
Cuaca mendung menyapa pagi kali ini. Pepohonan di sepanjang terlihat ramah dan teduh karena curahan hujan semalam. Udara sejuk menemani, membuat segar dalam menghirupnya. Ferdian memberhentikan sebuah penginapan bergaya natural, tradisional, dan khas Sunda dengan banyak saung-saung atau pondok kayu. Ajeng yang memilih penginapan ini sendiri. Awalnya ia akan memilih hotel atau penginapan yang dekat dengan tempat wisata. Namun, justru ia ingin mencari ketenangan dari suasana alam yang disediakan oleh penginapan ini.
Ajeng telah mereservasi sebuah kamar yang cukup luas yang terletak di depan sebuah danau buatan. Pondok itu terlihat asri dan sejuk karena di belakangnya dikelilingi banyak pohon-pohon kecil dan tanaman hijau lainnya. Ada sebuah sungai buatan yang berbatu mengalir di pondok kamar yang dipilihnya. Seorang pelayan mengantar Ajeng dan Ferdian ke pondoknya itu.
"Kalau butuh bantuan, silakan langsung telepon kami saja ya Pak, Bu?" ujar pelayan laki-laki muda itu, ramah.
"Baik, terima kasih banyak!" ucap Ferdian.
Ajeng mendudukan tubuhnya di sebuah kasur bergaya klasik dengan dipan kayu memiliki kelambu. Jendela kamarnya langsung menghadap pada pemandangan danau yang airnya berwarna hijau. Terdapat bunga dan daun teratai di atasnya.
"Gimana? Sesuai sama yang kamu harapkan?" tanya Ferdian mendudukan dirinya di sebelah istrinya.
"Iya, lumayanlah! Enak di sini! Suasanya asri, tenang, dan kerasa banget nuansa alamnya," ucap Ajeng memejamkan matanya.
"Jadi kita diem di sini aja? Gak mau jalan-jalan?" tanya Ferdian.
"Istirahat dulu lah, nanti baru jalan!"
Ferdian menatap istrinya lalu tersenyum.
Hujan rintik-rintik lembut berkunjung siang hari. Riak-riak air di atas permukaan danau menjadi pemandangan cantik yang bisa dilihat dari kamar. Pepohonan merunduk lembut tertaklukan oleh sang hujan.
"Hujan ya? Gak bisa keluar deh," ucap Ferdian yang baru saja selesai menunaikan shalat dzuhur bersama istrinya.
"Iya, tapi kok mendadak suasananya jadi romantis gini ya?" ucap Ajeng.
"Romantis gimana?"
"Kamu inget mata kuliah Sejarah Kesusastraan Inggris periode Romantisme?"
Ferdian bergumam.
"Inget penyair William Wordsworth? Atau Lyriccal Ballads karya Samuel Taylor Colleridge yang hidup di abad ke 18 -19?" tanya Ajeng, yang malah tampak seperti dosen yang sedang mengajarnya.
"Aku inget nama itu, tapi lupa isi syair yang mereka buat. Emang apa hubungannya?"
"Romantisisme adalah aliran yang lebih mengutamakan perasaan emosional, kemurnian, keoriginalitasan, natural, dan apa adanya. Romantisisme terwujud dalam karya sastra, seni, dan puisi. Wordsworth yang tinggal di pedesaan lebih banyak membuat puisi yang berkaitan dengan alam atau perasaannya tentang nature. Jadi menurut aku, mencintai suasana yang diberikan alam adalah menjadi seorang yang romantis," ucap Ajeng menjelaskan pelajaran yang paling disukainya.
"Jadi makanya menurut kamu hujan itu romantis?"
Ajeng mengangguk.
"Kalau hujan badai ada angin ribut, masih mau bilang romantis?"
"Enggak!"
"Yah gak jadi romantisnya dong! Harusnya konsisten, mau hujan gimana pun disebut romantis, karena sama-sama datang dari alam. Ah kamu gak setia sama hujan!"
