
Pagi itu Arsene tiba di kelasnya yang sudah rapi dan bersih. Ditatapnya kursi milik kawan sebangkunya, belum ada tas Zaara di sana. Berarti akhwat itu belum datang. Tumben, biasanya Zaara selalu tiba lebih dulu.
Tak lama, akhwat itu pun datang. Ekspresi wajahnya terlihat biasa saja, tidak memasang ekspresi cemberut atau senang. Arsene menyapanya dengan salam, membuat gadis itu menjawabnya datar lalu duduk di kursi miliknya.
Arsene ingin menjelaskan terkait hal yang terjadi sore kemarin, tetapi untuk apa? Zaara bahkan bukan siapa-siapanya dan gadis itu sama sekali tidak menyinggungnya. Jadi Arsene memutuskan untuk diam saja, kecuali jika Zaara menanyakannya.
\=\=\=\=\=
Sore itu setelah sholat ashar, para siswa kelas 12 IPA 5 melaksanakan pelajaran terakhir mereka yaitu olahraga dengan malas-malas karena tubuh mereka sudah letih. Terpaksa jam pelajaran olahraga diundur ke sore hari dan bertukar dengan pelajaran setelahnya.
Namun, sebagian dari mereka merasa beruntung karena tidak harus berlari-lari di bawah teriknya matahari. Sore ini sinar matahari sudah redup meski langit masih terang. Jadi mereka tidak harus berlelah-lelah dan kepanasan. Siswa-siswa itu pun melakukan pemanasan lalu mulai berlari mengelilingi lapangan.
Guru olahraga mereka menginstruksikan untuk membuat kelompok-kelompok kecil, lalu mencoba untuk membuat gerakan senam versi kelompok masing-masing. Setiap kelompok terdiri dari sepuluh orang, dimana nanti mereka akan menyumbang satu gerakan untuk senam versi kelompok.
Cinta dan kawan-kawannya segera lari menuju Arsene yang sudah berkelompok dengan Abdul, Fahri, juga dengan dua kawan laki-laki yang lainnya. Mereka masih kekurangan satu orang lagi. Lalu dilihatlah Zaara yang masih sibuk mengikat tali sepatunya.
“Zaara!” panggil Arsene membuat gadis yang mengenakan gamis olahraga itu menoleh.
“Udah dapat kelompok belum?” tanya kawan sebangkunya itu.
“Belum, kalian udah penuh ya?” tanyanya ragu.
“Belum, kurang satu lagi. Udah masuk aja!” ucap Arsene.
Zaara tersenyum kecil. Cinta dan kawan-kawan gengnya hanya mendeliknya, ketika gadis berhijab itu datang menghampiri.
“Lo ketua tim ya, Sen!” ujar Abdul merangkul pundak Arsene
“Euuuh! Tuh Mamat aja, badannya bagus!” sergah Arsene menunjuk kawannya yang berbadan besar dan tinggi.
“Gak mau ah, udah kamu aja Sen!” jawab Mamat.
“Ya udah deh!” ucap Arsene terpaksa.
Mereka harus membuat gerakan dasar untuk senam kelompok, yang nanti akan dipertunjukkan kepada guru olahraga dan kawan-kawan mereka lainnya. Jadi Arsene berencana agar masing-masing dari anggota kelompoknya untuk menyumbang satu gerakan senam, agar mereka bisa berkontribusi untuk kelompoknya.
Maka Arsene memerintahkan kepada kawan lelakinya untuk menyumbang terlebih dahulu ide gerakan senam mereka, dimulai dari dirinya sendiri. Ia memberi instruksi agar kawannya mengikuti gerakannya. Gerakan yang ia sumbang adalah gerakan jalan di tempat dengan kepala menoleh ke kanan dan kiri. Benar-benar gerakan mendasar sekali. Lalu giliran kawan lelaki lainnya yang mempraktekkan gerakan lain dengan jaim-nya.
Kali ini tiba giliran kawan perempuannya yang harus menyumbang gerakan, membuat mereka saling menuduh untuk giliran pertama.
__ADS_1
“Zaara duluan deh!” seru Cinta, langsung diiyakan oleh kawan segengnya yang lain.
“Ya udah Zaara aja dulu!” ucap Arsene.
Zaara jadi salah tingkah, karena harus menyumbang sebuah gerakan dasar senam, yang membuat tubuhnya bergerak. Meskipun begitu, gadis itu sudah memikirkan gerakan apa yang harus ia lakukan.Kemudian, ia merapikan hijab bagian depannya, lalu berdiri tegap sambil memejamkan matanya. Ia menghela nafas.
Zaara mengangkat tangannya ke atas, lalu ke samping. Kemudian tubuhnya membungkuk lurus 90 derajat sampai ujung jarinya menyentuh ujung sepatunya. Ia melakukan itu sampai gerakan ke delapan. Wajahnya bersemu merah, karena semua temannya memperhatikan dirinya, meskipun tatapan matanya tidak membalas semua pandangan kawannya itu.
