Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 101. Pecah


__ADS_3

Arsene dan Zaara masih berada di sekitar kampus. Sementara Hana dan Terry sudah kembali ke kosan mereka.


Arsene meminjam mobil minivan milik ibunya hari itu, sehingga mereka kembali lagi ke fakultas untuk mengambilnya. Zaara benar-benar tidak percaya kini suaminya ada di sisinya lagi dan ia tidak akan kemana-mana kali ini. Mereka terus bergenggaman tangan sambil berjalan di atas trotoar, ditemani dedaunan yang jatuh bertaburan dari pohon karena sentuhan angin. Hati mereka benar-benar bahagia.


“Kok bisa kamu tebak itu aku?” tanya Arsene ketika mereka tengah berjalan di atas trotoar.


“Aku baru sadar setelah dapat boneka ini!” jawab Zaara.


“Emang kenapa?”


“Koala kan hewan khas Aussie!”


Arsene tersenyum. Ia meremas tangan istrinya.


“Jadi sebelumnya gak sadar?” tanya Arsene lagi.


“Iyalah, aku takut. Tiba-tiba dapat surat isinya puisi romantis gitu! Aku kira ada laki-laki lain yang jadi secret admirer!”


“Pasti mikirnya udah kemana-mana ya kan?!”


“Hana aja mikirnya yang kirim puisi ini psycho! Habisnya pesan terakhirnya serem, ’lebih baik aku mati’, ‘biarkan aku mati’, siapa yang gak mikir aneh coba?!”


Arsene tertawa-tawa.


“Mati itu, makan hati, wkwk!”


“Dasar usil!”


“Tapi suka kan sama puisinya?” tanya Arsene.


“Suka!” jawab Zaara tersipu-sipu.


"Kata anak LDK, yang kasih surat itu pakai jaket LDK. Kok kamu tiba-tiba pakai Hoodie?" tanya Zaara penasaran.


"Aku ganti dulu di mobil sebelum kalian nyampe ke depan perpus."


"Ooh pantes!"


“Aku juga minta bantuan Terry buat pertemuan ini, biar dia yang dorong kamu buat cari aku” Arsene membongkar rahasianya.


“Uuh pantesan, dia semangat banget!”


“Ajak traktir mereka besok, ... eh jangan deng. Kapan-kapan aja!”


“Emang kenapa gak besok?” tanya Zaara menatap wajah suaminya dari samping.


“Karena besok itu waktu kamu buat aku semua!”


Seketika desiran tubuh menerpa Zaara, berbarengan dengan desiran angin yang menyapa.


“Jadi kamu pulang sejak kapan, Abang Sayang?”


“Hari Minggu!”


“Terus dua hari kemarin tanpa aku, kamu ngapain?!” tanya Zaara penasaran. Ia teringat dua hari kemarin mereka tidak melakukan panggilan video, hanya panggilan suara biasa saja. Arsene selalu berdalih ada sesuatu yang tidak memungkinkannya melakukan video. Pantas saja, ternyata dia sudah pulang.


“Ih kepo!” Arsene mencolek ujung hidung istrinya.


“Ya iyalah, mencurigakan!”


“Aku istirahat aja di rumah. Terus ngurusin toko.”


“Tega banget gak ngasih tau istri sendiri kalau udah pulang!” Zaara cemberut.


“Iya maaf Sayang! Tadinya aku mau langsung kasih kejutan di hari Minggu. Tapi aku capek banget, akhirnya nyusun rencana yang tadi deh.” Arsene gemas melihat wajah istrinya, hanya saja ini masih di lingkungan kampus. Berbahaya jika ia melakukan sesuatu yang memancing perhatian.


Keduanya telah sampai di mobil. Arsene duduk di belakang kemudinya.

__ADS_1


“Jadi kita mau kemana, Tuan Putri Cantikku?” Arsene menyandarkan kepalanya di atas kemudinya sambil memandangi wajah istrinya.


“Pulang aja?” Arsene berinisiatif.


“Boleh!”


“Oke deh. Aku gak sabar mau apa-apain kamu!”


Zaara menahan tawanya. Tak tahu apa yang akan dilakukan Arsene pada dirinya setelah ini. Ia akan pasrah saja.


“Pulang ke rumah Abi ya?!” tawar Zaara.


“Oke!”


“Kamu nginep di kamar aku!”


“Siapa takut!” jawab Arsene menyalakan mesin mobilnya.


Rumah Reza terlihat sepi tidak ada orang. Zayyan masih sekolah, sedangkan Abi dan Umi sedang menjenguk Tante Jingga yang sedang drop kondisinya.


“Wah gak ada orang?!” ucap Arsene ketika mereka memasuki rumah. Ia sendiri sudah menemui mertuanya tadi pagi dan mengirimkan beberapa oleh-oleh. Abi dan Umi memang sudah mengetahui rencana Arsene yang pulang lebih cepat. Oleh karena itu, Umi Karin hampir saja keceplosan di depan Zaara saat hari Minggu lalu.


Zaara dan Arsene memasuki kamar milik Zaara yang mirip kamar asrama di Sydney. Meskipun begitu kamar Zaara masih lebih baik, karena memiliki kasur berukuran Queen. Hanya saja kamar mandi berada di luar kamar itu. Zaara mengunci pintu kamarnya.