"Iya, aku kan cuma setia sama kamu!" ucap Ajeng melenggang pergi dari hadapan suaminya dan duduk di sofa yang menghadap ke arah danau.
Ferdian terkekeh karena ucapan Ajeng yang tanpa ekspresi itu.
Pria itu kemudian menghampiri dan duduk berlutut di depan istrinya. Ia menggenggam kedua tangan Ajeng.
"Kalau aku romantis gak?" tanya Ferdian menatap mata Ajeng.
"Enggak," jawab Ajeng singkat.
"Kan aku juga murni berasal dari alam," ucap Ferdian berseri.
"Alam kubur?!" jawab Ajeng, sontak keduanya tertawa-tawa.
"Ya kali, aku ini zombie mencari cinta!"
Keduanya tertawa-tawa.
Ferdian duduk di sofa satunya lagi, ia mengisyaratkan kepada Ajeng untuk duduk di pangkuannya sambil melihat pemandangan di luar. Ajeng bergerak mengikutinya dan duduk menempel di depan tubuh suaminya. Ia menyandarkan tubuhnya pada suaminya. Tangan Ferdian memeluk dari belakang tubuh Ajeng, lalu menempelkan pada perut hamil istrinya, mengusapnya dengan lembut.
"Aku akan selalu mengingat momen bersama kita. Mulai dari awal kita berkenalan malam itu pada saat pertunangan dadakan, sampai selamanya bersama kamu!" ucap Ajeng lirih.
"Aku selalu ingat saat pertama kali melihat kamu dan berusaha menarik perhatian kamu!"
"Emang kapan pertama kali kamu lihat aku?" tanya Ajeng menoleh pada suaminya.
"Waktu kecil, haha!"
"Iya aku juga tahu!" Ajeng menepuk paha suaminya itu.
"Maksudnya waktu aku ospek, pertama kali aku lihat kamu di sana. Aku yang sedang berdiri di antara barisan mahasiswa baru, tiba-tiba kamu lewat dan berjalan di depan barisanku. Padahal aku di belakang lho, tapi mataku ini hebat banget bisa menangkap wajah cantik dosen baru yang lewat itu. Haha," cerita Ferdian mengenang pada saat pertama kali melihat Ajeng di kampus.
"Iya kah?"
"Iya, sejak saat itu juga aku mengincar kamu!"
"Kok bisa?" tanya Ajeng tidak percaya.
"Enggak tau, pokoknya secara fisik kamu tuh tipe perempuan idealku. Makanya pas kamu ngajar di kelas, aku seneng bukan main."
"Makanya kamu sering pura-pura lupa absen?" tebak Ajeng.
"Iya, haha! Itu disengaja biar narik perhatian kamu," seru Ferdian riang.
"Dasar ternyata modus!" ucap Ajeng menepuk-nepuk paha Ferdian.
"Kebayang gak, kalau jodoh kamu dulu itu bukan aku?" tanya Ajeng.
"Enggak! Pasti aku akan tolak!"
"Ah, dulu bilangnya terpaksa juga karena kondisi ayah sakit! Itu mah emang karena calonnya aku aja!"
"Hehehe... gak kebayang rasanya kalau dulu aku dijodohkan sama yang lain. Padahal aku udah suka sama kamu sejak masuk kuliah!"
"Itulah namanya jodoh di tangan Tuhan ya, ketemu gak disangka-sangka!" ujar Ajeng menyandarkan lagi tubuhnya di tubuh suaminya.
"Iya, betul!"
"Kata kamu waktu itu ada dua calon ya? Aku dan yang lain. Perempuan itu kamu kenal gak?" tanya Ajeng penasaran.
"Kenal dikit sih, pernah ketemu beberapa kali juga tapi pas waktu aku SMP." jawab Ferdian.
"Cantik? Pinter?"