Arsene menatapnya intens ketika Zaara melakukan gerakan dasar itu. Entah kenapa gadis itu terlihat imut, wajahnya terlihat kemerahan terutama di bagian pipi dan bawah matanya. Sedikit senyuman muncul di bibirnya yang sambil mengucap angka karena berhitung.
“Sen, udah selesai tuh!” ucap Fahri menyenggol lengan Arsene.
“Ehm. Ah ya, bagus! Cukup cukup!” ucapnya grogi.
Lalu giliran Cinta yang berdiri ke depan.
“Perhatiin gue ya!” ucapnya percaya diri, lalu memasang posisi kuda-kuda. Ia kemudian menghadap ke kiri sambil menjulurkan sebelah tangannya ke samping. Menarik tangannya sekaligus mengangkat sebelah kaki yang berlawanan dengan tangannya. Lalu ia malah menggoyang tubuhnya seperti goyang gergaji saja.
Sontak semua siswa lelaki yang ada di hadapannya menepuk jidat.
“Lu kalau mau goyang tuh di panggung, bukan di sini!” protes Mamat.
“Sudah, cukup-cukup! Lanjut yang lain!” potong Arsene.
Tak terasa langit makin gelap saja, berakhirlah sesi itu yang akan dilanjutkan ke sesi berikutnya untuk minggu depan. Yaitu menampilkan senam versi kelompok di hadapan kelas.
Arsene kembali ke kelasnya untuk mengambil tasnya setelah selesai shalat ashar. Ruangan kelas sudah sepi karena para teman-temannya yang lain sudah pulang terlebih dahulu. Ia cukup terkejut ketika menemukan tas milik Zaara masih berada di atas bangkunya. Tetapi ia berpikir, mungkin Zaara masih ada keperluan dengan teman-teman rohisnya. Jadi ia tidak terlalu memikirkannya, ia hanya teringat bagaimana ekspresi malu-malu Zaara ketika sedang memperagakan gerakan senam. Arsene tersenyum sendiri mengingatnya. Ia pun berjalan menuju halaman untuk menemui Rainer yang sudah menungguinya sejak tadi.
\=\=\=\=\=
Bunyi lembaran-lembaran buku yang terbuka satu persatu memenuhi kamar tidur Arsene malam itu. Ia sedang mempelajari kembali apa yang sudah dibahas di kelasnya tadi siang. Baginya cara itu efektif untuk mengingat pelajaran sebelum akhirnya ia terapkan pada soal-soal yang ada di dalam bukunya.
Tiba-tiba ponsel yang berada di atas kasurnya berdering keras. Pria itu langsung meraihnya, khawatir ada kabar tentang kelahiran adik barunya. Tetapi sebuah nomor tidak dikenal yang malam itu meneleponnya. Alisnya mengernyit. Siapa?
“Halo assalamu’alaikum?” sapanya.
“Wa’alaikumsalam,” jawab sebuah suara wanita keibuan di sana, tetapi bukan mommy-nya.
Arsene sejenak terdiam dulu.
__ADS_1
“Ini nomor Arsene betul?” tanya suara itu.
“Iya betul saya Arsene. Maaf, ini dengan siapa?” tanyanya ragu.
“Ini Tante Karin.”
Mata Arsene terbelalak kaget. Ada apa?
“Ooh, Tante! Ada apa ya?” tanyanya.
“Maaf ya ganggu kamu malam-malam, tapi Tante mau tanya sesuatu. Apa kamu lihat Zaara sebelum pulang?” tanya Karin, nadanya terdengar cemas.
“Zaara kenapa Tante?”
“Iya, Zaara belum pulang sampai sekarang! Tante coba hubungi nomornya tapi gak aktif. Tante juga udah coba hubungi temen-temen deketnya, katanya mereka gak pulang bareng Zaara. Makanya Tante coba tanyain nomor kamu ke Ajeng, siapa tahu kamu tau Zaara sebelum pulang sekolah tadi,” terang Karin.
Jantung Arsene jadi merasa tidak enak. Apalagi waktu sudah menunjukkan pukul 20.05 malam. Seingatnya tadi, tas milik teman sebangkunya itu masih ada di kelasnya.
“Arsene cuma lihat Zaara waktu sebelum sholat ashar di masjid sekolah. Waktu itu kita sekelompok pas pelajaran olahraga, tapi Arsene gak tau Zaara kemana setelah itu. Soalnya Arsene lihat tas punya Zaara masih ada di bangkunya,” jelas Arsene jujur.
“Kamu tau tas Zaara yang warnanya pink itu kan?” tanya Karin memastikan, karena ia yang membelikan tas itu untuk anaknya.
“Iya betul, Tante!” jawab Arsene yakin.
“Aduh, dimana dia sekarang ya? Tante khawatir banget, belum pernah Zaara pulang selarut ini. Kalau pun pulang telat, dia selalu kasih informasi sebelumnya.”
Arsene tertegun.
Dimana Zaara?
\=\=\=\=\=
Nah lho, dimana Zaara?
Like dan commentnya yaaa biar makin seru...
Vote dan tipsnya juga dong yang banyaaak
Makasiiihhhh :*
__ADS_1