal dari grup yang baru dibuat itu. Arsene memperhatikannya ketika Reza sedang mengetikkan sesuatu di sana.


[Assalamu’alaikum. Bismillah, grup ini dibuat hanya untuk kepentingan ta’aruf Zaara dan Arsene. Semoga para orangtua di sini bisa bijak untuk memantau dan mengingatkan komunikasi di antara anak-anak kita, sebagai ikhtiar untuk menyatukan mereka sebelum pernikahan. Semoga Allah meridhoinya] Ketik Reza.


[Segala bentuk komunikasi Zaara dan Arsene hanya di grup ini, baik itu berkaitan dengan personal, kepanitiaan, atau kuliah. Mohon keikhlasannya. Selanjutnya dipersilakan kepada Zaara dan Arsene untuk mengirim Curriculum Vitae masing-masing. Waktu 3 hari apakah cukup? Cukup ya :)] Lanjut Reza.


Reza mengirimkan file dalam format microsoft word berisi format curriculum vitae khusus ta’aruf anak-anak mereka. Arsene langsung saja mengunduhnya dan memperhatikan isi format. Ia baru tahu ternyata format terkait CV ta’aruf ini begitu detail, meski berupa kolom-kolom yang berkaitan dengan pribadi seseorang. Bahkan terkait rencana setelah menikah dan masa depan harus tertulis di sana.


Arsene beranjak dari rebahannya. Sejurus kemudian, ia mencium pipi ayah dan ibunya.


“I love you, Mom! Dad!” ucapnya berlari kembali menuju kamarnya. Ajeng dan Ferdian terbengong-bengong saja setelah mendapat kecupan kecil dari anak sulungnya itu.


Pria muda itu langsung membuka laptopnya, lalu mengirim file dokumen itu pada laptopnya agar bisa segera diisinya. Ia menarik nafas lalu mengembuskan nafasnya perlahan, berusaha mungkin bersikap tenang dan berpikir jernih, membiarkan akal dan imannya menuntun ketika mengisi kolom-kolom yang terdapat di sana. Tangannya sudah berada di atas keyboard dan ia sudah membuka kembali file itu.


Bagian pertama yang harus ia isi adalah mengenai profil data dirinya secara umum, seperti nama lengkap, tempat tanggal lahir, alamat, pekerjaan, dan status. Dengan mudah ia bisa mengetikkan bagian pertama dari CV ta’aruf. Selanjutnya, ia harus mengisi bagian yang menjelaskan terkait ciri-ciri fisik, latar pendidikan, aktivitas dan organisasi yang pernah digeluti oleh dirinya selama ini. Ini pun bisa dengan mudah diketiknya, apalagi di sana ia mencantumkan akademi memasak junior yang selama ini menjadi kebanggaannya karena skill terasahnya cukup mumpuni.

__ADS_1


Kini masuk ke tahapan bagaimana pria yang memiliki kelopak mata menyembul itu mulai berpikir. Ini berkaitan dengan gambaran pribadinya, apa yang disukai & tidak disukai, sifat positif & negatif, serta hobi. Sejenak, Arsene mengambil ponselnya. Ia mengirim pertanyaan singkat pada ayah dan ibunya secara terpisah terkait sifat positif dan negatifnya. Mungkin saja kedua orangtuanya itu memiliki pandangan yang cukup berbeda mengenai dirinya.


[Abang itu ambisius, visioner, kerja keras, terbuka dan friendly. Negatifnya, kadang bertindak tanpa banyak pikir untuk hal-hal mendadak, liar, dan mungkin sedikit egois, hmm….] Jawab Ferdian.


[Positif: ramah, ambisius, fokus, tidak emosional, terencana, & humoris. Negatif: liar dan bertindak di luar dugaan, ngotot, susah kompromi] Ini jawaban versi Ajeng.


Arsene tertawa-tawa kecil mendapat jawaban itu dari kedua orangtuanya. Ia bersyukur memiliki orangtua yang terbuka dan bersahabat dengan dirinya, mereka bisa dengan mudah memberi jawaban itu terkait dirinya. Arsene kembali mengetikkan itu di lembar CV-nya.


Kini ia masuk ke bagian harapan setelah pernikahan, setelah tadi ia pun menuliskan visi misi pernikahan. Jujur saja, bagi Arsene yang memiliki jiwa muda menuliskan hal visi misi haruslah menenangkan dirinya terlebih dahulu. Bahkan ia merenungkan hal itu sambil merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Sekilas ia kembali menelisik buku Nikah Muda yang telah dibacanya. Pernikahan bukanlah sesuatu yang main-main, ini adalah perjanjian dirinya dengan Allah ketika mengucap ijab kabul dengan ayah calon istrinya. Semua tanggung jawab yang ayah istrinya tanggung, berpindah pada pundaknya. Namun, karena ia pun sudah yakin dengan segala sesuatunya, kolom itu bisa terisi sesuai dengan jawaban hatinya.


Maka menulis harapan setelah pernikahan setelah menulis visi misi adalah semakin mudah. Apalagi pria muda itu memang sudah membuat rencana-rencana hidupnya. Ia akan tetap kuliah atau bersekolah di akademi memasak setelah menikah, tanpa mengabaikan kewajibannya memberi nafkah.


Mungkin hal yang cukup berat bagi para pasangan yang menikah muda adalah terkait keturunan. Saat mereka masih berkuliah sedangkan Allah sudah akan menitip amanah, maka ini harus dibicarakan oleh mereka berdua. Hanya saja, ia tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Anak adalah rezeki sekaligus amanah yang harus dijaga baik-baik.


Tepat sebelum adzan Maghrib, Arsene berhasil menyelesaikan pembuatan CV ta’arufnya. Ia membaca kembali hasil jawabannya untuk memastikan bahwa semuanya memang diketiknya secara sadar dan tidak tertulis hal aneh di sana.


Pria muda itu pun membuka grup whatsappnya. Dengan mengucap basmallah, ia mulai mengirimkan file dokumen itu di grup. Tiba-tiba notifikasi muncul sesaat setelah ia berhasil mengirimkan file itu.


[Gercep amat, Cen :D] ketik Ajeng.


Arsene yang membaca itu hanya terkekeh-kekeh saja. Cobaan berat memang, ketika komunikasi yang akan dijalinnya bersama Zaara akan terpantau semua oleh orangtua mereka. Tetapi ia sadar, orangtua mereka hanya menginginkan yang terbaik. Ia teringat pada sebuah tulisan yang berkaitan dengan pernikahan.

__ADS_1


Jika kita mengharap pernikahan yang berkah dan bahagia, maka mulailah dengan sesuatu yang baik dan berusahalah untuk menghindari kemaksiatan meski yang kecil sekalipun.


Notifikasi kembali menyala.


[Kita tunggu sampai Zaara selesai bikin CV-nya ya. Selanjutnya forum tanya jawab akan dimulai] ketik Reza.


[Sabar ya, Cen! :)] Kali ini Ferdian menimpali di grup.


Huff. Lagi-lagi Arsene menghela nafas. Padahal ia sudah tidak sabar ingin mengenal sosok pribadi Zaara lebih rinci lagi.


\=\=\=\=\=\=


Huff. Kali ini para reader yang menghela nafas karena ceritanya bersambung lagi, hehe


Sabar ya, readers kesayangan ^^


Vote aja dulu, biar author makin rajin up


Like dan tinggalkan komen kalian yaa


Makasih ^^

__ADS_1


__ADS_2