__ADS_1
"Hmm....kayanya gak kalah cantik dan pinternya sama kamu. Bunda bilang dia baru pulang studi di London. Oiya, dia dewasa juga!" ujar Ferdian.
"Kenapa gak pilih dia?"
"Dibilang aku udah terlanjur naksir sama kamu, Sayaaaaang!" Ferdian mengeratkan rengkuhan di tubuh istrinya.
Ajeng tersenyum tersipu-sipu mendengar jawaban suaminya itu.
Hujan di luar sudah mulai berhenti. Matahari sudah kembali berani menunjukan cahayanya meski hanya di balik awan.
\=====
Andre memandangi langit dari jendela apartemennya. Ia sendiri sedang merebahkan tubuhnya di atas kasur. Perkuliahan baru sudah akan dimulai bulan depan. Ia sudah menyetujui untuk mengajar mahasiswa S2 di kampusnya. Tentunya tantangan baru akan segera dimulai, ia hanya berharap tidak ada hambatan berarti di tahun ajarnya kali ini, meski pasti kendala sendiri untuk mengajar mahasiswa S2 yang lebih tinggi.
Pria berkulit cerah dengan otot kekar di lengannya itu kembali membuka kurikulum yang akan menjadi patokan ajarnya di tahun ajarnya yang baru. Ia optimis bisa mengerjakan pekerjaan kali ini. Tiba-tiba ponselnya berdering.
"Halo?" sapanya.
"Halo? Betul ini dengan Andre?" tanya suara di telepon, sebuah suara laki-laki.
"Iya saya sendiri. Dengan siapa ini?"
"Ini gue, Gerry!"
Mata Andre membesar.
"Oy Ger! Apa kabar?"
"Gue baik, Dre! Masih di Bandung kan?"
"Masih, masih! Emang kamu dimana Ger?"
"Gue juga kebetulan lagi di Bandung, ketemuan yuk Dre!" jawab Gerry.
"Ayo, ayo! Kapan dan dimana nih?"
"Besok pagi bisa gak, Dre? Soalnya lusa gue harus pergi lagi ke Singapura!" tawar Gerry.
"Oke, besok aku kosong kok!" jawab Andre.
"Sipp, besok ya? Nomor whatsappnya sama kan kaya nomor ini?"
"Sama kok!"
"Ya udah nanti share lokasi ketemuannya ya?"
"Siap, siap!"
"Thanks ya Dre! See you besok!"
Entah kenapa Andre merasa antusias sekali untuk bertemu Gerry. Apa karena Gerry adalah sahabat sekaligus kompetitornya pada saat SMA? Keduanya sama-sama populer, digandrungi banyak cewek, berprestasi, dan tentu saja keduanya sama-sama menyukai orang yang sama, yaitu Nava.
Seketika muncul sebuah chat whatsapp. Itu dari Gerry. Ia membagikan lokasi dimana mereka akan bertemu. Sebuah kafe kopi yang terletak di pusat kota, dekat dengan sekolah mereka dulu.
Keesokan harinya.
Andre memarkirkan mobilnya di halaman parkir kafe. Suasana kedai kopi itu tidak terlalu ramai di pagi itu. Gerry yang sudah tiba di sana lebih dulu, melambaikan tangannya. Pria berwajah oriental itu kemudian berdiri menyambut sahabatnya.
"Woy, sehat Lo?" sapa Gerry memeluk Andre.
"Sehat, kabar kamu gimana Ger?" tanya Andre melihat sosok Gerry di depannya yang semakin terlihat keren saja.
"Ah udah keliatan sukses lah itu!"
"Alhamdulillah, tapi sibuknya minta ampun!" ucap Gerry terkekeh.
Andre duduk di hadapan Gerry. Kemudian Gerry menyuruhnya untuk memesan menu hidangan yang akan dinikmati.
"Lo sibuk ngajar, Dre?"