Arsene segera merangkul pinggang istrinya ketika gadis itu masih mengunci pintunya. Pria itu benar-benar sudah tidak sabar dan menghujani wajah istrinya dengan ciuman bertubi-tubi. Padahal Zaara masih terbalut dengan hijab dan gamisnya. Celengan rindu telah siap dipecahkan kembali.


I need you baby


And if it's quite all right


I need you baby


To warm the lonely nights


I love you baby


Oh pretty baby


Don't let me down I pray


Oh pretty baby


Now that I've found you stay


And let me love you, oh baby


Let me love you


[Can’t take my eyes off you - Lauryn Hill]


Zaara tengah melihat-lihat foto wisuda Arsene setelah keduanya memecahkan celengan rindu bersama di siang hari. Keduanya hanya tertutup selimut yang membalut tubuh mereka.


Di foto itu, Arsene terlihat berseri dengan pakaian wisuda akademi memasaknya. Ada medali juga yang mengalung di atas dadanya dalam foto bersama seluruh kawan-kawannya di Sydney.


"Sekarang udah dapat ijazah dong?" tanya Zaara.


"Udah! Nilaiku memuaskan!" jawab Arsene memainkan rambut istrinya.


"Alhamdulillah. Mudah-mudahan bisnis kamu bisa makin baik."


"Aamiin."


Hanya saja wajah Arsene tetap terlihat gurat kecemasannya.


“Toko gimana sekarang nasibnya?” tanya Zaara lagi.


“Rumit! Omset terjun bebas! Aku udah berhentikan Kang Tian, karena dia gak bisa diajak kerjasama,” jawab Arsene, kepalanya menempel di ceruk leher istrinya.

__ADS_1


“Kamu mau terjun langsung?” kedua tangan mereka saling menautkan jari jemarinya.


“Aku liburin dulu semuanya. Minggu depan aku coba terjun.”


“Pajang aja ijazah kamu di toko!” Zaara memberi masukan.


“Iya tapi nanti kalau udah ramai lagi. Malu kalau kuenya masih gak enak.”


Arsene mengeratkan pelukannya. Ia selalu merindukan momen ini. Kali ini hatinya benar-benar lega mereka akan selalu bisa menghabiskan waktunya bersama.


“Lusa kita cari apartemen ya?” ujar Arsene memainkan anak rambut istrinya lagi yang tergerai.


“Hah, mau langsung cari apartemen sewa?!” Zaara bangkit dari pembaringannya.


“Iya, kan kita mau tinggal sendiri?”


“Aku kira gak secepet itu!” Zaara menarik selimutnya.


“Mumpung kuliah sedang libur. Liburan semester ini pendek kan? Jadi kita optimalkan untuk pindah dan beres-beres.”


“Iya sih!”


“Nanti kita lihat dari website dulu aja. Kalau cocok harga dan tipenya, baru kita survey!”


“Oke deh!”


“Kamu siap kan?” tanya Arsene melihat raut wajah istrinya yang ragu-ragu.


“Insya Allah! Asal ada kamu, aku siap!”


Adzan Ashar berkumandang. Terdengar suara deru mesin mobil mendekat disusul pintu pagar bergeser. Sepertinya Abi dan Umi sudah pulang.


“Mandi cepetan!” Zaara beranjak dari tempat tidurnya dan mengambil handuknya.


“Aku gimana? Gak bawa handuk!” tanya Arsene menatap istrinya.


“Ini!” Zaara memberinya sehelai handuk miliknya yang diambil dari lemari.


“Bawa baju kamu!” ucap Zaara lagi.


“Mandi bareng?!”


“Iya biar cepet!”


Zaara bergegas pergi ke kamar mandi. Sementara Arsene masih sibuk melilit tubuhnya dengan handuk saat terdengar ucapan salam dari pintu bawah yang terbuka. Arsene segera keluar dari kamar Zaara sambil membawa potongan bajunya yang tadi. Tiba-tiba tubuhnya berdiri kaku mendapati ayah mertuanya berdiri di depannya, tepat setelah ia menutup pintu kamar.


“Eh, Bi! Baru pulang?” tanyanya basa-basi. Ia salah tingkah karena tubuhnya hanya terlilit sebuah handuk yang menutupi pinggang hingga lututnya. Ia menutup bagian perutnya dengan potongan baju yang ia bawa.


“Iya.” Reza menatap tajam pada tubuh Arsene yang putih, terdapat bercak merah di sekitar leher bawahnya. Ia jadi terkekeh.


“Saya ke kamar mandi dulu, Bi!” pamit Arsene mempercepat langkahnya. Ia benar-benar salah tingkah.


“Kamar mandi bukan di situ, itu kamar Zayyan!” seru Reza.


“Eh?!” Arsene menghentikan langkahnya. Ini memang pertama kalinya ia berada di lantai dua rumah mertuanya. Jadi ia tidak hafal dimana letak kamar mandi.


“Abaaaang!” pintu kamar mandi terbuka, Zaara memanggilnya.


Arsene semakin malu saja mendengar panggilan itu dan segera menyusul istrinya.


Reza tertawa terkekeh-kekeh. Ternyata anak putrinya bisa juga memberi cap cinta pada tubuh suaminya. Reza menggeleng-geleng sambil pergi ke ruangan kerjanya.


\======


Bersambung dulu


Jangan lupa komen, like dan votenya makasiiih ^_^

__ADS_1


__ADS_2