"Iya, aku sih lebih seneng ngajar daripada ngurusin bisnis, meski papa tiri aku juga selalu dorong aku buat terjun ke bisnisnya!"
"Haha, lebih ngikut papa kandung ya?"
"Ya, passion aku sih di dunia mengajar!"
"Belum ada calon Dre?" tanya Gerry tanpa basa-basi.
"Belum, susah cari calon! Haha! Kamu sendiri kayanya udah ada ya?" Andre malah balik bertanya.
"Ada sih, doain aja lah! Mudah-mudahan dianya mau sama gue!" jawab Gerry, membuat Andre penasaran dengan calon istri sahabatnya.
"Kasih tau dong, siapa nih?"
"Nanti lah gue kasih tau kalau udah diterima, haha!"
Gerry tampak sibuk dengan ponselnya. Ia seperti ada sesuatu yang mesti dilakukannya saat itu. Wajahnya terlihat sedikit cemas.
"Dre, gue keluar dulu sebentar ya? Mau telepon seseorang!" ucap Gerry beranjak dari tempat duduknya.
Andre mengangguk saja, sambil menikmati kopi pesanannya.
"Va, kamu dimana?" tanya Gerry di telepon,.
"Aku di Jakarta, Ger! Sorry banget!" ucap wanita itu lesu.
"Ya ampun!"
"Sorry banget Ger! Dadakan soalnya, ada promotor minta aku ngisi acara hari ini, aku gak bisa nolak!" terang Nava.
"Ya udahlah!"
"Salam buat Andre ya, tapi gak usah dibilangin dari aku!" ucap Nava kaku.
"Terus bilang dari siapa? Dari ibu warung?!" ketus Gerry.
"Pokoknya jangan bilang dari aku!" sergah Nava.
"Ya udah ntar aku bilangin!"
"Makasih Ger, bye!"
Gerry menepuk-nepuk jidatnya sendiri. Andre yang memperhatikannya dari jauh, tampak keheranan. Apa yang sedang terjadi?
__ADS_1
Gerry kembali dan duduk di kursinya. Andre menatapnya heran.
"Kenapa Ger? Ngurus kerjaan?" tanya Andre.
"Bukan! Sorry ya!"
Gerry meneguk kopi pesanannya yang sudah tersaji sejak tadi.
"Dre, ada salam dari seseorang!" ucap Gerry tidak lembut.
"Salam? Dari siapa?" tanya Andre penasaran.
"Dari seseorang, gak mau nyebutin namanya!"
Andre terkekeh.
"Secret admirer (pengagum rahasia) gitu?"
"Haha, ya semacam itu lah!" jawab Gerry terkekeh juga.
"Ger, aku boleh tanya sesuatu sama kamu?"
"Tanya apa?"
"Apa kamu masih berhubungan sama Nava?" tanya Andre tanpa basa-basi.
Pria bermata sipit dan berdagu lebar itu tampak tegang dan menelan air liurnya.
"Kenapa tanya Nava sama gue?"
"Hmm...aku cuma tanya aja, selama aku putus kontak sama Nava, kan cuma kamu yang deket sama dia, selain Shera tentunya," ujar Andre.
Gerry tampak bergumam sebentar.
"Gue memang pernah ngehubungin dia. Tapi kalau maksud lo kita ada hubungan status, kita ga ada sama sekali! Oke, gue jujur gue emang sempet nyatain perasaan gue sama dia, Tapi dia gak pernah gubris, bahkan beberapa kali gue coba lagi, hasilnya sama aja. Setelah itu gue nyerah, gue pergi ke Singapura salah satunya ya buat bisa move on dari dia," terang Gerry membuat Andre cukup terkejut.
"Dan apakah perasaan itu masih ada buat Nava, Ger?"
Gerry menghela nafas.
"Gue gak yakin, Dre! Gue kira bisa move on dari dia, ternyata tetap sulit!" ucap Gerry menunduk.
Andre menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Mengetahui sahabatnya itu masih memendam perasaan yang sama, sepertinya Andre akan sulit membayangkan. Apalagi mengkaitkan itu dengan pertanyaannya tadi mengenai calon istri. Sepertinya Gerry belum putus asa untuk mengejar Nava dan bisa jadi jauh beberapa langkah di depannya, mengingat dirinya sendiri belum sama sekali bertemu dengan wanita itu.
Andre mengangguk-angguk saja mendengar jawaban Gerry yang sebenarnya menggores hatinya.
"Lo sendiri gimana, Dre?" tanya Gerry kali ini.
"Hah?"
"Perasaan lo buat Nava apa masih ada, atau udah hilang selama tinggal jauh darinya?"
Andre terkekeh saja. Rasanya dia ingin menghindar dari pertanyaan itu.
"Aku juga enggak yakin, Ger! Aku baru bisa menjawab kalau perempuan itu ada di hadapanku, jadi aku bisa pastikan."
Gerry tersenyum, terlihat agak aneh.
"Nava, nava! Selama 7 tahun ini kenapa kita masih sibuk aja ngurusin dia?" ucap Gerry mengaduk minumannya.
Andre tertawa saja. Memang benar ucapan Gerry itu, seolah tidak ada wanita lain yang sanggup menghampiri perasaan kedua pria itu.
\=====
Ferdian mengajak Ajeng untuk sarapan di luar, meski masih di area penginapan. Mereka duduk di sebuah saung berbentuk segitiga yang dikelilingi oleh parit-parit kecil yang jernih. Setelah menikmati sarapan, keduanya berjalan-jalan mengelilingi area penginapan yang ternyata cukup luas. Sambil menikmati suasana pagi yang sejuk, keduanya berjalan santai melihat-lihat pemandangan yang ada.
"Ibu hamil itu mesti banyak jalan, biar nanti proses lahirannya lancar," ucap Ajeng yang tampak cantik dengan dress motif bunga vintagenya. Ia mengenakan sandal jepit santai.
"Jalan kaki ya? Kalau naik motor?" tanya Ferdian polos.
"Gak ngaruh itu mah! Harus banyak merangkak juga biar posisi janinnya bagus dan pas dengan jalan lahirnya," terang Ajeng lagi.
"Ooh...gitu! Kamu takut gak?" tanya Ferdian memegang tangan istrinya.
"Takut apa?"
"Takut lahiran nanti?"
"Gak sih! Katanya bakal sakit banget kalau lahiran normal, cuma aku ingin nikmatin rasa sakit menjadi ibu itu. Ya mudah-mudahan aja lahirannya normal!"
"Kalau caesar?"
"Sama aja sakitnya!"
Ferdian mengangguk-angguk saja. Justru kali ini ia yang merasa khawatir, karena sekitar tiga bulan lagi mungkin Ajeng akan melahirkan. Ia hanya cemas akan sesuatu yang bakal menimpa istrinya.
"Hati-hati licin, Sayang!" seru Ferdian menangkap tubuh istrinya yang hampir saja terpeleset karena kondisi jalan bersemen yang licin.
"Makasih!" ucap Ajeng tersenyum.
"Kamu jalannya pelan-pelan aja, dan sini...!" Ferdian membuat wanita itu merangkul di tubuhnya. Ia pun balik merangkul bahu istrinya.
Keduanya berjalan lagi sambil merangkul satu sama lain, melewati pondok-pondok penginapan yang lain. Entah ada penghuninya atau tidak. Seorang perempuan berbaju kuning berpas-pasan dengan keduanya. Ia tampak asyik menikmati suasana, sebelum akhirnya menyadari sesuatu.
"Kamu Ferdian ya?"
\=====
Siapa ya kira-kira?
Yuk like dan votenya jangan lupa.
Makasiiiiih ^^
__ADS_1